24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedaulatan Benih Bagi Petani

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 17, 2021
in Esai
Kedaulatan Benih Bagi Petani

Mural yang Dibuat Oleh Wild Drawing di Kulidan Kitchen and Space

Di Desa Guwang, Gianyar,  yang lebih dari separuh luas wilayahnya berupa persawahan, terdapat satu tempat yang menyediakan ruang untuk seniman berekspersi dan berkreasi. Tempat itu adalah Kulidan Kitchen and Space. Di masa pandemi pada bulan Juli tahun 2020, Seorang Seniman bernama Wild Drawing  membuat mural di dinding galeri Kulidan Kitchen yang  selesai pada tanggal 1 Agustus 2020 saat pameran seni bertema pandemi dan kedaulatan pangan dibuka. Pameran tersebut menyuarakan bernilainya petani.

Wild Drawing melukiskan dindinng gedung galeri yang berventilasi batu bata merah dengan cat. Di sini kreativitas  Wild Drawing memanfaatkan dinding batu bata yang banyak rongganya agar udara dapat masuk ke dalam sebagai batang gitar. Kemudian Di samping kirinya adalah senar gitar yang dipetik.     Di atasnya merupakan seorang wanita yang memegang gitar.  Di tengah gitar terdapat simbol benih dan tulisan yang bila diterjemahkan artinya adalah mereka mencoba menguburkan kami tapi mereka tidak tahu kami adalah benih. Di bagian itu juga benih dipersonifikasikan sebagai orang yang sedang berbaring dan mengepalkan tangannya lalu muncul ke permukaan.

Peran Benih dalam Kehidupan Manusia dan Ekologi

Benih disimbolkan sebagai awal dari pertumbuhan dan kebangkitan karena dari benih muncul berbagai spesies tanaman yang berbentuk rumput hingga pohon  yang tingginya melebihi gedung lima lantai. Benih merupakan dasar dari ekosistem di daratan dan tempat evolusi kehidupan. Benih telah berevolusi selama jutaan tahun dan memberikan kita keragmanan dan kekayaan kehidupan di bumi. Biji, daun, ranting, akar dan buah yang jadi makanan manusia dan berbagai hewan yang hidup di bumi bermula dari benih. Selama ratusan generasi petani membiakkan berbagai varietas benih yang memunculkan keragaman gen yang bekerja sama dengan alam sehingga cocok dengan kondisi alam tempatnya dibiakkan.

Kehidupan manusia ditentukan oleh benih. Bangkit dan runtuhnya suatu peradaban adalah karena faktor benih. Dari benih cemara, kelapa,jati dan mahoni, manusia membuat tempat berteduh dari angin, hujan dan panas sinar matahari. Kursi dan meja yang digunakan untuk duduk dan menulis berasal dari pohon yang tumbuh dari benih. Dari itu pula, perahu dibuat untuk menyeberangi sungai dan menjelajahi lautan hingga mengubah sejarah dunia. Alat musik yang menghibur dan menyuarakan aspirasi bermula suatu benih pohon. Dari tanaman tanaman herbal, kita mendapat obat obatan yang terus menerus diteliti untuk mengobati penyakit. Bunga yang harum dan indah dipandang hingga menjadi hiasan halaman rumah berawal dari benih.

Sumber utama yang memberikan rasa manis pada minuman dan makanan yang ada di setiap restoran dan kafe termasuk Kulidan Kitchen berasal dari benih tebu dan aren yang setelah tumbuh dan berkembang setinggi 2 meter lebih akan diambil batang dan niranya yang diolah jadi gula. Buah buahan, biji bijian dan daun daunan yang mana kita memperoleh vitamin, karbohidrat, serat dan lemak berasal dari keragaman biji yang berevolusi selama jutaan tahun. Pakaian yang kita kenakan berasal dari benih kapas.  Produk kerajinan yang dipamerkan saat acara di Kulidan Kitchen pada tanggal 1 Agustus 2020 berbahan dasar benih. Semua bahan dasar makanan dan minuman (Kecuali air mineral) yang berada di tempat dimana karya seni ini dipamerkan berasal dari benih yang tumbuh di tanah dan iklim yang sesuai. Kemudian, kertas yang digunakan manusia selama ribuan tahun untuk mendidik, dan menyebarkan informasi serta sarana untuk menjalankan pemerintahan juga bersumber dari benih. Begitulah pentingnya benih dan manusia akan terikat dengannya.

