14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 20, 2021
in Esai
Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Kit Harington, pemeran Jon Snow di Game of Thrones (Dok. Helen Sloan/HBO)

Jarak ini sebetulnya ringan saja, tak terlalu, dan masih terkejar waktu, namun keinginan yang tertinggal di belakang dan pertentangan yang membuatnya selalu terdorong ke belakang, menjadikannya terasa terlalu. Ia yang ragu, atau sesuatu di belakangnya yang membelenggu?

Apa yang kira-kira bisa mengubah manusia dan kemanusiaannya? Tempat? Kekuasaan-kekuasaan kecil? Atau waktu dan keadaan? Apa yang bisa mengubah keterhubungan, kebersamaan, pertemanan, atau kebersaudaraan katakanlah justru berakhir dengan persaingan, keretakan bahkan permusuhan? Eksistensi-eksistensi kecil yang sebetulnya bahkan tak ada seukuran debu sekali pun? Dominasi-dominasi kecil yang bahkan tak jelas faedah dan kebermanfaatannya?

Jadi teringat salah satu episode dari serial Game of Thrones, sewaktu Jon Snow, bertemu Ygritte. Jon, si pemuda yang diperkenalkan sebagai anak haram Lord Stark, dengan kenaifannya yang menjadi ciri khas kalangan the southern, versus Ygritte, perempuan dari golongan the wildlings, kelompok-kelompok dibalik tembok yang membatasi the southern dengan the north.

You know nothing Jon Snow! Kata, Ygritte, dalam perdebatan mereka diantara dinginnya pegunungan bersalju yang membekukan, dan Jon yang merasa seolah khatam dengan  manusia-manusia yang dianggap liar itu. Bagi kalangan the southern, mereka yang berada dibalik tembok tak lebih dari manusia-manusia tak beradab, barbar, kaum perampok, penuh kekerasan, yang suatu ketika mengintip celah untuk menyerbu ke wilayahnya.

Jon yang naif, Jon yang malang. Jon si pemuda belasan tahun itu harus berhadapan dengan golongan the wildlings yang mengepungnya, tapi justru kemudian mengajarkannya banyak hal. Dia tak hanya belajar melihat sesuatu dengan lebih jelas, membaca lebih jeli situasi, tidak tertipu permukaan, belajar menjalani hidup di alam yang sebenarnya dan tidak terburu mengambil tindakan, sekaligus berpikir jauh lebih panjang. Bersama mereka, Jon belajar taktik, juga belajar seni kepemimpinan, termasuk kemudian terpaksa mengkhianati mereka demi mengamankan Black Castle, tempatnya mengabdi sebagai Night’s Watch, si pasukan pengintai.

Dibalik tembok itu, the wildlings sejatinya tak lebih dari manusia-manusia biasa, sebagaimana mereka yang tinggal di selatan tembok. Mereka tak lebih dari manusia-manusia yang ingin bertahan hidup, mempertahankan diri, yang juga bertarung dan berebut antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dibalik satu ancaman besar lainnya: berupa kebangkitan dunia lain, pasukan kematian, the white walkers.

Jon yang merupakan salah satu dari anggota kelompok pengintai itu, berhasil berkompromi kembali dengan the wildlings, bahkan menjadi pemimpin pasukan yang kemudian sama-sama menghadapi ancaman the white walkers. Jon seperti lolos dari masa inisasinya, untuk mekar menjadi pribadi yang tangguh dan teruji dalam menghadapi berbagai situasi. Termasuk menjadi figur penting dalam menghentikan pasukan kematian The Night King.

Seberapa banyakkah manusia-manusia heroik macam Jon Snow dalam kenyataan? Ada banyak yang belajar, ada banyak yang berhasil, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tumbang atau ditumbangkan dan kalah atau dikalahkan. Hanyut sebagai pribadi-pribadi yang tidak hanya ikut-ikutan barbar, tapi juga telengas dan berebut entah untuk eksistensi macam apa, yang sekali lagi, kecil sekali untuk kemanusiaan itu sendiri.

Ada banyak yang berkembang, melewati rintangan, belajar mengungkap ketidaktahuannya dan mengasah dirinya, muncul seolah sebagai pemenang, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tenggelam dihantam kesulitan. Apakah yang mengubah manusia dan kemanusiannya kemudian? Kesulitan-kesulitan itukah? Persaingan-persaingan itukah? Kekuasaan-kekuasaan kecil atas manusia lainnya itukah?

You know nothing Jon Snow. Diucapkan Ygritte berkali-kali. Karena sejatinya, Jon Snow sejak awal juga bukan manusia biasa. Dia bukan anak haram Ned Stark. Darahnya, bukan darah manusia biasa. Dia keturunan Targaryen. Pewaris tahta kekuasaan utama Iron Throne. Darah penguasa sudah ada dalam dirinya.  

Mengingat Jon Snow, mungkin lebih enak juga mengingat Tyrion. Putra klan Lannister yang bertubuh pendek dan kecil, namun paling pandai dan cerdik. Jika saudarinya Cersei punya ambisi membabi buta, Tyrion punya otak. Bahkan bisa selamat dalam situasi paling terjepit dan paling genting sekali pun, lalu menjadi sosok pemenang yang kemudian tampil dengan tawanya yang pahit dan getir di setiap akhir kejadian.

Death is so final, yet life is full of possibilities. Aha, Tyrion mengucapkannya dengan sangat enteng sekaligus penuh ironi. Bukankah atas bisikannya juga Jon kemudian menikam Daenerys Targaryen dalam pelukannya yang romantis, berlatar tahta Iron Throne yang sudah lapang untuk diduduki dan King’s Landing yang berhasil dibumihanguskan, demi menghindarkan perempuan sekaligus pemimpin yang dicintainya itu dari kekuasaan yang memabukkan? [T]

Banyuning, 8 Mei 2021

Tags: filmfilosofifilsafatkehidupanpersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renes Muliani | Yang Muda, Yang Penulis Sastra Bali, Yang Berjualan

Next Post

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co