6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serunya Galungan Kita Dulu

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 17, 2020
in Esai
Serunya Galungan Kita Dulu

Penjor Galungan

Hari Raya Galungan kita dulu selalu jadi hari yang menggembirakan. Hari yang kita tunggu-tunggu. Bahkan hati kita sudah merasa berseri-seri sejak beberapa hari menjelang Galungan tiba.

Pada sore hari di waktu Penyajaan,  dengan senang hati kita membersihkan lingkungan, memotong rumput, membersihkan selokan, menyapu sampah dan kotoran sapi dari jalanan.

Dulu kita tumbuh bersama pohon-pohon besar di telajakan rumah. Ada bunut, cempaka, suar, mangga, kutuh, timbul, jaka, sukun, canging, nangka, sentul, juga semak-semak seperti beluntas, base-base, pucuk, pulet-pulet, panggal buaya, dan sebagainya. Di perempatan banjar ada pohon waru. Nah, sampah daun-daun kering dari pohon-pohon itulah kita sapu, kumpulkan, dan bakar. Bersih-bersih lingkungan adalah bagian dari kegembiraan kita menyambut Galungan.

Kita bergotong royong di sekitar rumah masing-masing. Saat itulah jalanan akan diselimuti asap pembakaran sampah. Asap mengepul dan melayang-layang memenuhi jalanan. Suasana senja jadi remang-remang oleh asap dan terlihat seperti lukisan pemandangan desa berkabut dengan bias-bias matahari senja menembus sela-sela pepohonan. Angin pun berbau asap.

Di tengah jalan berasap itu, terlihat samar-samar ayah-ayah kita, seperti Nang Retig, Nang Lama, Nang Ruja, Pekak Rangun, Kaki Kiyer lalu-lalang membawa bambu untuk penjor. Kemudian Nang Geri dari Puaya, datang egoh-egoh membawa blakas dan ambu menuju rumah Pak Suraja. Dari arah utara muncul Pak Pun naik motor mosquito, menerobos asap dan menikung di perempatan banjar terus ngibrit ke arah pasar, kemudian hanya suara sepeda motornya terdengar samar-samar menghilang di kejauhan terbawa angin, trett…tet..tet… ces…ces… treettt….

Habis bersih-bersih kita mandi ramai-ramai di sungai, pakai sabun taluh. Sebelumnya, kita potong rambut di rumah Kaki Lancah. Kaki Lancah punya alat cukur lengkap. Kita berterima kasih kepada Paktut Nuraga dan Sumitra yang mencukur kita. Rata-rata cukur perut. Tapi gunting dan bergasnya tumpul sehingga rambut rasanya seperti dicabut-cabut sewaktu dipotong.

Kita ikut bangun subuh di Hari Penampahan, melihat ayah-ayah kita menyembelih babi, kemudian membantu ngelawar di dapur dan diberi tugas memarut kelapa atau memotong nangka.

Pas Galungan, kita mengenakan baju baru dan memakai senteng. Ibu menemani kita sembahyang di sanggah, makan be balung dan tum. Suasana Galungan sangat terasa.  Rumah dan halaman dipenuhi banten dan canang. Udara pagi diliputi aroma sambuk terbakar dari api takep, juga miik-miikan, wangi dupa dan kemenyan.

Kita akan pergi ke balai banjar. Bertemu teman-teman dengan sepeda masing-masing.  Di garpu depan dan belakang sepeda, kita ikatkan balon dengan menyentuhkannya pada ruji. Saat sepeda dijalankan maka ruji-ruji yang beputar akan menggesek balon sehingga mengeluarkan bunyi berisik, seakan-akan suara sepeda motor.

Kita keliling desa naik sepeda dengan suara bising balon. Maji naik sepeda dengan rem kaki, sedangkan Dwipa, di bagian belakang sepedanya dia pasangi antena yang di ujungnya ada lampu kecil kenyit-kenyit. Tut Dala datang dengan sepeda balap. Gaya sekali dia.

Ada yang pakai sepeda muani atau onthel. Untuk mengendarainya, kita harus menyerongkan badan sambil makilad. Sedangkan yang perempuan, seperti Luh Sri, Demas, Man Gek dan lainnya naik sepede jengki yang ujung setangnya berhiaskan rumbai-rumbai dan boncengannya ada kasurnya.

Merk sepeda terkenal pada masa itu antara lain Releigh, Fongers, Gazelle, Hartog, juga Sim King. Sepeda saya merknya Arjuna, made in India. Rujinya karatan, seluruh catnya luntur sehingga terlihat seperti saang, remnya putus dan tak ada dongkraknya, rantainya berbunyi kriot-kriot. Karena sepedanya besar dan tinggi, saya harus ngelandok atau menggelantung di stang saat mengendarainya.

Mereka yang lebih tua, seperti Bli Lebih, Runding, Nangnik Nendra, Nangnik Sarna, Bli Rinda, Yan Karang, Bli Nganduh dan lainnya main domino di bale daja banjar. Meyan Taman jualan tahu dan sayur kangkung di samping bale kulkul.

Selesai maturan, ibu-ibu kita juga kumpul di balai banjar. Mereka maceki di bale delod. Ada empat-lima pacek cekian. Pemainnya di antaranya Dadong Bontok, Dongkoh, Mengah Sukari, Men Rindi, Dadong Klepon, Meyan Sempok, Dadong Saprig, Meman Musi, Meman Bunter, Metut Gatri, Wetu Baca. Bila sudah agak sore, main cekinya pindah ke pinggir jalan dengan menggelar tikar di bawah pohon.

