2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musim Layangan di Negeri Para Mullah, Afganisthan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 3, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Banyak orang mengisi hari-harinya di tengah pandemi dengan kegiatan yang cenderung “malas”. Mereka yang tinggal di gunung seperti saya, menghabiskan waktu dengan memancing di sungai yang kebetulan deras sehabis hujan panjang. Sebagian yang bermukim di dataran rendah melewatkan sore di lsetiap tanah lapang dengan bermain layangan. Dan memang tak ada yang salah dengan itu, karena khitah kita sebagai manusia sebagai makhluk yang suka bermain, seperti orang Yunani bilang Homo Ludens.

Akhir pekan kemarin saya menyempatkan pulang menengok orang tua di kampung, di dataran selatan pulau Bali. Dan memang setiap sore langitnya dihiasi beraneka warna layang layang ditengah derasnya hembusan angin yang bersahabat. Iseng saya lewat bersama keponakan saya, yang tak ikut bermain bersama temannya.

“Putu, kenapa tak ikut bermain bersama teman temanmu ?” tanya saya menyelidik.

”Males, Paktut, saya tak suka permainan ini, lebih baik di rumah saja main HP lebih seru”. Jawaban pendek namun cukup mengusik ingatan saya.

Tak salah kalau dia tak suka permainan ini, karena kami sebagai pendahulunya pun begitu. Dia karena godaan teknologi, kami dulu karena didikan orang tua. Sebagai kaum perantau di daerah yang agak jauh dari tempat asal, orang tua menganggap kegiatan seperti ini hanya membuang buang waktu tanpa faedah yang jelas. Saya masih ingat jelas saat suatu sore bapak memarahi kakak saya yang datang dari memancing sambil mencincang habis kail bambu yang dibawanya.

Begitupun dengan bermain layang layang, kami mesti kucing kucingan dengan bapak biar tak diketahui sedang merakit sebuah layangan. Tapi beliau juga cukup sportif, kalau urusan permainan yang lain, kami dibebaskan. Jadi setiap sore kami bisa pergi ke lapangan untuk bermain sepak bola ataupun bulu tangkis. Jadi beliau menarik batas yang tegas, antara olahraga, dengan aktifitas yang dianggap main main tanpa tujuan.

Tapi hari itu saya tak ingin mengulangi kesalahan bapak yang lalu. Sesampainya di rumah saya memberi nasehat pada keponakan saya. “Putu, sekali waktu ikutlah temanmu bermain layangan, atau pergi memancing bersama pakyan mu, jangan sampai nanti setelajh besar kau menyesalinya, karena melewatkan hari hari indah itu, seperti kami, kedua pamanmu ini.“

Tak bisa dipungkiri banyak hal positif yang kita dapatkan dari berolahraga. Semangat, kerja keras, kerjasama dan jiwa sportif adalah sebagian diantaranya. Tapi kenyataan hidup membuktikan kita juga butuh kesabaran dan keberuntungan yang diajarkan oleh hobby memancing. Dan khusus untuk main layangan, imajinasi dan keberanian meletakkan impian di langit, saya rasa adalah poin utama yang bisa kita pelajari dari sana. Sambil mengenang bulan kelahiran bapak bangsa kita Bung Karno, tak ada salahnya kita mengingat petuah beliau, ”Gantungkan cita citamu setinggi langit, andaipun kau terjatuh, kau akan terdampar di hamparan awan biru”.

                Dan memang layang layang bukanlah permainan yang hanya dimainkan disini, dia bersifat universal. Hampir di seluruh dunia permainan ini dilakukan. Salah satunya di Afganisthan, negeri para mullah. Negara yang tak lekang dilanda perang, baik karena serbuan pihak  asing maupun diantara sesama anak bangsa mereka sendiri. Sebuah negeri dengan kaum fundamentalis yang tega menghancurkan warisan budaya maha agung, patung Budha terbesar di wilayah Bamiyan. Yang seharusnya masih bisa dinikmati anak cucu kita nanti. Hari ini hanya tinggal cerita, pengantar tidur kita.

Ada sebuah novel yang ditulis oleh seorang diaspora Afganisthan di Amerika yang sangat memikat berjudul Kite Runner. Disana diceritakan dengan indah tentang permainan ini, tradisi tahunan di musim berangin.Terlukiskan kegembiraan seorang anak saat bisa mendapatkan layangan yang putus sehabis pertarungan, dengan perjuangan keras dan penuh pengorbanan. Juga kebanggan orang tua saat layangan anaknya dapat menjadi pemenang dalam kompetisi antar layangan.

