25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjata itu Bernama “Saselet”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 15, 2021
in Esai
Senjata itu Bernama “Saselet”

Apa sebenarnya yang sedang terjadi hari-hari ini? Sejak beberapa hari lalu, setiap tengah malam saya kerap mendengar suara-suara aneh, berisik, kadang ada ledakan-ledakan yang diikuti jeritan dan bau hangus, datang dari arah jalan di sekitar rumah. Peristiwa ini bisa berlangsung beberapa kali dalam satu malam hingga menjelang subuh.

“Ini aneh,” pikir saya, “tak biasanya ada keributan di sini. Ada apa sebenarnya?”

Karena penasaran, tadi malam saya mencoba mengintip dari jendela lantai atas. Pelan-pelan saya singkap tepi gorden dan menengok ke bawah mencari-cari sumber suara itu. Tapi saya tidak melihat siapa pun.

Saya berdiri cukup lama di balik kaca jendela, menunggu-nunggu siapa tahu suara-suara itu tiba-tiba muncul. Hp pun sudah saya siapkan untuk mengambil gambar. Namun sejauh itu suasananya tetap saja sepi jampi. Tak terjadi apa-apa. Tak ada suara-suara. Jalanan dan gang-gang diam membeku. Lampu-lampu di tiang listrik seperti mata lelah, sinarnya layu dan kemerahan. Semua toko dan warung masih tidur nyenyak. Tak ada pergerakan. Tak ada kehidupan. Suasana malam sepenuhnya dikuasai kesunyian yang bisu. Segelintir angin pun tak ada yang lewat. Saya hanya bisa bengong sambil beberapa kali menghela napas, melepaskan suasana tegang dari pikiran.

Karena tak menemukan apa-apa, kain gorden saya rapatkan kembali. Saya bermaksud tidur meskipun masih diliputi rasa penasaran.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.  Suasana sunyi di luar seperti merayap masuk rumah dan itu membuat kamar saya tiba-tiba terasa senyap.

Saya ke toilet, buang air kecil. Karena suasana rumah sepi, bunyi air flash dari kloset terdengar sangat nyaring dan bergemuruh. Begitu juga aliran air yang mengisi kembali tangki kloset. Seakan-akan suara kucuran air itu terus merayap, mendengung panjang, dan memantulkan gema bisingnya ke seluruh ruangan.

“Malam yang aneh,” kata saya dalam hati sambil menutup kloset dengan hati-hati. Saya sempat menoleh ke cermin dan melihat sekelebat bayangan melintas di sana, selekas gerakan tubuh saya yang beranjak meninggalkan toilet.

Sewaktu menutup pintu, tiba-tiba telinga saya menangkap suara-suara bergetar dari arah kejauhan.  Semakin lama semakin jelas dan mendekat di bawah jendela. Suara itu tak putus-putus dan terus sambung menyambung bagai gelombang yang datang dari arah utara.

“Wah, suara-suara itu datang,” saya berkata pada diri sendiri sambil mendekat ke jendela.

Pelan-pelan saya singkap gorden dan menempelkan kepala di jendela agar bisa melihat ke bawah.  Dada saya berdegup kencang ketika saya melihat ada serombongan orang tiba dengan serta merta dan berkerumun di depan toko di seberang rumah saya.

Karena agak gelap saya tak dapat memastikan jumlah mereka. Mungkin 15 orang. Mereka tampak seperti sosok-sosok misterius yang terus bergerak-gerak dalam rombongan mereka sambil mengeluarkan suara-suara menggumam. Tak jauh dari situ, sekitar 20 meter di belakangnya, juga ada rombongan lain, dengan tingkah laku serupa, terus bergerak-gerak dan mengeluarkan suara-suara aneh.

