3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Corona, “Telah Gati Suba Olah-olahane!”

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
May 14, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Yen bendan zamane suba maju, raga sing perlu buin ngae penjor ajak banten. Tinggal klik dogen tombole, sruuutt! Pesu be penjor pedidi. Klik bin cepok, casss! Pesu be makejang soroh bantene. Cara hologram.

Yen pedanda ngantebang banten di pura, sing perlu ngeleneng buin. Pedanda cuma negak dogen. Klik tombol on di tape, pesu be puja Tri Sandya. Pedanda tinggal santai, ngeroko gen be klepus-klepus.

Pokokne aluh yen zaman suba maju!

Bagi orang Bali kebanyakan, saya yakin pernah meguyu seperti guyonan di atas. Tentang Tri Sandya, pedanda, hologram, dan kemajuan-kemajuan zaman yang menyertai, tentunya dengan beragam bentuk dan variasi tingkat lucu masing-masing. Pada masa SMA, saya dan kawan-kawan kerapkali berseloroh, membayangkan kemajuan zaman akan hadir untuk mempermudah kehidupan sehari-hari.

Seperti apa bentuk kemajuan itu, bagaimana rupanya, tak pernah terbayang jelas sejatinya di kepala. Ia begitu jauh. Begitu abstrak. Pun dengan definisi terhadap kemajuan itu sendiri. Tak pernah benar-benar kami pahami artinya. Yang terbayang tentang kemajuan hanyalah gambaran digital dengan sejumlah tombol yang sekali pencet, membuat segalanya jadi lebih sederhana dan efisien.

Entah kenapa, candaan akan kemajuan zaman cenderung dilayangkan tak jauh dari soal adat dan agama. Seingat saya, sedikit sekali guyonan tentang kemajuan zaman disangkutpautkan pada soal kemudahan mengerjakan PR misalnya. Mengapa kami tak membayangkan sebuah tombol yang sekali klik, PR akan selesai dengan mudah? Dengan sekali klik, akan muncul bakso, sosis, mie ayam, atau nasi bungkus di kelas tanpa harus repot ke kantin saling berdesakan? Padahal jika mau jujur, realitas sekolah dalam konteks kami masa itu sesungguhnya jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan persoalan adat dan agama, yang justru amat jarang kami ikuti apalagi kami pahami.

Adat dan agama juga kerapkali beririsan dalam konteks pentas teater. Pada banyak kecenderungan pentas di Bali, adat dan agama menjadi tema central cerita, bisa juga menjadi bahan sempalan. Menyentil kehidupan beribadat dan beragama masyarakat atau mempergunakannya sebagai bahan petuah. Kecenderungan ini seolah menyiratkan bahwa persoalan Bali tak boleh jauh-jauh dari adat dan agama. Ada kesan, jika pentas tak memakai framing adat dan agama maka pertunjukan jadi bukan Bali.

Mungkin di sinilah persamaan antara pertunjukan kawan-kawan teater Bali dengan guyonan anak-anak SMA tadi. Seringkali harus merasa dekat dengan adat dan agama. Seringkali gatal untuk berpetatah-petitih atau mengkritisi. Saking khusuknya kita pada adat dan agama, definisi tentang kemajuan zaman misalnya, jadi salah satu gagasan yang dibiarkan mengawang tak maju-maju dari dulu sampai sekarang.

Kemajuan zaman tak pernah dipergunakan sebagai ruang kerja baru dalam menatap kenyataan. Mempengaruhi pola pandang dan lanskap laku hidup manusia. Kemajuan zaman tetap menjadi entitas abstrak, yang naasnya cenderung dilekatkan pada oposisi biner baik buruk. Sebagai sebab goyahnya kehidupan adat dan agama orang Bali. Tak khayal, ada saja kita jumpai cerita-cerita naif semacam kemajuan zaman yang membuat orang tak lagi sembahyang, terjebak dalam perbuatan buruk lalu akhirnya terjerat hukum karma phala.

Dalam konteks penyusunan strategi pertunjukan, kemajuan zaman juga hanya dimanfaatkan sebagai spektakel. Menembakan proyektor bergambar pada backroud panggung, mengganti  bentuk pencahayaan lampu sentir menjadi lampu warna-warni, atau mempergunakan teknologi mutakhir lainnya sebagai ornamen akrobatik para aktor di atas panggung. Sementara isi pentas tetap memakai kerangka kerja pertunjukan yang sudah-sudah. Berlandaskan adat agama dengan pola pikir yang sama. Seolah-olah adat dan agama adalah sesuatu yang ajeg. Entitas yang lemah dan lunglai. Maka tugas orang panggunglah yang mesti menegakan dan menjaganya.

