26 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wasiat Menteri Kebudayaan & Pariwisata I Gede Ardika

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 20, 2021
in Esai
Wasiat Menteri Kebudayaan & Pariwisata I Gede Ardika

In Memoriam Gede Ardika

— Catatan Harian Sugi Lanus, 20 Pebruari 2021


1. Bapak I Gede Ardika telah merekomendasi saya “secara diam-diam” untuk ikut program belajar di The Massachusetts Institute of Technology, di Cambridge, Massachusetts, United States. Dekannya pun secara khusus ingin bertemu dan memanggil saya untuk interview.

Saya keras kepala, menolak, tidak berangkat, karena merasa toh saya telah menangkap pesan beliau: Wisata budaya itu bukan semata-mata untuk ekonomi. Tapi yang utama adalah jiwa semangat merah putih, Bhinneka Tunggal Ika, menjaga ketahanan nasional.

Sebagai “siswa” saya telah menangkap dari diagram kebudayaan beliau, lewat presentasi dan percakapan, pesan-pesan kebudayaan beliau yang berbasis kebangsaan dan kebhinnekaan bernegara tentu tidak akan terlontar dan dibahas di kelas MIT. Saya merasa sangat terhormat “belajar mendalam” lewat pesan-pesan WA, makan pagi, makan siang, makan siang, dan berbagai seminar dengan beliau — beliaulah sejatinya guru kebudayaan dalam konteks kebangsaan dan kepariwisataan Indonesia. Jelas sekali dalam berbagai pemaparan beliau menjelaskan bahwa kita harus benar-benar paham falsafah kebudayaan Indonesia agar bijak tidak ujug-ujug “membuat paket wisata” yang tercerabut dari konteks Bhinneka Tunggal Ika dan semangat kebangsaan Indonesia.

2. Wasiat Kebudayaan Menteri I Gede Ardika untuk Bali ada beberapa hal pokok. Namun, saya sampaikan 2 hal pokok sangat mendasar, berdasar catatan saya, sebagai berikut:

A. Kepariwisataan Bali harus berbasis ekologi.

Budaya dalam konteks Pariwisata Budaya bukan budaya yang lepas dari konteks ekologi tetapi terintegrasi dengan aspek lingkungan (ekologi) mendalam yang menjadi jiwa nurani masyarakat Bali. Kepariwisataan Bali — seingat dan dari apa yang saya catat dan pahami dari penjelasan beliau — adalah wahana untuk menjamin kelestarian ekologi pulau Bali. Bukan sebaliknya. Pariwisata bekerja untuk menjamin ekologi Bali, bukan merongrong dan menghancurkan.

Beliau menjelaskan dalam berbagai skela bahwa pemikiran ekologi ini secara terintergrasi bisa dirunut dan diturunkan rumusan dan implementasinya dari falsafah dan konsepsi mendalam segara-gunung, Tri Angga/Tri Hita Karana.

Artinya masyarakat Bali sepatutnya menjaga diri dan menjamin relasi dirinya untuk tetap kukuh terhubung harmoni dengan bentang alam Bali yang hijau dan berkualitas, berkesadaran penuh menjaga harmoni ekologi Bali Dwipa, secara integrated. Pengembangan kepariwisataan basis konsepsinya dikembangkan dari titik ini.

Saya menangkap salah satu implementasi penjabaran dari konsepsi tersebut di atas telah dijalankan dengan sangat baik dan mendasar oleh sebuah inisiatif gerakan yang sangat serius yang terumus dalam sebuah gerakan kepariwisataan ekologis yang dikenal sebagai JARINGAN EKOWISATA DESA (JED). JED berkembang di Bali dengan keseriusan pertama-tama melakukan pendataan “kekayaan ekologi” masing-masing desa sebelum mendeklarasikan diri sebagai desa tujuan wisata. Pendataan dengan satelit, dengan mapping terintegrasi dengan peta desa pakraman dan subak, serta hutan sekitar, daerah sempadan sungai, dan seterusnya. Rumusan JED sangat jelas bahwa salah satu aset terbesar dari sebuah desa adalah “kekayaan ekologi” — sumber air, beji, hutan desa, jalan air, sungai, perkebunan, persawahan, ketahanan pangan desa, subak atau organisasi pertanian dan seterusnya — yang harus pertama-tama ditegakkan sebelum “terjun atau membuka diri” menerima “ideologi pariwisata” yang umumnya bersifat massal dan tidak berbasis kualitas.

B. Perda dan regulasi Bali harus berbahasa Bali.

Dalam sebuah makan siang di Sanur, beliau memberikan wasiat kebudayaan agar Perda dan perundang-undangan di Bali di-bahasa-Bali-kan.

“Perda dan perundang-undangan di Bali berbahasa Bali?” Saya hampir tidak percaya mendengar wasiat itu. Sebagai sarjana Sastra dan Bahasa Bali saya cukup kaget beliau mempresentasikan pemikiran ini ketika membuka seminar di pembukaan Sanur Village Festival, beberapa tahun lalu.

Setelah berbincang di belakang layar, beliau di mimbar membahas hal ini, yang intinya berpesan bahwa pemikiran dan perundang-undangan di Bali mesti dirumuskan ke dalam bahasa Bali. Pemikiran kebahasaan ini tidak muncul dari profesor Bahasa Bali, tapi oleh seorang pemikir purnabakti Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Ketika saya sampaikan kalau agak berat rasanya mengajak persidangan dewan, atau katakanlah pembahasan ranperda atau perda dirumuskan dengan bahasa Bali, beliau menjawab, memberi solusi. Singkatnya, jalan keluarnya mesti dibentuk tim penerjemah yang bekerja untuk membahasa-Bali-kan semua Perda, Pergub, Perbud, dan semua turunan peraturan di Bali, dari tingkat Pemda Provinsi, Kabupaten dan Kota, sampai ke bawah mesti dijiwai semangat kebahasaan berbahasa Bali.

