2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Corona, “Telah Gati Suba Olah-olahane!”

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
May 14, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Yen bendan zamane suba maju, raga sing perlu buin ngae penjor ajak banten. Tinggal klik dogen tombole, sruuutt! Pesu be penjor pedidi. Klik bin cepok, casss! Pesu be makejang soroh bantene. Cara hologram.

Yen pedanda ngantebang banten di pura, sing perlu ngeleneng buin. Pedanda cuma negak dogen. Klik tombol on di tape, pesu be puja Tri Sandya. Pedanda tinggal santai, ngeroko gen be klepus-klepus.

Pokokne aluh yen zaman suba maju!

Bagi orang Bali kebanyakan, saya yakin pernah meguyu seperti guyonan di atas. Tentang Tri Sandya, pedanda, hologram, dan kemajuan-kemajuan zaman yang menyertai, tentunya dengan beragam bentuk dan variasi tingkat lucu masing-masing. Pada masa SMA, saya dan kawan-kawan kerapkali berseloroh, membayangkan kemajuan zaman akan hadir untuk mempermudah kehidupan sehari-hari.

Seperti apa bentuk kemajuan itu, bagaimana rupanya, tak pernah terbayang jelas sejatinya di kepala. Ia begitu jauh. Begitu abstrak. Pun dengan definisi terhadap kemajuan itu sendiri. Tak pernah benar-benar kami pahami artinya. Yang terbayang tentang kemajuan hanyalah gambaran digital dengan sejumlah tombol yang sekali pencet, membuat segalanya jadi lebih sederhana dan efisien.

Entah kenapa, candaan akan kemajuan zaman cenderung dilayangkan tak jauh dari soal adat dan agama. Seingat saya, sedikit sekali guyonan tentang kemajuan zaman disangkutpautkan pada soal kemudahan mengerjakan PR misalnya. Mengapa kami tak membayangkan sebuah tombol yang sekali klik, PR akan selesai dengan mudah? Dengan sekali klik, akan muncul bakso, sosis, mie ayam, atau nasi bungkus di kelas tanpa harus repot ke kantin saling berdesakan? Padahal jika mau jujur, realitas sekolah dalam konteks kami masa itu sesungguhnya jauh lebih dekat jika dibandingkan dengan persoalan adat dan agama, yang justru amat jarang kami ikuti apalagi kami pahami.

Adat dan agama juga kerapkali beririsan dalam konteks pentas teater. Pada banyak kecenderungan pentas di Bali, adat dan agama menjadi tema central cerita, bisa juga menjadi bahan sempalan. Menyentil kehidupan beribadat dan beragama masyarakat atau mempergunakannya sebagai bahan petuah. Kecenderungan ini seolah menyiratkan bahwa persoalan Bali tak boleh jauh-jauh dari adat dan agama. Ada kesan, jika pentas tak memakai framing adat dan agama maka pertunjukan jadi bukan Bali.

Mungkin di sinilah persamaan antara pertunjukan kawan-kawan teater Bali dengan guyonan anak-anak SMA tadi. Seringkali harus merasa dekat dengan adat dan agama. Seringkali gatal untuk berpetatah-petitih atau mengkritisi. Saking khusuknya kita pada adat dan agama, definisi tentang kemajuan zaman misalnya, jadi salah satu gagasan yang dibiarkan mengawang tak maju-maju dari dulu sampai sekarang.

Kemajuan zaman tak pernah dipergunakan sebagai ruang kerja baru dalam menatap kenyataan. Mempengaruhi pola pandang dan lanskap laku hidup manusia. Kemajuan zaman tetap menjadi entitas abstrak, yang naasnya cenderung dilekatkan pada oposisi biner baik buruk. Sebagai sebab goyahnya kehidupan adat dan agama orang Bali. Tak khayal, ada saja kita jumpai cerita-cerita naif semacam kemajuan zaman yang membuat orang tak lagi sembahyang, terjebak dalam perbuatan buruk lalu akhirnya terjerat hukum karma phala.

Dalam konteks penyusunan strategi pertunjukan, kemajuan zaman juga hanya dimanfaatkan sebagai spektakel. Menembakan proyektor bergambar pada backroud panggung, mengganti  bentuk pencahayaan lampu sentir menjadi lampu warna-warni, atau mempergunakan teknologi mutakhir lainnya sebagai ornamen akrobatik para aktor di atas panggung. Sementara isi pentas tetap memakai kerangka kerja pertunjukan yang sudah-sudah. Berlandaskan adat agama dengan pola pikir yang sama. Seolah-olah adat dan agama adalah sesuatu yang ajeg. Entitas yang lemah dan lunglai. Maka tugas orang panggunglah yang mesti menegakan dan menjaganya.

