12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ingat “Battle of Britain“ Jelang Laga Panas Inggris versus Jerman

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 28, 2021
in Esai
Ingat “Battle of Britain“ Jelang Laga Panas Inggris versus Jerman

Sumber foto: Facebook/Primer League

Mungkin terdengar berlebihan, tapi bagi penggemar fanatik  sepakbola dua kali sembilan puluh menit laga tak ada bedanya dengan perang di masa lampau. Begitu menguras emosi, tawa dan tangis bisa terjadi bersamaan di ujung laga. Perang udara yang meluluh lantakkan kota London saat perang dunia ke- 2, tak cukup membuat rakyat Inggris takluk kepada Nazi Jerman yang dikomandoi Adolf Hitler.

Jadi setiap kali kedua tim ini bertemu pada fase menentukan sebuah kompetisi, ungkapan Battle of Britain pasti menggema kembali.

Duel terkahir mereka di babak knock out piala Eropa, terjadi pada tahun 1996 pada babak semifinal yang diadakan di stadion kebanggaan Inggris, stadion Wembley. Sehari sebelum laga yang dimenangi Jerman itu, koran- koran Inggris dipenuhi wajah perusak Stuart Pearce yang bertuliskan semboyan Inggris saat memenangi perang dunia ke-2 atas Nazi Jerman. Achtung, Surrender, begitu bunyi tulisan itu, yang bisa diterjemahkan sederhana : Lawan, jangan pernah menyerah.

Saya mulai menonton bola sejak usia 9 tahun, saat Argentina yang diperkuat Maradona menjadi juara dunia. Saat itu hampir semua orang yang saya kenal mengidolakan timnas Argentina dengan Maradonanya. Tapi untuk saat ini, dengan sepenuh hati saya akui cinta kedua saya pada timnas sepakbola, setelah tim merah  putih pastinya, adalah tim tiga singa, julukan keren dari tim nasional Inggris, singa yang terlihat menakutkan tapi belum bisa membukitkan tajam cakarnya, setidaknya sampai hari ini .

Cerita guru saya tentang kehebatan Inggris pada perang Malvinas cukup merubah pandangan saya. Dan celotehan dari seorang kakak angkat yang rajin pinjamkan buku pada saya juga sangat menyentuh.” Pemain Inggris adalah pemain paling sportif, tak pernah terlihat mereka bersandiwara di lapangan”.Begitu katanya.  Maradona pun jujur mengakui, dia tak akan bisa mencetak gol seindah itu andai lawannya bukan timnas Inggris. Sejak saat itulah cinta saya bertambah penuh pada mereka.                                                                                                                                                                  

Sejarah mencatat timnas Inggris hanya sekali menjadi juara dunia yaitu pada perhelatan tahun 1966 yang diadakan di rumah mereka sendiri. Di ajang piala eropa sendiri, seperti yang sedang berlangsung hari ini, mereka paling maksimal mencapai babak semi final pada tahun 1996 yang diadakan di rumah mereka sendiri juga. Dan mirisnya tim yang mengalahkan mereka adalah timnas Jerman yang nanti akan dihadapi juga pada babak 16 besar , hari selasa tengah malam waktu Indonesia tengah.

Begitu traumanya  orang Inggris kepada Jerman di lapangan hijau, sampai sampai legenda mereka Gary Lineker mempunyai anekdot yang cukup memprihatinkan.” Sepakbola adalah permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan hijau, dan pemenangnya sudah bisa diduga, pastilah orang Jerman”. Timnas Jerman ibarat batu kryptonite buat Inggris, antidote, yang membuat mereka mati kutu saat bertemu di lapangan, terutama dalam event mayor kompetisi sepakbola.

Tapi apakah itu sepenuhnya benar? Tak bisakah orang Inggris mengalahkan Jerman di lapangan hijau dalam ajang resmi, di luar laga persahabatan. Sebagai pecinta tim tiga singa saya akan coba memberikan kesaksian tentang laga yang melibatkan kedua tim ini di ajang resmi sepakbola.

