12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjata itu Bernama “Saselet”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 15, 2021
in Esai
Senjata itu Bernama “Saselet”

Apa sebenarnya yang sedang terjadi hari-hari ini? Sejak beberapa hari lalu, setiap tengah malam saya kerap mendengar suara-suara aneh, berisik, kadang ada ledakan-ledakan yang diikuti jeritan dan bau hangus, datang dari arah jalan di sekitar rumah. Peristiwa ini bisa berlangsung beberapa kali dalam satu malam hingga menjelang subuh.

“Ini aneh,” pikir saya, “tak biasanya ada keributan di sini. Ada apa sebenarnya?”

Karena penasaran, tadi malam saya mencoba mengintip dari jendela lantai atas. Pelan-pelan saya singkap tepi gorden dan menengok ke bawah mencari-cari sumber suara itu. Tapi saya tidak melihat siapa pun.

Saya berdiri cukup lama di balik kaca jendela, menunggu-nunggu siapa tahu suara-suara itu tiba-tiba muncul. Hp pun sudah saya siapkan untuk mengambil gambar. Namun sejauh itu suasananya tetap saja sepi jampi. Tak terjadi apa-apa. Tak ada suara-suara. Jalanan dan gang-gang diam membeku. Lampu-lampu di tiang listrik seperti mata lelah, sinarnya layu dan kemerahan. Semua toko dan warung masih tidur nyenyak. Tak ada pergerakan. Tak ada kehidupan. Suasana malam sepenuhnya dikuasai kesunyian yang bisu. Segelintir angin pun tak ada yang lewat. Saya hanya bisa bengong sambil beberapa kali menghela napas, melepaskan suasana tegang dari pikiran.

Karena tak menemukan apa-apa, kain gorden saya rapatkan kembali. Saya bermaksud tidur meskipun masih diliputi rasa penasaran.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.  Suasana sunyi di luar seperti merayap masuk rumah dan itu membuat kamar saya tiba-tiba terasa senyap.

Saya ke toilet, buang air kecil. Karena suasana rumah sepi, bunyi air flash dari kloset terdengar sangat nyaring dan bergemuruh. Begitu juga aliran air yang mengisi kembali tangki kloset. Seakan-akan suara kucuran air itu terus merayap, mendengung panjang, dan memantulkan gema bisingnya ke seluruh ruangan.

“Malam yang aneh,” kata saya dalam hati sambil menutup kloset dengan hati-hati. Saya sempat menoleh ke cermin dan melihat sekelebat bayangan melintas di sana, selekas gerakan tubuh saya yang beranjak meninggalkan toilet.

Sewaktu menutup pintu, tiba-tiba telinga saya menangkap suara-suara bergetar dari arah kejauhan.  Semakin lama semakin jelas dan mendekat di bawah jendela. Suara itu tak putus-putus dan terus sambung menyambung bagai gelombang yang datang dari arah utara.

“Wah, suara-suara itu datang,” saya berkata pada diri sendiri sambil mendekat ke jendela.

Pelan-pelan saya singkap gorden dan menempelkan kepala di jendela agar bisa melihat ke bawah.  Dada saya berdegup kencang ketika saya melihat ada serombongan orang tiba dengan serta merta dan berkerumun di depan toko di seberang rumah saya.

Karena agak gelap saya tak dapat memastikan jumlah mereka. Mungkin 15 orang. Mereka tampak seperti sosok-sosok misterius yang terus bergerak-gerak dalam rombongan mereka sambil mengeluarkan suara-suara menggumam. Tak jauh dari situ, sekitar 20 meter di belakangnya, juga ada rombongan lain, dengan tingkah laku serupa, terus bergerak-gerak dan mengeluarkan suara-suara aneh.

