24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Corona, “Telah Gati Suba Olah-olahane!”

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
May 14, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Yen bendan zamane suba maju, raga sing perlu buin ngae penjor ajak banten. Tinggal klik dogen tombole, sruuutt! Pesu be penjor pedidi. Klik bin cepok, casss! Pesu be makejang soroh bantene. Cara hologram.

Yen pedanda ngantebang banten di pura, sing perlu ngeleneng buin. Pedanda cuma negak dogen. Klik tombol on di tape, pesu be puja Tri Sandya. Pedanda tinggal santai, ngeroko gen be klepus-klepus.

Pokokne aluh yen zaman suba maju!

Bagi orang Bali kebanyakan, saya yakin pernah meguyu seperti guyonan di atas. Tentang Tri Sandya, pedanda, hologram, dan kemajuan-kemajuan zaman yang menyertai, tentunya dengan beragam bentuk dan variasi tingkat lucu masing-masing. Pada masa SMA, saya dan kawan-kawan kerapkali berseloroh, membayangkan kemajuan zaman akan hadir untuk mempermudah kehidupan sehari-hari.

Seperti apa bentuk kemajuan itu, bagaimana rupanya, tak pernah terbayang jelas sejatinya di kepala. Ia begitu jauh. Begitu abstrak. Pun dengan definisi terhadap kemajuan itu sendiri. Tak pernah benar-benar kami pahami artinya. Yang terbayang tentang kemajuan hanyalah gambaran digital dengan sejumlah tombol yang sekali pencet, membuat segalanya jadi lebih sederhana dan efisien.

Entah kenapa, candaan akan kemajuan zaman cenderung dilayangkan tak jauh dari soal adat dan agama. Seingat saya, sedikit sekali guyonan tentang kemajuan zaman disangkutpautkan pada soal kemudahan mengerjakan PR misalnya. Mengapa kami tak membayangkan sebuah tombol yang sekali klik, PR akan selesai dengan mudah? Dengan sekali klik, akan muncul bakso, sosis, mie ayam, atau nasi bungkus di kelas tanpa harus repot ke kantin saling berdesakan? Padahal jika mau jujur, realitas sekolah dalam konteks kami masa itu sesungguhnya jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan persoalan adat dan agama, yang justru amat jarang kami ikuti apalagi kami pahami.

Adat dan agama juga kerapkali beririsan dalam konteks pentas teater. Pada banyak kecenderungan pentas di Bali, adat dan agama menjadi tema central cerita, bisa juga menjadi bahan sempalan. Menyentil kehidupan beribadat dan beragama masyarakat atau mempergunakannya sebagai bahan petuah. Kecenderungan ini seolah menyiratkan bahwa persoalan Bali tak boleh jauh-jauh dari adat dan agama. Ada kesan, jika pentas tak memakai framing adat dan agama maka pertunjukan jadi bukan Bali.

Mungkin di sinilah persamaan antara pertunjukan kawan-kawan teater Bali dengan guyonan anak-anak SMA tadi. Seringkali harus merasa dekat dengan adat dan agama. Seringkali gatal untuk berpetatah-petitih atau mengkritisi. Saking khusuknya kita pada adat dan agama, definisi tentang kemajuan zaman misalnya, jadi salah satu gagasan yang dibiarkan mengawang tak maju-maju dari dulu sampai sekarang.

Kemajuan zaman tak pernah dipergunakan sebagai ruang kerja baru dalam menatap kenyataan. Mempengaruhi pola pandang dan lanskap laku hidup manusia. Kemajuan zaman tetap menjadi entitas abstrak, yang naasnya cenderung dilekatkan pada oposisi biner baik buruk. Sebagai sebab goyahnya kehidupan adat dan agama orang Bali. Tak khayal, ada saja kita jumpai cerita-cerita naif semacam kemajuan zaman yang membuat orang tak lagi sembahyang, terjebak dalam perbuatan buruk lalu akhirnya terjerat hukum karma phala.

Dalam konteks penyusunan strategi pertunjukan, kemajuan zaman juga hanya dimanfaatkan sebagai spektakel. Menembakan proyektor bergambar pada backroud panggung, mengganti  bentuk pencahayaan lampu sentir menjadi lampu warna-warni, atau mempergunakan teknologi mutakhir lainnya sebagai ornamen akrobatik para aktor di atas panggung. Sementara isi pentas tetap memakai kerangka kerja pertunjukan yang sudah-sudah. Berlandaskan adat agama dengan pola pikir yang sama. Seolah-olah adat dan agama adalah sesuatu yang ajeg. Entitas yang lemah dan lunglai. Maka tugas orang panggunglah yang mesti menegakan dan menjaganya.