Sebuah penggambaran yang utuh dan memikat tentang sebuah permainan, yang sayangnya tak saya temukan tulisan serupa yang menggambarkan kemeriahan  pestival ataupun lomba layang yang tak kalah megah di lapangan Padang galak Sanur misalnya. Dimana rombongan pengantar layang-layang biasanya cukup panjang dan memacetkan jalan yang dilewati.

Akhirnya memang sesuatu akan terasa lebih indah dan layak dikenang saat itu dituliskan, karena memang menulis sendiri adalah jalan keindahan, menuju keabadian.

                Selain tentang layang layang, buku ini menurut saya juga sebuah penggambaran yang utuh tentang bangsa Afganisthan. Bangsa yang tak bisa dikalahkan oleh kekuatan adikuasa manapun. Uni Soviet dulu, dan Amerika beberapa tahun yang lau, meninggalkan negeri  ini dengan muka tertunduk karena tak bisa menakklukkan rakyat Afganisthan. Sebuah negeri yang pluralis, dengan suku Pasthun sebagai mayoritas.

Ada kutipan menarik tentang puak ini ditulis, “saat kau dalam kesulitan, berbahagialah kau terlahir sebagai orang Pasthun, Semua temanmu pasti tak sampai hati untuk meninggalkanmu”. Bangsa yang setia kawan, mempunyai kesetiaan tinggi pada nilai nilai yang mereka yakini. Saat ada kematian seorang yang dihormati, mereka mengikat kepalanya dengan kain hitam selama beberapa hari sebagai tanda berduka cita. Tapi tetap ada pihak yang mesti dijadikan sasaran ketidak adilan .

Kaum minoritas Hazara menjadi pihak yang didiskriminasi dalam kehidupan sehari hari mereka, meskipun mereka satu keyakinan. Dan dari literatur lain yang saya baca, suku ini merupakan keturunan orang Mongol, ratusan tahun yang lalu menginvasi wilayah Asia ten gah termasuk Afganisthan. Jadi ada dendam turun temurun di alam bawah sadar suku lainnya bahwa orang Hazara adalah orang lain. Hampir sama dengan nasib sebuah suku di tanah air kita sendiri, yang kehadirannya dianggap belum sejajar dengan anak bangsa dari puak lainnya.

                Apa yang perlu kita ambil hikmah dari cerita dari novel ini dan bisa kita jadikan cermin untuk kita bersatu sebagai suatu bangsa cukup banyak. Penyesalan dari tokoh yang terpaksa melarikan diri ke luar negeri karena situasi bangsanya yang dilanda perang tak berkesudahan. Kota Kabul yang indah dengan tradisinya yang menarik, seperti festival layangan tadi. Saat ini sudah kehilangan segalanya, sudah menjadi kota yang ditinggalkan.

Dan itu semua berawal dari perpecahan diantara anak bangsanya sendiri, yang sampai mengundang pihak asing untuk datang membantu.Yang ujungnya pasti mencari keuntungan atas situasi buruk yang dialami pemilik asli negeri itu. Situasi terakhir di perumit dengan hadirnya kelompok fundamentalis yang membawa kebenarannya sendiri, dan menafikan keberadaan orang lain yang dianggap tak sepaham dengan mereka. Lengkap sudah status Afganisthan, sebagai the sick man of middle Asia.

Kita bangsa Indonesia perlu bersyukur dan tetap bersyukur mempunyai elemen perekat sebagai sebuah bangsa. Meski terdengar klise, Pancasila tak terbantahkan adalah tali kuat yang menyatukan kita. Terlepas dari beberapa penyelewengan yang dilakukan beberapa pihak dengan mengatasnamakannnya.

Di bulan Juni ini  bulan kelahiran Pancasila, kita semua bukan hanya pemerintah mesti mengejewantahkan kembali nilai nilai luhur Pancasila dalam kehidupan nyata sehari hari. Bukan hanya sebagai pemanis di bibir saja. Di tengah pandemi penyakit yang belum berkesudahan, para pemimpin muda yang tak amanah, dan wakil kita yang seperti tak punya nurani. Mari bersama kita simak sebait lagu dari iwan fals, terima sebagai sebuah kritik membangun, agar Pancasila bisa kembali Jaya.

                Dan coba kau dengarkan

                Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

                Yang hanya berisi harapan

                Yang hanya berisi khayalan

Tags: Afganistanlayang-layangnovelpermainan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

I Segnol dan I Dangin dari Kalianget

Next Post

Jangan Menyerah pada Usia, Lakukanlah Segala Hal Semasih Bisa | Kabar dari Jepang

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Jangan Menyerah pada Usia, Lakukanlah Segala Hal Semasih Bisa | Kabar dari Jepang

Jangan Menyerah pada Usia, Lakukanlah Segala Hal Semasih Bisa | Kabar dari Jepang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co