3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2021
in Esai
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Bila tak punya karang sawah, tanami karang awak. Karang sawah selain secara harfiah berarti tanah sawah, juga berarti segala milik yang ada di luar diri, seperti: uang, rumah, pakaian, makanan. Sedangkan karang sawah, berarti diri. Diri adalah tubuh beserta segala lapisannya, yakni fisik, pikiran, kecerdasan, kesadaran. Jadi, IPM Sidemen bermaksud mengatakan bahwa hal-hal bendawi yang tidak dimiliki, bisa “disiasati” dengan diri. Tetapi latihan fisik, olah pikir, olah rasa yang dilakukan terus menerus saja tidak cukup dan sangat romantik. Agar kemampuan-kemampuan itu berguna, orang butuh ruang yang tepat. Sehingga kemampuan-kemampuan itu benar-benar dapat berguna dan dibutuhkan oleh lingkungan atau dalam bahasa IPM Sidemen “guna dusun ne kanggo ring desa-desa”. Dengan kata lain, bila kemampuan itu dianggap tidak dibutuhkan, guna jadi tidak berguna.

Andai kata kemampuan-kemampuan itu dibutuhkan, butuh satu lagi penunjang, yakni hubungan, link! Dalam banyak kasus di sekitar kita, kita membutuhkan penunjang yang satu ini. Kebiasaan, usaha, kerja keras, semua itu tumpul di hadapan link. Seperti panah-panah sakti Arjuna di hadapan Nilacandra. Atau senjata-senjata Purusadha di hadapan Sutasoma. Semua kesaktian-kesaktian itu tumpul dan menjadi bunga-bunga yang harum. Kalau pun tidak berubah menjadi bunga, paling tidak senjata-senjata itu menjadi puisi. Di hadapan link, tidak ada jalan lain bagi aktor selain menerima dan tunduk.

Bourdieu menganggap aktor sosial memiliki modal yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan [habitus]. Meski habitus memang tidak menentukan dalam praktik sosial, tapi punya andil dalam memengaruhinya. Karang awak pada kenyataannya sanggup memengaruhi karang sawah. Begitu pula sebaliknya. Pengaruh ini tidak pernah berjalan satu arah, tetapi bolak-balik. Oleh sebab itu, link adalah bentuk karang sawah lainnya yang mempengaruhi karang awak. Meskipun link ini terkesan diabaikan dalam teori, sunguh sangat berbeda dalam praktiknya. Bahkan link bisa menjadi konci rahasya untuk membuka pintu-pintu yang tertutup rapat. Seperti mantra Abracadabra!

Kita sesungguhnya tidak perlu lagi mendaftar contoh-contoh di mana link adalah koentji. Kita bisa dengan mudah menemukan pemanfaatannya di berbagai bidang, entah di bidang politik, ekonomi, seni, bahkan agama sekali pun. Anak sekolah, pekerjaan, jabatan, itu semua juga didasari oleh link dalam batas-batas tertentu. Bahkan dalam sastra, link juga akan sangat membantu. Sastra memang dianggap lahir dari keluhuran budi, dan dengan begitu sastra dianggap sangat jauh dari hal-hal berbau anyir kalau tidak boleh disebut busuk.

Dalam tradisi, sastra bahkan diyakini dengan sangat, bisa menyucikan batin karena ia lahir dari kesucian. Sastra adalah dunia ideal di mana hal-hal lain selain kesucian, tidak akan punya tempat. Karena itu kita sulit menemukan sebuah cerita sastra yang berakhir sad ending. Bahkan dalam cerita pertempuran Dharma dan Adharma yang diwakili oleh Barong dan Rangda sekalipun, tidak jelas siapa yang dimenangkan dan siapa yang dikalahkan.

Sebenarnya, orang juga harus menerima, pembersihan dengan cara sastra juga membutuhkan link. Sebelum seseorang bisa membaca isinya dan meneguk sari patinya yang konon serupa amerta itu, terlebih dahulu orang mesti mampu mengakses naskahnya. Nyatanya, naskah-teks tertentu yang tidak umum di perpustakaan-perpustakaan hanya bisa dibuka lewat mantra khusus link abracadabra. Karena itu, karang awak yang konon mesti ditanami bija-bija sastra, membutuhkan penunjang yang teramat penting ini. Sehingga bija itu bisa tumbuh, mengakar sampai di sanubari dan membuat otak lebih bercahaya.

