24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maksudnya Begini, Bilangnya Begitu | Politik Satire dalam Video Klip “Suud Minum Yan”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 8, 2021
in Esai
Maksudnya Begini, Bilangnya Begitu | Politik Satire dalam Video Klip “Suud Minum Yan”

Foto di-screenshot dari video klip Suud Minum Yan, Interblock Sinema

Apakah teman-teman pernah mendengar cocoklogi? Jika belum, cocoklogi terdiri dari dua kata; cocok dan logi. Cocok artinya cocok, pas, mantap—manis batu! Sedangkan logi atau logos adalah sebuah ilmu, jadi bisa disimpulkan dengan bebas bahwa cocoklogi adalah ilmu mencocok-cocokan sesuatu agar pas, agar mantap dan agar manis batu.

Cocoklogi kali ini akan melihat makna di balik sebuah video klip yang beberapa hari terakhir sempat ramai dibicarakan karena kaitannya dengan kritik yang diselipkan dalam bentuk satire maupun candaan. Bagaimana satire dalam video klip itu?

Baik, kita mulai dari kritikan, atau jika kita hubung-hubungkan sebuah kekecewaan pembuatnya (ini bicara pembuatnya dulu, belum pada masyarakat maupun warganet yang merasa terwakili oleh kritiknya).

Kekecewaan atau kritikan terhadap sesuatu atau seseorang yang memiliki kekuasaan tidak serta merta bisa diungkapkan secara terbuka dan gamblang. Nggak! Pengungkapan dalam kemaşan yang lebih ringan, dengan humor/lawakan menjadi cara yang dianggap efektif. Kalau kata seseorang dalam bahasa enggres, “Only jokes that have a purpose run the risk of meeting with people who do not want to listen them.” Alasan memilih humor adalah sebagai satu dari sekian cara meluapkan protes sosial, sebab sesuai dengan kepribadian tradisional bangsa kita yang tidak suka dikritik secara langsung. Apalagi di Bali ya ges? Sekali kritik, dua tiga cetik dan leak mendatangi. Hiiiii… serem! 

Gaya penyampaian semacam itu dinamakan satire. Satire merupakan gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran atau ejekan terhadap suatu keadaan atau seseorang. Political satire adalah bagian dari satire yang khusus mengambil sisi hiburan dari sebuah fenomena politik. Digunakan pula dalam pidato politik untuk mengungkapkan pesan secara implisit, seperti pada saat “menyerang’ lawan politik dengan menggunakan kata-kata sindiran.

Pesan satir bisa diwujudkan dalam beragam bentuk, karikatur, tulisan, karya sastra, maupun karya seni termasuk di dalamnya adalah lagu[1]. Termasuk film dan bahkan video klip musik karena termasuk dalam bagian karya seni. Video merupakan salah satu elemen penting yang ikut berperan dalam membangun sebuah sistem komunikasi dalam bentuk gambar bergerak. Secara umum video memanipulasi gambar dengan konsep yang matang sebelum pembuatannya.

Seperti pada video klip Suud Minum Yan!!! dari group band asal Bali, Capiyot feat Interblock Band yang digarap oleh Interblock Cinema Januari 2021. Lagu ini berhasil menarik perhatian, khususnya warganet di Bali. Setelah tiga hari diunggah di Youtube, dan pada saat cocoklogi ini ditulis, jumlah penontonnya sudah mencapai sembilan puluh tiga ribu lebih, ini belum termasuk versi karaokenya yang diunggah sehari setelah video klipnya yang sudah mencapai lima ribu enam ratus, dan versi liriknya yang sudah ditonton sebanyak tiga ribu seratus kali. Wow banget kan ges? 

Video klip Suud Minum Yan memiliki gaya visual yang menarik dan menggunakan alur bercerita yang tak linier. Dikisahkan Gede Sujana yang memerankan tokoh Pak Yan pergi ke kota (Badung) untuk mencari kerja, karakter Pak Yan ketika kecil disampaikan kalem tapi ketika dia besar dan mendapat pekerjaan yang bagus, ia menjadi menjengkelkan dengan banyaknya aturan yang dia buat. Aturan apa? Tidak disebutkan atau tidak digambarkan dalam video klipnya. Video klip ditutup dengan adegan Pak Yan ingin mencoba mengambil mic Capiyot dengan membawa map merah, tapi tak satu pun yang menghiraukannya dan meninggalkannya begitu saja.

Beberapa scene dalam video klip ini diedit dengan efek slow motion yang menampilkan pola-pola tertentu. Jika diperhatikan, video klip ini satire dan memperlihatkan simbol kritik apa yang terjadi di Bali akhir-akhir ini.

Pesan satir politik melalui lagu dan ditambah video klip mampu memberi teguran sarat kritik dengan sisipan kemasan humor lebih mengena. Menurut Freud, tampilan jenaka dimaksudkan untuk mengungkapkan tekanan terhadap musuh, mengajak orang lain untuk menertawakan musuh kita atau musuh bersama. Kira-kira begini kutipannya, “By belittling and humbling our enemy, by scorning and radiculating him, we indirectly obtain the pleasure of his defeat by laughter of the third person, the inactive spectator”.

Kekuatan visualisasi membantu membentuk frame penonton akan pesan yang disampaikan. Interpretasi adalah sebuah proses pemberian arti dan pemahaman terhadap pengalaman, artinya penonton akan menginterpretasi tanda yang secara fisik diterima kemudian dikaitkan dengan pengalamannya akan tanda yang berkaitan.