Mereka terlihat sebagai sosok-sosok berpakaian hitam, ikat kepala merah. Rambutnya gimbal sebahu. Sorot matanya tajam penuh selidik. Saya tak dapat mengenali mukanya karena tersamarkan oleh polesan pamor. Tapi saya tahu mereka sedang bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Sebagian di antaranya terus mengacung-acungkan senjatanya ke udara sambil mendengus yang suaranya terdengar bagai gagak batuk.

Saya perhatikan gerak-gerik mereka dan bertanya-tanya dalam hati: Siapa gerangan mereka. Mengapa malam-malam bikin keributan di jalan?

Sesaat suasana jadi hening ketika sosok-sosok berpakaian hitam itu membuat gerakan ancang-ancang. Mereka menarik tubuhnya agak ke belakang dengan lutut merendah, tangannya menggenggam senjata terhunus di dada.

Kemudian sosok yang berdiri paling depan, mungkin itu pemimpinnya, tiba-tiba berteriak dengan suara melengking dan menyeramkan: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Serbuuu…!” Secara serentak, seluruh anggota rombongan itu melesat ke depan. Tubuh mereka terlontar secepat krebek dan lari sekencang-kencangnya, bagai air bah, sambil berseru-seru, “Hancurkan… hancurkan…!”

Mereka meluncur ke selatan, berkelebat bagai bayangan menerobos pekatnya malam, seakan hendak menyergap sesuatu di sana. Mata saya terus mengikuti pergerakan mereka.

Sesampai di perempatan, tanpa membuang waktu, seluruh anggota rombongan langsung terlibat pertempuran. Mereka  menyabit-nyabitkan senjatanya dengan ganas ke kanan atau kiri, berusaha menebas dan menghabisi musuh di tengah kegelapan.

Mereka bertempur laksana pendekar. Sesekali ada yang meloncat ke atas tembok atau pohon, yang lain menerjang ke belakang semak-semak seakan-akan musuh sedang sembunyi di sana.

Yang paling seru tentu saja ketika dari senjata mereka berkali-kali keluar percikan-percikan api yang kemudian meledak menjadi kembang api seakan hendak membakar habis lawan-lawannya. Percikan api itu menyambar ke mana-mana.

Pertempuran brutal dan riuh di perempatan ini berlangsung sekitar lima menit sebelum akhirnya mereka semua dengan cepat melesat ke arah barat mengejar musuh-musuhnya yang kocar-kacir melarikan diri.

“Berhenti!” teriak pimpinan mereka ketika tiba di ujung jalan, “kita tidak perlu mengejarnya lagi. Mereka sudah masuk Jalan Kenyeri. Itu bukan wilayah kita. Biarkan Pasukan Jalan Kenyeri yang menghadang mereka. Sekarang kita kembali ke Jalan Gumitir.”

Rombongan ini berbalik, kembali ke wilayah mereka di Jalan Gumitir sesuai perintah pimpinannya. Di perempatan, di arena pertempuran tadi, mereka lalu berkumpul dan istirahat untuk memulihkan tenaga.

Di sini mereka duduk berkerumun sambil menghilangkan lapar-dahaga. Ada yang minum arak, brem atau tuak, sambil mengunyah nasi warna-warni. Ada nasi berwarna merah, kuning, putih, dan hitam.

“Kita sedang berhadapan dengan musuh yang licin. Susah dikalahkan. Mereka seperti memiliki ajian rawarontek. Cepat sekali mereka memecah diri, mati satu tumbuh lagi yang lain.” Mereka itu mulai mengobrol ketika situasi agak tenang.

“Betul. Mereka kecil tapi gesit. Padahal mereka tak melawan. Tadi tenaga saya sudah terkuras tapi musuh tak ada habis-habisnya,” ujar temannya dengan napas ngos-ngosan.

“Mungkin senjata kita ini tidak tepat, tidak bisa membasmi mereka dengan cepat,” kata salah seorang di antara mereka.

