2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ingat “Battle of Britain“ Jelang Laga Panas Inggris versus Jerman

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 28, 2021
in Esai
Ingat “Battle of Britain“ Jelang Laga Panas Inggris versus Jerman

Sumber foto: Facebook/Primer League

Mungkin terdengar berlebihan, tapi bagi penggemar fanatik  sepakbola dua kali sembilan puluh menit laga tak ada bedanya dengan perang di masa lampau. Begitu menguras emosi, tawa dan tangis bisa terjadi bersamaan di ujung laga. Perang udara yang meluluh lantakkan kota London saat perang dunia ke- 2, tak cukup membuat rakyat Inggris takluk kepada Nazi Jerman yang dikomandoi Adolf Hitler.

Jadi setiap kali kedua tim ini bertemu pada fase menentukan sebuah kompetisi, ungkapan Battle of Britain pasti menggema kembali.

Duel terkahir mereka di babak knock out piala Eropa, terjadi pada tahun 1996 pada babak semifinal yang diadakan di stadion kebanggaan Inggris, stadion Wembley. Sehari sebelum laga yang dimenangi Jerman itu, koran- koran Inggris dipenuhi wajah perusak Stuart Pearce yang bertuliskan semboyan Inggris saat memenangi perang dunia ke-2 atas Nazi Jerman. Achtung, Surrender, begitu bunyi tulisan itu, yang bisa diterjemahkan sederhana : Lawan, jangan pernah menyerah.

Saya mulai menonton bola sejak usia 9 tahun, saat Argentina yang diperkuat Maradona menjadi juara dunia. Saat itu hampir semua orang yang saya kenal mengidolakan timnas Argentina dengan Maradonanya. Tapi untuk saat ini, dengan sepenuh hati saya akui cinta kedua saya pada timnas sepakbola, setelah tim merah  putih pastinya, adalah tim tiga singa, julukan keren dari tim nasional Inggris, singa yang terlihat menakutkan tapi belum bisa membukitkan tajam cakarnya, setidaknya sampai hari ini .

Cerita guru saya tentang kehebatan Inggris pada perang Malvinas cukup merubah pandangan saya. Dan celotehan dari seorang kakak angkat yang rajin pinjamkan buku pada saya juga sangat menyentuh.” Pemain Inggris adalah pemain paling sportif, tak pernah terlihat mereka bersandiwara di lapangan”.Begitu katanya.  Maradona pun jujur mengakui, dia tak akan bisa mencetak gol seindah itu andai lawannya bukan timnas Inggris. Sejak saat itulah cinta saya bertambah penuh pada mereka.                                                                                                                                                                  

Sejarah mencatat timnas Inggris hanya sekali menjadi juara dunia yaitu pada perhelatan tahun 1966 yang diadakan di rumah mereka sendiri. Di ajang piala eropa sendiri, seperti yang sedang berlangsung hari ini, mereka paling maksimal mencapai babak semi final pada tahun 1996 yang diadakan di rumah mereka sendiri juga. Dan mirisnya tim yang mengalahkan mereka adalah timnas Jerman yang nanti akan dihadapi juga pada babak 16 besar , hari selasa tengah malam waktu Indonesia tengah.

Begitu traumanya  orang Inggris kepada Jerman di lapangan hijau, sampai sampai legenda mereka Gary Lineker mempunyai anekdot yang cukup memprihatinkan.” Sepakbola adalah permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan hijau, dan pemenangnya sudah bisa diduga, pastilah orang Jerman”. Timnas Jerman ibarat batu kryptonite buat Inggris, antidote, yang membuat mereka mati kutu saat bertemu di lapangan, terutama dalam event mayor kompetisi sepakbola.

Tapi apakah itu sepenuhnya benar? Tak bisakah orang Inggris mengalahkan Jerman di lapangan hijau dalam ajang resmi, di luar laga persahabatan. Sebagai pecinta tim tiga singa saya akan coba memberikan kesaksian tentang laga yang melibatkan kedua tim ini di ajang resmi sepakbola.