Itulah satu-satunya waktu bebas bagi ibu-ibu kita setelah sebelumnya sepanjang hari, sepanjang bulan, tenggelam dengan pekerjaan rumah tangga atau berjualan di pasar. Maceki di Hari Raya Galungan adalah kegembiraan bagi mereka. Itu hari sepenuhnya milik ibu. Para suami dan anak-anak tidak akan memasalahkan mereka maceki karena di rumah sudah tersedia makanan. Kalau anak-anak lapar mereka tinggal ambil di dapur tanpa perlu mengganggu ibu yang maceki. Tapi belakangan maceki di Hari Raya Galungan dilarang pemerintah karena alasan moral dan agama.

Dulu, maceki adalah bagian hiburan berhari raya. Ibu-ibu dapat merasakan sedikit kegembiraan. Taruhannya juga kecil-kecilan karena tujuannya memang bukan judi tapi sekadar bersenang-senang. Kalau dirasakan dengan hati agaknya kita bisa menilai maceki di Galungan itu adalah kegiatan yang indah, bukan sesuatu yang buruk. Bahkan mungkin itu bersifat spiritual. Sesuatu yang dilakukan dengan suka cita, enjoi, asyik, sambil makedekan, tanpa dorongan nafsu atau emosi berlebih, serta dapat melegakan kesumpekan, tentu dapat membuat pikiran jadi indah dan mencerahkan secara spiritual, hehe.

Namun, sepertinya tidak akan pernah ada lagi cekian di Hari Raya Galungan untuk ibu-ibu. Orang Bali sekarang sangat-sangat tinggi pengetahuan agamanya, tidak sesederhana dulu. Sekarang banyak yang membaca kitab suci dan lontar, rajin bertrisandya, tekun sembahyang dan ngunggahang daksina, hafal nama-nama dewa dan betara, gemar berdebat tentang Tuhan atau Krishna, sangat mencintai gelang benang tridatu atau nasi wong-wongan. Mereka tentu menolak cekian karena tidak sesuai buku suci, dan maceki adalah judi. Mereka akan mengatakan cekian dapat menodai spirit Galungan yang suci.

Semakin siang, jalan di depan balai banjar kian ramai oleh orang lewat. Semua pakai baju baru. Banyak yang tidak kita kenal. Mereka datang jalan kaki dari desa maupun banjar lain, menuju jaba gria. Di jaba gria adalah pusat keramaian saat Galungan, yang berlangsung selama tiga hari, sampai Pahing Galungan. Di sini ada wahana ayunan jantera atau ayunan tradisional sebagai hiburan utama.

Ayunan ini menggunakan kayu besar sebagai gandar yang bisa berputar, dan masing-masing ujungnya disangga tiang kokoh. Gandar ini memikul sejumlah lengan tempat menggantungkan kursi ayunan. Ada delapan kursi banyaknya. Setiap kursi bisa menampung dua sampai tiga orang.

Perlu petugas bertenaga besar dengan ketangkasan tinggi untuk memutar ayunan. Satu tim pemutar ayunan berjumlah empat orang. Mereka akan secara bergantian memutar ayunan ke depan dan kemudian ke belakang. Sewaktu bekerja, satu tangan mereka akan berpegangan pada tiang, lalu dengan posisi tubuh menyerong, mereka menekan kuat-kuat lengan ayunan secara bergantian dengan kaki. Sedangkan tangan satunya menarik lengan ayunan di depannya. Proses itu dilakukan dalam irama yang tepat dan serempak sampai ayunan berputar seperti jantera dengan kecepatan sesuai yang diinginkan. Ketika sedang beraksi, para pemutar ayunan itu terlihat seperti berjalan di udara, dan tentu saja membuat mereka peluh pidit.

Mereka yang mau naik ayunan harus bayar. Durasi setiap putaran diukur dengan timer dari batok kelapa yang dilubangi bagian bawahnya dan ditaruh di dalam paso berisi air. Kalau batoknya sudah penuh air dan tenggelam berarti waktu putaran ayunan sudah habis.

Setiap Galungan, suasana di jaba gria pasti ramai sekali. Selain ayunan, di sini banyak dagang mainan menjual ngongek-ngongekan, kembang api, tikusan, kemplongan, pistol air, mobil-mobilan kayu, dan bermacam mainan jenis baru. Ada banyak dagang makanan, juga permainan jenis kocokan, plingseran, cabeki dan kobokan. Keramaian di sini berlangsung sampai sore.

Ada Barong Nongkling ngelawang. Mereka masuk ke rumah-rumah dan memukul-mukul pohon-pohon di rumah kita dengan tongkat sebagai doa agar pohon tersebut tetap subur dan berbuah banyak. Kemudian tokoh Tualen bertugas meminta uang pada tuan rumah dengan gaya bertembang “titiang nunasss…” Ada juga Barong Bangkal ngelawang dengan atraksi mengejar anak-anak.

Balai banjar merupakan tempat kumpul kita semua, mulai dari anak-anak hingga orang tua, dengan permainan masing-masing yang asyik di tengah hari raya. Setiap Galungan suasana di balai banjar pasti ramai dan seru. Di sini kita mengumpulkan banyak kenangan indah yang akan terus hidup dalam hati. Galungan sepenuhnya jadi milik kita dan kita merayakannya dengan gembira.

Pada malam hari kita menggantungkan lampu sentir atau lampu templek di setiap penjor. Lampu-lampu yang berjejer di depan rumah di sepanjang jalan jadi atraksi mengesankan kala itu selain dapat memberi penerangan yang cukup bagi mereka yang bepergian merayakan Galungan di malam hari, seperti pergi nonton joged, wayang kulit atau hiburan lain di beberapa tempat. Lampu-lampu di penjor itu nantinya akan mati dengan sendirinya ketika minyaknya habis. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Next Post

Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Magnet - [Cerpen Putri Handayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co