24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjata itu Bernama “Saselet”

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
August 15, 2021
in Esai
Senjata itu Bernama “Saselet”

Apa sebenarnya yang sedang terjadi hari-hari ini? Sejak beberapa hari lalu, setiap tengah malam saya kerap mendengar suara-suara aneh, berisik, kadang ada ledakan-ledakan yang diikuti jeritan dan bau hangus, datang dari arah jalan di sekitar rumah. Peristiwa ini bisa berlangsung beberapa kali dalam satu malam hingga menjelang subuh.

“Ini aneh,” pikir saya, “tak biasanya ada keributan di sini. Ada apa sebenarnya?”

Karena penasaran, tadi malam saya mencoba mengintip dari jendela lantai atas. Pelan-pelan saya singkap tepi gorden dan menengok ke bawah mencari-cari sumber suara itu. Tapi saya tidak melihat siapa pun.

Saya berdiri cukup lama di balik kaca jendela, menunggu-nunggu siapa tahu suara-suara itu tiba-tiba muncul. Hp pun sudah saya siapkan untuk mengambil gambar. Namun sejauh itu suasananya tetap saja sepi jampi. Tak terjadi apa-apa. Tak ada suara-suara. Jalanan dan gang-gang diam membeku. Lampu-lampu di tiang listrik seperti mata lelah, sinarnya layu dan kemerahan. Semua toko dan warung masih tidur nyenyak. Tak ada pergerakan. Tak ada kehidupan. Suasana malam sepenuhnya dikuasai kesunyian yang bisu. Segelintir angin pun tak ada yang lewat. Saya hanya bisa bengong sambil beberapa kali menghela napas, melepaskan suasana tegang dari pikiran.

Karena tak menemukan apa-apa, kain gorden saya rapatkan kembali. Saya bermaksud tidur meskipun masih diliputi rasa penasaran.

Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.  Suasana sunyi di luar seperti merayap masuk rumah dan itu membuat kamar saya tiba-tiba terasa senyap.

Saya ke toilet, buang air kecil. Karena suasana rumah sepi, bunyi air flash dari kloset terdengar sangat nyaring dan bergemuruh. Begitu juga aliran air yang mengisi kembali tangki kloset. Seakan-akan suara kucuran air itu terus merayap, mendengung panjang, dan memantulkan gema bisingnya ke seluruh ruangan.

“Malam yang aneh,” kata saya dalam hati sambil menutup kloset dengan hati-hati. Saya sempat menoleh ke cermin dan melihat sekelebat bayangan melintas di sana, selekas gerakan tubuh saya yang beranjak meninggalkan toilet.

Sewaktu menutup pintu, tiba-tiba telinga saya menangkap suara-suara bergetar dari arah kejauhan.  Semakin lama semakin jelas dan mendekat di bawah jendela. Suara itu tak putus-putus dan terus sambung menyambung bagai gelombang yang datang dari arah utara.

“Wah, suara-suara itu datang,” saya berkata pada diri sendiri sambil mendekat ke jendela.

Pelan-pelan saya singkap gorden dan menempelkan kepala di jendela agar bisa melihat ke bawah.  Dada saya berdegup kencang ketika saya melihat ada serombongan orang tiba dengan serta merta dan berkerumun di depan toko di seberang rumah saya.

Karena agak gelap saya tak dapat memastikan jumlah mereka. Mungkin 15 orang. Mereka tampak seperti sosok-sosok misterius yang terus bergerak-gerak dalam rombongan mereka sambil mengeluarkan suara-suara menggumam. Tak jauh dari situ, sekitar 20 meter di belakangnya, juga ada rombongan lain, dengan tingkah laku serupa, terus bergerak-gerak dan mengeluarkan suara-suara aneh.

Mereka terlihat sebagai sosok-sosok berpakaian hitam, ikat kepala merah. Rambutnya gimbal sebahu. Sorot matanya tajam penuh selidik. Saya tak dapat mengenali mukanya karena tersamarkan oleh polesan pamor. Tapi saya tahu mereka sedang bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Sebagian di antaranya terus mengacung-acungkan senjatanya ke udara sambil mendengus yang suaranya terdengar bagai gagak batuk.

