2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kedaulatan Benih Bagi Petani

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 17, 2021
in Esai
Kedaulatan Benih Bagi Petani

Mural yang Dibuat Oleh Wild Drawing di Kulidan Kitchen and Space

Di Desa Guwang, Gianyar,  yang lebih dari separuh luas wilayahnya berupa persawahan, terdapat satu tempat yang menyediakan ruang untuk seniman berekspersi dan berkreasi. Tempat itu adalah Kulidan Kitchen and Space. Di masa pandemi pada bulan Juli tahun 2020, Seorang Seniman bernama Wild Drawing  membuat mural di dinding galeri Kulidan Kitchen yang  selesai pada tanggal 1 Agustus 2020 saat pameran seni bertema pandemi dan kedaulatan pangan dibuka. Pameran tersebut menyuarakan bernilainya petani.

Wild Drawing melukiskan dindinng gedung galeri yang berventilasi batu bata merah dengan cat. Di sini kreativitas  Wild Drawing memanfaatkan dinding batu bata yang banyak rongganya agar udara dapat masuk ke dalam sebagai batang gitar. Kemudian Di samping kirinya adalah senar gitar yang dipetik.     Di atasnya merupakan seorang wanita yang memegang gitar.  Di tengah gitar terdapat simbol benih dan tulisan yang bila diterjemahkan artinya adalah mereka mencoba menguburkan kami tapi mereka tidak tahu kami adalah benih. Di bagian itu juga benih dipersonifikasikan sebagai orang yang sedang berbaring dan mengepalkan tangannya lalu muncul ke permukaan.

Peran Benih dalam Kehidupan Manusia dan Ekologi

Benih disimbolkan sebagai awal dari pertumbuhan dan kebangkitan karena dari benih muncul berbagai spesies tanaman yang berbentuk rumput hingga pohon  yang tingginya melebihi gedung lima lantai. Benih merupakan dasar dari ekosistem di daratan dan tempat evolusi kehidupan. Benih telah berevolusi selama jutaan tahun dan memberikan kita keragmanan dan kekayaan kehidupan di bumi. Biji, daun, ranting, akar dan buah yang jadi makanan manusia dan berbagai hewan yang hidup di bumi bermula dari benih. Selama ratusan generasi petani membiakkan berbagai varietas benih yang memunculkan keragaman gen yang bekerja sama dengan alam sehingga cocok dengan kondisi alam tempatnya dibiakkan.

Kehidupan manusia ditentukan oleh benih. Bangkit dan runtuhnya suatu peradaban adalah karena faktor benih. Dari benih cemara, kelapa,jati dan mahoni, manusia membuat tempat berteduh dari angin, hujan dan panas sinar matahari. Kursi dan meja yang digunakan untuk duduk dan menulis berasal dari pohon yang tumbuh dari benih. Dari itu pula, perahu dibuat untuk menyeberangi sungai dan menjelajahi lautan hingga mengubah sejarah dunia. Alat musik yang menghibur dan menyuarakan aspirasi bermula suatu benih pohon. Dari tanaman tanaman herbal, kita mendapat obat obatan yang terus menerus diteliti untuk mengobati penyakit. Bunga yang harum dan indah dipandang hingga menjadi hiasan halaman rumah berawal dari benih.

Sumber utama yang memberikan rasa manis pada minuman dan makanan yang ada di setiap restoran dan kafe termasuk Kulidan Kitchen berasal dari benih tebu dan aren yang setelah tumbuh dan berkembang setinggi 2 meter lebih akan diambil batang dan niranya yang diolah jadi gula. Buah buahan, biji bijian dan daun daunan yang mana kita memperoleh vitamin, karbohidrat, serat dan lemak berasal dari keragaman biji yang berevolusi selama jutaan tahun. Pakaian yang kita kenakan berasal dari benih kapas.  Produk kerajinan yang dipamerkan saat acara di Kulidan Kitchen pada tanggal 1 Agustus 2020 berbahan dasar benih. Semua bahan dasar makanan dan minuman (Kecuali air mineral) yang berada di tempat dimana karya seni ini dipamerkan berasal dari benih yang tumbuh di tanah dan iklim yang sesuai. Kemudian, kertas yang digunakan manusia selama ribuan tahun untuk mendidik, dan menyebarkan informasi serta sarana untuk menjalankan pemerintahan juga bersumber dari benih. Begitulah pentingnya benih dan manusia akan terikat dengannya.

