6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori SMA/SMK

tatkala by tatkala
October 12, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori Sekolah Dasar

PUISI-PUISI LOMBA BACA PUISI KOMUNITAS MAHIMA 2020 – KATAGORI SMA/SMK

—–


Manik Sukadana

PERNYATAAN KEPADA PEREMPUAN PENGAGUM WARNA


Mengatakan cinta kepadamu seperti memotong nadi,

mencari-cari permata air yang terendap-terhempas di sana.

Laku gila: mirah bang atau luka akan tersisa.


Seketika usia cintaku kepadamu berhenti.

Kita memang tidak pernah sepaham mencampur warna pada diri.

Segurat luka itu membeku.

Tidak tertutup atau terbuka menganga.

Seperti yang kau katakan,

tidak ada luka yang benar-benar sembuh

meski dengan bantuan cinta.


Usia cintaku kepadamu berhenti setelah pertemuan abu-abu itu.

Angin serat-serat waktu yang mengantarku ke lautmu berbalik arah.

Pelayaran ditunda.

Sampai kapan?

Tidak ada yang tahu.


Waktu serupa laut yang tiap mula dan akhir ada pada kita,

persis seperti yang kau katakan.

Kita memang tidak pernah saling bertanya, berkata

tentang arah dan tujuan pelayaran.

Yang pasti hanya jalan pulang,

rumah masing-masing.


Hujan datang,

kita berteduh di simpang terdekat rumahmu

dan berharap segalanya reda.

Saling menunggu penjemput tiba

menuju impian masa depan

yang kita rencanakan secara terpisah.


Kita saling memutus waktu

ketika pernyataan ini telah kaubaca dengan cermat

dan (mungkin) tidak akan pernah dibuka lagi

untuk selamanya.

Olehmu, olehku.

.


Wayan Esa Bhaskara

SAJAK AKHIR TAHUN


sejak kapan kau jadi ahli patah hati

menerka tiap lembar kalender

ada garis takdir, memelukku hingga lembar terakhir


hati kian melapang, raga ini sajak rindu

kata demi kata menunggu hingga pilu

angka-angka kini terlihat abu


kita usai, kupilih diam

sedang bulan terus membesar

hari-hari makin mekar


kau, ialah usia tak utuh

berkali-kali di mataku tanggal merah main prosotan

jiwaku jalan asam garam


menurutku cukup, dada ini medan perang

angka-angka kusam lahir tiap pekan

kalender halaman terakhir terlanjur kutelan

.


AA Ayu Rahatri Ningrat

JENGGALA


Jenggala, Aku tak perlu pertemuan

karena berbagi kisah tak selalu dengan pertemuan

Akan kususun satu persatu serpihan bayangmu, yang kadang melukai

Sel-sel imajiku meng-ada-kanmu,

Walau tak me-nyata-kanmu

Tapi kita punya banyak cerita


Tentang wanginya kamboja, nada minor,

dan hijaunya rumput yang menari di jemarimu

Apakah kau ingat tentang pekat di balik jendela?

Kau lukis langit, kuwarnai dengan bintang

Kita juga menggil karena subuh


Jenggala,

Kita adalah fatamorgana

Penghubung kita hanyalah hujan

dan satu-satunya penghalang kita adalah kenyataan

.


Jong Santiasa Putra

DI PANTAI UTARA

                Celukan Bawang



Tiga nelayan menatap laut

matahari bias di matanya.


Ikan-ikan mengeram sunyi

mengenyam sebagian rahasia

saat buih paling tua

melibas kaki mungil si bungsu.


Karang jauh,

ayah belum berlabuh


Bilik bambu ditetak angin

satu ketapang tumbang

dari mana datang petaka

sebab muasal kita tak terpeta.


Datanglah, datanglah

bulan Sampar, akhir tahun

api unggun, tikar pandan,

ikan bakar, sayur lodehbuatan istri

malam bertamu, duduk bersila

dua gelas tuak, satu batang

mimpi-mimpi penuh dirajam

hal-hal telah diterjemahkan.


Jangkar berkarat di pasir,

rumpon kering ditenggat

Barakuda terjebak di jaring

doa-doa berlayar ke seberang.


Seekor ikan melompat

tubuhnya jadi tanah

matanya jadi benih

tumbuhlah-tumbuhlah.


Laut hanyalah kita

menyamar kemungkinan

batas-batas cahaya.


.


