22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 20, 2021
in Esai
Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Kit Harington, pemeran Jon Snow di Game of Thrones (Dok. Helen Sloan/HBO)

Jarak ini sebetulnya ringan saja, tak terlalu, dan masih terkejar waktu, namun keinginan yang tertinggal di belakang dan pertentangan yang membuatnya selalu terdorong ke belakang, menjadikannya terasa terlalu. Ia yang ragu, atau sesuatu di belakangnya yang membelenggu?

Apa yang kira-kira bisa mengubah manusia dan kemanusiaannya? Tempat? Kekuasaan-kekuasaan kecil? Atau waktu dan keadaan? Apa yang bisa mengubah keterhubungan, kebersamaan, pertemanan, atau kebersaudaraan katakanlah justru berakhir dengan persaingan, keretakan bahkan permusuhan? Eksistensi-eksistensi kecil yang sebetulnya bahkan tak ada seukuran debu sekali pun? Dominasi-dominasi kecil yang bahkan tak jelas faedah dan kebermanfaatannya?

Jadi teringat salah satu episode dari serial Game of Thrones, sewaktu Jon Snow, bertemu Ygritte. Jon, si pemuda yang diperkenalkan sebagai anak haram Lord Stark, dengan kenaifannya yang menjadi ciri khas kalangan the southern, versus Ygritte, perempuan dari golongan the wildlings, kelompok-kelompok dibalik tembok yang membatasi the southern dengan the north.

You know nothing Jon Snow! Kata, Ygritte, dalam perdebatan mereka diantara dinginnya pegunungan bersalju yang membekukan, dan Jon yang merasa seolah khatam dengan  manusia-manusia yang dianggap liar itu. Bagi kalangan the southern, mereka yang berada dibalik tembok tak lebih dari manusia-manusia tak beradab, barbar, kaum perampok, penuh kekerasan, yang suatu ketika mengintip celah untuk menyerbu ke wilayahnya.

Jon yang naif, Jon yang malang. Jon si pemuda belasan tahun itu harus berhadapan dengan golongan the wildlings yang mengepungnya, tapi justru kemudian mengajarkannya banyak hal. Dia tak hanya belajar melihat sesuatu dengan lebih jelas, membaca lebih jeli situasi, tidak tertipu permukaan, belajar menjalani hidup di alam yang sebenarnya dan tidak terburu mengambil tindakan, sekaligus berpikir jauh lebih panjang. Bersama mereka, Jon belajar taktik, juga belajar seni kepemimpinan, termasuk kemudian terpaksa mengkhianati mereka demi mengamankan Black Castle, tempatnya mengabdi sebagai Night’s Watch, si pasukan pengintai.

Dibalik tembok itu, the wildlings sejatinya tak lebih dari manusia-manusia biasa, sebagaimana mereka yang tinggal di selatan tembok. Mereka tak lebih dari manusia-manusia yang ingin bertahan hidup, mempertahankan diri, yang juga bertarung dan berebut antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dibalik satu ancaman besar lainnya: berupa kebangkitan dunia lain, pasukan kematian, the white walkers.

Jon yang merupakan salah satu dari anggota kelompok pengintai itu, berhasil berkompromi kembali dengan the wildlings, bahkan menjadi pemimpin pasukan yang kemudian sama-sama menghadapi ancaman the white walkers. Jon seperti lolos dari masa inisasinya, untuk mekar menjadi pribadi yang tangguh dan teruji dalam menghadapi berbagai situasi. Termasuk menjadi figur penting dalam menghentikan pasukan kematian The Night King.

Seberapa banyakkah manusia-manusia heroik macam Jon Snow dalam kenyataan? Ada banyak yang belajar, ada banyak yang berhasil, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tumbang atau ditumbangkan dan kalah atau dikalahkan. Hanyut sebagai pribadi-pribadi yang tidak hanya ikut-ikutan barbar, tapi juga telengas dan berebut entah untuk eksistensi macam apa, yang sekali lagi, kecil sekali untuk kemanusiaan itu sendiri.

Ada banyak yang berkembang, melewati rintangan, belajar mengungkap ketidaktahuannya dan mengasah dirinya, muncul seolah sebagai pemenang, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tenggelam dihantam kesulitan. Apakah yang mengubah manusia dan kemanusiannya kemudian? Kesulitan-kesulitan itukah? Persaingan-persaingan itukah? Kekuasaan-kekuasaan kecil atas manusia lainnya itukah?

You know nothing Jon Snow. Diucapkan Ygritte berkali-kali. Karena sejatinya, Jon Snow sejak awal juga bukan manusia biasa. Dia bukan anak haram Ned Stark. Darahnya, bukan darah manusia biasa. Dia keturunan Targaryen. Pewaris tahta kekuasaan utama Iron Throne. Darah penguasa sudah ada dalam dirinya.  

Mengingat Jon Snow, mungkin lebih enak juga mengingat Tyrion. Putra klan Lannister yang bertubuh pendek dan kecil, namun paling pandai dan cerdik. Jika saudarinya Cersei punya ambisi membabi buta, Tyrion punya otak. Bahkan bisa selamat dalam situasi paling terjepit dan paling genting sekali pun, lalu menjadi sosok pemenang yang kemudian tampil dengan tawanya yang pahit dan getir di setiap akhir kejadian.

Death is so final, yet life is full of possibilities. Aha, Tyrion mengucapkannya dengan sangat enteng sekaligus penuh ironi. Bukankah atas bisikannya juga Jon kemudian menikam Daenerys Targaryen dalam pelukannya yang romantis, berlatar tahta Iron Throne yang sudah lapang untuk diduduki dan King’s Landing yang berhasil dibumihanguskan, demi menghindarkan perempuan sekaligus pemimpin yang dicintainya itu dari kekuasaan yang memabukkan? [T]

Banyuning, 8 Mei 2021

Tags: filmfilosofifilsafatkehidupanpersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renes Muliani | Yang Muda, Yang Penulis Sastra Bali, Yang Berjualan

Next Post

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co