23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Euro 2020, Kemenangan Sains Melawan Covid-19?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 27, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Pekan-pekan ini, perhatian warga Eropa telah beralih dari pandemi Covid-19 kepada perhelatan turnamen sepak bola terpopuler kedua dunia, Euro 2020. Tentu saja semua kita penggemar bola tak mau ketinggalan ikut menikmatinya meski harus begadang di depan layar televisi atau dari aplikasi smart phone. Satu hal yang sangat berbeda bagi kita jika dibandingkan dengan ajang Euro sebelum-sebelumnya adalah, kita tak lagi bisa nonton bareng (nobar) pada Euro kali ini.

Saat ini di Indonesia dan beberapa negara lain di Asia (India) dan Amerika Latin (Brazilia), kasus Covid-19 dan penyebarannya tak juga mau mengendor sehingga acara-acara kerumunan masa secara resmi masih tetap dilarang. Kontras dengan apa yang kita lihat di stadion-stadion tempat berlangsungnya ajang Euro 2020, suporter memenuhi stadion, tanpa pembatasan jarak ataupun keharusan menggunakan masker. Seakan-akan sudah tak ada lagi Covid-19 di sana. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Sebelumnya, ada lima negara yang sudah mengizinkan warganya melepas masker jika bertemu di ruang publik seperti di taman maupun restoran. Di USA keputusan ini di didukung Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dan disambut gembira presiden Joe Biden dengan narasi penuh harapan, “Sebuah langkah menuju kehidupan di Amerika mendekati normal.” Pertimbangan utama dari kebijakan menarik ini adalah cakupan vaksinasi yang telah melampaui 50% dan kasus transmisi lokal sudah tidak dilaporkan lagi.

Negara lain yang juga telah memberlakukan keputusan yang sama adalah Israel, Slandia Baru, China dan Bhutan. Vaksinasi di Bhutan bahkan telah mencapai 90% lebih. Warga Eropa yang seakan tak ingin kehilangan cita rasa persaingan bola yang selalu menawan, pun bergegas mengejar cakupan vaksinasi masing-masing negara. Dengan begitu, penggila bola dapat hadir memanaskan stadion-stadion megah tempat pertandingan berlangsung dengan segala efek domino yang telah diharapkan terutama dampak positif bagi ekonomi regional.

Meski hanya stadion Puskas Arena di Budapest, Hungaria yang memberlakukan kebijakan tanpa protokol kesehatan total, fakta ini sudah sangat mencengangkan. Stadion-stadion lain memang membatasi jumlah penonton yang bisa masuk pada kisaran 20-25 % dari kapasitas penuhnya. Sepintas jika kita amati dan rasakan, hingar bingar penggila bola pendukung masing-masing negara peserta Euro 2020 yang baru bisa digelar di medio tahun ini, nyaris sama dengan Euro sebelum-sebelumnya.

Virus Corona seakan-akan tak pernah ada. Yang terpenting saat ini bagi suporter adalah melepaskan luapan emosi dan memberi dukungan sekreatif mungkin untuk tim wakil negara mereka. Sepak bola tanpa suporter boleh dikata seperti sebuah omong kosong. Keduanya telah berwujud sebagai simbiotik permanen yang saling menetukan kehidupan masing-masing. Tak heran pendukung sepak bola di belahan benua Eropa telah memiliki sebutan sakralnya masing-masing seperti hooligan di Inggris, tifosi atau ultras di Italia. Di negeri kita pun fenomena ini telah merebak seperti kehadiran bonek atau mania.

Vaksinasi sebagai representasi sains, telah kembali memamerkan eksistensinya. Sains dan progresifitas teknologilah yang telah menjadi penyangga kegemilangan negara-negara modern saat ini. Sudah pasti bukan mitos apalagi takhyul, bahkan agama pun bukan. Bangsa-bangsa yang selalu ribet dan asik dengan mitos, tradisi usang atau fanatisme ritual agama semakin jauh tertinggal dan terbenam dalam kubangan kemiskinan dan ilusi kehidupan surga yang sempurna. Untung saja misalnya negara-negara Timur Tengah dibekali kekayaan alam berlimpah.

Namun saat ini, jika kita amati mereka pun telah banyak mengadopsi kecemerlangan ilmu pengetahuan dan iptek dan mulai meninggalkan konflik-konflik sektarian. Lihat saja misalnya Arab Saudi dan beberapa negeri jazirah Arab yang menjalin hubungan baik tidak saja dengan USA namun juga dengan Israel yang kemajuan ipteknya sulit ditandingi. Tinggal beberapa kelompok radikal saja yang masih berkutat dengan ambisi teologi politik mereka yang penuh kekerasan. 

 Dalam hal vaksinasi Covid-19, negara-negara modern tersebut diuntungkan oleh kemajuan teknologi farmasi dan kesadaran warganya untuk segera menerapkan strategi paling jitu dalam mengentaskan masalah. Sementara kita di Indonesia masih lebih suka berdebat dan saling menyalahkan. Demokrasi negeri ini, di satu sisi gelapnya telah memberi ruang kepada seorang politisi atau artis misalnya bicara masalah medis dengan sangat sok tau. Bidang yang jelas bukan kompetensi yang bersangkutan.

Anehnya lagi, pengguna medsos yang mestinya cerdas dan sebagian besar anak muda, justru sangat mudah menjadi pengikut tokoh-tokoh bermasalah tersebut. Maka, kontradiktif dengan situasi di negara-negara modern, kondisi di negeri kita pun dengan sempurna dirugikan oleh dua keadaan yaitu belum mampu memproduksi vaksin dengan cepat dan penolakan warga yang masih banyak terkait vaksinasi Covid-19. Maka pada akhirnya, seperti kasus-kasus medis lain semacam penyakit TBC paru, HIV atau rabies misalnya, yang telah tuntas di negara-negara maju, di negeri kita akan selalu abadi.

Kalimat terakhir di atas memang terasa getir dan suram. Namun itulah fakta yang harus kita ikhlaskan saat ini untuk diterima. Jika cuma bicara TBC paru, HIV atau rabies, itu takkan sampai memberi dampak kelumpuhan ekonomi. Maka jika Covid-19 yang menetap di negeri ini, itu tidak cuma membuat ekonomi saja yang hancur dan membawa negeri kita bangkrut, pun bukan tak mungkin bangsa kita akan dikucilkan oleh dunia.

Betapa mengerikannya. Saat bangsa-bangsa lain sudah kembali pada kehidupan normal, kita masih tenggelam dalam wabah yang tak berujung. Maka ini sepenuhnya akan menjadi pilihan kita, apakah hendak meniru negara-negara maju dan modern yang percaya sains atau kembali pada kehidupan penuh takhyul. Ikut hingar bingar berteriak histeris pada serunya pertandingan sepak bola atau mengendap-endap di gua-gua gelap dan sunyi untuk menunggu wahyu kramat? [T]

Tags: covid 19EURO 2020kesehatanpandemivaksin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jukut Ares dan Kekeliruan Guillaume Musso

Next Post

Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Gandrung Petak, Gandrung Bang: Luka Dirayakan, Hidup Dimuliakan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co