12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2021
in Esai
“Karang Sawah” dari Bourdieu ke TenSura

Bila tak punya karang sawah, tanami karang awak. Karang sawah selain secara harfiah berarti tanah sawah, juga berarti segala milik yang ada di luar diri, seperti: uang, rumah, pakaian, makanan. Sedangkan karang sawah, berarti diri. Diri adalah tubuh beserta segala lapisannya, yakni fisik, pikiran, kecerdasan, kesadaran. Jadi, IPM Sidemen bermaksud mengatakan bahwa hal-hal bendawi yang tidak dimiliki, bisa “disiasati” dengan diri. Tetapi latihan fisik, olah pikir, olah rasa yang dilakukan terus menerus saja tidak cukup dan sangat romantik. Agar kemampuan-kemampuan itu berguna, orang butuh ruang yang tepat. Sehingga kemampuan-kemampuan itu benar-benar dapat berguna dan dibutuhkan oleh lingkungan atau dalam bahasa IPM Sidemen “guna dusun ne kanggo ring desa-desa”. Dengan kata lain, bila kemampuan itu dianggap tidak dibutuhkan, guna jadi tidak berguna.

Andai kata kemampuan-kemampuan itu dibutuhkan, butuh satu lagi penunjang, yakni hubungan, link! Dalam banyak kasus di sekitar kita, kita membutuhkan penunjang yang satu ini. Kebiasaan, usaha, kerja keras, semua itu tumpul di hadapan link. Seperti panah-panah sakti Arjuna di hadapan Nilacandra. Atau senjata-senjata Purusadha di hadapan Sutasoma. Semua kesaktian-kesaktian itu tumpul dan menjadi bunga-bunga yang harum. Kalau pun tidak berubah menjadi bunga, paling tidak senjata-senjata itu menjadi puisi. Di hadapan link, tidak ada jalan lain bagi aktor selain menerima dan tunduk.

Bourdieu menganggap aktor sosial memiliki modal yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan [habitus]. Meski habitus memang tidak menentukan dalam praktik sosial, tapi punya andil dalam memengaruhinya. Karang awak pada kenyataannya sanggup memengaruhi karang sawah. Begitu pula sebaliknya. Pengaruh ini tidak pernah berjalan satu arah, tetapi bolak-balik. Oleh sebab itu, link adalah bentuk karang sawah lainnya yang mempengaruhi karang awak. Meskipun link ini terkesan diabaikan dalam teori, sunguh sangat berbeda dalam praktiknya. Bahkan link bisa menjadi konci rahasya untuk membuka pintu-pintu yang tertutup rapat. Seperti mantra Abracadabra!

Kita sesungguhnya tidak perlu lagi mendaftar contoh-contoh di mana link adalah koentji. Kita bisa dengan mudah menemukan pemanfaatannya di berbagai bidang, entah di bidang politik, ekonomi, seni, bahkan agama sekali pun. Anak sekolah, pekerjaan, jabatan, itu semua juga didasari oleh link dalam batas-batas tertentu. Bahkan dalam sastra, link juga akan sangat membantu. Sastra memang dianggap lahir dari keluhuran budi, dan dengan begitu sastra dianggap sangat jauh dari hal-hal berbau anyir kalau tidak boleh disebut busuk.

Dalam tradisi, sastra bahkan diyakini dengan sangat, bisa menyucikan batin karena ia lahir dari kesucian. Sastra adalah dunia ideal di mana hal-hal lain selain kesucian, tidak akan punya tempat. Karena itu kita sulit menemukan sebuah cerita sastra yang berakhir sad ending. Bahkan dalam cerita pertempuran Dharma dan Adharma yang diwakili oleh Barong dan Rangda sekalipun, tidak jelas siapa yang dimenangkan dan siapa yang dikalahkan.

Sebenarnya, orang juga harus menerima, pembersihan dengan cara sastra juga membutuhkan link. Sebelum seseorang bisa membaca isinya dan meneguk sari patinya yang konon serupa amerta itu, terlebih dahulu orang mesti mampu mengakses naskahnya. Nyatanya, naskah-teks tertentu yang tidak umum di perpustakaan-perpustakaan hanya bisa dibuka lewat mantra khusus link abracadabra. Karena itu, karang awak yang konon mesti ditanami bija-bija sastra, membutuhkan penunjang yang teramat penting ini. Sehingga bija itu bisa tumbuh, mengakar sampai di sanubari dan membuat otak lebih bercahaya.

