3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan

Penulis Cerita Katagori Siswa by Penulis Cerita Katagori Siswa
April 4, 2020
in Esai
Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan

Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan / Oleh Made Yanti (SMA PGRI 1 Amlapura)

Oleh: Made Yanti – SMA PGRI 1 Amlapura

April 2020  Indonesia mulai terpapar virus covid-19 atau lebih dikenal dengan nama virus corona. Virus ini lah yang membuat banyak orang resah dan gelisah sampai-sampai pemerintah membuat kebijakan 3B (belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah) selama 14 hari ke depan, bahkan diperpanjang hingga 21 April 2020.  Ini merupakan cara pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Lebih-lebih ada kecenderungan jumlah positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Mungkin untuk sebagian orang ini merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat setelah sekian lama bekerja dan waktu yang pas untuk membuat ikatan keluarga mereka jauh lebih erat.

Tapi tidak untuk diriku, hanya ada rasa resah, takut, gelisah, menderita, dan bingung akan keadaan ini.

Di satu sisi aku harus mengerjakan tugas dari guru-guru sesuai mapel pembelajaran di sekolah yang cukup banyak, terkadang aku kesal dengan guru-guru yang memberikan tugas di saat  pekerjaan ku belum selesai dan aku harus bekerja bekejar-kejaran dengan waktu karena harus mengikuti kuis online tepat waktu.  Mungkin guru berpikir jika siswa itu libur maka tidak ada pekerjaan lain selain makan dan tidur yang dilakukan di rumahnya.

Di satu sisi aku harus membantu orang tuaku bekerja, lebih tepatnya paman si pemilik rumah sebab aku tinggal bersamanya. Ya.. kehidupan menumpang di rumah orang lain tidaklah mudah, tidak seperti di rumah sendiri. Di rumah sendiri, entah rumah kita bersih, kotor, bahkan seperti kapal pecahpun tak ada yang menghiraukanku. Kehidupan menumpang berbeda 180 derajat dari kehidupan di rumah sendiri.

Aku lahir dan remaja di Lampung. Bapak dan ibuku adalah penggarap kebun sawit di sana. Menginjak SMA aku pulang ke kampung halaman, di Padangkerta, Karangasem dan di tinggal di kerabat bapakku. Aku memanggilnya we (paman). Aku tidak begitu tahu kekerabatan kami, apakah pamanku ini saudara bapakku (misan misalnya) atau hanya sebatas kenalan (suatu saat pasti aku tanyakan). Ini adalah tahun kedua aku di Karangasem, mengenyam pendidikan di SMA PGRI 1 Amlapura. Membantu pekerjaan rumah bukanlah hal yang sulit bagiku sebab saat di Lampung, pekerjaan orang tuaku di dapur atau di kebun sering aku lakukan. Namun, menjadi petani di sawah, menuruni lumpur, ngulah kedi, dan memetiki bunga pacah tidak pernah aku bayangkan. Akhirnya, bisa juga aku lakoni. Biasanya siang hari saat pulang sekolah aku akan duduk di sawah: ngulah kedis hingga sore. Lalu, sore harinya nektek dagdag untuk pakan babi. Jadi, waktu istirahatku adalah saat berada di sekolah dan tidur di malam hari.

Di saat darurat Covid-19, aku lebih banyak di rumah. Sekolah ditutup. Pembelajaran dilaksanakan secara daring. Semula aku menduga bahwa semua akan menyenangkan: mengerjakan tugas, membantu kerabat bapakku yang kupanggil paman, kemudian istirahat. Namun, tidak demikian adanya.

Ada banyak pikiran yang bergelindan. “Jika tidak melakukan apa-apa dan hanya mengerjakan tugas sekolah mungkin pamanku berpikir aku mengerjakan tugas untuk menghindari pekerjaan di rumahnya?” Setiap kali aku masuk ke kamar, pamanku selalu masuk dan menyuruhku ini dan itu. Ada banyak pikiran lain yang berkeliaran dan itu membuatku rindu dengan sekolah.

Aku yang harus membagi waktu untuk mengerjakan tugas dan membatu pamanku, memang sulit. Terkadang aku harus memilih sesuatu antara mengikuti kuis atau memetik bunga sebagai sambilan ku sepulang sekolah yang kini aku kerjakan di pagi hari setelah matari terbit dan cuaca mulai panas. Waktu sudah menunjukan siang hari, aku masih tetap di tengah sawah yang tersebar ratusan bunga, mungkin seperti padang bunga di taman tapi tidak beraturan tapi tidak seindah yang di bayangkan. Hingga jam 11 siang.

Panas, gelisah, haus, capek itu yang terasa kala itu. Jika belum jam dan belum merasa lelah sekali aku belum ingin pulang jika aku pulang mungkin ada pekerjaan lain yang menanti dirumah, itu pikirku. Tapi agaknya keinginan menghindari pekerjaan  yang lebih berat aku malah merasa kepalaku mulai pusing akibat panasnya terik matahari yang begitu menyengat, baru lah aku pulang kerumah.

Di perjalanan pulang aku sering membayangkan lembutnya kasur dan bantal, dinginnya air di kulkas, lezatnya makanan, duhhh menyenangkan rasanya bisa menikmati itu semua.