Jika kita berada di lahan yang amat luas dengan dilapisi oleh pohon dan rumput akan terasa lebih sejuk daripada yang hanya berdebu dan berbatu atau bila di kota, berselimut aspal dan beton. Ini karena rumput dan pohon menyerap gas gas rumah kaca dan mengolah sinar matahari jadi oksigen. Pohon jadi peneduh di siang hari. Rerumputan yang menyejukkan mata di hamparan yang luas merupakan hasil dari kerja benih. Benih merupakan sumber makanan hewan ternak yang darinya diperoleh protein, lemak, pupuk organik, kulit dan alat angkut. Setelah benih tumbuh matang dan kemudian menua, daun yang berguguran dan batang yang lapuk merupakan makanan bagi pengurai seperti jamur dan mikroba yang menyuburkan tanah. Di pesisir, benih bakau tumbuh sebagai pohon pelindung daratan dari terjangan ombak laut.

Mural yang Dibuat Oleh Wild Drawing

Kebebasan  Benih

Benih merupakan bagian paling dasar produksi dari pertanian. Dari situ produsen mendapat penghidupan. Tak akan ada pertanian tanpa benih. Kelayakan hidup pelaku pertanian bergantung dari kemampuannya untuk memelihara dan menghasilkan benih untuk kelangsungan hidup manusia di dunia. Oleh karenanya, kedaulatan petani atas benih merupakan hak asasi yang harus dimiliki untuk menegakkan kedaulatan pangan.

Mulai dari tahun 1950, paradigma reduksionis mekanistik meletakkan dasar hukum dan ekonomi untuk memprivatisasi benih. Ini menghancurkan keragaman , menghilangkan hak petani untuk berinovasi dan membiakkan benih, mempatentan kehidupan, dan menciptakan monopoli benih. Ketika korporasi ingin mengendalikan, mengadaptasikan dan memodifikasi benih lewat manipulasi genetik untuk laba, varietas beni yang dibiakkan petani sebelum tahun 1900 dianggap primitif dan menjadikan varietas yang dibuat dari laboratorium adalah benih modern.

Di seluruh dunia, miliaran petani bergantung pada benih yang disimpan sendiri sebagai sumber utamanya. Supaya perusahaan agrobisnis meraih profit yang luar biasa tinggi, mereka mendorong benih yang disimpan itu digantikan oleh tiga varietas baru yang bersifat menghasilkan panen tinggi (High Yield), hibrida dan rekaya genetik. Benih panen tinggi maksudnya benih yang menghasilkan tanaman dengan jumlah biji atau buah yang melimpah dari ruang laboratorium dibandingkan dengan benih yang dibiakkan oleh petani lapangan. Jadi benih jagung yang pertama misalnya menghasilkan tongkol jagung berukuran satu setengah kali lebih besar daripada yang kedua. Benih yang berisifat panen tinggi pada kenyataannya bergantung pada pestisida dan pupuk kimia, Ia juga rentan terhadap penyakit sehingga harus diganti setelah panen. Untuk itu petani membeli benih baru.

Benih hibrida merupakan benih yang disilangkan dari dua tanaman yang tidak sama. Hasil dari persilangan ini adalah generasi yang hasil panennya lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Benih hibrida memaksa petani untuk membeli tiap selesai musim panen. Benih rekayasa dibentuk dengan memasukkan gen dari  yang berbeda spesies bahkan suku  ke sel tanaman.  Bahkan ada korporasi yang mengembangkan benih steril.

Pergeseran ke benih yang dikembangkan oleh korporasi menjadikan benih yang semula bebas dimiliki petani menjadi input berbiaya mahal yang ditanggung. Ini mengikis kedaulatan petani. Sepuluh perusahaan agrobisnis dunia menguasai sepertiga perdagangan benih secara global. Tujuan dari korporasi ini adalah mengontrol sistem pangan.

