23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panggung dan Ruang: Sebuah Sebab Memahami Diri

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 10, 2021
in Esai
Siasat Kerja Panggung Digital

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]

Apa sesungguhnya panggung itu? Bagaimana bentuknya? Rupanya? Manakah yang dapat disebut panggung? Manakah yang bukan? Jika kita mengamini unsur teater—sebagaimana yang biasa terdefinisikan—yakni, ada panggung, ada aktor, ada penonton, namun pada suatu saat ada ruang yang tak biasa untuk dikategorikan sebagai panggung, bisakah kerja yang kita lakukan pada ruang-ruang ini disebut panggung teater? Dalam konteks kerja di ruang digital misalnya, bagaimana panggung mesti didefinisikan kemudian? Mesti disikapi kemudian?

Pertanyaan semacam ini jadi semakin sering berkelindan di kepala saya pada tahun belakangan. Terutama ketika kerja teater dipaksa untuk beradaptasi pada situasi pandemi. Semakin dicari kemungkinannya, semakin beragam pula kenyataan yang bisa ditemukan, khususnya pada persoalan panggung. Panggung hari ini tak lagi hanya sebatas tempat di mana kita berpijak, di mana kita mempertontonkan ekspresi, gesture dan segala piranti keaktoran lainnya, di mana set dan properti ditata sedemikian rupa, atau cahaya lampu dijatuhkan. Panggung bukanlah ruang hampa yang menunggu sutradara dan aktor datang, mengisi kekosongan ruang di dalamnya. Panggung adalah entitas hidup yang terus menerus bergerak, membangun sejarah dirinya, bahkan hidup kita sendiri.

Dalam konteks ini, saya ingin menangguhkan terlebih dahulu proyeksi panggung teater di masa depan. Justru sebaliknya, situasi yang memungkinkan panggung dibaca sebagai sesuatu yang tak terbayangkan, membuat diri kembali merenungi kerja teater yang selama ini dilakukan bersama kawan-kawan dalam menyikapi ruang, yang justru tak bisa disebut panggung pada umumnya. Karena keterbatasan yang kami miliki, kebanyakan pertunjukan biasa diselenggarakan pada ruang alternatif. Situasi ini bukan malah membuat kami menyerah dengan keadaan, melainkan jadi sebab buat menemukan hal-hal yang barangkali tak bisa ditemukan pada panggung konvensional. Bahwa panggung dan ruang memiliki hubungan yang saling terkait satu sama lain.

Hal ini saya sadari ketika berproses semasa kuliah di Singaraja. Tahun 2011, saat menggelar pementasan drama kuliah ‘Upacara Tengah Malam’ karya Oka Rusmini, saya dan kawan-kawan kebingungan di mana mesti menggelar pentas. Kampus Bawah yang biasa digunakan pentas kala itu, sedang masa pembangunan ulang. Sementara Sasana Budaya dan Gedung RRI Singaraja pun tengah dipergunakan untuk acara. Hanya tinggal Gede Manik-lah satu-satunya gedung yang tersisa sebagai pilihan. Ruang yang teramat besar, yang lebih banyak digunakan untuk konser band, tentu akan tampak seperti baju kedodoran bagi sebuah pertunjukan teater.

Kami menyiasatinya dengan membagi panggung dalam tiga bagian, yakni panggung atas, tengah, dan panggung penonton, sementara penonton sendiri ditempatkan pada bagian samping. Pada detik pertama pentas, hal ini tampak mengejutkan karena perspektif pertunjukan terbagi dalam dua kubu. Bagian samping kiri dan samping kanan. Namun gaung ruang, vokal pemain yang tenggelam, koreografi yang melempem, serta lampu yang tak begitu terang menjadikan penonton kehilangan fokus permainan. Alhasil pentas malam itu menuai kegagalan.

Mungkin karena kegagalan itu jugalah, secara tak sadar membuat saya mencari kemungkinan lain pada panggung-panggung lainnya. Hampir di setiap pentas, khususnya dalam kerja bersama kawan-kawan Teater Tebu Tuh kala itu, ruang-ruang alternatif kami cari dan gali kemungkinan-kemungkinannya. Mulai dari lapangan, basement, toilet, tangga dan lain sebagainya. Dari hal ini, temuan-temuan yang didapatkan dalam panggung lebih banyak pada tataran eksplorasi ruang yakni bagaimana cara untuk mendekatkan jarak panggung dan penonton, mencari bentuk pentas, komposisi blocking, koreografi, dinamika pentas, penggunaan ornamen panggung, dan hal-hal lain yang memungkinkan panggung untuk diisi dengan berbagai artistik permainan.

Di antara pentas yang dilakukan, ada satu pengalaman unik pada 201. Pada waktu itu bersama kawan-kawan Komunitas Cemara Angin, saya berkesempatan untuk membuat pertunjukan ‘Orang Asing’ karya Rupert Brooke terjemahan D.Djajakusumadi tengah basement kampus bawah Undiksha. Pada suatu adegan, pemain berteriak begitu kencangnya, diikuti musik yang berasal dari bunyi seng diinjak sedemikian rupa menghasilkan letupan suara yang menggema karena ruang yang cenderung semi terbuka-tertutup. Peristiwa ini begitu menghantui pikiran saya saat itu. Beberapa tahun kemudian, merupakan cikal bakal saya memaknai ruang sebagai sesuatu yang mesti ‘disingkap’ keberadaannya.

