17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wasiat Menteri Kebudayaan & Pariwisata I Gede Ardika

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 20, 2021
in Esai
Wasiat Menteri Kebudayaan & Pariwisata I Gede Ardika

In Memoriam Gede Ardika

— Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Pebruari 2021


1. Bapak I Gede Ardika telah merekomendasi saya “secara diam-diam” untuk ikut program belajar di The Massachusetts Institute of Technology, di Cambridge, Massachusetts, United States. Dekannya pun secara khusus ingin bertemu dan memanggil saya untuk interview.

Saya keras kepala, menolak, tidak berangkat, karena merasa toh saya telah menangkap pesan beliau: Wisata budaya itu bukan semata-mata untuk ekonomi. Tapi yang utama adalah jiwa semangat merah putih, Bhinneka Tunggal Ika, menjaga ketahanan nasional.

Sebagai “siswa” saya telah menangkap dari diagram kebudayaan beliau, lewat presentasi dan percakapan, pesan-pesan kebudayaan beliau yang berbasis kebangsaan dan kebhinnekaan bernegara tentu tidak akan terlontar dan dibahas di kelas MIT. Saya merasa sangat terhormat “belajar mendalam” lewat pesan-pesan WA, makan pagi, makan siang, makan siang, dan berbagai seminar dengan beliau — beliaulah sejatinya guru kebudayaan dalam konteks kebangsaan dan kepariwisataan Indonesia. Jelas sekali dalam berbagai pemaparan beliau menjelaskan bahwa kita harus benar-benar paham falsafah kebudayaan Indonesia agar bijak tidak ujug-ujug “membuat paket wisata” yang tercerabut dari konteks Bhinneka Tunggal Ika dan semangat kebangsaan Indonesia.

2. Wasiat Kebudayaan Menteri I Gede Ardika untuk Bali ada beberapa hal pokok. Namun, saya sampaikan 2 hal pokok sangat mendasar, berdasar catatan saya, sebagai berikut:

A. Kepariwisataan Bali harus berbasis ekologi.

Budaya dalam konteks Pariwisata Budaya bukan budaya yang lepas dari konteks ekologi tetapi terintegrasi dengan aspek lingkungan (ekologi) mendalam yang menjadi jiwa nurani masyarakat Bali. Kepariwisataan Bali — seingat dan dari apa yang saya catat dan pahami dari penjelasan beliau — adalah wahana untuk menjamin kelestarian ekologi pulau Bali. Bukan sebaliknya. Pariwisata bekerja untuk menjamin ekologi Bali, bukan merongrong dan menghancurkan.

Beliau menjelaskan dalam berbagai skela bahwa pemikiran ekologi ini secara terintergrasi bisa dirunut dan diturunkan rumusan dan implementasinya dari falsafah dan konsepsi mendalam segara-gunung, Tri Angga/Tri Hita Karana.

Artinya masyarakat Bali sepatutnya menjaga diri dan menjamin relasi dirinya untuk tetap kukuh terhubung harmoni dengan bentang alam Bali yang hijau dan berkualitas, berkesadaran penuh menjaga harmoni ekologi Bali Dwipa, secara integrated. Pengembangan kepariwisataan basis konsepsinya dikembangkan dari titik ini.

Saya menangkap salah satu implementasi penjabaran dari konsepsi tersebut di atas telah dijalankan dengan sangat baik dan mendasar oleh sebuah inisiatif gerakan yang sangat serius yang terumus dalam sebuah gerakan kepariwisataan ekologis yang dikenal sebagai JARINGAN EKOWISATA DESA (JED). JED berkembang di Bali dengan keseriusan pertama-tama melakukan pendataan “kekayaan ekologi” masing-masing desa sebelum mendeklarasikan diri sebagai desa tujuan wisata. Pendataan dengan satelit, dengan mapping terintegrasi dengan peta desa pakraman dan subak, serta hutan sekitar, daerah sempadan sungai, dan seterusnya. Rumusan JED sangat jelas bahwa salah satu aset terbesar dari sebuah desa adalah “kekayaan ekologi” — sumber air, beji, hutan desa, jalan air, sungai, perkebunan, persawahan, ketahanan pangan desa, subak atau organisasi pertanian dan seterusnya — yang harus pertama-tama ditegakkan sebelum “terjun atau membuka diri” menerima “ideologi pariwisata” yang umumnya bersifat massal dan tidak berbasis kualitas.

B. Perda dan regulasi Bali harus berbahasa Bali.

Dalam sebuah makan siang di Sanur, beliau memberikan wasiat kebudayaan agar Perda dan perundang-undangan di Bali di-bahasa-Bali-kan.

“Perda dan perundang-undangan di Bali berbahasa Bali?” Saya hampir tidak percaya mendengar wasiat itu. Sebagai sarjana Sastra dan Bahasa Bali saya cukup kaget beliau mempresentasikan pemikiran ini ketika membuka seminar di pembukaan Sanur Village Festival, beberapa tahun lalu.

Setelah berbincang di belakang layar, beliau di mimbar membahas hal ini, yang intinya berpesan bahwa pemikiran dan perundang-undangan di Bali mesti dirumuskan ke dalam bahasa Bali. Pemikiran kebahasaan ini tidak muncul dari profesor Bahasa Bali, tapi oleh seorang pemikir purnabakti Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Ketika saya sampaikan kalau agak berat rasanya mengajak persidangan dewan, atau katakanlah pembahasan ranperda atau perda dirumuskan dengan bahasa Bali, beliau menjawab, memberi solusi. Singkatnya, jalan keluarnya mesti dibentuk tim penerjemah yang bekerja untuk membahasa-Bali-kan semua Perda, Pergub, Perbud, dan semua turunan peraturan di Bali, dari tingkat Pemda Provinsi, Kabupaten dan Kota, sampai ke bawah mesti dijiwai semangat kebahasaan berbahasa Bali.