Kendali korporasi atas benih merupakan bentuk kekerasan terhadap petani. Sedangkan petani membiakkan benih untuk keragaman dan ketahanan terhadap lingkungan, korporasi melakukannya untuk keseragaman dan kerentanan. Petani membudidayakan untuk menghasilkan rasa, kualitas dan nutrisi, benih dari korporasi dirancang untuk industri makanan olahan dan transportasi jarah jauh dalam sistem pangan terglobalisasi. Monokultur tanaman pangan dan industri makanan olahan memperkuat satu sama lain, membuang makanan, lahan dan kesehatan karena semua itu rendah nutrisi, dan haus bahan kimia yang berakibat pada lingkungan yang mempengaruhi tubuh manusia.

Kekerasan terhadpa petani ini berwujud dalam tiga hal. Pertama, kontribusi petani dalam pembiakan dihapus danbenih yang berevolusi bersama petani dipatenkan oleh korporasi sebagai inovasinya. Ini merupakan pembajakan kehidupan( biopiracy). Paten pada kehidupan adalah pembajakan  keragaman hayati dan kebijaksanaan lokal. Itu merupakan perampasan hak milik bersama atas benih dan pengetahuan untuk khalayak umum. Yang dilakukan oleh korporasi adalah mengambil varietas benih tertentu dari hasil pembiakkan petani selama ratusan tahun karena dinilai paling tinggi hasil panennya dan sesuai dengan keinginan korporasi lalu dipatenkan. Contohnya adalah paten atas beras basmati, neem dan turmeric

Kedua, paten memicu pengambilan royalty dari petani. Ada kasus dimana korporasi digugat karena secara tidak adil menuntut pembayaran dari petani. Benih yang diklaim oleh korporasi merupakan benih yang bersifat memperbaharui yang artinya benih itu diambil oleh panen sebelumnya yang mana ini dilakukan selama beradab abad. Tapi karena benihnya dari tanaman rekayasa genetika korporasi menuntut pembayaran dari petani yang membuat mereka terjerat utang. Ketiga, ketika tanaman rekayasa genetik menduduki lahan tetangga, korporasi menuntut tetangganya untuk membayar karena menggunakan benih miliknya. Ini yang terjadi di beberapa negara.

Menurunya keragaman benih berarti kehilangan nutrisi, rasa dan kualitas pada makanan. Dan di atas semua itu manusia kehilangan hak dasar untuk memutuskan cara menumbuhkan makanan dan apa yang akan dimakan. Benih adalah sasaran utama korporasi dan bagian paling depan yang harus dipertahankan. Untuk menghasilkan makanan yang bernutrisi dan sehat, benih harus bebas berkembang dan berevolusi tanpa ancaman kepunahan dan kontaminasi genetika yang dilakukan di laboratorium. Ia harus memiliki kebebasan untuk mendapat penyerbukan oleh serangga tanpa ancaman pestisida. Ini bagian dari kebebasan jaring jaring ekosistem untuk membangun ketahanan dan integritas, memperkuat saling keterhubungan antar mahluk hidup dan manusia. Kebebasan benih merupakan hak petani untuk menyimpan, menjual dan membiakkan tanpa intervensi oleh korporasi dan pemerintah. Dari sini kebebasan benih itu juga berarti akses atas makanan dari benih yang dibudidaya untuk rasa, aroma ,kualitas dan nutrisi.

Di bidang hukum dan politik kebebasan benih berarti kewajiban pemerintah untuk melindungi keragaman hayati dan pertanian dengan mengatur korporasi untuk mencegahnya mengikis kedaulatan rakyat atas benih melalui pembajakan benih dan ancaman dari tanaman dan hewan rekayasa genetik. Komunitas bebas untuk mengatur sistem pertanian yang diinginkannya, merawat yang jadi milik bersama dan berbagi dengan adil dan memetik hasilnya secara berkelanjutan. Regulasi  negara haruslah  menghukum siapapun yang menyebabkan kerusakan sehingga menciptakan konteks untuk mempraktekkan kebebasan dalam ruang sosial dan mencegah kerusakan itu terjadi di awal(1).

Kasus Di Indonesia

Di Indonesia, petani dapat dikriminalisasi karena membiakkan dan menjual benih tanpa izin. Di Kediri, belasan petani pernah ditangkap dan dipenjara karena dianggap melanggar UU no 12 tahun 1992 mengenai sistem budidaya tanaman. Pada bulan Juli tahun 2019, petani di Aceh yang juga menjabat sebagai kepala desa dijadikan tersangka karena dituduh memproduksi dan mengedarkan benih padi IF8 yang belum dilepas varietasnya(2).

