23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Euro 2020, Kemenangan Sains Melawan Covid-19?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 27, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Pekan-pekan ini, perhatian warga Eropa telah beralih dari pandemi Covid-19 kepada perhelatan turnamen sepak bola terpopuler kedua dunia, Euro 2020. Tentu saja semua kita penggemar bola tak mau ketinggalan ikut menikmatinya meski harus begadang di depan layar televisi atau dari aplikasi smart phone. Satu hal yang sangat berbeda bagi kita jika dibandingkan dengan ajang Euro sebelum-sebelumnya adalah, kita tak lagi bisa nonton bareng (nobar) pada Euro kali ini.

Saat ini di Indonesia dan beberapa negara lain di Asia (India) dan Amerika Latin (Brazilia), kasus Covid-19 dan penyebarannya tak juga mau mengendor sehingga acara-acara kerumunan masa secara resmi masih tetap dilarang. Kontras dengan apa yang kita lihat di stadion-stadion tempat berlangsungnya ajang Euro 2020, suporter memenuhi stadion, tanpa pembatasan jarak ataupun keharusan menggunakan masker. Seakan-akan sudah tak ada lagi Covid-19 di sana. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Sebelumnya, ada lima negara yang sudah mengizinkan warganya melepas masker jika bertemu di ruang publik seperti di taman maupun restoran. Di USA keputusan ini di didukung Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan disambut gembira presiden Joe Biden dengan narasi penuh harapan, “Sebuah langkah menuju kehidupan di Amerika mendekati normal.” Pertimbangan utama dari kebijakan menarik ini adalah cakupan vaksinasi yang telah melampaui 50% dan kasus transmisi lokal sudah tidak dilaporkan lagi.

Negara lain yang juga telah memberlakukan keputusan yang sama adalah Israel, Slandia Baru, China dan Bhutan. Vaksinasi di Bhutan bahkan telah mencapai 90% lebih. Warga Eropa yang seakan tak ingin kehilangan cita rasa persaingan bola yang selalu menawan, pun bergegas mengejar cakupan vaksinasi masing-masing negara. Dengan begitu, penggila bola dapat hadir memanaskan stadion-stadion megah tempat pertandingan berlangsung dengan segala efek domino yang telah diharapkan terutama dampak positif bagi ekonomi regional.

Meski hanya stadion Puskas Arena di Budapest, Hungaria yang memberlakukan kebijakan tanpa protokol kesehatan total, fakta ini sudah sangat mencengangkan. Stadion-stadion lain memang membatasi jumlah penonton yang bisa masuk pada kisaran 20-25 % dari kapasitas penuhnya. Sepintas jika kita amati dan rasakan, hingar bingar penggila bola pendukung masing-masing negara peserta Euro 2020 yang baru bisa digelar di medio tahun ini, nyaris sama dengan Euro sebelum-sebelumnya.

Virus Corona seakan-akan tak pernah ada. Yang terpenting saat ini bagi suporter adalah melepaskan luapan emosi dan memberi dukungan sekreatif mungkin untuk tim wakil negara mereka. Sepak bola tanpa suporter boleh dikata seperti sebuah omong kosong. Keduanya telah berwujud sebagai simbiotik permanen yang saling menetukan kehidupan masing-masing. Tak heran pendukung sepak bola di belahan benua Eropa telah memiliki sebutan sakralnya masing-masing seperti hooligan di Inggris, tifosi atau ultras di Italia. Di negeri kita pun fenomena ini telah merebak seperti kehadiran bonek atau mania.

Vaksinasi sebagai representasi sains, telah kembali memamerkan eksistensinya. Sains dan progresifitas teknologilah yang telah menjadi penyangga kegemilangan negara-negara modern saat ini. Sudah pasti bukan mitos apalagi takhyul, bahkan agama pun bukan. Bangsa-bangsa yang selalu ribet dan asik dengan mitos, tradisi usang atau fanatisme ritual agama semakin jauh tertinggal dan terbenam dalam kubangan kemiskinan dan ilusi kehidupan surga yang sempurna. Untung saja misalnya negara-negara Timur Tengah dibekali kekayaan alam berlimpah.

Namun saat ini, jika kita amati mereka pun telah banyak mengadopsi kecemerlangan ilmu pengetahuan dan iptek dan mulai meninggalkan konflik-konflik sektarian. Lihat saja misalnya Arab Saudi dan beberapa negeri jazirah Arab yang menjalin hubungan baik tidak saja dengan USA namun juga dengan Israel yang kemajuan ipteknya sulit ditandingi. Tinggal beberapa kelompok radikal saja yang masih berkutat dengan ambisi teologi politik mereka yang penuh kekerasan. 

 Dalam hal vaksinasi Covid-19, negara-negara modern tersebut diuntungkan oleh kemajuan teknologi farmasi dan kesadaran warganya untuk segera menerapkan strategi paling jitu dalam mengentaskan masalah. Sementara kita di Indonesia masih lebih suka berdebat dan saling menyalahkan. Demokrasi negeri ini, di satu sisi gelapnya telah memberi ruang kepada seorang politisi atau artis misalnya bicara masalah medis dengan sangat sok tau. Bidang yang jelas bukan kompetensi yang bersangkutan.

Anehnya lagi, pengguna medsos yang mestinya cerdas dan sebagian besar anak muda, justru sangat mudah menjadi pengikut tokoh-tokoh bermasalah tersebut. Maka, kontradiktif dengan situasi di negara-negara modern, kondisi di negeri kita pun dengan sempurna dirugikan oleh dua keadaan yaitu belum mampu memproduksi vaksin dengan cepat dan penolakan warga yang masih banyak terkait vaksinasi Covid-19. Maka pada akhirnya, seperti kasus-kasus medis lain semacam penyakit TBC paru, HIV atau rabies misalnya, yang telah tuntas di negara-negara maju, di negeri kita akan selalu abadi.

Kalimat terakhir di atas memang terasa getir dan suram. Namun itulah fakta yang harus kita ikhlaskan saat ini untuk diterima. Jika cuma bicara TBC paru, HIV atau rabies, itu takkan sampai memberi dampak kelumpuhan ekonomi. Maka jika Covid-19 yang menetap di negeri ini, itu tidak cuma membuat ekonomi saja yang hancur dan membawa negeri kita bangkrut, pun bukan tak mungkin bangsa kita akan dikucilkan oleh dunia.

Betapa mengerikannya. Saat bangsa-bangsa lain sudah kembali pada kehidupan normal, kita masih tenggelam dalam wabah yang tak berujung. Maka ini sepenuhnya akan menjadi pilihan kita, apakah hendak meniru negara-negara maju dan modern yang percaya sains atau kembali pada kehidupan penuh takhyul. Ikut hingar bingar berteriak histeris pada serunya pertandingan sepak bola atau mengendap-endap di gua-gua gelap dan sunyi untuk menunggu wahyu kramat? [T]

Tags: covid 19EURO 2020kesehatanpandemivaksin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jukut Ares dan Kekeliruan Guillaume Musso

Next Post

Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co