23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjata itu Bernama “Saselet”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 15, 2021
in Esai
Senjata itu Bernama “Saselet”

Apa sebenarnya yang sedang terjadi hari-hari ini? Sejak beberapa hari lalu, setiap tengah malam saya kerap mendengar suara-suara aneh, berisik, kadang ada ledakan-ledakan yang diikuti jeritan dan bau hangus, datang dari arah jalan di sekitar rumah. Peristiwa ini bisa berlangsung beberapa kali dalam satu malam hingga menjelang subuh.

“Ini aneh,” pikir saya, “tak biasanya ada keributan di sini. Ada apa sebenarnya?”

Karena penasaran, tadi malam saya mencoba mengintip dari jendela lantai atas. Pelan-pelan saya singkap tepi gorden dan menengok ke bawah mencari-cari sumber suara itu. Tapi saya tidak melihat siapa pun.

Saya berdiri cukup lama di balik kaca jendela, menunggu-nunggu siapa tahu suara-suara itu tiba-tiba muncul. Hp pun sudah saya siapkan untuk mengambil gambar. Namun sejauh itu suasananya tetap saja sepi jampi. Tak terjadi apa-apa. Tak ada suara-suara. Jalanan dan gang-gang diam membeku. Lampu-lampu di tiang listrik seperti mata lelah, sinarnya layu dan kemerahan. Semua toko dan warung masih tidur nyenyak. Tak ada pergerakan. Tak ada kehidupan. Suasana malam sepenuhnya dikuasai kesunyian yang bisu. Segelintir angin pun tak ada yang lewat. Saya hanya bisa bengong sambil beberapa kali menghela napas, melepaskan suasana tegang dari pikiran.

Karena tak menemukan apa-apa, kain gorden saya rapatkan kembali. Saya bermaksud tidur meskipun masih diliputi rasa penasaran.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.  Suasana sunyi di luar seperti merayap masuk rumah dan itu membuat kamar saya tiba-tiba terasa senyap.

Saya ke toilet, buang air kecil. Karena suasana rumah sepi, bunyi air flash dari kloset terdengar sangat nyaring dan bergemuruh. Begitu juga aliran air yang mengisi kembali tangki kloset. Seakan-akan suara kucuran air itu terus merayap, mendengung panjang, dan memantulkan gema bisingnya ke seluruh ruangan.

“Malam yang aneh,” kata saya dalam hati sambil menutup kloset dengan hati-hati. Saya sempat menoleh ke cermin dan melihat sekelebat bayangan melintas di sana, selekas gerakan tubuh saya yang beranjak meninggalkan toilet.

Sewaktu menutup pintu, tiba-tiba telinga saya menangkap suara-suara bergetar dari arah kejauhan.  Semakin lama semakin jelas dan mendekat di bawah jendela. Suara itu tak putus-putus dan terus sambung menyambung bagai gelombang yang datang dari arah utara.

“Wah, suara-suara itu datang,” saya berkata pada diri sendiri sambil mendekat ke jendela.

Pelan-pelan saya singkap gorden dan menempelkan kepala di jendela agar bisa melihat ke bawah.  Dada saya berdegup kencang ketika saya melihat ada serombongan orang tiba dengan serta merta dan berkerumun di depan toko di seberang rumah saya.

Karena agak gelap saya tak dapat memastikan jumlah mereka. Mungkin 15 orang. Mereka tampak seperti sosok-sosok misterius yang terus bergerak-gerak dalam rombongan mereka sambil mengeluarkan suara-suara menggumam. Tak jauh dari situ, sekitar 20 meter di belakangnya, juga ada rombongan lain, dengan tingkah laku serupa, terus bergerak-gerak dan mengeluarkan suara-suara aneh.