Mereka terlihat sebagai sosok-sosok berpakaian hitam, ikat kepala merah. Rambutnya gimbal sebahu. Sorot matanya tajam penuh selidik. Saya tak dapat mengenali mukanya karena tersamarkan oleh polesan pamor. Tapi saya tahu mereka sedang bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Sebagian di antaranya terus mengacung-acungkan senjatanya ke udara sambil mendengus yang suaranya terdengar bagai gagak batuk.

Saya perhatikan gerak-gerik mereka dan bertanya-tanya dalam hati: Siapa gerangan mereka. Mengapa malam-malam bikin keributan di jalan?

Sesaat suasana jadi hening ketika sosok-sosok berpakaian hitam itu membuat gerakan ancang-ancang. Mereka menarik tubuhnya agak ke belakang dengan lutut merendah, tangannya menggenggam senjata terhunus di dada.

Kemudian sosok yang berdiri paling depan, mungkin itu pemimpinnya, tiba-tiba berteriak dengan suara melengking dan menyeramkan: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Serbuuu…!” Secara serentak, seluruh anggota rombongan itu melesat ke depan. Tubuh mereka terlontar secepat krebek dan lari sekencang-kencangnya, bagai air bah, sambil berseru-seru, “Hancurkan… hancurkan…!”

Mereka meluncur ke selatan, berkelebat bagai bayangan menerobos pekatnya malam, seakan hendak menyergap sesuatu di sana. Mata saya terus mengikuti pergerakan mereka.

Sesampai di perempatan, tanpa membuang waktu, seluruh anggota rombongan langsung terlibat pertempuran. Mereka  menyabit-nyabitkan senjatanya dengan ganas ke kanan atau kiri, berusaha menebas dan menghabisi musuh di tengah kegelapan.

Mereka bertempur laksana pendekar. Sesekali ada yang meloncat ke atas tembok atau pohon, yang lain menerjang ke belakang semak-semak seakan-akan musuh sedang sembunyi di sana.

Yang paling seru tentu saja ketika dari senjata mereka berkali-kali keluar percikan-percikan api yang kemudian meledak menjadi kembang api seakan hendak membakar habis lawan-lawannya. Percikan api itu menyambar ke mana-mana.

Pertempuran brutal dan riuh di perempatan ini berlangsung sekitar lima menit sebelum akhirnya mereka semua dengan cepat melesat ke arah barat mengejar musuh-musuhnya yang kocar-kacir melarikan diri.

“Berhenti!” teriak pimpinan mereka ketika tiba di ujung jalan, “kita tidak perlu mengejarnya lagi. Mereka sudah masuk Jalan Kenyeri. Itu bukan wilayah kita. Biarkan Pasukan Jalan Kenyeri yang menghadang mereka. Sekarang kita kembali ke Jalan Gumitir.”

Rombongan ini berbalik, kembali ke wilayah mereka di Jalan Gumitir sesuai perintah pimpinannya. Di perempatan, di arena pertempuran tadi, mereka lalu berkumpul dan istirahat untuk memulihkan tenaga.

Di sini mereka duduk berkerumun sambil menghilangkan lapar-dahaga. Ada yang minum arak, brem atau tuak, sambil mengunyah nasi warna-warni. Ada nasi berwarna merah, kuning, putih, dan hitam.

“Kita sedang berhadapan dengan musuh yang licin. Susah dikalahkan. Mereka seperti memiliki ajian rawarontek. Cepat sekali mereka memecah diri, mati satu tumbuh lagi yang lain.” Mereka itu mulai mengobrol ketika situasi agak tenang.

“Betul. Mereka kecil tapi gesit. Padahal mereka tak melawan. Tadi tenaga saya sudah terkuras tapi musuh tak ada habis-habisnya,” ujar temannya dengan napas ngos-ngosan.

“Mungkin senjata kita ini tidak tepat, tidak bisa membasmi mereka dengan cepat,” kata salah seorang di antara mereka.

