14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Pasien Baik

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 13, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

“Disamping terapi, seorang pasien perlu menjadi pasien yang baik agar cepat sembuh.”

Dokter bukanlah dewa, yang tak luput dari kekurangan. Namun berkat keahliannya, sebagian besar pasien sembuh melalui upaya dokter, tentu saja berkat restu Tuhan sang maha pengasih. Satu hal menarik yang jarang diketahui khalayak umum adalah persepsi lain tentang kesembuhan. Selama ini secara harfiah, sembuh umumnya hanya dikaitkan dengan satu keadaan seseorang yang terbebas dari penyakit.

Sesungguhnya secara filosofis, “sembuh” pun dapat dimaknai bila seseorang dapat menerima penyakit yang diidapnya, lalu dengan ikhlas hidup bersamanya. Ini terutama jika kita bicara soal penyakit yang bersifat kronis dan permanen seperti gagal ginjal stadium akhir, Aids, atau penyakit yang meninggalkan kecacatan.

Tentu saja bukan perkara mudah dan sederhana saat kita hendak mengusung keikhlasan. Tak semudah membicarakannya yang terasa ringan dan enteng saja. Namun harus disadari, inilah salah satu syarat paling mendasar menjadi seorang pasien yang baik. Entah kemudian ia akan terbebas dari penyakitnya atau tidak, sesungguhnya ia akan telah sembuh.   

Ketika seorang penderita gagal ginjal fase terminal yang dengan penuh semangat dan tekun menjalani terapi cuci darah maka ia telah sembuh. Bahkan seorang penderita kanker yang dengan ikhlas menjalani kemoterapi yang disarankan, ia telah menjadi seorang penyintas. Meski dalam beberapa hari sisa hidupnya.

Lagi-lagi, dalam hal ini, pikiran menjadi sang maha penentu. Mungkin itu bukan hal aneh karena pikiranlah wakil Tuhan dalam setiap mahluk insani. Sebaliknya, tak sedikit orang yang raganya sehat bugar telah diselimuti pikiran penuh rasa takut dan kecemasan. Maka ia selalu terbenam dalam penderitaan sakit yang tak berujung.

Dalam dunia medis, keadaan ini disebut sebagai psikosomatis, keluhan fikis (soma) yang bersumber dari pikiran (psikis). Bukan hal jarang, jenis kasus seperti ini lebih sulit disembuhkan ketimbang penyakit fisik biasa. Sekali lagi, pastilah karena pikiran adalah sang maha penentu itu.

Disamping sikap ikhlas tadi, hal lain yang diperlukan untuk menjadi pasien yang baik adalah rasa rendah hati. Meskipun tidak banyak, ada pasien atau keluarganya yang merasa lebih pintar dari tenaga kesehatan (nakes) yang merawat mereka. Tidak hanya suka mengatur hal-hal teknis medis yang bukan bidangnya, mereka pun tak segan-segan mengadu kepada tokoh-tokoh berpengaruh dengan maksud agar nakes lebih hormat atau mungkin agar takut dengan mereka. Sikap dan tindakan seperti ini jelas merupakan kekeliruan besar.

Bagaimana mungkin bisa dicerna dengan logika jika mereka yang sakit, lemah tak berdaya hendak menakut-nakuti nakes yang justru semestinya mengobati dan melindungi mereka dengan penuh kehangatan? Tak perlu disangsikan lagi, yang timbul justru situasi yang sebaliknya. Nakes secara psikologis akan kehilangan respek dan rasa memiliki yang dalam kepada pasien yang dirawatnya. Maka, saran dan masukan bisa disampaikan dengan baik dan beretika kepada nakes yang memang tentu saja tak luput dari kekurangan.

Satu hal lagi yang kerap memberi dampak kurang baik pada pasien adalah saat mereka terlalu mudah meyakini informasi alternatif soal medis. Informasi ini bisa bersumber dari internet, media sosial, public figur atau kerabat dan teman. Tidak sedikit misalnya, pasien terlambat menjalani terapi cuci darah (hemodialisis) gara-gara meyakini nasihat kerabatnya yang mengatakan, cuci darah dapat menyebabkan ketergantungan bahkan kematian.

Sebetulnya dengan sangat mudah kita bisa pahami, tindakan cuci darah atau tindakan medis lain maupun pengobatan itu disarankan tentu karena berdasarkan riset disimpulkan akan dapat memberi manfaat yang signifikan untuk pasien. Tentu saja kita tidak dapat bicara 100% dalam hal ini. Sebaiknya, pasien dan keluarganya mengikuti saran dokter yang merawat terkait penyakit yang dideritanya.

Kalau toh ada keragu-raguan, maka pasien dapat mencari second opinion ke dokter yang lain. Apakah  informasi medis yang berasal dari sumber lain sudah pasti salah? Tidak juga selalu. Cukup banyak informasi tersebut yang valid dan bisa dipercaya. Untuk itu kita harus teliti melihat reputasi media yang membagikan informasi tersebut atau ahli kompeten yang dijadikan rujukan. Saat ada konten informasi yang kontradiktif, maka jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada dokter, paling tidak ke dokter keluarga.

Relasi dokter/nakes dan pasien akan memberi value pada kesembuhan pasien jika relasi tersebut terjalin hangat dan penuh empati serta saling percaya. Rasa kurang percaya pasien kepada dokter dapat terjadi karena beberapa hal seperti performance dokter yang dinilai kurang cakap atau efek informasi alternatif yang berlawanan dengan edukasi dokter.

Maka kedua pihak harus menyikapi hal ini dengan baik agar relasi yang efektif tersebut dapat dibangun. Sesungguhnya bukan hal sulit untuk menerapkan hal ini jika keduanya fokus pada peran dan posisi masing-masing. Maka kesembuhan pasien bukan hanya ditentukan oleh peran dokter semata, juga sekali lagi oleh seorang pasien yang baik.   [T]

____

BACA KOLOM DOKTER ARYA YANG LAIN

Tags: dokterkesehatanpaseinpetugas medisrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anjing Mana yang Akan Kau Beri Makan? | Cerpen Kadek Indra Putra

Next Post

Ni Komang Wiranti Primadani | Dancer, Gadis Gaul, Sastra dan Bahasa Bali

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Ni Komang Wiranti Primadani | Dancer, Gadis Gaul, Sastra dan Bahasa Bali

Ni Komang Wiranti Primadani | Dancer, Gadis Gaul, Sastra dan Bahasa Bali

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co