Mereka terlihat sebagai sosok-sosok berpakaian hitam, ikat kepala merah. Rambutnya gimbal sebahu. Sorot matanya tajam penuh selidik. Saya tak dapat mengenali mukanya karena tersamarkan oleh polesan pamor. Tapi saya tahu mereka sedang bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Sebagian di antaranya terus mengacung-acungkan senjatanya ke udara sambil mendengus yang suaranya terdengar bagai gagak batuk.

Saya perhatikan gerak-gerik mereka dan bertanya-tanya dalam hati: Siapa gerangan mereka. Mengapa malam-malam bikin keributan di jalan?

Sesaat suasana jadi hening ketika sosok-sosok berpakaian hitam itu membuat gerakan ancang-ancang. Mereka menarik tubuhnya agak ke belakang dengan lutut merendah, tangannya menggenggam senjata terhunus di dada.

Kemudian sosok yang berdiri paling depan, mungkin itu pemimpinnya, tiba-tiba berteriak dengan suara melengking dan menyeramkan: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Serbuuu…!” Secara serentak, seluruh anggota rombongan itu melesat ke depan. Tubuh mereka terlontar secepat krebek dan lari sekencang-kencangnya, bagai air bah, sambil berseru-seru, “Hancurkan… hancurkan…!”

Mereka meluncur ke selatan, berkelebat bagai bayangan menerobos pekatnya malam, seakan hendak menyergap sesuatu di sana. Mata saya terus mengikuti pergerakan mereka.

Sesampai di perempatan, tanpa membuang waktu, seluruh anggota rombongan langsung terlibat pertempuran. Mereka  menyabit-nyabitkan senjatanya dengan ganas ke kanan atau kiri, berusaha menebas dan menghabisi musuh di tengah kegelapan.

Mereka bertempur laksana pendekar. Sesekali ada yang meloncat ke atas tembok atau pohon, yang lain menerjang ke belakang semak-semak seakan-akan musuh sedang sembunyi di sana.

Yang paling seru tentu saja ketika dari senjata mereka berkali-kali keluar percikan-percikan api yang kemudian meledak menjadi kembang api seakan hendak membakar habis lawan-lawannya. Percikan api itu menyambar ke mana-mana.

Pertempuran brutal dan riuh di perempatan ini berlangsung sekitar lima menit sebelum akhirnya mereka semua dengan cepat melesat ke arah barat mengejar musuh-musuhnya yang kocar-kacir melarikan diri.

“Berhenti!” teriak pimpinan mereka ketika tiba di ujung jalan, “kita tidak perlu mengejarnya lagi. Mereka sudah masuk Jalan Kenyeri. Itu bukan wilayah kita. Biarkan Pasukan Jalan Kenyeri yang menghadang mereka. Sekarang kita kembali ke Jalan Gumitir.”

Rombongan ini berbalik, kembali ke wilayah mereka di Jalan Gumitir sesuai perintah pimpinannya. Di perempatan, di arena pertempuran tadi, mereka lalu berkumpul dan istirahat untuk memulihkan tenaga.

Di sini mereka duduk berkerumun sambil menghilangkan lapar-dahaga. Ada yang minum arak, brem atau tuak, sambil mengunyah nasi warna-warni. Ada nasi berwarna merah, kuning, putih, dan hitam.

“Kita sedang berhadapan dengan musuh yang licin. Susah dikalahkan. Mereka seperti memiliki ajian rawarontek. Cepat sekali mereka memecah diri, mati satu tumbuh lagi yang lain.” Mereka itu mulai mengobrol ketika situasi agak tenang.

“Betul. Mereka kecil tapi gesit. Padahal mereka tak melawan. Tadi tenaga saya sudah terkuras tapi musuh tak ada habis-habisnya,” ujar temannya dengan napas ngos-ngosan.

“Mungkin senjata kita ini tidak tepat, tidak bisa membasmi mereka dengan cepat,” kata salah seorang di antara mereka.