Boleh dikata pemahaman ini adalah kelanjutan dari apa yang saya temukan sebelumnya. Pada bagian pertama, saya maknai sebagai pengalaman ‘mengeksplorasi ruang’. Pada proses eksplorasi ruang, ruang-ruang alternatif yang saya gunakan sebagai panggung lebih banyak disikapi sebagai objek. Tak memiliki suara, tak memiliki narasi. Sebuah ruang netral yang memungkinkan penghuninya untuk menempati dan mengisinya dengan segala laku artistik teater. Sementara pada bagian kedua, saya maknai sebagai pengalaman ‘menyingkapkan ruang’. Jika mengeksplorasi ruang disikapi sebagai objek, menyingkapkan ruang justru disikapi sebagai subjek. Ruang kami posisikan sebagai sesuatu yang hidup, yang mempunyai narasinya sendiri. Maka tugas sutradara, tugas pemain dan tim produksi bukanlah menempati ruang mana suka. Melainkan berdialog dengan ruang tersebut. Membiarkan sang ruang menyingkapkan dirinya pada kita. Menyatakan hal yang ingin dinyatakan pada kita.

Kualitas semacam ini baru saya rasakan ketika pentas bersama Teater Kalangan dalam ‘Daftar Isi dan Kenangan yang Tak Lekang’ berdasar respon buku kumpulan cerpen karya Juli Sastrawan di Rumah Belajar Komunitas Mahima pada 2017 lalu. Pada pentas tersebut, saya mencoba tak melakukan eksplorasi sebagaimana biasa yang terjadi pada pertunjukan sebelumnya. Seperti namanya, Rumah Belajar Komunitas Mahima adalah rumah yang dialihfungsikan menjadi tempat pentas dan diskusi sastra. Struktur bangunan yang cenderung sempit sebagai tempat pentas membuat pergerakan aktor menjadi terbatas. Pada titik inilah, saya melihat kemungkinan lain dalam pentas.

Saya biarkan penonton untuk duduk mana suka, sementara adegan-adegan dibuat seintim dan seminimalis mungkin mulai dari gerak, komposisi, koreografi, ekspresi, dan vokal aktor. Sementara tempat bermain aktor semuanya dirajut dari kebiasaan penghuni rumah menyikapi ruang. Di mana saja mereka melintas, perlakuan mereka terhadap ruang, perubahan yang terjadi pada ruang, serta hal-hal yang melenceng atau yang tak terduga terjadi pada saat latihan para aktor. Semua kemudian dirajut dalam satu kesatuan pentas dengan memposisikan ruang sama halnya dengan aktor. Maka pentas tak hanya menyajikan komposisi aktor semata, penonton juga diberi celah menyadari perubahan ruang ketika aktor bermain di dalamnya.

Lalu, apakah semua itu cukup untuk menguraikan bagaimana definisi ruang dalam panggung pertunjukan? Saya rasa tidak. Hal-hal semacam ini baru merupakan serpihan keterbacaan saya pribadi bersama kawan-kawan dalam memahami ruang dan panggung. Ada juga misalnya pengalaman lain yang kami sebut sebagai provokasi ruang. Di mana sejarah dan sosial sebuah ruang justru dipertanyakan ulang keberadaannya untuk mencederai kemapanan konstruksi ruang di kepala penonton sebagaimana yang hadir dalam pertunjukan ‘Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya’ bersama Teater Kalangan pada 2018 lalu. Selain itu ada saat di mana ruang dibaca dalam bingkai disiplin lain. Sebab interpretasi akan ruang juga tak bisa dilepaskan dari struktur berbagai lintasan ilmu yang punya agenda dan kepentingan epistemiknya masing-masing.

Tapi lagi-lagi tetaplah itu belum cukup untuk menjelaskan ruang sebagai panggung pertunjukan. Alih-alih semakin terang pembacaan kami atas ruang dan panggung, justru ada saja hal-hal baru yang menantang untuk diulik lebih dalam lagi. Pada akhirnya tulisan ini pun merupakan catatan bersambung yang terbuka untuk diisi kembali dengan uraian kemungkinan pembacaan akan ruang dan panggung lainnya. Sebab bukan diri saja yang berada pada posisi menjelaskan ruang dan panggung, boleh jadi sebaliknya, ruang dan panggunglah yang menguraikan diri kita.  Maka perlu juga kiranya membiarkan ruang dan panggung menyingkapkan dirinya kepada kita. [T]

Denpasar, 2021

______

BACA ARTIKEL LAIN DARI WAYAN SUMAHARDIKA

Wayan Sumahardika [ilustrasi tatkala.co | Nana Partha]
Tags: baliIndonesiasastraTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

Next Post

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Banjir Besar di Bali Tahun 1907-1932

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co