Jika kita berada di lahan yang amat luas dengan dilapisi oleh pohon dan rumput akan terasa lebih sejuk daripada yang hanya berdebu dan berbatu atau bila di kota, berselimut aspal dan beton. Ini karena rumput dan pohon menyerap gas gas rumah kaca dan mengolah sinar matahari jadi oksigen. Pohon jadi peneduh di siang hari. Rerumputan yang menyejukkan mata di hamparan yang luas merupakan hasil dari kerja benih. Benih merupakan sumber makanan hewan ternak yang darinya diperoleh protein, lemak, pupuk organik, kulit dan alat angkut. Setelah benih tumbuh matang dan kemudian menua, daun yang berguguran dan batang yang lapuk merupakan makanan bagi pengurai seperti jamur dan mikroba yang menyuburkan tanah. Di pesisir, benih bakau tumbuh sebagai pohon pelindung daratan dari terjangan ombak laut.

Mural yang Dibuat Oleh Wild Drawing

Kebebasan  Benih

Benih merupakan bagian paling dasar produksi dari pertanian. Dari situ produsen mendapat penghidupan. Tak akan ada pertanian tanpa benih. Kelayakan hidup pelaku pertanian bergantung dari kemampuannya untuk memelihara dan menghasilkan benih untuk kelangsungan hidup manusia di dunia. Oleh karenanya, kedaulatan petani atas benih merupakan hak asasi yang harus dimiliki untuk menegakkan kedaulatan pangan.

Mulai dari tahun 1950, paradigma reduksionis mekanistik meletakkan dasar hukum dan ekonomi untuk memprivatisasi benih. Ini menghancurkan keragaman , menghilangkan hak petani untuk berinovasi dan membiakkan benih, mempatentan kehidupan, dan menciptakan monopoli benih. Ketika korporasi ingin mengendalikan, mengadaptasikan dan memodifikasi benih lewat manipulasi genetik untuk laba, varietas beni yang dibiakkan petani sebelum tahun 1900 dianggap primitif dan menjadikan varietas yang dibuat dari laboratorium adalah benih modern.

Di seluruh dunia, miliaran petani bergantung pada benih yang disimpan sendiri sebagai sumber utamanya. Supaya perusahaan agrobisnis meraih profit yang luar biasa tinggi, mereka mendorong benih yang disimpan itu digantikan oleh tiga varietas baru yang bersifat menghasilkan panen tinggi (High Yield), hibrida dan rekaya genetik. Benih panen tinggi maksudnya benih yang menghasilkan tanaman dengan jumlah biji atau buah yang melimpah dari ruang laboratorium dibandingkan dengan benih yang dibiakkan oleh petani lapangan. Jadi benih jagung yang pertama misalnya menghasilkan tongkol jagung berukuran satu setengah kali lebih besar daripada yang kedua. Benih yang berisifat panen tinggi pada kenyataannya bergantung pada pestisida dan pupuk kimia, Ia juga rentan terhadap penyakit sehingga harus diganti setelah panen. Untuk itu petani membeli benih baru.

Benih hibrida merupakan benih yang disilangkan dari dua tanaman yang tidak sama. Hasil dari persilangan ini adalah generasi yang hasil panennya lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Benih hibrida memaksa petani untuk membeli tiap selesai musim panen. Benih rekayasa dibentuk dengan memasukkan gen dari  yang berbeda spesies bahkan suku  ke sel tanaman.  Bahkan ada korporasi yang mengembangkan benih steril.

Pergeseran ke benih yang dikembangkan oleh korporasi menjadikan benih yang semula bebas dimiliki petani menjadi input berbiaya mahal yang ditanggung. Ini mengikis kedaulatan petani. Sepuluh perusahaan agrobisnis dunia menguasai sepertiga perdagangan benih secara global. Tujuan dari korporasi ini adalah mengontrol sistem pangan.