“Tidak, Bung. Senjata kita ini cukup bertuah. Namanya saselet atau sasuwuk. Bahannya memang dari pandan berduri dilengkapi bawang merah dan bawang putih, tapi duri-duri ini dapat mengeluarkan percikan-percikan api gaib untuk menghanguskan musuh,” jawab rekannya.

Lalu pemimpin mereka berkata, “Sekarang musuh memang belum tunduk. Kita tunggu saat mereka lengah dan lemah. Semua ada waktunya. Kita adalah Pasukan Penjaga Lebuh. Kita harus tetap optimis. Semangat…!” teriaknya sambil mengacungkan senjata saselet-nya.

“Semangat…!” Sahut mereka secara serentak dan mengepal-ngepalkan tangan ke atas.

Sementara kelompok kedua yang sedang berkerumun di utara diminta membubarkan diri dan kembali berjaga-jaga di setiap pos di depan pintu rumah atau persimpangan, sambil terus mengawasi pergerakan musuh di sepanjang Jalan Gumitir ini.

Di tengah keasyikan ngobrol dan minum-minum itu, kemudian terdengar pekikan-pekikan dari arah Jalan Kenyeri. Rupa-rupanya Pasukan Penjaga Lebuh Jalan Kenyeri saat ini sedang bertempur menghadapi musuh di sana. Berkali-kali pula terdengar ledakan serta pijaran kembang api dari dalam pertempuran itu.

Saya tidak tahu berapa lama pertempuran itu berkecamuk. Saya juga tidak tahu, apakah mereka dapat menghabisi musuhnya?

Malam semakin mendekati pagi. Entah bagaimana, para Tentara Penjaga Lebuh itu tiba-tiba saja hilang dari jalan. Mereka lenyap begitu saja tanpa jejak, seperti makhluk gaib. Itu membuat suasana kembali membeku seperti diliputi misteri yang sepi.

Saya menutup gorden dan menjauh dari jendela.

Sekarang saya tahu rupanya pasukan gaib ini dan pertempuran-pertempuran mereka di hari-hari sebelumnya itulah  sumber suara-suara aneh yang kerap terdengar oleh saya setiap tengah malam sampai menjelang pagi itu.

Keesokan harinya saya juga tahu, ternyata pasukan gaib bersenjata saselet itu belum berhasil menghabisi seluruh musuh. Masih banyak musuh yang gentayangan. Saya mengetahui itu dari berita saat pemerintah mengumumkan PPKM Jawa-Bali diperpanjang lagi hingga 16 Agustus, yang artinya virus Covid-19 sebagai musuh bersama itu masih belum sepenuhnya tumpas dari sekitar kita.

Lalu saya memeriksa saselet di pintu gerbang rumah saya. Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala perlengkapannya itu masih terikat di sana walau daunnya sudah mulai layu di ujungnya. Benda ini diikat di situ sejak tiga hari lalu, juga di gerbang rumah para tetangga, melalui sejumlah ritual yang diinisiasi oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali.

Mungkin saselet itu dimaksudkan semacam sikep penolak bala di musim pandemi ini. Tahun lalu ritual serupa telah pula dilaksanakan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet tapi dengan bentuk “nasi wong-wongan”.

Kemudian saya memeriksa saselet di gerbang rumah saya.  Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala aksesorisnya itu masih terikat di sana meski daunnya sudah mulai layu di ujungnya.  Benda ini diikat di sana sejak tiga hari lalu, juga di pintu-pintu gerbang rumah tetangga, melalui sejumlah ritual yang digagas oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali. Mungkin saselet ini dimaksudkan sebagai semacam sikep atau penangkal bala di musim pandemi.

Tahun lalu ritual serupa telah pula dilakukan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet melainkan berupa “nasi wong-wongan” yang kesannya sangat mistis. [T]

Tags: balipandemiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Orang Gagal Bedakan Fakta atau Fiksi | Pembaca Berhadapan dengan Realitas “Blur”

Next Post

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co