2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panggung dan Ruang: Sebuah Sebab Memahami Diri

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 10, 2021
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Apa sesungguhnya panggung itu? Bagaimana bentuknya? Rupanya? Manakah yang dapat disebut panggung? Manakah yang bukan? Jika kita mengamini unsur teater—sebagaimana yang biasa terdefinisikan—yakni, ada panggung, ada aktor, ada penonton, namun pada suatu saat ada ruang yang tak biasa untuk dikategorikan sebagai panggung, bisakah kerja yang kita lakukan pada ruang-ruang ini disebut panggung teater? Dalam konteks kerja di ruang digital misalnya, bagaimana panggung mesti didefinisikan kemudian? Mesti disikapi kemudian?

Pertanyaan semacam ini jadi semakin sering berkelindan di kepala saya pada tahun belakangan. Terutama ketika kerja teater dipaksa untuk beradaptasi pada situasi pandemi. Semakin dicari kemungkinannya, semakin beragam pula kenyataan yang bisa ditemukan, khususnya pada persoalan panggung. Panggung hari ini tak lagi hanya sebatas tempat di mana kita berpijak, di mana kita mempertontonkan ekspresi, gesture dan segala piranti keaktoran lainnya, di mana set dan properti ditata sedemikian rupa, atau cahaya lampu dijatuhkan. Panggung bukanlah ruang hampa yang menunggu sutradara dan aktor datang, mengisi kekosongan ruang di dalamnya. Panggung adalah entitas hidup yang terus menerus bergerak, membangun sejarah dirinya, bahkan hidup kita sendiri.

Dalam konteks ini, saya ingin menangguhkan terlebih dahulu proyeksi panggung teater di masa depan. Justru sebaliknya, situasi yang memungkinkan panggung dibaca sebagai sesuatu yang tak terbayangkan, membuat diri kembali merenungi kerja teater yang selama ini dilakukan bersama kawan-kawan dalam menyikapi ruang, yang justru tak bisa disebut panggung pada umumnya. Karena keterbatasan yang kami miliki, kebanyakan pertunjukan biasa diselenggarakan pada ruang alternatif. Situasi ini bukan malah membuat kami menyerah dengan keadaan, melainkan jadi sebab buat menemukan hal-hal yang barangkali tak bisa ditemukan pada panggung konvensional. Bahwa panggung dan ruang memiliki hubungan yang saling terkait satu sama lain.

Hal ini saya sadari ketika berproses semasa kuliah di Singaraja. Tahun 2011, saat menggelar pementasan drama kuliah ‘Upacara Tengah Malam’ karya Oka Rusmini, saya dan kawan-kawan kebingungan di mana mesti menggelar pentas. Kampus Bawah yang biasa digunakan pentas kala itu, sedang masa pembangunan ulang. Sementara Sasana Budaya dan Gedung RRI Singaraja pun tengah dipergunakan untuk acara. Hanya tinggal Gede Manik-lah satu-satunya gedung yang tersisa sebagai pilihan. Ruang yang teramat besar, yang lebih banyak digunakan untuk konser band, tentu akan tampak seperti baju kedodoran bagi sebuah pertunjukan teater.

Kami menyiasatinya dengan membagi panggung dalam tiga bagian, yakni panggung atas, tengah, dan panggung penonton, sementara penonton sendiri ditempatkan pada bagian samping. Pada detik pertama pentas, hal ini tampak mengejutkan karena perspektif pertunjukan terbagi dalam dua kubu. Bagian samping kiri dan samping kanan. Namun gaung ruang, vokal pemain yang tenggelam, koreografi yang melempem, serta lampu yang tak begitu terang menjadikan penonton kehilangan fokus permainan. Alhasil pentas malam itu menuai kegagalan.

Mungkin karena kegagalan itu jugalah, secara tak sadar membuat saya mencari kemungkinan lain pada panggung-panggung lainnya. Hampir di setiap pentas, khususnya dalam kerja bersama kawan-kawan Teater Tebu Tuh kala itu, ruang-ruang alternatif kami cari dan gali kemungkinan-kemungkinannya. Mulai dari lapangan, basement, toilet, tangga dan lain sebagainya. Dari hal ini, temuan-temuan yang didapatkan dalam panggung lebih banyak pada tataran eksplorasi ruang yakni bagaimana cara untuk mendekatkan jarak panggung dan penonton, mencari bentuk pentas, komposisi blocking, koreografi, dinamika pentas, penggunaan ornamen panggung, dan hal-hal lain yang memungkinkan panggung untuk diisi dengan berbagai artistik permainan.

Di antara pentas yang dilakukan, ada satu pengalaman unik pada 201. Pada waktu itu bersama kawan-kawan Komunitas Cemara Angin, saya berkesempatan untuk membuat pertunjukan ‘Orang Asing’ karya Rupert Brooke terjemahan D.Djajakusumadi tengah basement kampus bawah Undiksha. Pada suatu adegan, pemain berteriak begitu kencangnya, diikuti musik yang berasal dari bunyi seng diinjak sedemikian rupa menghasilkan letupan suara yang menggema karena ruang yang cenderung semi terbuka-tertutup. Peristiwa ini begitu menghantui pikiran saya saat itu. Beberapa tahun kemudian, merupakan cikal bakal saya memaknai ruang sebagai sesuatu yang mesti ‘disingkap’ keberadaannya.