Pertemuan pertama yang bisa saya kenang setelah menjadi pecinta timnas Inggris adalah laga semifinal piala Eropa tahun 1996 saat Inggris menjadi tuan rumahnya. Saat itu laga berlangsung seimbang, skor 1-1 sampai wasit meniup peluit panjang. Gol Alan Sherarer memanfaatkan sepak pojok, dibalas tuntas oleh striker veteran Stephen Kuntz. Laga dilanjutkan dengan adu penalti, dan semua penendang berhasil memasukkan bola ke gawang, kecuali satu orang yaitu bek tengah Gareth Southgate ( pelatih Inggris saat ini) . Inggris menangis  sepakbola tak jadi pulang Ke rumah, dan akhirnya Jerman yang juara.

Duel berikutnya tersaji di fase grup piala eropa tahun 2000 yang diselenggarakan bersama oleh Belanda dan Belgia. Dua tim yang sama-sama sedang menurun berlaga di laga kedua.  Satu gol Alan Shearer menyambut umpan David Beckham menyudahi laga dengan keunggulan Inggris  1-0 atas Jerman. Tapi sialnya kedua tim tak  lolos ke babak berikutnya karena kalah bersaing dengan dua muka baru yaitu Portugal dan Rumania.

Laga ke 3 berlangsung di Muenchen, kualifikasi piala dunia 2002 Jepang dan Korea Selatan. Timnas Inggris yang kalah 0-1 di Wembley, mesti menang untuk bisa maju ke putaran final di Korea selatan dan Jepang.  Dan inilah salah satu laga terbaik Inggris yang saya lihat. Taktik yang diterapkan Sven Goran Erisson terbukti manjur. Timnas Jerman dihajar telak 1-5 oleh gelontoran gol yang dicetak Michael Owen, Emiley Heskey dan tendangan geledek Steven Gerrard. Michael  Owen sampai tak percaya dan merasa bermimpi,” ya Tuhan, kita kalahkan Jerman 5-1 di halaman belakang rumahnya sendiri”.

Laga terakhir yang masih bisa saya kenang terjadi pada babak 16 besar piala dunia 2010 yang berlangsung di Afrika selatan. Saat itu timnas Inggris berada di atas angin, diperkuat nama nama beken seperti Frank Lampard dan Steven Gerrad dan diarsiteki pelatih kawakan dari Italia yaitu Fabio Cappelo . Mereka ditantang tim Jerman yang masih polos, pemain muda yang tak banyak dikenal, yang diorbitkan pelatih mereka Joachim Loew.

Dan hasil akhir laga membuktikan sebaliknya, kaki kaki cepat dan kuat anak muda Jerman membuat jagoan gaek Inggris bertekuk lutut. Mereka kalah telak 1-4. Satu yang saya ingat, gelandang Inggris Gareth Bary kepayahan mengejar lari Mezut Ozil, anak imigran Turki yang kemudian jadi bintang turnamen ini. Laga ini juga ditandai dengan tak diakuinya gol hasil sepakan Frank Lampard yang dari tayangan ulang terlihat jelas sudah melewati garis gawang. Dan saya ingat setelah kejadian inilah, wacana penggunaan tayangan video untuk membantu wasit sudah mengemuka. Dan akhirnya sampai edisi  piala eropa saat inilah penggunanann VAR mulai diperkenalkan.

Dari sekian kenangan yang coba saya bagikan tadi, lalu apa harapan saya terhadap timnas Inggris yang kembali bertemu musuh bebuyutan mereka, di Wembley pada babak 16 besar Eropa pada selasa tengah malam nanti ? Yang pertama, pasti berlaku adagium bola itu bundar, jadi tak  ada tim yang tak bisa dikalahkan. Tak ada tabu yang masih berlaku di jagat sepakbola saat ini. Piala Eropa terdahulu sudah membuktikan. Jerman tak bisa kalahkan italia di laga besar, terbukti sudah punah, lalu Perancis pasti kalah lawan Jerman, ternyata musnah juga di babak semi final. Jadi kalau saat ini saya berharap Inggris kalahkan Jerman di babak 16 besar inipun, rasanya saya tak akan dianggap berlebihan.