Tapi yang kudapatkan sesampainya di rumah adalah rumah kotor dan babi-babi yang harus aku siram. Pernah aku tidak menghiraukannya. Aku masuk kamar mengambil handphone untuk mengerjakan tugas secara online. Membiarkan rumah kotor dan bau kotoran babi yang menyengat. Yang kudapatkan adalah lirikan aneh. Ada suara senyap lewat bibir paman dan bibiku yang kemakmak-kemikmik. Pikiranku, itu pasti membicarakanku.

Seringkali tubuh ini tak kuat berdiri lagi setelah berjam-jam berdiri di tengah sawah, tapi babi-babi terus saja memanggil dengan bahasanya yang membuat telingaku serasa pecah saat mendengarkan suara mereka. Tak tega rasanya melihat babi-babi itu berteriak-teriak dan aku memutuskan memandikan mereka dulu sebelum mengerjakan tugas. Belum setengah babi yang aku mandikan bibiku datang menghampiriku, “Sudah selesai mandikan babinya?”. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi suaranya terdengar agak tinggi. Saat itu aku hanya bisa diam dan menggelengkan kepala.

Terlintas di pikiranku, aku yang dari dini hari bangun, bergegas ke sawah, memandikan babi dan rumah masih dalam keadaan kotor dan dia dengan mudahnya berkata seperti itu.  Astaga apa yang sudah ia pikirkan tentangku.

Dua pekan di rumah, hanya begitu saja tidak ada yang istimewa. Bahkan, merasa jauh lebih bodoh dari biasanya. Aku berada dalam rutinitas yang penuh dengan tekanan. Setiap langkahku seolah ada yang mengintai. Tidak ada keceriaan sebab momen ngobrol bersama teman: curhat, bercanda dan sebagainya hilang semua.

Waktu itu Kasanga, ternyata pamanku belum pergi ke pura dan aku disuruh untuk mengantarkannya ke pura. Belum jauh dari rumah masih di sekitar gang rumah seketika pemilik rumah terjatuh dari motor tanpa aku sadari, banten yang dibawanya berserakan kemana-mana, kepalanya mengeluarkan darah dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Yang hanya bisa ku lakukan saat itu adalah terdiam, menatapi pamanku yang sudah berbaring lemas di atas jalan.

Untung saja ada yang melintas digang itu dan membantu ku membawa pamanku ke rumah sakit terdekat. Di sepanjang jalan, wajah pamanku terus bergelindan. Terus pula terngiang kata-katanya yang menyakitkan. Sebagian isi kepalaku bersorak. Bersorak bahagia sebab ini adalah imbalan atas rasa sakit yang selama ini kurasakan. Namun, sebagian lagi isi otakku berkata sinis, menentangku, menghinaku seolah aku takpunya belas kasihan. Sepanjang perjalanan aku terus menangis. Yang ada dipikiranku saat itu adalah “aku tidak sengaja, aku tidak sengaja dan aku tidak berniat melakukan itu semua!”

Setelah diperiksa oleh dokter ternyata penyakit hepilepsi yang dideritanya 5 tahun belakangan ini kumat lagi dan itu yang membuatanya pingsan ketika mengendarai motor dan membuatnya terjatuh. Jadi, itu bukan salahku. Walaupun demikian, masih pula ada hal yang mengganjal, tentang pikiranku terhadap pamanku, juga bibikku. Melihatnya terbaring, aku seperti melihat kembali kenangan saat pertama kali pulang ke kampung halaman, tinggal bersamanya, ditunjukkan tempat tidur dan dimasakkan.

Melihatnya terbaring, aku melihat kembali kenangan saat biaya SPP belum dikirimkan bapakku, ia bersedia meminjamkan. Melihatnya terbaring, aku seperti mendengar kembali omelannya saat aku pulang malam sehingga besoknya aku hanya diam di rumah. Omelan itu adalah pertanda sebab jika aku keluar bersama temanku, musibah mungkin terjadi seperti temanku. Melihatnya terbaring, aku seolah disadarkan bahwa ada banyak kebaikan yang sudah dilakukan pamanku untukku. Saat tertekan, aku seolah melupakan itu, hanya mengingat suara-suaranya yang meninggi dan tugas-tugas yang dibebankan.

Mungkin ini ujian bagi diriku agar aku lebih bisa memahami seseorang dan mengargai kehidupan. Dari kejadian itu aku sadar bahwa itu semua demi kebaikanku sendiri dan agar aku lebih mandiri, mungkin dulu aku terlalu disayang dan dimanja oleh  kedua orang tuaku, apa saja yang aku minta pasti diberikan dan semua yang aku lakukan seolah benar di mata mereka, saat itu aku merasa aku lah anak paling beruntung di dunia, mungkin karna aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga. [T]

____

Biografi

Made Yanti adalah siswa kelas XI MIPA 1 SMA PGRI 1 Amlapura. Ia adalah pimpinan redaksi majalah Waskita, majalah SMA PGRI 1 Amlapura

Tags: Lomba Menulis Cerita Dari Rumah Tentang Rumah
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar di Rumah, Belajar Menanam Padi

Next Post

Dunia Tanpa Suara

Penulis Cerita Katagori Siswa

Penulis Cerita Katagori Siswa

Cerita-cerita ini ditulis para peserta lomba menulis cerita Dari Rumah Tentang Rumah yang diselenggarakan tatkala.co untuk katagori siswa

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dunia Tanpa Suara

Dunia Tanpa Suara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co