Beliau punya pandangan dengan menterjemahkan semua perda, himbauan, dan semua regulasi pemerintahan ke dalam Bali akan memicu dan memuncul-tumbuhkan kesadaran dalam masyarakat Bali untuk bersungguh-sungguh memasuki pemikiran mendalam “sebagai orang Bali” dalam bahasa Bali. Khususnya untuk generasi muda masa kini dan masa depan, arsip regulasi daerah yang berbahasa Bali ini akan menjadi wahana pembelajaran memasuki pemikiran Bali dalam bahasa Bali. Tentunya beliau sadar bahwa pemikiran Bali wajib diarsip dan diabadikan dalam bahasa Bali. Bukan bahasa yang lain.

Dari wasiat kebahasaan beliau inilah, saya diperteguh dan terpicu untuk mendorong para aktivis pelestari bahasa Bali untuk mendesak melakukan revisi Perda Bahasa Bali. Tentunya senang sekali revisi Perda Bahasa Bali telah berhasil, dan berhasil menghasilkan Penyuluh Bahasa Bali dan kerja-kerjanya sangat membanggakan, namun ada yang belum tercapai dari wasiat kebudayaan beliau: Kapan Perda & Regulasi Bali kita bahasa Bali-kan?

3. Banyak WASIAT KEBUDAYAAN dari beliau. Namun 2 hal tersebut di atas yang saya timbang mendasar bagi Bali. Yang lain bisa dibaca dalam banyak makalah dan atau presentasi beliau yang isinya selalu mendasar dan mendalam, dalam skema konsepsi ekologi, Bhineka Tunggal Ika, ketahanan bangsa, dan kesejahteraan bersama yang salah satunya melalui kepariwisataan yang berbasis pada pelestarian ekologi dan keragaman seni kreatif Nusantara.

4.  Masuknya di ITB, terhantar ke Akademi Perhotelan, Institut International Glion, Swiss.

Sekilas tentang beliau saya rangkum sebagai berikut:

Beliau (I Gede Ardika) tercatat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri ini.

Lahir 15 Februari 1945, di Banjar Dukuh, Desa Sudaji, Singaraja, Bali, ayahnya seorang Sedaan (penata kelola pertanian subak dan pajak) bernama I Made Arka dan ibunya Ni Made Sandat. Dari ayahnya beliau mendapat kesadaran pertanian dan ekologi yang sangat mendalam.

Sejak kecil Ardika mendapat siraman cerita-cerita pewayangan Bali dari neneknya, yang dikisahkan menjelang ia tidur, yang beliau tertarik pada dunia sastra dan kesenian. Hobi menonton seni Arja dari masa kecilnya.

Menteri Ardika mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat di Desa Sudaji, selama 3 tahun, kemudian kelas empat dilanjutkan di Sekolah Dasar Negeri 2 Singaraja, berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Singaraja, kemudian bersambung ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Singaraja.

Setelah tamat SMA, beliau diterima di di Institut Teknologi Badung dengan jurusan Fakultas Seni Rupa.

Tanggal 28 Agustus 1963, beliau mulai hidup di Bandung sebagai mahasiswa seni rupa ITB, namun akhirnya karena alasan mahal biaya kuliah melukis dan lain-lain, beliau pindah ke Akademi Perhotelan di Bandung, yang sesungguhnya “tidak sesuai dengan kehendak hati”, namun akademi ini memberikan ikatan dinas, lengkap dengan asrama, ditanggung makan, beserta keperluan uang saku. Pada tahun 1967 lulus gemilang di akademi ini dan mendaulatnya sebagai asisten dosen.

Setelah menjadi asisten dosen di Akademi Perhotelan, punya uang saku cukup, mengikuti kursus bahasa Perancis yang ditempuhnya sampai tahun 1969, dan muncul kembali niat beliau menekuni seni rupa. Kembali mendaftar di seni rupa ITB. Diterima kembali, namun akhirnya harus keluar lagi.

Sekitar Juni 1969 beliau lulus ujian seleksi beasiswa dari pemerintah untuk menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan, Institut International Glion, Swiss. Sampai tahun tahun 1972, belajar di Swiss, dan kembali ke tanah air sebab kembali ke APN Bandung. Dari sanalah karirnya bergerak mulus, sampai akhirnya menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Beliau pencinta seni rupa yang sangat serius, paham mendalam kisah-kisah pewayangan, penikmat arja yang antusias dengan berbagai kisah-kisahnya.

Jika pagi ini, Sabtu, 20 Februari 2021, beliau berpulang, sampai kapan pun sesungguhnya beliau tetap bersama mereka yang pernah berdialog mendalam dengan beliau — setidaknya itu yang saya rasakan.

Saya dengan segala kekurangan diri meminta maaf karena telah mengabaikan pesan dan rekomendasi Bapak untuk ikut program belajar di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Entah kenapa saya yakin bahwa jalan hidup saya tidak mesti berkelok ke Massachusetts. Bapak pasti tahu kalau saya selalu memilih berkelok ke tempat lontar-lontar, dimanapun ada waktu luang.

Bapak, terima kasih atas segala tuntunannya. Salam hormat saya yang tiada terhingga. [T]

Tags: BudayaI Gede Ardikain memoriamPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melawan Kuasa Kapital Pada Jegog

Next Post

Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co