3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Kaki Namun Vital

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 11, 2021
in Esai
Di Bawah Kaki Namun Vital

Cacing tanah

Pernahkah kita perhatikan hewan-hewan berukuran kecil yang dapat dilihat tanpa alat bantu merayap di atas tanah? Kebanyakan dari kita yang hidup di kota sudah tidak lagi akrab dengan mahluk tersebut.  Hewan hewan ini merupakan pembentuk kehidupan tanah tempat berpijak tanaman yang dijadikan makanan oleh hewan dan manusia. Mereka tidak dapat dipisahkan dengan tanah.

Seringkali , karena berada di bawah kaki kita, jadi luput dari perhatian padahal tanah dan biota yang ada di dalamnya merupakan fondasi dari ekosistem daratan serta menjadi penentu berdiri dan runtuhnya suatu bangsa dan peradaban yang dibangunnya. Di balik pepohonan yang rimbun untuk dijadikan bahan peneduh serta rumput untuk penggembalaan ternak dan tanaman pangan yang diambil biji dan buahnya, fondasinya adalah sama yaitu tanah kaya materi organik dan biota.

Anggapan bahwa tanah dapat berfungsi dengan menurunkan populasi biota tanah sehingga penyuburan dilakukan dengan pupuk kimia adalah keliru. Pupuk kimia tidak membuat tanah gembur dan kesuburannya bersifat sementara. Efek samping sering timbul pada sumber kehidupan selain tanah seperti air dimana itu tercemar hinga menimbulkan ledakan ganggang yang mematikan satwa aquatik. Sudah saatnya menghargai kerja organisme tanah.

Biota biota dalam tanahlah yang menggemburkan   sehingga udara dapat masuk ke lapisan bawah tanah menghidupkan bakteri bakteri aerobic yang aktif pada tanah tersebut. Ini menjadi indikator kualitas suatu tanah. Keragaman cacing tanah dan biota tanah yang tinggi di suatu lahan menandakan areal itu memiliki fondasi yang sehat. Tanah merupakan sistem yang hidup, dengan miliaran organisme anah menyusun jaring-jaring makanan tanah untuk menciptakan dan merawat dan memperbaharui kesuburan tanah. Semua produksi pangan terletak pada jaringan ini. Kesehatan tanah amat penting bagi kesejahteraan manusia. 

Cacing tanah beserta biota lainnya yang hanya dapat dilihat dengan alat bantu memberikan materi organic yang membuat tanah itu lengket. Tanah yang kaya dengan material organik merupakan strategi terbaik untuk adaptasi perubahan iklim dan konservasi sumber daya air. Air sangat vital untuk tanah yang hidup dan pertanian organic meletarikan air dengan meningkatkan daya tampung air di tanah melalui daur ulang materi organik. Tanah menjadi seperti spons yang menyerap lebih banyak air sehingga mengurangi penggunaan air dan berkontribusi terhadap ketahanan dari perubahan iklim.

Tanah terdegradasi dan mati, tanah tanpa materi organic, tanah tanpa keragaman organisme dan tanah tanpa kapasitas tampung air tidak menciptakan keamanan pangan. Tanah yang penuh dengan kehidupan yang sehat dalam bentuk mikroflora yang melimpah akan menciptakan tanaman yang sehat dan dikonsumsi oleh hewan dan manusia akan menganugerahkan kesehatan pada hewan dan manusia. Tapi di dalam tanah tandus; yang mana miskin mikroba, fungus dan mahluk hidup lain akan mewarisi kekurangan pada tanaman; dan tanaman tersebut pada gilirannya akan menurunkan bentuk bentuk kekurangan nutrisi kepada manusia dan hewan. Ketika tanah menjadi tandus muncul beragai masalah seperti banjir dan kekeringan karena tidak berfungsi sebagai penahan dan penyedia air. Yang paling buruk adalah kelaparan yang menghancurkan suatu masyarakat

Di tahun 1997, analisa yang dilakukan di Denmark pada satu meter kubik tanah menemukan ribuan cacing tanah, limah puluh ribu serangga dan dua belas juta roundworms. Satu gram tanah mengandung tiga puluh ribu protozoa, limah puluh ribu alga, dan empat ratus ribu jamur serta miliaran backteria. Adalah luar biasa keragaman hayati ini yang menjaga dan merawar kesuburan tanah sehingga membuat organisme tanah tumbuh dan berkembang. Di tanah yang tidak tercemar, materi organik diurai oleh organisme tanah untuk membentuk humus.