Link bisa didapat dengan beberapa macam cara. Cara paling natural adalah memanfaatkan anugerah kelahiran. Pemanfaatan ini sudah pernah terjadi di masa lampau, terutama pada masa kerajaan. Kita tahu betul kalau pelanjut kekuasaan bisa dilakukan atas dasar keturunan. Misalnya dua anak Airlangga yang sebenarnya ingin diberikan kekuasaan di Jawa dan Bali. Konsolidasi politik ini dilakukan oleh Mpu Baradah dengan menemui Mpu Kuturan. Tafsir atas pertemuan dua Mpu itu, bisa dibaca dalam tulisan Soewitosantoso. Melalui catatan teks Calon Arang, kita diberitahu bahwa kelahiran adalah anugerah yang bisa dimanfaatkan sebagai link. Dan tentu saja, pola ini masih berlaku sampai hari ini.

Cara lain untuk mendapat link adalah dengan memperluas pergaulan. Pergaulan bisa didapat dengan menyamakan frekwensi. Struktur mental atau kognitif, sangat berperan dalam hal ini. Struktur itulah yang nanti menjadi bekal aktor sosial untuk merasakan, memahami, menyadari dan menilai dunia sosial. Artinya, aktor sosial dapat memperluas pergaulan dengan memperbanyak bekal kognitifnya. Di masa depan, bekal kognitif yang diasah terus menerus akan memberikan pengaruh pada dunia sosial, tempat di mana sang aktor tinggal dengan sendirinya.

Sebuah Anime berjudul Tensei Shitara Suraimu Datta Ken – disingkat TenSura – menunjukkan bahwa bekal ingatan kognitif yang dibawa oleh tokoh utamanya yakni Satoru Mikami membawa keuntungan bagi dirinya. Satoru Mikami adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan yang meninggal karena ditikam, dan masuk ke dalam dunia Isekai. Di dunia baru itu, dia bergaul dengan karakter-karakter hebat, termasuk seekor naga bernama Veldora. Karena dia bergaul dengan Veldora, Satoru yang sudah bereinkarnasi menjadi slime, juga mendapatkan nama yakni Rimuru. Setelahnya, dia bergaul lagi dengan karakter-karakter hebat lainnya seperti Diablo dan para Demon Lord. Pergaulan itu, memungkinkan dia mendapat link dan menjadi salah satu karakter yang over power [OP].

Link dengan demikian memang bisa didapat karena nature dan nurture. Karang awak dan karang sawah, mula-mula adalah nature yang bisa dijadikan modal awal untuk meraih tujuan. Tapi modal itu saja belum cukup, karena butuh usaha atau nurture untuk mengolah kedua karang itu menjadi modal yang lebih kuat. Untuk membikin modal yang kuat, aktor sosial mesti memiliki kekuatan untuk menahan rasa sakit. Sayangnya, itu belum cukup. Rasa sakit memang mengajarkan aktor untuk belajar bertahan dan bahkan membentuk koloni atas dasar sependeritaan. Ada banyak ajaran untuk mengembangkan kemampuan bertahan dari rasa sakit. Tapi tantangan sebenarnya bukanlah dari rasa sakit, justru dari rasa bahagia. Kebahagiaan selalu membuat aktor-aktor tidak mawas diri dan lupa memasang kuda-kuda. Perasaan bahagia yang membuncah lebih sulit ditahan dari pada rasa sakit. Maka aktor sosial juga mesti memiliki kekuatan untuk menahan diri dari rasa bahagia.

Bila karang sawah tidak ada, karang awak yang ditanami pun sebenarnya belum cukup sebagai bekal hidup. Ada faktor lain seperti misalnya link yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Setelah link didapat, tahap selanjutnya adalah menahan luka dan suka. Bukankah, siapa yang mampu menahan luka, mestinya ia juga berlaku sama pada suka? [T]

___

Baca Esai-esai DARMA PUTRA yang lain

Tags: filsafatrenungansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Post Pandemic Effect: Rendahnya Literasi Siswa

Next Post

Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

Inilah Peraih Anugerah untuk Karya Film Pendek Nasional dan Internasional di Minikino Film Week 7

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co