Di tengah masa inkubasi corona ini, saat tak ada pentas yang terselenggara, saat masyarakat Bali suba telah gati olah-olahane, adat dan agama justru yang paling cair menyikapi keadaan. Waktunya odalan di Pura Batur, saya dan keluarga tetap bisa nunas tirta, tanpa harus nangkil ke pura. Saat menggelar upacara penguburan, joli tetap bisa diarak tanpa menimbulkan kegaduhan, bahkan di daerah Gianyar beberapa waktu lalu, saya dengar ada acara pengabenan yang digelar menggunakan iring-iringan mobil.

Dalam segala keterbatasannya, adat dan agama dapat serta merta beradaptasi seketika. Menyusun ulang pola kerja dan struktur dramaturgi peristiwa. Dari yang semula berbentuk kolektif, dimana masyarakat harus berkumpul bersama di pura, kini begerak secara estafet, dari pura ke pura, ke bale banjar, lalu ke rumah masing-masing. Dari yang dulunya riuh digelar, kini menjadi begitu sunyi. Atau pada kasus pengabenan di Gianyar yang mempergunakan iringan mobil. Mobil satu dengan lainnya dipertautkan menggunakan bentangan kain putih, seolah menjadi sekumpulan orang-orang yang mengiringi pengabenan. Maka mobil boleh jadi dapat diartikulasikan sebagai tubuh manusia Bali hari ini.

Kenyataan-kenyataan adat dan agama macam ini sangat bertolak belakang dengan yang biasa direpresentasikan pada panggung pertunjukan. Yang sekali lagi, selalu saja menganggap adat dan agama begitu rentan dengan perubahan-perubahan, dengan kemajuan zaman yang menggoyahkan esensi dan kebermaknaan adat dan agama. Benarkah adat dan agama yang lemah? Atau diri kita yang melemahkannya untuk mengaburkan keterbatasan pemahaman akan adat dan agama itu sendiri?

Di masa pandemi, rumah menjadi penjara yang mengekang ruang gerak manusianya. Sementara adat dan agama dengan bebas berkelindan. Lewat siaran televisi, Tri Sandya jadi penggenap hari-hari. Tiga kali sehari. Tetumbenan menonton televisi, pada jeda sejenak Tri Sandya, saya sendiri jadi merasa tengah melakukan Tri Sandya. Bisakah pada keterjedaan yang sejenak itu kita sebut sebagai ibadah? Bisakah kita meyakini bahwa Tuhan tengah berada di televisi, mengamini khusuk tatapan kita pada layar kaca sebagai doa kepada-Nya?

Pelan dan pasti Tri Sandya juga meranggas masuk hingga ke ruang digital. Memenuhi konten-konten media sosial semacam facebook, instagram dan youtube. Bersebelahan dengan tik-tok, youtuber, serta berta-berita yang meng-update berapa banyak yang terpapar dan meninggal karena corona. Tak hanya Tri Sandya, ada pula dharma wacana, piodalan, sampai Beghawad Gita yang jumlah penontonnya bisa mencapai puluhan bahkan sampai ratusan ribu. Yang kini, senantiasa diputar oleh ayah dan ibu sebagai pengisi jeda percakapan mereka yang telah habis.

Pada masa pandemi corona, saat panggung telah kehilangan penontonnya, saat panggung kehilangan kegarangannya mengkritisi dan berpetatah-petitih, saat diri teramat uring-uringan di dalam rumah, adat dan agama lempeng saja keluar masuk media. Saya bayangkan, seorang ida pedanda di suatu griya, kini sedang menyulut rokok klepus-klepus sembari mengontak kleneng Tri Sandya di HP. Sementara saya? Jangankan klepas-klepus, pis meli roko dogen suba tusing ada!

Ulian corona, telah gati suba olah-olahane! [T]

Denpasar, 2020

Tags: balivirus corona
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Perbekel dalam Kumpulan Cerpen “Ngipiang Jokowi”

Next Post

Lateng, Pengalah Leak

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Lateng, Pengalah Leak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co