“Tidak, Bung. Senjata kita ini cukup bertuah. Namanya saselet atau sasuwuk. Bahannya memang dari pandan berduri dilengkapi bawang merah dan bawang putih, tapi duri-duri ini dapat mengeluarkan percikan-percikan api gaib untuk menghanguskan musuh,” jawab rekannya.

Lalu pemimpin mereka berkata, “Sekarang musuh memang belum tunduk. Kita tunggu saat mereka lengah dan lemah. Semua ada waktunya. Kita adalah Pasukan Penjaga Lebuh. Kita harus tetap optimis. Semangat…!” teriaknya sambil mengacungkan senjata saselet-nya.

“Semangat…!” Sahut mereka secara serentak dan mengepal-ngepalkan tangan ke atas.

Sementara kelompok kedua yang sedang berkerumun di utara diminta membubarkan diri dan kembali berjaga-jaga di setiap pos di depan pintu rumah atau persimpangan, sambil terus mengawasi pergerakan musuh di sepanjang Jalan Gumitir ini.

Di tengah keasyikan ngobrol dan minum-minum itu, kemudian terdengar pekikan-pekikan dari arah Jalan Kenyeri. Rupa-rupanya Pasukan Penjaga Lebuh Jalan Kenyeri saat ini sedang bertempur menghadapi musuh di sana. Berkali-kali pula terdengar ledakan serta pijaran kembang api dari dalam pertempuran itu.

Saya tidak tahu berapa lama pertempuran itu berkecamuk. Saya juga tidak tahu, apakah mereka dapat menghabisi musuhnya?

Malam semakin mendekati pagi. Entah bagaimana, para Tentara Penjaga Lebuh itu tiba-tiba saja hilang dari jalan. Mereka lenyap begitu saja tanpa jejak, seperti makhluk gaib. Itu membuat suasana kembali membeku seperti diliputi misteri yang sepi.

Saya menutup gorden dan menjauh dari jendela.

Sekarang saya tahu rupanya pasukan gaib ini dan pertempuran-pertempuran mereka di hari-hari sebelumnya itulah  sumber suara-suara aneh yang kerap terdengar oleh saya setiap tengah malam sampai menjelang pagi itu.

Keesokan harinya saya juga tahu, ternyata pasukan gaib bersenjata saselet itu belum berhasil menghabisi seluruh musuh. Masih banyak musuh yang gentayangan. Saya mengetahui itu dari berita saat pemerintah mengumumkan PPKM Jawa-Bali diperpanjang lagi hingga 16 Agustus, yang artinya virus Covid-19 sebagai musuh bersama itu masih belum sepenuhnya tumpas dari sekitar kita.

Lalu saya memeriksa saselet di pintu gerbang rumah saya. Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala perlengkapannya itu masih terikat di sana walau daunnya sudah mulai layu di ujungnya. Benda ini diikat di situ sejak tiga hari lalu, juga di gerbang rumah para tetangga, melalui sejumlah ritual yang diinisiasi oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali.

Mungkin saselet itu dimaksudkan semacam sikep penolak bala di musim pandemi ini. Tahun lalu ritual serupa telah pula dilaksanakan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet tapi dengan bentuk “nasi wong-wongan”.

Kemudian saya memeriksa saselet di gerbang rumah saya.  Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala aksesorisnya itu masih terikat di sana meski daunnya sudah mulai layu di ujungnya.  Benda ini diikat di sana sejak tiga hari lalu, juga di pintu-pintu gerbang rumah tetangga, melalui sejumlah ritual yang digagas oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali. Mungkin saselet ini dimaksudkan sebagai semacam sikep atau penangkal bala di musim pandemi.

Tahun lalu ritual serupa telah pula dilakukan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet melainkan berupa “nasi wong-wongan” yang kesannya sangat mistis. [T]

Tags: balipandemiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Orang Gagal Bedakan Fakta atau Fiksi | Pembaca Berhadapan dengan Realitas “Blur”

Next Post

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co