Pertemuan pertama yang bisa saya kenang setelah menjadi pecinta timnas Inggris adalah laga semifinal piala Eropa tahun 1996 saat Inggris menjadi tuan rumahnya. Saat itu laga berlangsung seimbang, skor 1-1 sampai wasit meniup peluit panjang. Gol Alan Sherarer memanfaatkan sepak pojok, dibalas tuntas oleh striker veteran Stephen Kuntz. Laga dilanjutkan dengan adu penalti, dan semua penendang berhasil memasukkan bola ke gawang, kecuali satu orang yaitu bek tengah Gareth Southgate ( pelatih Inggris saat ini) . Inggris menangis  sepakbola tak jadi pulang Ke rumah, dan akhirnya Jerman yang juara.

Duel berikutnya tersaji di fase grup piala eropa tahun 2000 yang diselenggarakan bersama oleh Belanda dan Belgia. Dua tim yang sama-sama sedang menurun berlaga di laga kedua.  Satu gol Alan Shearer menyambut umpan David Beckham menyudahi laga dengan keunggulan Inggris  1-0 atas Jerman. Tapi sialnya kedua tim tak  lolos ke babak berikutnya karena kalah bersaing dengan dua muka baru yaitu Portugal dan Rumania.

Laga ke 3 berlangsung di Muenchen, kualifikasi piala dunia 2002 Jepang dan Korea Selatan. Timnas Inggris yang kalah 0-1 di Wembley, mesti menang untuk bisa maju ke putaran final di Korea selatan dan Jepang.  Dan inilah salah satu laga terbaik Inggris yang saya lihat. Taktik yang diterapkan Sven Goran Erisson terbukti manjur. Timnas Jerman dihajar telak 1-5 oleh gelontoran gol yang dicetak Michael Owen, Emiley Heskey dan tendangan geledek Steven Gerrard. Michael  Owen sampai tak percaya dan merasa bermimpi,” ya Tuhan, kita kalahkan Jerman 5-1 di halaman belakang rumahnya sendiri”.

Laga terakhir yang masih bisa saya kenang terjadi pada babak 16 besar piala dunia 2010 yang berlangsung di Afrika selatan. Saat itu timnas Inggris berada di atas angin, diperkuat nama nama beken seperti Frank Lampard dan Steven Gerrad dan diarsiteki pelatih kawakan dari Italia yaitu Fabio Cappelo . Mereka ditantang tim Jerman yang masih polos, pemain muda yang tak banyak dikenal, yang diorbitkan pelatih mereka Joachim Loew.

Dan hasil akhir laga membuktikan sebaliknya, kaki kaki cepat dan kuat anak muda Jerman membuat jagoan gaek Inggris bertekuk lutut. Mereka kalah telak 1-4. Satu yang saya ingat, gelandang Inggris Gareth Bary kepayahan mengejar lari Mezut Ozil, anak imigran Turki yang kemudian jadi bintang turnamen ini. Laga ini juga ditandai dengan tak diakuinya gol hasil sepakan Frank Lampard yang dari tayangan ulang terlihat jelas sudah melewati garis gawang. Dan saya ingat setelah kejadian inilah, wacana penggunaan tayangan video untuk membantu wasit sudah mengemuka. Dan akhirnya sampai edisi  piala eropa saat inilah penggunanann VAR mulai diperkenalkan.

Dari sekian kenangan yang coba saya bagikan tadi, lalu apa harapan saya terhadap timnas Inggris yang kembali bertemu musuh bebuyutan mereka, di Wembley pada babak 16 besar Eropa pada selasa tengah malam nanti ? Yang pertama, pasti berlaku adagium bola itu bundar, jadi tak  ada tim yang tak bisa dikalahkan. Tak ada tabu yang masih berlaku di jagat sepakbola saat ini. Piala Eropa terdahulu sudah membuktikan. Jerman tak bisa kalahkan italia di laga besar, terbukti sudah punah, lalu Perancis pasti kalah lawan Jerman, ternyata musnah juga di babak semi final. Jadi kalau saat ini saya berharap Inggris kalahkan Jerman di babak 16 besar inipun, rasanya saya tak akan dianggap berlebihan.