Link bisa didapat dengan beberapa macam cara. Cara paling natural adalah memanfaatkan anugerah kelahiran. Pemanfaatan ini sudah pernah terjadi di masa lampau, terutama pada masa kerajaan. Kita tahu betul kalau pelanjut kekuasaan bisa dilakukan atas dasar keturunan. Misalnya dua anak Airlangga yang sebenarnya ingin diberikan kekuasaan di Jawa dan Bali. Konsolidasi politik ini dilakukan oleh Mpu Baradah dengan menemui Mpu Kuturan. Tafsir atas pertemuan dua Mpu itu, bisa dibaca dalam tulisan Soewitosantoso. Melalui catatan teks Calon Arang, kita diberitahu bahwa kelahiran adalah anugerah yang bisa dimanfaatkan sebagai link. Dan tentu saja, pola ini masih berlaku sampai hari ini.

Cara lain untuk mendapat link adalah dengan memperluas pergaulan. Pergaulan bisa didapat dengan menyamakan frekwensi. Struktur mental atau kognitif, sangat berperan dalam hal ini. Struktur itulah yang nanti menjadi bekal aktor sosial untuk merasakan, memahami, menyadari dan menilai dunia sosial. Artinya, aktor sosial dapat memperluas pergaulan dengan memperbanyak bekal kognitifnya. Di masa depan, bekal kognitif yang diasah terus menerus akan memberikan pengaruh pada dunia sosial, tempat di mana sang aktor tinggal dengan sendirinya.

Sebuah Anime berjudul Tensei Shitara Suraimu Datta Ken – disingkat TenSura – menunjukkan bahwa bekal ingatan kognitif yang dibawa oleh tokoh utamanya yakni Satoru Mikami membawa keuntungan bagi dirinya. Satoru Mikami adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan yang meninggal karena ditikam, dan masuk ke dalam dunia Isekai. Di dunia baru itu, dia bergaul dengan karakter-karakter hebat, termasuk seekor naga bernama Veldora. Karena dia bergaul dengan Veldora, Satoru yang sudah bereinkarnasi menjadi slime, juga mendapatkan nama yakni Rimuru. Setelahnya, dia bergaul lagi dengan karakter-karakter hebat lainnya seperti Diablo dan para Demon Lord. Pergaulan itu, memungkinkan dia mendapat link dan menjadi salah satu karakter yang over power [OP].

Link dengan demikian memang bisa didapat karena nature dan nurture. Karang awak dan karang sawah, mula-mula adalah nature yang bisa dijadikan modal awal untuk meraih tujuan. Tapi modal itu saja belum cukup, karena butuh usaha atau nurture untuk mengolah kedua karang itu menjadi modal yang lebih kuat. Untuk membikin modal yang kuat, aktor sosial mesti memiliki kekuatan untuk menahan rasa sakit. Sayangnya, itu belum cukup. Rasa sakit memang mengajarkan aktor untuk belajar bertahan dan bahkan membentuk koloni atas dasar sependeritaan. Ada banyak ajaran untuk mengembangkan kemampuan bertahan dari rasa sakit. Tapi tantangan sebenarnya bukanlah dari rasa sakit, justru dari rasa bahagia. Kebahagiaan selalu membuat aktor-aktor tidak mawas diri dan lupa memasang kuda-kuda. Perasaan bahagia yang membuncah lebih sulit ditahan dari pada rasa sakit. Maka aktor sosial juga mesti memiliki kekuatan untuk menahan diri dari rasa bahagia.

Bila karang sawah tidak ada, karang awak yang ditanami pun sebenarnya belum cukup sebagai bekal hidup. Ada faktor lain seperti misalnya link yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Setelah link didapat, tahap selanjutnya adalah menahan luka dan suka. Bukankah, siapa yang mampu menahan luka, mestinya ia juga berlaku sama pada suka? [T]

___

Baca Esai-esai DARMA PUTRA yang lain

Tags: filsafatrenungansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Post Pandemic Effect: Rendahnya Literasi Siswa

Next Post

Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co