Di tengah masa inkubasi corona ini, saat tak ada pentas yang terselenggara, saat masyarakat Bali suba telah gati olah-olahane, adat dan agama justru yang paling cair menyikapi keadaan. Waktunya odalan di Pura Batur, saya dan keluarga tetap bisa nunas tirta, tanpa harus nangkil ke pura. Saat menggelar upacara penguburan, joli tetap bisa diarak tanpa menimbulkan kegaduhan, bahkan di daerah Gianyar beberapa waktu lalu, saya dengar ada acara pengabenan yang digelar menggunakan iring-iringan mobil.

Dalam segala keterbatasannya, adat dan agama dapat serta merta beradaptasi seketika. Menyusun ulang pola kerja dan struktur dramaturgi peristiwa. Dari yang semula berbentuk kolektif, dimana masyarakat harus berkumpul bersama di pura, kini begerak secara estafet, dari pura ke pura, ke bale banjar, lalu ke rumah masing-masing. Dari yang dulunya riuh digelar, kini menjadi begitu sunyi. Atau pada kasus pengabenan di Gianyar yang mempergunakan iringan mobil. Mobil satu dengan lainnya dipertautkan menggunakan bentangan kain putih, seolah menjadi sekumpulan orang-orang yang mengiringi pengabenan. Maka mobil boleh jadi dapat diartikulasikan sebagai tubuh manusia Bali hari ini.

Kenyataan-kenyataan adat dan agama macam ini sangat bertolak belakang dengan yang biasa direpresentasikan pada panggung pertunjukan. Yang sekali lagi, selalu saja menganggap adat dan agama begitu rentan dengan perubahan-perubahan, dengan kemajuan zaman yang menggoyahkan esensi dan kebermaknaan adat dan agama. Benarkah adat dan agama yang lemah? Atau diri kita yang melemahkannya untuk mengaburkan keterbatasan pemahaman akan adat dan agama itu sendiri?

Di masa pandemi, rumah menjadi penjara yang mengekang ruang gerak manusianya. Sementara adat dan agama dengan bebas berkelindan. Lewat siaran televisi, Tri Sandya jadi penggenap hari-hari. Tiga kali sehari. Tetumbenan menonton televisi, pada jeda sejenak Tri Sandya, saya sendiri jadi merasa tengah melakukan Tri Sandya. Bisakah pada keterjedaan yang sejenak itu kita sebut sebagai ibadah? Bisakah kita meyakini bahwa Tuhan tengah berada di televisi, mengamini khusuk tatapan kita pada layar kaca sebagai doa kepada-Nya?

Pelan dan pasti Tri Sandya juga meranggas masuk hingga ke ruang digital. Memenuhi konten-konten media sosial semacam facebook, instagram dan youtube. Bersebelahan dengan tik-tok, youtuber, serta berta-berita yang meng-update berapa banyak yang terpapar dan meninggal karena corona. Tak hanya Tri Sandya, ada pula dharma wacana, piodalan, sampai Beghawad Gita yang jumlah penontonnya bisa mencapai puluhan bahkan sampai ratusan ribu. Yang kini, senantiasa diputar oleh ayah dan ibu sebagai pengisi jeda percakapan mereka yang telah habis.

Pada masa pandemi corona, saat panggung telah kehilangan penontonnya, saat panggung kehilangan kegarangannya mengkritisi dan berpetatah-petitih, saat diri teramat uring-uringan di dalam rumah, adat dan agama lempeng saja keluar masuk media. Saya bayangkan, seorang ida pedanda di suatu griya, kini sedang menyulut rokok klepus-klepus sembari mengontak kleneng Tri Sandya di HP. Sementara saya? Jangankan klepas-klepus, pis meli roko dogen suba tusing ada!

Ulian corona, telah gati suba olah-olahane! [T]

Denpasar, 2020

Tags: balivirus corona
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Perbekel dalam Kumpulan Cerpen “Ngipiang Jokowi”

Next Post

Lateng, Pengalah Leak

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Lateng, Pengalah Leak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co