Satire dalam video klip Suud Minum Yan, berdasarkan cocoklogi yang saya lakukan bisa dilihat dari poin-poin berikut ini:

1. Karakter Politisi Berbaju Merah

Pak Yan dalam video klip Suud Minum Yan merupakan seorang politisi. Hal ini bisa dilihat di bagian awal video klip Pak Yan lengkap dengan kemeja merah, udeng merah, anteng poleng–membawa proposal perbaikan jalan di Karangasem. Sudah pasti Pak Yan ini seorang politisi. Memang rakyat biasa bisa perbaiki jalan negara? Ya bisa, kalau kerjanya jam-jaman. Kerja delapan jam belum dikurangi PSBB-Work From Home dan sebagainya sebagainya kok minta gaji dua ratus juta. Sudah miskin secara struktural kok masih mimpi. Eh.

Meskipun begitu, Pak Yan ini digambarkan sepertinya tidak sebagai politisi cerdas, namun lebih kepada politisi yang mudah ditipu, jika waktu kecil Pak Yan ini disebut olog-olog pong. Boleh diisi jirr.. Jika ingin improvisasi. Jadinya olog-olog pong jiiirr~. Karena tidak tahu ke mana arah tujuannya, nasib Pak Yan berhasil ditipu oleh tukang ojek yang menarifnya mahal meskipun jarak dari posisi sebelumnya ke tujuan tak terlalu jauh, bahkan hanya 1 meter. Pak Yan 0 – Tukang Ojek 1.

2. Minum Arak Halus

Karakter Pak Yan dalam video klip ini digambarkan memang suka minum, dalam beberapa scene dia menenggak arak sendiri, minum tuak sendiri. Karena rasa penasaran saya yang berlebih, saya mencari-cari apakah ada karakter dalam novel atau dalam apapun yang mirip-mirip dengan Pak Yan dalam video klip ini?

Saya ketik saja di google “laki-laki baju merah suka minum arak bali”. Google ternyata menunjukkan beberapa artikel dan foto orang berbaju merah juga muncul. Wah, saya semakin penasaran. Pikiran sederhana saya bertanya, apakah si baju merah ini mirip dengan Pak Yan di video klip? Dari tampilan baju dan udeng, oke sama— ya, sama-sama warna merah dan terkadang batik. Dari kacamata tidak, Pak Yan di video klip tidak menggunakan kacamata, sedangkan orang baju merah yang ditunjukkan Google menggunakan kacamata. Yang berbeda lagi, Pak Yan di video klip brewok, sementara di Google klimis.

Saya cari-cari lagi apa yang mirip, ternyata orang baju merah yang ditunjukkan Google, memiliki beberapa kutipan mengenai arak. Bagimana kutipannya? Ah, cari sendiri dah. Jika sudah baca-baca kutipan itu, bisa-bisalah disimpulkan bahwa Pak Yan di video klip dengan si baju merah yang ditunjukkan Google mirip! Mirip-mirip suka arak.

3. Karakter Pak Yan Berubah-ubah

Berubah di sini bukan menjadi bunglon atau power rangers, ultraman, kamen riders, musang ekor sembilan dan lain sebagainya, melainkan dirinya sendiri—Pak Yan itu sendiri. Melalui penggalan liriknya dan satu scene masa kecil, Pak Yan kecil adalah anak yang kalem dan ketika dewasa dia berubah—-apalagi ketika mendapatkan pekerjaan yang bagus, dia jarang senyum dan tampangnya digambarkan arogan, tapi semenjak itu juga dia berubah menjadi orang yang banyak aturan.

Melihat liriknya saya bertanya pada diri sendiri, aturan apa ya ini? Karena dalam lirik atau dalam video klipnya, tidak disebutkan aturan macam apa. Daripada saya susah tidur memikirkan video klip macam begini, saya pun mengetik di Google lagi “Aturan berubah-ubah di Bali”, makasi Google! Google pun menunjukkan aturan mulai dari Swab test, kebijakan masuk ke Bali, hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat.  Apakah ini yang dimaksud aturan yang berubah-ubah?

Aduh, kebanyakan berpikir saya jadi lapar. Sudah bingung mencari maksud Pak Yan di video klip ditambah lapar ditambah saat saya mengetik tulisan ini jam menunjukkan pukul delapan kurang lima belas. Daripada saya bingung, kelaparan dan tidak bisa beli makan hiiiii… ngeri, mending saya keluar dulu beli makan.

Kalian yang baca dan nonton videonya cari sendirilah. Sudah gede masak perlu disuapin. Wkwkwkk. [T][Editor Adnyana Ole]


[1] (Leonard Freedman, The Offensive Art¸Political Satire and Its Censorship around the World from Beerbohm to Borat, (London: Praeger, 2009), p. 68.)

________

Video klip Suud Minum Yan…
Tags: laguLagu Pop Balimusikmusik pop baliPolitiksatire
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cara Indah Sastrawan Bali Modern Mengantar Alit Juliartha Menuju Rumah Puisi Abadi | In Memoriam

Next Post

Terpapar Umbu Landu Paranggi | Kisah Aliran Kepenyairan di Bali

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Terpapar Umbu Landu Paranggi | Kisah Aliran Kepenyairan di Bali

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co