Jerman saat ini saya lihat seperti  Jerman tahun 2010, saat dikuat pemain pemain muda tak terkenal seperti Mezut Ozil dan Sami Khedira. Jerman saat ini juga diperkuat pemain baru dengan gairah yang meluap luap. Kai Havert yang kalem, Serge Gnabry yang energik dan bek kiri Robbie Gossen yang tak kenal  lelah cukup membuat ciut semua lawan mereka, tak terkecuali sang juara dunia Perancis.

Lalu bagaimana dengan Inggris saat ini,jujur saya melihat tak banyak yang berubah dari terakhir saya melihat mereka di piala dunia Russia kemarin. Miskin ide, tak kreati,f monoton dan terlalu berharap pada skema bola mati, yang terbukti sampai laga ke tiga tak menghasikam gol atau satu peluang emas pun.Jauh di  hati kecil saya takut mereka terbantai di halaman belakang rumahnya sendiri oleh Jerman.

Untuk mengomentari permainan  Inggris sejauh 3 laga ini dan peluang mereka merebut gelar juara di awal Juli nanti rasanya saya tak perlu  bicara banyak, cukup saya kutip pernyataan dua orang dari negeri ratu Elizabeth ini saja.” Pemain timnas Inggris selau begitu, tampil hebat di klub dan terlihat kesulitan saat main di timnas, tanpa ide, tak mengalir, monoton selalu begitu dari tahun ke tahun”, ucap seorang supporter yang saya baca di kompas.

Salah satu bek kanan terbaik Inggris di masa lalu, Garry Neville juga terasa sudah pasrah dengan situasi ini, komentarnya singkat,” kita tak berharap bisa dominan melawan tim-tim seperti Jerman, Perancis maupun Italia. Cukuplah seperti ini, perkuat pertahanan, lalu tunggu momen momen ajaib terciptanya gol dari satu dua pemain yang bermain bagus, pertahankan itu dan laga final bisa kita capai”.

Dari sekian tahun mencintai tim ini, dan berdasarkan  pengalaman yang saya ceritakan di atas saya mengambil  setidaknya dua kesimpulan. Sampai kapan pun, Inggris tak akan bisa menjuarai sebuah turnamen mayor, tanpa adanya sosok playmaker (fantasista) di poros permainan. Phil Foden bagus dan cepat di sayap, Jack Grealish dan Masont Mount tak kalah bagus, tapi mereka beroperasi di pinggir, peluangnya membuat keajaiban lebih kecil dibanding saat itu dilakukan dari tengah. Kalau mereka bisa dimatikan satu atau dua bek lawan, habislah permainan Inggris. Dulu mereka pernah punya  Paul Gascoigne yang jenius, berani pegang bola lama dan pintar melihat ruang kosong. Sayang sekali karena kecanduan alkohol, masa edarnya di timnas Inggris terasa pendek. Praktis dia cuma bisa merasakan satu piala dunia dan satu piala Eropa bersama timnas Inggris. Saya berkhayal andai ada satu pemain sekelas Bruno Fernandes di tim ini sekarang, piala Henry Delaunay bukanlah harapan semata.

Kesimpulan terakhir, permainan timnas Inggris terlihat lebih menarik saat ditangani pelatih asing. Saat dipegang  Sven Goran Ericsson dan Fabio Capello timnas Inggris terlihat lebih menjanjikan secara permainan, meskipun akhirnya tak meraih gelar juara, Jadi harapan saya seandainya nanti tim ini tak bisa juara, kursi Southgate mesti segera diambil alih. Sosok Juergen Klopp dan Thomas Tuchel rasanya adalah sosok yang pas untuk menggairahkan permainan tim ini kembali.

Akhir kata kalau saya ditanya apakah saya masih berharap Inggris bisa kalahkan Jerman malam nanti. Dengan jujur saya katakan, andai itu terjadi dan timnas Inggris bablas sampai akhir nanti juara Eropa. Itu akan menambah tebal dompet saya, saya bertaruh banyak untuk tim ini, tabikkk. {T]

Tags: EURO 2020
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2021 | Suara Warga untuk Bangkit Bersama dari Pandemi

Next Post

Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co