Kendali korporasi atas benih merupakan bentuk kekerasan terhadap petani. Sedangkan petani membiakkan benih untuk keragaman dan ketahanan terhadap lingkungan, korporasi melakukannya untuk keseragaman dan kerentanan. Petani membudidayakan untuk menghasilkan rasa, kualitas dan nutrisi, benih dari korporasi dirancang untuk industri makanan olahan dan transportasi jarah jauh dalam sistem pangan terglobalisasi. Monokultur tanaman pangan dan industri makanan olahan memperkuat satu sama lain, membuang makanan, lahan dan kesehatan karena semua itu rendah nutrisi, dan haus bahan kimia yang berakibat pada lingkungan yang mempengaruhi tubuh manusia.

Kekerasan terhadpa petani ini berwujud dalam tiga hal. Pertama, kontribusi petani dalam pembiakan dihapus danbenih yang berevolusi bersama petani dipatenkan oleh korporasi sebagai inovasinya. Ini merupakan pembajakan kehidupan( biopiracy). Paten pada kehidupan adalah pembajakan  keragaman hayati dan kebijaksanaan lokal. Itu merupakan perampasan hak milik bersama atas benih dan pengetahuan untuk khalayak umum. Yang dilakukan oleh korporasi adalah mengambil varietas benih tertentu dari hasil pembiakkan petani selama ratusan tahun karena dinilai paling tinggi hasil panennya dan sesuai dengan keinginan korporasi lalu dipatenkan. Contohnya adalah paten atas beras basmati, neem dan turmeric

Kedua, paten memicu pengambilan royalty dari petani. Ada kasus dimana korporasi digugat karena secara tidak adil menuntut pembayaran dari petani. Benih yang diklaim oleh korporasi merupakan benih yang bersifat memperbaharui yang artinya benih itu diambil oleh panen sebelumnya yang mana ini dilakukan selama beradab abad. Tapi karena benihnya dari tanaman rekayasa genetika korporasi menuntut pembayaran dari petani yang membuat mereka terjerat utang. Ketiga, ketika tanaman rekayasa genetik menduduki lahan tetangga, korporasi menuntut tetangganya untuk membayar karena menggunakan benih miliknya. Ini yang terjadi di beberapa negara.

Menurunya keragaman benih berarti kehilangan nutrisi, rasa dan kualitas pada makanan. Dan di atas semua itu manusia kehilangan hak dasar untuk memutuskan cara menumbuhkan makanan dan apa yang akan dimakan. Benih adalah sasaran utama korporasi dan bagian paling depan yang harus dipertahankan. Untuk menghasilkan makanan yang bernutrisi dan sehat, benih harus bebas berkembang dan berevolusi tanpa ancaman kepunahan dan kontaminasi genetika yang dilakukan di laboratorium. Ia harus memiliki kebebasan untuk mendapat penyerbukan oleh serangga tanpa ancaman pestisida. Ini bagian dari kebebasan jaring jaring ekosistem untuk membangun ketahanan dan integritas, memperkuat saling keterhubungan antar mahluk hidup dan manusia. Kebebasan benih merupakan hak petani untuk menyimpan, menjual dan membiakkan tanpa intervensi oleh korporasi dan pemerintah. Dari sini kebebasan benih itu juga berarti akses atas makanan dari benih yang dibudidaya untuk rasa, aroma ,kualitas dan nutrisi.

Di bidang hukum dan politik kebebasan benih berarti kewajiban pemerintah untuk melindungi keragaman hayati dan pertanian dengan mengatur korporasi untuk mencegahnya mengikis kedaulatan rakyat atas benih melalui pembajakan benih dan ancaman dari tanaman dan hewan rekayasa genetik. Komunitas bebas untuk mengatur sistem pertanian yang diinginkannya, merawat yang jadi milik bersama dan berbagi dengan adil dan memetik hasilnya secara berkelanjutan. Regulasi  negara haruslah  menghukum siapapun yang menyebabkan kerusakan sehingga menciptakan konteks untuk mempraktekkan kebebasan dalam ruang sosial dan mencegah kerusakan itu terjadi di awal(1).

Kasus Di Indonesia

Di Indonesia, petani dapat dikriminalisasi karena membiakkan dan menjual benih tanpa izin. Di Kediri, belasan petani pernah ditangkap dan dipenjara karena dianggap melanggar UU no 12 tahun 1992 mengenai sistem budidaya tanaman. Pada bulan Juli tahun 2019, petani di Aceh yang juga menjabat sebagai kepala desa dijadikan tersangka karena dituduh memproduksi dan mengedarkan benih padi IF8 yang belum dilepas varietasnya(2).

