23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Bawah Kaki Namun Vital

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 11, 2021
in Esai
Di Bawah Kaki Namun Vital

Cacing tanah

Pernahkah kita perhatikan hewan-hewan berukuran kecil yang dapat dilihat tanpa alat bantu merayap di atas tanah? Kebanyakan dari kita yang hidup di kota sudah tidak lagi akrab dengan mahluk tersebut.  Hewan hewan ini merupakan pembentuk kehidupan tanah tempat berpijak tanaman yang dijadikan makanan oleh hewan dan manusia. Mereka tidak dapat dipisahkan dengan tanah.

Seringkali , karena berada di bawah kaki kita, jadi luput dari perhatian padahal tanah dan biota yang ada di dalamnya merupakan fondasi dari ekosistem daratan serta menjadi penentu berdiri dan runtuhnya suatu bangsa dan peradaban yang dibangunnya. Di balik pepohonan yang rimbun untuk dijadikan bahan peneduh serta rumput untuk penggembalaan ternak dan tanaman pangan yang diambil biji dan buahnya, fondasinya adalah sama yaitu tanah kaya materi organik dan biota.

Anggapan bahwa tanah dapat berfungsi dengan menurunkan populasi biota tanah sehingga penyuburan dilakukan dengan pupuk kimia adalah keliru. Pupuk kimia tidak membuat tanah gembur dan kesuburannya bersifat sementara. Efek samping sering timbul pada sumber kehidupan selain tanah seperti air dimana itu tercemar hinga menimbulkan ledakan ganggang yang mematikan satwa aquatik. Sudah saatnya menghargai kerja organisme tanah.

Biota biota dalam tanahlah yang menggemburkan   sehingga udara dapat masuk ke lapisan bawah tanah menghidupkan bakteri bakteri aerobic yang aktif pada tanah tersebut. Ini menjadi indikator kualitas suatu tanah. Keragaman cacing tanah dan biota tanah yang tinggi di suatu lahan menandakan areal itu memiliki fondasi yang sehat. Tanah merupakan sistem yang hidup, dengan miliaran organisme anah menyusun jaring-jaring makanan tanah untuk menciptakan dan merawat dan memperbaharui kesuburan tanah. Semua produksi pangan terletak pada jaringan ini. Kesehatan tanah amat penting bagi kesejahteraan manusia. 

Cacing tanah beserta biota lainnya yang hanya dapat dilihat dengan alat bantu memberikan materi organic yang membuat tanah itu lengket. Tanah yang kaya dengan material organik merupakan strategi terbaik untuk adaptasi perubahan iklim dan konservasi sumber daya air. Air sangat vital untuk tanah yang hidup dan pertanian organic meletarikan air dengan meningkatkan daya tampung air di tanah melalui daur ulang materi organik. Tanah menjadi seperti spons yang menyerap lebih banyak air sehingga mengurangi penggunaan air dan berkontribusi terhadap ketahanan dari perubahan iklim.

Tanah terdegradasi dan mati, tanah tanpa materi organic, tanah tanpa keragaman organisme dan tanah tanpa kapasitas tampung air tidak menciptakan keamanan pangan. Tanah yang penuh dengan kehidupan yang sehat dalam bentuk mikroflora yang melimpah akan menciptakan tanaman yang sehat dan dikonsumsi oleh hewan dan manusia akan menganugerahkan kesehatan pada hewan dan manusia. Tapi di dalam tanah tandus; yang mana miskin mikroba, fungus dan mahluk hidup lain akan mewarisi kekurangan pada tanaman; dan tanaman tersebut pada gilirannya akan menurunkan bentuk bentuk kekurangan nutrisi kepada manusia dan hewan. Ketika tanah menjadi tandus muncul beragai masalah seperti banjir dan kekeringan karena tidak berfungsi sebagai penahan dan penyedia air. Yang paling buruk adalah kelaparan yang menghancurkan suatu masyarakat

Di tahun 1997, analisa yang dilakukan di Denmark pada satu meter kubik tanah menemukan ribuan cacing tanah, limah puluh ribu serangga dan dua belas juta roundworms. Satu gram tanah mengandung tiga puluh ribu protozoa, limah puluh ribu alga, dan empat ratus ribu jamur serta miliaran backteria. Adalah luar biasa keragaman hayati ini yang menjaga dan merawar kesuburan tanah sehingga membuat organisme tanah tumbuh dan berkembang. Di tanah yang tidak tercemar, materi organik diurai oleh organisme tanah untuk membentuk humus.