Jerman saat ini saya lihat seperti  Jerman tahun 2010, saat dikuat pemain pemain muda tak terkenal seperti Mezut Ozil dan Sami Khedira. Jerman saat ini juga diperkuat pemain baru dengan gairah yang meluap luap. Kai Havert yang kalem, Serge Gnabry yang energik dan bek kiri Robbie Gossen yang tak kenal  lelah cukup membuat ciut semua lawan mereka, tak terkecuali sang juara dunia Perancis.

Lalu bagaimana dengan Inggris saat ini,jujur saya melihat tak banyak yang berubah dari terakhir saya melihat mereka di piala dunia Russia kemarin. Miskin ide, tak kreati,f monoton dan terlalu berharap pada skema bola mati, yang terbukti sampai laga ke tiga tak menghasikam gol atau satu peluang emas pun.Jauh di  hati kecil saya takut mereka terbantai di halaman belakang rumahnya sendiri oleh Jerman.

Untuk mengomentari permainan  Inggris sejauh 3 laga ini dan peluang mereka merebut gelar juara di awal Juli nanti rasanya saya tak perlu  bicara banyak, cukup saya kutip pernyataan dua orang dari negeri ratu Elizabeth ini saja.” Pemain timnas Inggris selau begitu, tampil hebat di klub dan terlihat kesulitan saat main di timnas, tanpa ide, tak mengalir, monoton selalu begitu dari tahun ke tahun”, ucap seorang supporter yang saya baca di kompas.

Salah satu bek kanan terbaik Inggris di masa lalu, Garry Neville juga terasa sudah pasrah dengan situasi ini, komentarnya singkat,” kita tak berharap bisa dominan melawan tim-tim seperti Jerman, Perancis maupun Italia. Cukuplah seperti ini, perkuat pertahanan, lalu tunggu momen momen ajaib terciptanya gol dari satu dua pemain yang bermain bagus, pertahankan itu dan laga final bisa kita capai”.

Dari sekian tahun mencintai tim ini, dan berdasarkan  pengalaman yang saya ceritakan di atas saya mengambil  setidaknya dua kesimpulan. Sampai kapan pun, Inggris tak akan bisa menjuarai sebuah turnamen mayor, tanpa adanya sosok playmaker (fantasista) di poros permainan. Phil Foden bagus dan cepat di sayap, Jack Grealish dan Masont Mount tak kalah bagus, tapi mereka beroperasi di pinggir, peluangnya membuat keajaiban lebih kecil dibanding saat itu dilakukan dari tengah. Kalau mereka bisa dimatikan satu atau dua bek lawan, habislah permainan Inggris. Dulu mereka pernah punya  Paul Gascoigne yang jenius, berani pegang bola lama dan pintar melihat ruang kosong. Sayang sekali karena kecanduan alkohol, masa edarnya di timnas Inggris terasa pendek. Praktis dia cuma bisa merasakan satu piala dunia dan satu piala Eropa bersama timnas Inggris. Saya berkhayal andai ada satu pemain sekelas Bruno Fernandes di tim ini sekarang, piala Henry Delaunay bukanlah harapan semata.

Kesimpulan terakhir, permainan timnas Inggris terlihat lebih menarik saat ditangani pelatih asing. Saat dipegang  Sven Goran Ericsson dan Fabio Capello timnas Inggris terlihat lebih menjanjikan secara permainan, meskipun akhirnya tak meraih gelar juara, Jadi harapan saya seandainya nanti tim ini tak bisa juara, kursi Southgate mesti segera diambil alih. Sosok Juergen Klopp dan Thomas Tuchel rasanya adalah sosok yang pas untuk menggairahkan permainan tim ini kembali.

Akhir kata kalau saya ditanya apakah saya masih berharap Inggris bisa kalahkan Jerman malam nanti. Dengan jujur saya katakan, andai itu terjadi dan timnas Inggris bablas sampai akhir nanti juara Eropa. Itu akan menambah tebal dompet saya, saya bertaruh banyak untuk tim ini, tabikkk. {T]

Tags: EURO 2020
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2021 | Suara Warga untuk Bangkit Bersama dari Pandemi

Next Post

Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co