Petani ini didakwa dengan UU no 12 tahun 1992 pasal 12 ayat 2 yang bunyinya  varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu harus  dilepas oleh pemerintah dan pasal 60 ayat 1 yang isinya varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri yang belum dilepas dilarang diedarkan(3). Benih padi IF8  bukan produksi institusi formal tapi ditemukan oleh petani Karanganyar tahun 2012. Benih itu masuk ke Aceh tahun 2017(4). Kriminalisasi penggunaan benih IF8 terjadi karena belum bersertifikat(5). Jika benih tersebut dikembangkan oleh petani kecil, bukan lembaga formal seharusnya tidak perlu dikriminalisasi karena hal ini. Petani berhak untuk memperdagangkannya dengan sesama petani seperti hanya menjual beras pada orang lain. Ini salah satu bukti bahwa kedaulatan pangan yang dipropagandakan jauh dari kenyataan. Program Nawacita Jokowi mengenai kemandirian desa dan petani tersendat dengan adanya kasus ini.

Sejah tahun 1970 lebih dari 10.000 varietas padi Indonesia telah hilang karena tergantung pada benih hibrida hingga harus mengimpor yang telah terinfeksi virus sehingga dimusnahkan. Ini bentuk pengurasan anggaran negara akibat memarjinalkan varietas lokal untuk keuntungan korporasi. Untuk melindungi kedualtan petani, Serikat Petani Indonesia mendirikan pusat perbenihan petani dimana petani menyimpan, memelihara dan mendistribusikan benih dari oleh dan untuk petani(6).

Ketergantungan pada korporasi dalam benih adalah sebab utama kemiskinan petani karena harus mengeluarkan uang dengan hasil yang minimal(7). Ketika pemerintah berencana melepas benih jagung rekayasa genetika milik korporasi Monsanto yaitu benih NK 603 terbongkar oleh Serikat Petani Indonesia (SPI) mengekspos niat dengan menunjukkan itu bahwa upaya membagikan benih hibrida secara gratis yang lamban laun membuat petani terlilit olehnya sehingga terus membayar untuk itu, para petani diserukan oleh SPI untuk menolak benih hibrida ini demi kedaulatan pangan masyarakat(8). [T]

Sumber:

  1. Shiva, Vandana.Who Really Feed the World? The Failure of Agribusiness and The Promise of Agroecology.2016. Berkley, California. North Atlantic Books. Chapter 6 Seed Freedom Feeds the World, Not Seed Dictatorship.
  2. Asosiasi Petani Indonesia, “Pemuliaan Benih Berujung Pada Kriminalisasi” , 27 Juli 2019.  https://api.or.id/petani-kecil-pemulia-benih-berujung-pada-kriminalisasi/ . Diakses Tanggal 17 Maret 2021
  3. Ibid
  4. Masriadi. Benih Padi IF8 Buatannya ilarang di Aceh Utara, Ini   Penjelasan Prof Dwi. 28 Juni 2019. https://regional.kompas.com/read/2019/06/28/16112271/benih-padi-if8-buatannya-dilarang-di-aceh-utara-ini-penjelasan-prof-dwi . Diakses tanggal 17 Maret 2012
  5. Masriadi.Benih Padi IF 8 Diliarang Digunakan ini Alasannya. 27 Juni 2019. https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/13464811/benih-padi-if8-dilarang-digunakan-ini-alasannya . Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  6. Serikat Petani Indonesia. Petani Kecil Harus Merebut Kembali Kedaulatan Atas Benih. 17 Desember 2010 .https://spi.or.id/petani-kecil-harus-merebut-kembali-kedaulatan-atas-benih/. Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  7. MG Noviarizal Fernandez. Korporasi Besar Kuasai Benih Rugikan Petani. 5 September 2019. https://kabar24.bisnis.com/read/20190905/16/1144879/korporasi-besar-kuasai-benih-rugikan-petani. Diakses Tanggal 17 Maret 2017
  8. Serikat Petani Indonesia. SPI Tolak Benih GMO Mentah-mentah. 25 Februari 2016. https://spi.or.id/spi-tolak-benih-gmo-mentah-mentah/ . Diakses Tangga; 17 Maret 2017
Tags: benihpanganpetaniSerikat Petani Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertempuran Kepiting | Dongeng dari Filipina

Next Post

Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Bambu, Penggerak Sosial Ekonomi dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co