Saya perhatikan gerak-gerik mereka dan bertanya-tanya dalam hati: Siapa gerangan mereka. Mengapa malam-malam bikin keributan di jalan?

Sesaat suasana jadi hening ketika sosok-sosok berpakaian hitam itu membuat gerakan ancang-ancang. Mereka menarik tubuhnya agak ke belakang dengan lutut merendah, tangannya menggenggam senjata terhunus di dada.

Kemudian sosok yang berdiri paling depan, mungkin itu pemimpinnya, tiba-tiba berteriak dengan suara melengking dan menyeramkan: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Serbuuu…!” Secara serentak, seluruh anggota rombongan itu melesat ke depan. Tubuh mereka terlontar secepat krebek dan lari sekencang-kencangnya, bagai air bah, sambil berseru-seru, “Hancurkan… hancurkan…!”

Mereka meluncur ke selatan, berkelebat bagai bayangan menerobos pekatnya malam, seakan hendak menyergap sesuatu di sana. Mata saya terus mengikuti pergerakan mereka.

Sesampai di perempatan, tanpa membuang waktu, seluruh anggota rombongan langsung terlibat pertempuran. Mereka  menyabit-nyabitkan senjatanya dengan ganas ke kanan atau kiri, berusaha menebas dan menghabisi musuh di tengah kegelapan.

Mereka bertempur laksana pendekar. Sesekali ada yang meloncat ke atas tembok atau pohon, yang lain menerjang ke belakang semak-semak seakan-akan musuh sedang sembunyi di sana.

Yang paling seru tentu saja ketika dari senjata mereka berkali-kali keluar percikan-percikan api yang kemudian meledak menjadi kembang api seakan hendak membakar habis lawan-lawannya. Percikan api itu menyambar ke mana-mana.

Pertempuran brutal dan riuh di perempatan ini berlangsung sekitar lima menit sebelum akhirnya mereka semua dengan cepat melesat ke arah barat mengejar musuh-musuhnya yang kocar-kacir melarikan diri.

“Berhenti!” teriak pimpinan mereka ketika tiba di ujung jalan, “kita tidak perlu mengejarnya lagi. Mereka sudah masuk Jalan Kenyeri. Itu bukan wilayah kita. Biarkan Pasukan Jalan Kenyeri yang menghadang mereka. Sekarang kita kembali ke Jalan Gumitir.”

Rombongan ini berbalik, kembali ke wilayah mereka di Jalan Gumitir sesuai perintah pimpinannya. Di perempatan, di arena pertempuran tadi, mereka lalu berkumpul dan istirahat untuk memulihkan tenaga.

Di sini mereka duduk berkerumun sambil menghilangkan lapar-dahaga. Ada yang minum arak, brem atau tuak, sambil mengunyah nasi warna-warni. Ada nasi berwarna merah, kuning, putih, dan hitam.

“Kita sedang berhadapan dengan musuh yang licin. Susah dikalahkan. Mereka seperti memiliki ajian rawarontek. Cepat sekali mereka memecah diri, mati satu tumbuh lagi yang lain.” Mereka itu mulai mengobrol ketika situasi agak tenang.

“Betul. Mereka kecil tapi gesit. Padahal mereka tak melawan. Tadi tenaga saya sudah terkuras tapi musuh tak ada habis-habisnya,” ujar temannya dengan napas ngos-ngosan.

“Mungkin senjata kita ini tidak tepat, tidak bisa membasmi mereka dengan cepat,” kata salah seorang di antara mereka.

“Tidak, Bung. Senjata kita ini cukup bertuah. Namanya saselet atau sasuwuk. Bahannya memang dari pandan berduri dilengkapi bawang merah dan bawang putih, tapi duri-duri ini dapat mengeluarkan percikan-percikan api gaib untuk menghanguskan musuh,” jawab rekannya.

