2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Komang Adnyana by Komang Adnyana
May 20, 2021
in Esai
Menimbang Jarak | “You Know Nothing Jon Snow!”

Kit Harington, pemeran Jon Snow di Game of Thrones (Dok. Helen Sloan/HBO)

Jarak ini sebetulnya ringan saja, tak terlalu, dan masih terkejar waktu, namun keinginan yang tertinggal di belakang dan pertentangan yang membuatnya selalu terdorong ke belakang, menjadikannya terasa terlalu. Ia yang ragu, atau sesuatu di belakangnya yang membelenggu?

Apa yang kira-kira bisa mengubah manusia dan kemanusiaannya? Tempat? Kekuasaan-kekuasaan kecil? Atau waktu dan keadaan? Apa yang bisa mengubah keterhubungan, kebersamaan, pertemanan, atau kebersaudaraan katakanlah justru berakhir dengan persaingan, keretakan bahkan permusuhan? Eksistensi-eksistensi kecil yang sebetulnya bahkan tak ada seukuran debu sekali pun? Dominasi-dominasi kecil yang bahkan tak jelas faedah dan kebermanfaatannya?

Jadi teringat salah satu episode dari serial Game of Thrones, sewaktu Jon Snow, bertemu Ygritte. Jon, si pemuda yang diperkenalkan sebagai anak haram Lord Stark, dengan kenaifannya yang menjadi ciri khas kalangan the southern, versus Ygritte, perempuan dari golongan the wildlings, kelompok-kelompok dibalik tembok yang membatasi the southern dengan the north.

You know nothing Jon Snow! Kata, Ygritte, dalam perdebatan mereka diantara dinginnya pegunungan bersalju yang membekukan, dan Jon yang merasa seolah khatam dengan  manusia-manusia yang dianggap liar itu. Bagi kalangan the southern, mereka yang berada dibalik tembok tak lebih dari manusia-manusia tak beradab, barbar, kaum perampok, penuh kekerasan, yang suatu ketika mengintip celah untuk menyerbu ke wilayahnya.

Jon yang naif, Jon yang malang. Jon si pemuda belasan tahun itu harus berhadapan dengan golongan the wildlings yang mengepungnya, tapi justru kemudian mengajarkannya banyak hal. Dia tak hanya belajar melihat sesuatu dengan lebih jelas, membaca lebih jeli situasi, tidak tertipu permukaan, belajar menjalani hidup di alam yang sebenarnya dan tidak terburu mengambil tindakan, sekaligus berpikir jauh lebih panjang. Bersama mereka, Jon belajar taktik, juga belajar seni kepemimpinan, termasuk kemudian terpaksa mengkhianati mereka demi mengamankan Black Castle, tempatnya mengabdi sebagai Night’s Watch, si pasukan pengintai.

Dibalik tembok itu, the wildlings sejatinya tak lebih dari manusia-manusia biasa, sebagaimana mereka yang tinggal di selatan tembok. Mereka tak lebih dari manusia-manusia yang ingin bertahan hidup, mempertahankan diri, yang juga bertarung dan berebut antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dibalik satu ancaman besar lainnya: berupa kebangkitan dunia lain, pasukan kematian, the white walkers.

Jon yang merupakan salah satu dari anggota kelompok pengintai itu, berhasil berkompromi kembali dengan the wildlings, bahkan menjadi pemimpin pasukan yang kemudian sama-sama menghadapi ancaman the white walkers. Jon seperti lolos dari masa inisasinya, untuk mekar menjadi pribadi yang tangguh dan teruji dalam menghadapi berbagai situasi. Termasuk menjadi figur penting dalam menghentikan pasukan kematian The Night King.

Seberapa banyakkah manusia-manusia heroik macam Jon Snow dalam kenyataan? Ada banyak yang belajar, ada banyak yang berhasil, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tumbang atau ditumbangkan dan kalah atau dikalahkan. Hanyut sebagai pribadi-pribadi yang tidak hanya ikut-ikutan barbar, tapi juga telengas dan berebut entah untuk eksistensi macam apa, yang sekali lagi, kecil sekali untuk kemanusiaan itu sendiri.

Ada banyak yang berkembang, melewati rintangan, belajar mengungkap ketidaktahuannya dan mengasah dirinya, muncul seolah sebagai pemenang, tapi tak terhitung juga jumlah mereka yang tenggelam dihantam kesulitan. Apakah yang mengubah manusia dan kemanusiannya kemudian? Kesulitan-kesulitan itukah? Persaingan-persaingan itukah? Kekuasaan-kekuasaan kecil atas manusia lainnya itukah?

You know nothing Jon Snow. Diucapkan Ygritte berkali-kali. Karena sejatinya, Jon Snow sejak awal juga bukan manusia biasa. Dia bukan anak haram Ned Stark. Darahnya, bukan darah manusia biasa. Dia keturunan Targaryen. Pewaris tahta kekuasaan utama Iron Throne. Darah penguasa sudah ada dalam dirinya.  

Mengingat Jon Snow, mungkin lebih enak juga mengingat Tyrion. Putra klan Lannister yang bertubuh pendek dan kecil, namun paling pandai dan cerdik. Jika saudarinya Cersei punya ambisi membabi buta, Tyrion punya otak. Bahkan bisa selamat dalam situasi paling terjepit dan paling genting sekali pun, lalu menjadi sosok pemenang yang kemudian tampil dengan tawanya yang pahit dan getir di setiap akhir kejadian.

Death is so final, yet life is full of possibilities. Aha, Tyrion mengucapkannya dengan sangat enteng sekaligus penuh ironi. Bukankah atas bisikannya juga Jon kemudian menikam Daenerys Targaryen dalam pelukannya yang romantis, berlatar tahta Iron Throne yang sudah lapang untuk diduduki dan King’s Landing yang berhasil dibumihanguskan, demi menghindarkan perempuan sekaligus pemimpin yang dicintainya itu dari kekuasaan yang memabukkan? [T]

Banyuning, 8 Mei 2021

Tags: filmfilosofifilsafatkehidupanpersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Renes Muliani | Yang Muda, Yang Penulis Sastra Bali, Yang Berjualan

Next Post

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Komang Adnyana

Komang Adnyana

Penikmat cerita, yang belajar lagi menulis cerita.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Hutan, Desa, dan Perhutanan Sosial | Bagaimana Sebaiknya Desa “Menggarap” Hutan?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co