Di tengah masa inkubasi corona ini, saat tak ada pentas yang terselenggara, saat masyarakat Bali suba telah gati olah-olahane, adat dan agama justru yang paling cair menyikapi keadaan. Waktunya odalan di Pura Batur, saya dan keluarga tetap bisa nunas tirta, tanpa harus nangkil ke pura. Saat menggelar upacara penguburan, joli tetap bisa diarak tanpa menimbulkan kegaduhan, bahkan di daerah Gianyar beberapa waktu lalu, saya dengar ada acara pengabenan yang digelar menggunakan iring-iringan mobil.

Dalam segala keterbatasannya, adat dan agama dapat serta merta beradaptasi seketika. Menyusun ulang pola kerja dan struktur dramaturgi peristiwa. Dari yang semula berbentuk kolektif, dimana masyarakat harus berkumpul bersama di pura, kini begerak secara estafet, dari pura ke pura, ke bale banjar, lalu ke rumah masing-masing. Dari yang dulunya riuh digelar, kini menjadi begitu sunyi. Atau pada kasus pengabenan di Gianyar yang mempergunakan iringan mobil. Mobil satu dengan lainnya dipertautkan menggunakan bentangan kain putih, seolah menjadi sekumpulan orang-orang yang mengiringi pengabenan. Maka mobil boleh jadi dapat diartikulasikan sebagai tubuh manusia Bali hari ini.

Kenyataan-kenyataan adat dan agama macam ini sangat bertolak belakang dengan yang biasa direpresentasikan pada panggung pertunjukan. Yang sekali lagi, selalu saja menganggap adat dan agama begitu rentan dengan perubahan-perubahan, dengan kemajuan zaman yang menggoyahkan esensi dan kebermaknaan adat dan agama. Benarkah adat dan agama yang lemah? Atau diri kita yang melemahkannya untuk mengaburkan keterbatasan pemahaman akan adat dan agama itu sendiri?

Di masa pandemi, rumah menjadi penjara yang mengekang ruang gerak manusianya. Sementara adat dan agama dengan bebas berkelindan. Lewat siaran televisi, Tri Sandya jadi penggenap hari-hari. Tiga kali sehari. Tetumbenan menonton televisi, pada jeda sejenak Tri Sandya, saya sendiri jadi merasa tengah melakukan Tri Sandya. Bisakah pada keterjedaan yang sejenak itu kita sebut sebagai ibadah? Bisakah kita meyakini bahwa Tuhan tengah berada di televisi, mengamini khusuk tatapan kita pada layar kaca sebagai doa kepada-Nya?

Pelan dan pasti Tri Sandya juga meranggas masuk hingga ke ruang digital. Memenuhi konten-konten media sosial semacam facebook, instagram dan youtube. Bersebelahan dengan tik-tok, youtuber, serta berta-berita yang meng-update berapa banyak yang terpapar dan meninggal karena corona. Tak hanya Tri Sandya, ada pula dharma wacana, piodalan, sampai Beghawad Gita yang jumlah penontonnya bisa mencapai puluhan bahkan sampai ratusan ribu. Yang kini, senantiasa diputar oleh ayah dan ibu sebagai pengisi jeda percakapan mereka yang telah habis.

Pada masa pandemi corona, saat panggung telah kehilangan penontonnya, saat panggung kehilangan kegarangannya mengkritisi dan berpetatah-petitih, saat diri teramat uring-uringan di dalam rumah, adat dan agama lempeng saja keluar masuk media. Saya bayangkan, seorang ida pedanda di suatu griya, kini sedang menyulut rokok klepus-klepus sembari mengontak kleneng Tri Sandya di HP. Sementara saya? Jangankan klepas-klepus, pis meli roko dogen suba tusing ada!

Ulian corona, telah gati suba olah-olahane! [T]

Denpasar, 2020

Tags: balivirus corona
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Perbekel dalam Kumpulan Cerpen “Ngipiang Jokowi”

Next Post

Lateng, Pengalah Leak

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Lateng, Pengalah Leak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co