Lalu pemimpin mereka berkata, “Sekarang musuh memang belum tunduk. Kita tunggu saat mereka lengah dan lemah. Semua ada waktunya. Kita adalah Pasukan Penjaga Lebuh. Kita harus tetap optimis. Semangat…!” teriaknya sambil mengacungkan senjata saselet-nya.

“Semangat…!” Sahut mereka secara serentak dan mengepal-ngepalkan tangan ke atas.

Sementara kelompok kedua yang sedang berkerumun di utara diminta membubarkan diri dan kembali berjaga-jaga di setiap pos di depan pintu rumah atau persimpangan, sambil terus mengawasi pergerakan musuh di sepanjang Jalan Gumitir ini.

Di tengah keasyikan ngobrol dan minum-minum itu, kemudian terdengar pekikan-pekikan dari arah Jalan Kenyeri. Rupa-rupanya Pasukan Penjaga Lebuh Jalan Kenyeri saat ini sedang bertempur menghadapi musuh di sana. Berkali-kali pula terdengar ledakan serta pijaran kembang api dari dalam pertempuran itu.

Saya tidak tahu berapa lama pertempuran itu berkecamuk. Saya juga tidak tahu, apakah mereka dapat menghabisi musuhnya?

Malam semakin mendekati pagi. Entah bagaimana, para Tentara Penjaga Lebuh itu tiba-tiba saja hilang dari jalan. Mereka lenyap begitu saja tanpa jejak, seperti makhluk gaib. Itu membuat suasana kembali membeku seperti diliputi misteri yang sepi.

Saya menutup gorden dan menjauh dari jendela.

Sekarang saya tahu rupanya pasukan gaib ini dan pertempuran-pertempuran mereka di hari-hari sebelumnya itulah  sumber suara-suara aneh yang kerap terdengar oleh saya setiap tengah malam sampai menjelang pagi itu.

Keesokan harinya saya juga tahu, ternyata pasukan gaib bersenjata saselet itu belum berhasil menghabisi seluruh musuh. Masih banyak musuh yang gentayangan. Saya mengetahui itu dari berita saat pemerintah mengumumkan PPKM Jawa-Bali diperpanjang lagi hingga 16 Agustus, yang artinya virus Covid-19 sebagai musuh bersama itu masih belum sepenuhnya tumpas dari sekitar kita.

Lalu saya memeriksa saselet di pintu gerbang rumah saya. Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala perlengkapannya itu masih terikat di sana walau daunnya sudah mulai layu di ujungnya. Benda ini diikat di situ sejak tiga hari lalu, juga di gerbang rumah para tetangga, melalui sejumlah ritual yang diinisiasi oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali.

Mungkin saselet itu dimaksudkan semacam sikep penolak bala di musim pandemi ini. Tahun lalu ritual serupa telah pula dilaksanakan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet tapi dengan bentuk “nasi wong-wongan”.

Kemudian saya memeriksa saselet di gerbang rumah saya.  Ternyata benda yang terbuat dari daun pandan dengan segala aksesorisnya itu masih terikat di sana meski daunnya sudah mulai layu di ujungnya.  Benda ini diikat di sana sejak tiga hari lalu, juga di pintu-pintu gerbang rumah tetangga, melalui sejumlah ritual yang digagas oleh Majelis Desa Adat Provinsi Bali. Mungkin saselet ini dimaksudkan sebagai semacam sikep atau penangkal bala di musim pandemi.

Tahun lalu ritual serupa telah pula dilakukan di Bali, namun tidak menggunakan sarana saselet melainkan berupa “nasi wong-wongan” yang kesannya sangat mistis. [T]

Tags: balipandemiupacara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banyak Orang Gagal Bedakan Fakta atau Fiksi | Pembaca Berhadapan dengan Realitas “Blur”

Next Post

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Messi, Ciptaan Alam Melampaui Teknologi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co