Wayan Sumahardika

EPILOG 


Inikah rasanya, berada di rahim bumi 

Kembali menjadi benih yang tak pasti 

Lahir disambut cium bibir matahari 

Atau membiarkan diri gugur 

          terkikis bisu tanah 


Jika sekarang waktunya memilih, 

Akan kupilih hidup bagi anakku 

Sebab telah kesekian kali 

diri lahir kembali 

Namun tak pernah sanggup 

         menanggalkan cemberut 

pada bibir anak sendiri 


Apalah yang beda dari kematian saat ini 

Sedang rumah tinggal berada 

        di antara palung dan tebing gunung 

Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan 

Buat hidup sampai esok pagi 


Nak, 

Jika nanti, namaku ada dalam pencarian 

Jangan biarkan orang-orang itu 

Menggali tanah kita.

Relakan saja tubuh ini terkubur 

Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak 


Lupakan saja aku, 

Seperti kau melupakan tangis kemarin 

Saat menginginkan mainan baru 

.


I Putu Agus Phebi Rosadi

PERPISAHAN


Hujan telah reda

Saat kau melambai padaku

Belum sempat kukatakan rindu

Tapi peluit kereta lekas membawamu lalu

Tinggal seorang perempuan yang tiba tiba menghampiriku

menggerutu dan menyeru;

Tak ada bahagia dan cinta di sini

Maka kau harus pergi


Dan perempuan itu berulang meyakinkanku.

Cinta adalah dusta rahasia. Sebab itu kita tak mesti percaya.

Sesekali mesti menduga atau berumpama ; Ia adalah perempuan ingkar janji;

semisal enggan berbagi ranjang di hari petang

Ada benarnya barangkali


Tak ada bahagia di sini

Maka kubalas lambaian tanganmu

Selamat tinggal

.


Julio Saputra

SENJA DI DHAMMADESA

Aku menaruh hati
Pada sayur mayur menebar sapa
Buah jambu mengharap senyum
Rumput hijau teramat ramah
Juga batas timur, memeluk
Memberi salam hangat

Sang Buddha menggenggam doa
Yang datang bersama wangi dan asap dupa
Di dalam pondok berdiri menepis hujan
Aku menyentuh dingin yang terbang
Hinggap dan merayap
Merasuk dalam diri
Menemui sepi, memintanya bahagia lagi

Pohon-pohon bersahabat
Pucuk dan kembang mengucap semangat
Seorang pelepas duduk, membawa cerita
Yang sederhana, yang bermakna
Bersama alam, kekasih hidup

Tiba-tiba, kabut putih menghampiri
Berjalan pelan-pelan
Menjelma selimut bumi
Menutup setiap sudut ruang

Ke mana aku harus berlabuh?
Sementara jalanku terlihat samar-samar

Sayup-sayup, ada yang berbisik
Ke alamlah, kau harus kembali

.


Wulan Dewi Saraswati

SURAT LENA


Sudah lama kau tak pulang

Kau pun belum tuntas menikmati sejuk halamanku

tempat untuk membisikan cerita

bila surat ini terbaca

maka sudah habis perjalanan rindu

yang kususun rapi di antara anyir airmata

dan waktu sudah berpulang

menjemput segala rahasia senja

sebentar lagi, kau akan pulang

kau pun boleh menitipkan isyarat

pada cemara depan rumah

atau pada kucing di pantai utara

katakan, kau masih ingin menyebutku

katakan saja tanpa ragu

dan harihari kita selipkan

bersama peluk ombak

meluluhkan pasir

yang akan mengajakmu pulang

.


Gede Gita Wiastra

SUARA YANG HILANG


Hari itu

aku kembali ke tanah rahim

menyapa masa kanak-kanak

sudah lama aku tak berjumpa lelakut

Kesetiaan dan keringatnya mengalir ke sawah-sawah

Menjelma mekar bunga padi


Sambil mengusir burung-burung itu

Ia selalu mendongengiku

: dongeng tentang kesedihan I Cetrung

Dongeng tentang nyanyian Kedis Kurkuak

Atau bercerita tentang Tuan Tani

Yang lahannya hilang

Entah ke mana


Seuntai kabar tak pernah kusampaikan padanya

Tentang diriku di tanah pengembaraan

Bukan karena lupa

Hanya ingin memupuk kerinduan


Tapi, di manakah dia

Aku tak mendengar lagi suara-suaranya

Mungkinkah hilang dimakan hari?

Sebab tak ada lagi yang dijaga

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori SMP

Next Post

Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails
Next Post
Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co