Humus adalah materi organic yang dicerna oleh organisme tanah dan dibuat menjadi tanah hidup. Satu ciri penting humus adalah fungsinya sebagai spons dan mampu menampung 90 % massa nya di air. Tanah yang miskin humus lebih rentan terhadap kekeringan, kemiskinan unsur hara dan erosi. Tanah yang kaya humus adalah kaya dengan keragaman fungi seperti mycorrhizae, yang tidak dapat eksis tanpa humus. Mycorrizhae menciptakan relasi simbiotik dengan tanaman dengan masuk ke akar dan memindahkan nurien dan kelembapan untuk tanaman. Di dalam siklus yang saling tergantung; fungi tersebut juga berkontribusi pada pembudidayaan humus dan mengikat tanah.

Tanah yang hidup melimpah dengan bakteri yang bermanfaat. Satu sendok the tanah terdapat antara seratus juta hingga satu miliar bakteri yang diterjemahkan menjadi 1 metrik ton tiap 0.4 hektar. Bakteri mengurai dan menghentikan nutria yang tersimpan di selnya mencegah hilangnya nutrient dari tanah.  Mereka memproduksi zat yang mengikat partikel tanah sehinga meningkatkan daya tampung air pada tanah.

Dalam ketiadaan mikroorganisme tanah, tanah tidak terikat melainkan menjadi debu dan tertiup angin dan tercucui oleh air. Tanah hidup juga mempunyai nitrogen fixing bacteria yang menciptakan hubungan simbiotik dengan akar tanaman dan memberikan tanaman nitrogen dan mendapat karbon.Ini berarti membantu penyerapan karbondioksida di udara dan disimpan di dalam tanah. Tanah yang mati berupa gurun pasir, bebatuan tandus atau dilapisi beton dan aspal tidak dapat menjalankan peran ini.

Peran Cacing Tanah

Cacing tanah esensial untuk tanah hidup dan kesuburan tanah. Cacing tanah jauh lebih rumit dan canggih daripada pabrik pupuk buatan termahal karena mereka tidak hanya menyediakan kesuburan tanah tapi juga meningkatkan kapasitas tampung air dan volume udara di dalam tanah yang amat penting bagi tanah hidup. Cacing tanah menggali di tanah untuk membuat terowongan kecil yang mana udara dan air dapat berpindah.

Cacing tanah meningkatkan volume udara tanah hingga 30 % dan kapasitas tampung air hingga 20%. Ini membuat tanah lebih tahan kekeringan. Tanah dengan cacing tanah juga menyerap 10 kali lebih cepat air daripada tanpa cacing tanah yang membuat tanah bertahan dari banjir. Pada satu meter persegi tanah organik, terdapat tiga puluh hingga tiga ratus cacing tanah. Antara sepuluh ribu dan seratus ribu alga hijau dan alga biru hidup dalam satu gram tanah. Semakin banyak dan beragaman keberadaan organisme tanah, semakin sehan tanah tersebut ; lebih subur , menyimpan air, dan lebih rendah tingkat erosinya.

Cacing tanah membentuk apa yang dicerna ke tanah.- dapat mencapai 36 metrik ton per acre tiap tahun, mengandung tiga kali lebih banyak nitrogen yang dapat dipindahkan, tujuh kali lebih banyak phosphor, tiga kali lebih banyak magnesium yang dapat dipindahkan, sebelas kali lebih banyak garam abu (potash) dan satu setengah kali lebih banyak kalsium daripada tanah yang diberi pupuk buatan.

Mendukung kesehatan tanah adalah cara paling efektif untuk mengurangi karbon dioksida di udara. Sistem yang intensif keragaman hayati – yang efeknya intensif fotosintesis – mendorong karbon dioksida terserap pada tanaman dan menuju ke tanah. Tanah, bukan minyak yang menentukan masa depan manusia.

Sumber:

  1. Shiva, Vandana.2016. Who Really Feed the World ? The Failures of Agribusiness and the Promise of Agroecology. Berkley , California. North Atlantic Books. Chapter 2:  Living Soils Feed the World not Chemical Fertilizer
  2. Got worms? Why healthy soil matters by Margaret Reeves http://www.panna.org/blog/got-worms-why-healthy-soil-matters. Diakses pada tanggal 11 Januari 2021.
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Awal Tahun, 338 Cakep Lontar Diidentifikasi Penyuluh Bahasa Bali Gianyar

Next Post

“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

“Mulat Sarira” || Introspeksi Diri di Hari Sivaratri

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co