Beliau punya pandangan dengan menterjemahkan semua perda, himbauan, dan semua regulasi pemerintahan ke dalam Bali akan memicu dan memuncul-tumbuhkan kesadaran dalam masyarakat Bali untuk bersungguh-sungguh memasuki pemikiran mendalam “sebagai orang Bali” dalam bahasa Bali. Khususnya untuk generasi muda masa kini dan masa depan, arsip regulasi daerah yang berbahasa Bali ini akan menjadi wahana pembelajaran memasuki pemikiran Bali dalam bahasa Bali. Tentunya beliau sadar bahwa pemikiran Bali wajib diarsip dan diabadikan dalam bahasa Bali. Bukan bahasa yang lain.

Dari wasiat kebahasaan beliau inilah, saya diperteguh dan terpicu untuk mendorong para aktivis pelestari bahasa Bali untuk mendesak melakukan revisi Perda Bahasa Bali. Tentunya senang sekali revisi Perda Bahasa Bali telah berhasil, dan berhasil menghasilkan Penyuluh Bahasa Bali dan kerja-kerjanya sangat membanggakan, namun ada yang belum tercapai dari wasiat kebudayaan beliau: Kapan Perda & Regulasi Bali kita bahasa Bali-kan?

3. Banyak WASIAT KEBUDAYAAN dari beliau. Namun 2 hal tersebut di atas yang saya timbang mendasar bagi Bali. Yang lain bisa dibaca dalam banyak makalah dan atau presentasi beliau yang isinya selalu mendasar dan mendalam, dalam skema konsepsi ekologi, Bhineka Tunggal Ika, ketahanan bangsa, dan kesejahteraan bersama yang salah satunya melalui kepariwisataan yang berbasis pada pelestarian ekologi dan keragaman seni kreatif Nusantara.

4.  Masuknya di ITB, terhantar ke Akademi Perhotelan, Institut International Glion, Swiss.

Sekilas tentang beliau saya rangkum sebagai berikut:

Beliau (I Gede Ardika) tercatat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri ini.

Lahir 15 Februari 1945, di Banjar Dukuh, Desa Sudaji, Singaraja, Bali, ayahnya seorang Sedaan (penata kelola pertanian subak dan pajak) bernama I Made Arka dan ibunya Ni Made Sandat. Dari ayahnya beliau mendapat kesadaran pertanian dan ekologi yang sangat mendalam.

Sejak kecil Ardika mendapat siraman cerita-cerita pewayangan Bali dari neneknya, yang dikisahkan menjelang ia tidur, yang beliau tertarik pada dunia sastra dan kesenian. Hobi menonton seni Arja dari masa kecilnya.

Menteri Ardika mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat di Desa Sudaji, selama 3 tahun, kemudian kelas empat dilanjutkan di Sekolah Dasar Negeri 2 Singaraja, berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Singaraja, kemudian bersambung ke Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Singaraja.

Setelah tamat SMA, beliau diterima di di Institut Teknologi Badung dengan jurusan Fakultas Seni Rupa.

Tanggal 28 Agustus 1963, beliau mulai hidup di Bandung sebagai mahasiswa seni rupa ITB, namun akhirnya karena alasan mahal biaya kuliah melukis dan lain-lain, beliau pindah ke Akademi Perhotelan di Bandung, yang sesungguhnya “tidak sesuai dengan kehendak hati”, namun akademi ini memberikan ikatan dinas, lengkap dengan asrama, ditanggung makan, beserta keperluan uang saku. Pada tahun 1967 lulus gemilang di akademi ini dan mendaulatnya sebagai asisten dosen.

Setelah menjadi asisten dosen di Akademi Perhotelan, punya uang saku cukup, mengikuti kursus bahasa Perancis yang ditempuhnya sampai tahun 1969, dan muncul kembali niat beliau menekuni seni rupa. Kembali mendaftar di seni rupa ITB. Diterima kembali, namun akhirnya harus keluar lagi.

Sekitar Juni 1969 beliau lulus ujian seleksi beasiswa dari pemerintah untuk menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan, Institut International Glion, Swiss. Sampai tahun tahun 1972, belajar di Swiss, dan kembali ke tanah air sebab kembali ke APN Bandung. Dari sanalah karirnya bergerak mulus, sampai akhirnya menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Beliau pencinta seni rupa yang sangat serius, paham mendalam kisah-kisah pewayangan, penikmat arja yang antusias dengan berbagai kisah-kisahnya.

Jika pagi ini, Sabtu, 20 Februari 2021, beliau berpulang, sampai kapan pun sesungguhnya beliau tetap bersama mereka yang pernah berdialog mendalam dengan beliau — setidaknya itu yang saya rasakan.

Saya dengan segala kekurangan diri meminta maaf karena telah mengabaikan pesan dan rekomendasi Bapak untuk ikut program belajar di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Entah kenapa saya yakin bahwa jalan hidup saya tidak mesti berkelok ke Massachusetts. Bapak pasti tahu kalau saya selalu memilih berkelok ke tempat lontar-lontar, dimanapun ada waktu luang.

Bapak, terima kasih atas segala tuntunannya. Salam hormat saya yang tiada terhingga. [T]

Tags: BudayaI Gede Ardikain memoriamPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melawan Kuasa Kapital Pada Jegog

Next Post

Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails
Next Post
Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Mengening | Membaca Dinamika Siklus Kehidupan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co