Petani ini didakwa dengan UU no 12 tahun 1992 pasal 12 ayat 2 yang bunyinya  varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu harus  dilepas oleh pemerintah dan pasal 60 ayat 1 yang isinya varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri yang belum dilepas dilarang diedarkan(3). Benih padi IF8  bukan produksi institusi formal tapi ditemukan oleh petani Karanganyar tahun 2012. Benih itu masuk ke Aceh tahun 2017(4). Kriminalisasi penggunaan benih IF8 terjadi karena belum bersertifikat(5). Jika benih tersebut dikembangkan oleh petani kecil, bukan lembaga formal seharusnya tidak perlu dikriminalisasi karena hal ini. Petani berhak untuk memperdagangkannya dengan sesama petani seperti hanya menjual beras pada orang lain. Ini salah satu bukti bahwa kedaulatan pangan yang dipropagandakan jauh dari kenyataan. Program Nawacita Jokowi mengenai kemandirian desa dan petani tersendat dengan adanya kasus ini.

Sejah tahun 1970 lebih dari 10.000 varietas padi Indonesia telah hilang karena tergantung pada benih hibrida hingga harus mengimpor yang telah terinfeksi virus sehingga dimusnahkan. Ini bentuk pengurasan anggaran negara akibat memarjinalkan varietas lokal untuk keuntungan korporasi. Untuk melindungi kedualtan petani, Serikat Petani Indonesia mendirikan pusat perbenihan petani dimana petani menyimpan, memelihara dan mendistribusikan benih dari oleh dan untuk petani(6).

Ketergantungan pada korporasi dalam benih adalah sebab utama kemiskinan petani karena harus mengeluarkan uang dengan hasil yang minimal(7). Ketika pemerintah berencana melepas benih jagung rekayasa genetika milik korporasi Monsanto yaitu benih NK 603 terbongkar oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) mengekspos niat dengan menunjukkan itu bahwa upaya membagikan benih hibrida secara gratis yang lamban laun membuat petani terlilit olehnya sehingga terus membayar untuk itu, para petani diserukan oleh SPI untuk menolak benih hibrida ini demi kedaulatan pangan masyarakat(8). [T]

Sumber:

  1. Shiva, Vandana.Who Really Feed the World? The Failure of Agribusiness and The Promise of Agroecology.2016. Berkley, California. North Atlantic Books. Chapter 6 Seed Freedom Feeds the World, Not Seed Dictatorship.
  2. Asosiasi Petani Indonesia, “Pemuliaan Benih Berujung Pada Kriminalisasi” , 27 Juli 2019.  https://api.or.id/petani-kecil-pemulia-benih-berujung-pada-kriminalisasi/ . Diakses Tanggal 17 Maret 2021
  3. Ibid
  4. Masriadi. Benih Padi IF8 Buatannya ilarang di Aceh Utara, Ini   Penjelasan Prof Dwi. 28 Juni 2019. https://regional.kompas.com/read/2019/06/28/16112271/benih-padi-if8-buatannya-dilarang-di-aceh-utara-ini-penjelasan-prof-dwi . Diakses tanggal 17 Maret 2012
  5. Masriadi.Benih Padi IF 8 Diliarang Digunakan ini Alasannya. 27 Juni 2019. https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13464811/benih-padi-if8-dilarang-digunakan-ini-alasannya . Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  6. Serikat Petani Indonesia. Petani Kecil Harus Merebut Kembali Kedaulatan Atas Benih. 17 Desember 2010 .https://spi.or.id/petani-kecil-harus-merebut-kembali-kedaulatan-atas-benih/. Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  7. MG Noviarizal Fernandez. Korporasi Besar Kuasai Benih Rugikan Petani. 5 September 2019. https://kabar24.bisnis.com/read/20190905/16/1144879/korporasi-besar-kuasai-benih-rugikan-petani. Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  8. Serikat Petani Indonesia. SPI Tolak Benih GMO Mentah-mentah. 25 Februari 2016. https://spi.or.id/spi-tolak-benih-gmo-mentah-mentah/ . Diakses Tangga; 17 Maret 2017
Tags: benihpanganpetaniSerikat Petani Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertempuran Kepiting | Dongeng dari Filipina

Next Post

Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co