Humus adalah materi organic yang dicerna oleh organisme tanah dan dibuat menjadi tanah hidup. Satu ciri penting humus adalah fungsinya sebagai spons dan mampu menampung 90 % massa nya di air. Tanah yang miskin humus lebih rentan terhadap kekeringan, kemiskinan unsur hara dan erosi. Tanah yang kaya humus adalah kaya dengan keragaman fungi seperti mycorrhizae, yang tidak dapat eksis tanpa humus. Mycorrizhae menciptakan relasi simbiotik dengan tanaman dengan masuk ke akar dan memindahkan nurien dan kelembapan untuk tanaman. Di dalam siklus yang saling tergantung; fungi tersebut juga berkontribusi pada pembudidayaan humus dan mengikat tanah.

Tanah yang hidup melimpah dengan bakteri yang bermanfaat. Satu sendok the tanah terdapat antara seratus juta hingga satu miliar bakteri yang diterjemahkan menjadi 1 metrik ton tiap 0.4 hektar. Bakteri mengurai dan menghentikan nutria yang tersimpan di selnya mencegah hilangnya nutrient dari tanah.  Mereka memproduksi zat yang mengikat partikel tanah sehinga meningkatkan daya tampung air pada tanah.

Dalam ketiadaan mikroorganisme tanah, tanah tidak terikat melainkan menjadi debu dan tertiup angin dan tercucui oleh air. Tanah hidup juga mempunyai nitrogen fixing bacteria yang menciptakan hubungan simbiotik dengan akar tanaman dan memberikan tanaman nitrogen dan mendapat karbon.Ini berarti membantu penyerapan karbondioksida di udara dan disimpan di dalam tanah. Tanah yang mati berupa gurun pasir, bebatuan tandus atau dilapisi beton dan aspal tidak dapat menjalankan peran ini.

Peran Cacing Tanah

Cacing tanah esensial untuk tanah hidup dan kesuburan tanah. Cacing tanah jauh lebih rumit dan canggih daripada pabrik pupuk buatan termahal karena mereka tidak hanya menyediakan kesuburan tanah tapi juga meningkatkan kapasitas tampung air dan volume udara di dalam tanah yang amat penting bagi tanah hidup. Cacing tanah menggali di tanah untuk membuat terowongan kecil yang mana udara dan air dapat berpindah.

Cacing tanah meningkatkan volume udara tanah hingga 30 % dan kapasitas tampung air hingga 20%. Ini membuat tanah lebih tahan kekeringan. Tanah dengan cacing tanah juga menyerap 10 kali lebih cepat air daripada tanpa cacing tanah yang membuat tanah bertahan dari banjir. Pada satu meter persegi tanah organik, terdapat tiga puluh hingga tiga ratus cacing tanah. Antara sepuluh ribu dan seratus ribu alga hijau dan alga biru hidup dalam satu gram tanah. Semakin banyak dan beragaman keberadaan organisme tanah, semakin sehan tanah tersebut ; lebih subur , menyimpan air, dan lebih rendah tingkat erosinya.

Cacing tanah membentuk apa yang dicerna ke tanah.- dapat mencapai 36 metrik ton per acre tiap tahun, mengandung tiga kali lebih banyak nitrogen yang dapat dipindahkan, tujuh kali lebih banyak phosphor, tiga kali lebih banyak magnesium yang dapat dipindahkan, sebelas kali lebih banyak garam abu (potash) dan satu setengah kali lebih banyak kalsium daripada tanah yang diberi pupuk buatan.

Mendukung kesehatan tanah adalah cara paling efektif untuk mengurangi karbon dioksida di udara. Sistem yang intensif keragaman hayati – yang efeknya intensif fotosintesis – mendorong karbon dioksida terserap pada tanaman dan menuju ke tanah. Tanah, bukan minyak yang menentukan masa depan manusia.

Sumber:

  1. Shiva, Vandana.2016. Who Really Feed the World ? The Failures of Agribusiness and the Promise of Agroecology. Berkley , California. North Atlantic Books. Chapter 2:  Living Soils Feed the World not Chemical Fertilizer
  2. Got worms? Why healthy soil matters by Margaret Reeves http://www.panna.org/blog/got-worms-why-healthy-soil-matters. Diakses pada tanggal 11 Januari 2021.
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awal Tahun, 338 Cakep Lontar Diidentifikasi Penyuluh Bahasa Bali Gianyar

Next Post

“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co