“Tidak, Bung. Senjata kita ini cukup bertuah. Namanya saselet atau sasuwuk. Bahannya memang dari pandan berduri dilengkapi bawang merah dan bawang putih, tapi duri-duri ini dapat mengeluarkan percikan-percikan api gaib untuk menghanguskan musuh,” jawab rekannya.

Lalu pemimpin mereka berkata, “Sekarang musuh memang belum tunduk. Kita tunggu saat mereka lengah dan lemah. Semua ada waktunya. Kita adalah Pasukan Penjaga Lebuh. Kita harus tetap optimis. Semangat…!” teriaknya sambil mengacungkan senjata saselet-nya.

“Semangat…!” Sahut mereka secara serentak dan mengepal-ngepalkan tangan ke atas.

Sementara kelompok kedua yang sedang berkerumun di utara diminta membubarkan diri dan kembali berjaga-jaga di setiap pos di depan pintu rumah atau persimpangan, sambil terus mengawasi pergerakan musuh di sepanjang Jalan Gumitir ini.

Di tengah keasyikan ngobrol dan minum-minum itu, kemudian terdengar pekikan-pekikan dari arah Jalan Kenyeri. Rupa-rupanya Pasukan Penjaga Lebuh Jalan Kenyeri saat ini sedang bertempur menghadapi musuh di sana. Berkali-kali pula terdengar ledakan serta pijaran kembang api dari dalam pertempuran itu.

Saya tidak tahu berapa lama pertempuran itu berkecamuk. Saya juga tidak tahu, apakah mereka dapat menghabisi musuhnya?

Malam semakin mendekati pagi. Entah bagaimana, para Tentara Penjaga Lebuh itu tiba-tiba saja hilang dari jalan. Mereka lenyap begitu saja tanpa jejak, seperti makhluk gaib. Itu membuat suasana kembali membeku seperti diliputi misteri yang sepi.

Saya menutup gorden dan menjauh dari jendela.

Sekarang saya tahu rupanya pasukan gaib ini dan pertempuran-pertempuran mereka di hari-hari sebelumnya itulah  sumber suara-suara aneh yang kerap terdengar oleh saya setiap tengah malam sampai menjelang pagi itu.

Keesokan harinya saya juga tahu, ternyata pasukan gaib bersenjata saselet itu belum berhasil menghabisi seluruh musuh. Masih banyak musuh yang gentayangan. Saya mengetahui itu dari berita saat pemerintah mengumumkan PPKM Jawa-Bali diperpanjang lagi hingga 16 Agustus, yang artinya virus Covid-19 sebagai musuh bersama itu masih belum sepenuhnya tumpas dari sekitar kita.

Lalu saya memeriksa saselet di pintu gerbang rumah saya. Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala perlengkapannya itu masih terikat di sana walau daunnya sudah mulai layu di ujungnya. Benda ini diikat di situ sejak tiga hari lalu, juga di gerbang rumah para tetangga, melalui sejumlah ritual yang diinisiasi oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali.

Mungkin saselet itu dimaksudkan semacam sikep penolak bala di musim pandemi ini. Tahun lalu ritual serupa telah pula dilaksanakan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet tapi dengan bentuk “nasi wong-wongan”.

Kemudian saya memeriksa saselet di gerbang rumah saya.  Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala aksesorisnya itu masih terikat di sana meski daunnya sudah mulai layu di ujungnya.  Benda ini diikat di sana sejak tiga hari lalu, juga di pintu-pintu gerbang rumah tetangga, melalui sejumlah ritual yang digagas oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali. Mungkin saselet ini dimaksudkan sebagai semacam sikep atau penangkal bala di musim pandemi.

Tahun lalu ritual serupa telah pula dilakukan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet melainkan berupa “nasi wong-wongan” yang kesannya sangat mistis. [T]

Tags: balipandemiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Orang Gagal Bedakan Fakta atau Fiksi | Pembaca Berhadapan dengan Realitas “Blur”

Next Post

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co