Boleh dikata pemahaman ini adalah kelanjutan dari apa yang saya temukan sebelumnya. Pada bagian pertama, saya maknai sebagai pengalaman ‘mengeksplorasi ruang’. Pada proses eksplorasi ruang, ruang-ruang alternatif yang saya gunakan sebagai panggung lebih banyak disikapi sebagai objek. Tak memiliki suara, tak memiliki narasi. Sebuah ruang netral yang memungkinkan penghuninya untuk menempati dan mengisinya dengan segala laku artistik teater. Sementara pada bagian kedua, saya maknai sebagai pengalaman ‘menyingkapkan ruang’. Jika mengeksplorasi ruang disikapi sebagai objek, menyingkapkan ruang justru disikapi sebagai subjek. Ruang kami posisikan sebagai sesuatu yang hidup, yang mempunyai narasinya sendiri. Maka tugas sutradara, tugas pemain dan tim produksi bukanlah menempati ruang mana suka. Melainkan berdialog dengan ruang tersebut. Membiarkan sang ruang menyingkapkan dirinya pada kita. Menyatakan hal yang ingin dinyatakan pada kita.

Kualitas semacam ini baru saya rasakan ketika pentas bersama Teater Kalangan dalam ‘Daftar Isi dan Kenangan yang Tak Lekang’ berdasar respon buku kumpulan cerpen karya Juli Sastrawan di Rumah Belajar Komunitas Mahima pada 2017 lalu. Pada pentas tersebut, saya mencoba tak melakukan eksplorasi sebagaimana biasa yang terjadi pada pertunjukan sebelumnya. Seperti namanya, Rumah Belajar Komunitas Mahima adalah rumah yang dialihfungsikan menjadi tempat pentas dan diskusi sastra. Struktur bangunan yang cenderung sempit sebagai tempat pentas membuat pergerakan aktor menjadi terbatas. Pada titik inilah, saya melihat kemungkinan lain dalam pentas.

Saya biarkan penonton untuk duduk mana suka, sementara adegan-adegan dibuat seintim dan seminimalis mungkin mulai dari gerak, komposisi, koreografi, ekspresi, dan vokal aktor. Sementara tempat bermain aktor semuanya dirajut dari kebiasaan penghuni rumah menyikapi ruang. Di mana saja mereka melintas, perlakuan mereka terhadap ruang, perubahan yang terjadi pada ruang, serta hal-hal yang melenceng atau yang tak terduga terjadi pada saat latihan para aktor. Semua kemudian dirajut dalam satu kesatuan pentas dengan memposisikan ruang sama halnya dengan aktor. Maka pentas tak hanya menyajikan komposisi aktor semata, penonton juga diberi celah menyadari perubahan ruang ketika aktor bermain di dalamnya.

Lalu, apakah semua itu cukup untuk menguraikan bagaimana definisi ruang dalam panggung pertunjukan? Saya rasa tidak. Hal-hal semacam ini baru merupakan serpihan keterbacaan saya pribadi bersama kawan-kawan dalam memahami ruang dan panggung. Ada juga misalnya pengalaman lain yang kami sebut sebagai provokasi ruang. Di mana sejarah dan sosial sebuah ruang justru dipertanyakan ulang keberadaannya untuk mencederai kemapanan konstruksi ruang di kepala penonton sebagaimana yang hadir dalam pertunjukan ‘Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya’ bersama Teater Kalangan pada 2018 lalu. Selain itu ada saat di mana ruang dibaca dalam bingkai disiplin lain. Sebab interpretasi akan ruang juga tak bisa dilepaskan dari struktur berbagai lintasan ilmu yang punya agenda dan kepentingan epistemiknya masing-masing.

Tapi lagi-lagi tetaplah itu belum cukup untuk menjelaskan ruang sebagai panggung pertunjukan. Alih-alih semakin terang pembacaan kami atas ruang dan panggung, justru ada saja hal-hal baru yang menantang untuk diulik lebih dalam lagi. Pada akhirnya tulisan ini pun merupakan catatan bersambung yang terbuka untuk diisi kembali dengan uraian kemungkinan pembacaan akan ruang dan panggung lainnya. Sebab bukan diri saja yang berada pada posisi menjelaskan ruang dan panggung, boleh jadi sebaliknya, ruang dan panggunglah yang menguraikan diri kita.  Maka perlu juga kiranya membiarkan ruang dan panggung menyingkapkan dirinya kepada kita. [T]

Denpasar, 2021

______

BACA ARTIKEL LAIN DARI WAYAN SUMAHARDIKA

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]
Tags: baliIndonesiasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

Next Post

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co