7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori SMA/SMK

tatkala by tatkala
October 12, 2020
in Puisi
Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori Sekolah Dasar

PUISI-PUISI LOMBA BACA PUISI KOMUNITAS MAHIMA 2020 – KATAGORI SMA/SMK

—–


Manik Sukadana

PERNYATAAN KEPADA PEREMPUAN PENGAGUM WARNA


Mengatakan cinta kepadamu seperti memotong nadi,

mencari-cari permata air yang terendap-terhempas di sana.

Laku gila: mirah bang atau luka akan tersisa.


Seketika usia cintaku kepadamu berhenti.

Kita memang tidak pernah sepaham mencampur warna pada diri.

Segurat luka itu membeku.

Tidak tertutup atau terbuka menganga.

Seperti yang kau katakan,

tidak ada luka yang benar-benar sembuh

meski dengan bantuan cinta.


Usia cintaku kepadamu berhenti setelah pertemuan abu-abu itu.

Angin serat-serat waktu yang mengantarku ke lautmu berbalik arah.

Pelayaran ditunda.

Sampai kapan?

Tidak ada yang tahu.


Waktu serupa laut yang tiap mula dan akhir ada pada kita,

persis seperti yang kau katakan.

Kita memang tidak pernah saling bertanya, berkata

tentang arah dan tujuan pelayaran.

Yang pasti hanya jalan pulang,

rumah masing-masing.


Hujan datang,

kita berteduh di simpang terdekat rumahmu

dan berharap segalanya reda.

Saling menunggu penjemput tiba

menuju impian masa depan

yang kita rencanakan secara terpisah.


Kita saling memutus waktu

ketika pernyataan ini telah kaubaca dengan cermat

dan (mungkin) tidak akan pernah dibuka lagi

untuk selamanya.

Olehmu, olehku.

.


Wayan Esa Bhaskara

SAJAK AKHIR TAHUN


sejak kapan kau jadi ahli patah hati

menerka tiap lembar kalender

ada garis takdir, memelukku hingga lembar terakhir


hati kian melapang, raga ini sajak rindu

kata demi kata menunggu hingga pilu

angka-angka kini terlihat abu


kita usai, kupilih diam

sedang bulan terus membesar

hari-hari makin mekar


kau, ialah usia tak utuh

berkali-kali di mataku tanggal merah main prosotan

jiwaku jalan asam garam


menurutku cukup, dada ini medan perang

angka-angka kusam lahir tiap pekan

kalender halaman terakhir terlanjur kutelan

.


AA Ayu Rahatri Ningrat

JENGGALA


Jenggala, Aku tak perlu pertemuan

karena berbagi kisah tak selalu dengan pertemuan

Akan kususun satu persatu serpihan bayangmu, yang kadang melukai

Sel-sel imajiku meng-ada-kanmu,

Walau tak me-nyata-kanmu

Tapi kita punya banyak cerita


Tentang wanginya kamboja, nada minor,

dan hijaunya rumput yang menari di jemarimu

Apakah kau ingat tentang pekat di balik jendela?

Kau lukis langit, kuwarnai dengan bintang

Kita juga menggil karena subuh


Jenggala,

Kita adalah fatamorgana

Penghubung kita hanyalah hujan

dan satu-satunya penghalang kita adalah kenyataan

.


Jong Santiasa Putra

DI PANTAI UTARA

                Celukan Bawang



Tiga nelayan menatap laut

matahari bias di matanya.


Ikan-ikan mengeram sunyi

mengenyam sebagian rahasia

saat buih paling tua

melibas kaki mungil si bungsu.


Karang jauh,

ayah belum berlabuh


Bilik bambu ditetak angin

satu ketapang tumbang

dari mana datang petaka

sebab muasal kita tak terpeta.


Datanglah, datanglah

bulan Sampar, akhir tahun

api unggun, tikar pandan,

ikan bakar, sayur lodehbuatan istri

malam bertamu, duduk bersila

dua gelas tuak, satu batang

mimpi-mimpi penuh dirajam

hal-hal telah diterjemahkan.


Jangkar berkarat di pasir,

rumpon kering ditenggat

Barakuda terjebak di jaring

doa-doa berlayar ke seberang.


Seekor ikan melompat

tubuhnya jadi tanah

matanya jadi benih

tumbuhlah-tumbuhlah.


Laut hanyalah kita

menyamar kemungkinan

batas-batas cahaya.


.


Wayan Sumahardika

EPILOG 


Inikah rasanya, berada di rahim bumi 

Kembali menjadi benih yang tak pasti 

Lahir disambut cium bibir matahari 

Atau membiarkan diri gugur 

          terkikis bisu tanah 


Jika sekarang waktunya memilih, 

Akan kupilih hidup bagi anakku 

Sebab telah kesekian kali 

diri lahir kembali 

Namun tak pernah sanggup 

         menanggalkan cemberut 

pada bibir anak sendiri 


Apalah yang beda dari kematian saat ini 

Sedang rumah tinggal berada 

        di antara palung dan tebing gunung 

Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan 

Buat hidup sampai esok pagi 


Nak, 

Jika nanti, namaku ada dalam pencarian 

Jangan biarkan orang-orang itu 

Menggali tanah kita.

Relakan saja tubuh ini terkubur 

Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak 


Lupakan saja aku, 

Seperti kau melupakan tangis kemarin 

Saat menginginkan mainan baru 

.


I Putu Agus Phebi Rosadi

PERPISAHAN


Hujan telah reda

Saat kau melambai padaku

Belum sempat kukatakan rindu

Tapi peluit kereta lekas membawamu lalu

Tinggal seorang perempuan yang tiba tiba menghampiriku

menggerutu dan menyeru;

Tak ada bahagia dan cinta di sini

Maka kau harus pergi


Dan perempuan itu berulang meyakinkanku.

Cinta adalah dusta rahasia. Sebab itu kita tak mesti percaya.

Sesekali mesti menduga atau berumpama ; Ia adalah perempuan ingkar janji;

semisal enggan berbagi ranjang di hari petang

Ada benarnya barangkali


Tak ada bahagia di sini

Maka kubalas lambaian tanganmu

Selamat tinggal

.


Julio Saputra

SENJA DI DHAMMADESA

Aku menaruh hati
Pada sayur mayur menebar sapa
Buah jambu mengharap senyum
Rumput hijau teramat ramah
Juga batas timur, memeluk
Memberi salam hangat

Sang Buddha menggenggam doa
Yang datang bersama wangi dan asap dupa
Di dalam pondok berdiri menepis hujan
Aku menyentuh dingin yang terbang
Hinggap dan merayap
Merasuk dalam diri
Menemui sepi, memintanya bahagia lagi

Pohon-pohon bersahabat
Pucuk dan kembang mengucap semangat
Seorang pelepas duduk, membawa cerita
Yang sederhana, yang bermakna
Bersama alam, kekasih hidup

Tiba-tiba, kabut putih menghampiri
Berjalan pelan-pelan
Menjelma selimut bumi
Menutup setiap sudut ruang

Ke mana aku harus berlabuh?
Sementara jalanku terlihat samar-samar

Sayup-sayup, ada yang berbisik
Ke alamlah, kau harus kembali

.


Wulan Dewi Saraswati

SURAT LENA


Sudah lama kau tak pulang

Kau pun belum tuntas menikmati sejuk halamanku

tempat untuk membisikan cerita

bila surat ini terbaca

maka sudah habis perjalanan rindu

yang kususun rapi di antara anyir airmata

dan waktu sudah berpulang

menjemput segala rahasia senja

sebentar lagi, kau akan pulang

kau pun boleh menitipkan isyarat

pada cemara depan rumah

atau pada kucing di pantai utara

katakan, kau masih ingin menyebutku

katakan saja tanpa ragu

dan harihari kita selipkan

bersama peluk ombak

meluluhkan pasir

yang akan mengajakmu pulang

.


Gede Gita Wiastra

SUARA YANG HILANG


Hari itu

aku kembali ke tanah rahim

menyapa masa kanak-kanak

sudah lama aku tak berjumpa lelakut

Kesetiaan dan keringatnya mengalir ke sawah-sawah

Menjelma mekar bunga padi


Sambil mengusir burung-burung itu

Ia selalu mendongengiku

: dongeng tentang kesedihan I Cetrung

Dongeng tentang nyanyian Kedis Kurkuak

Atau bercerita tentang Tuan Tani

Yang lahannya hilang

Entah ke mana


Seuntai kabar tak pernah kusampaikan padanya

Tentang diriku di tanah pengembaraan

Bukan karena lupa

Hanya ingin memupuk kerinduan


Tapi, di manakah dia

Aku tak mendengar lagi suara-suaranya

Mungkinkah hilang dimakan hari?

Sebab tak ada lagi yang dijaga

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pilihan Lomba Baca Puisi Komunitas Mahima 2020 – Katagori SMP

Next Post

Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

Lelakut Itu Hantu Sawah Bukan Menghantui Sawah Untuk Disulap Jadi Yang Lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co