24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan

Penulis Cerita Katagori Siswa by Penulis Cerita Katagori Siswa
April 4, 2020
in Esai
Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan

Tentang Corona, “Ngalap Pacah”, dan Pikiran Buruk yang Berkelindan / Oleh Made Yanti (SMA PGRI 1 Amlapura)

Oleh: Made Yanti – SMA PGRI 1 Amlapura

April 2020  Indonesia mulai terpapar virus covid-19 atau lebih dikenal dengan nama virus corona. Virus ini lah yang membuat banyak orang resah dan gelisah sampai-sampai pemerintah membuat kebijakan 3B (belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah) selama 14 hari ke depan, bahkan diperpanjang hingga 21 April 2020.  Ini merupakan cara pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Lebih-lebih ada kecenderungan jumlah positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Mungkin untuk sebagian orang ini merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat setelah sekian lama bekerja dan waktu yang pas untuk membuat ikatan keluarga mereka jauh lebih erat.

Tapi tidak untuk diriku, hanya ada rasa resah, takut, gelisah, menderita, dan bingung akan keadaan ini.

Di satu sisi aku harus mengerjakan tugas dari guru-guru sesuai mapel pembelajaran di sekolah yang cukup banyak, terkadang aku kesal dengan guru-guru yang memberikan tugas di saat  pekerjaan ku belum selesai dan aku harus bekerja bekejar-kejaran dengan waktu karena harus mengikuti kuis online tepat waktu.  Mungkin guru berpikir jika siswa itu libur maka tidak ada pekerjaan lain selain makan dan tidur yang dilakukan di rumahnya.

Di satu sisi aku harus membantu orang tuaku bekerja, lebih tepatnya paman si pemilik rumah sebab aku tinggal bersamanya. Ya.. kehidupan menumpang di rumah orang lain tidaklah mudah, tidak seperti di rumah sendiri. Di rumah sendiri, entah rumah kita bersih, kotor, bahkan seperti kapal pecahpun tak ada yang menghiraukanku. Kehidupan menumpang berbeda 180 derajat dari kehidupan di rumah sendiri.

Aku lahir dan remaja di Lampung. Bapak dan ibuku adalah penggarap kebun sawit di sana. Menginjak SMA aku pulang ke kampung halaman, di Padangkerta, Karangasem dan di tinggal di kerabat bapakku. Aku memanggilnya we (paman). Aku tidak begitu tahu kekerabatan kami, apakah pamanku ini saudara bapakku (misan misalnya) atau hanya sebatas kenalan (suatu saat pasti aku tanyakan). Ini adalah tahun kedua aku di Karangasem, mengenyam pendidikan di SMA PGRI 1 Amlapura. Membantu pekerjaan rumah bukanlah hal yang sulit bagiku sebab saat di Lampung, pekerjaan orang tuaku di dapur atau di kebun sering aku lakukan. Namun, menjadi petani di sawah, menuruni lumpur, ngulah kedi, dan memetiki bunga pacah tidak pernah aku bayangkan. Akhirnya, bisa juga aku lakoni. Biasanya siang hari saat pulang sekolah aku akan duduk di sawah: ngulah kedis hingga sore. Lalu, sore harinya nektek dagdag untuk pakan babi. Jadi, waktu istirahatku adalah saat berada di sekolah dan tidur di malam hari.

Di saat darurat Covid-19, aku lebih banyak di rumah. Sekolah ditutup. Pembelajaran dilaksanakan secara daring. Semula aku menduga bahwa semua akan menyenangkan: mengerjakan tugas, membantu kerabat bapakku yang kupanggil paman, kemudian istirahat. Namun, tidak demikian adanya.

Ada banyak pikiran yang bergelindan. “Jika tidak melakukan apa-apa dan hanya mengerjakan tugas sekolah mungkin pamanku berpikir aku mengerjakan tugas untuk menghindari pekerjaan di rumahnya?” Setiap kali aku masuk ke kamar, pamanku selalu masuk dan menyuruhku ini dan itu. Ada banyak pikiran lain yang berkeliaran dan itu membuatku rindu dengan sekolah.

Aku yang harus membagi waktu untuk mengerjakan tugas dan membatu pamanku, memang sulit. Terkadang aku harus memilih sesuatu antara mengikuti kuis atau memetik bunga sebagai sambilan ku sepulang sekolah yang kini aku kerjakan di pagi hari setelah matari terbit dan cuaca mulai panas. Waktu sudah menunjukan siang hari, aku masih tetap di tengah sawah yang tersebar ratusan bunga, mungkin seperti padang bunga di taman tapi tidak beraturan tapi tidak seindah yang di bayangkan. Hingga jam 11 siang.

Panas, gelisah, haus, capek itu yang terasa kala itu. Jika belum jam dan belum merasa lelah sekali aku belum ingin pulang jika aku pulang mungkin ada pekerjaan lain yang menanti dirumah, itu pikirku. Tapi agaknya keinginan menghindari pekerjaan  yang lebih berat aku malah merasa kepalaku mulai pusing akibat panasnya terik matahari yang begitu menyengat, baru lah aku pulang kerumah.

Di perjalanan pulang aku sering membayangkan lembutnya kasur dan bantal, dinginnya air di kulkas, lezatnya makanan, duhhh menyenangkan rasanya bisa menikmati itu semua.

Tapi yang kudapatkan sesampainya di rumah adalah rumah kotor dan babi-babi yang harus aku siram. Pernah aku tidak menghiraukannya. Aku masuk kamar mengambil handphone untuk mengerjakan tugas secara online. Membiarkan rumah kotor dan bau kotoran babi yang menyengat. Yang kudapatkan adalah lirikan aneh. Ada suara senyap lewat bibir paman dan bibiku yang kemakmak-kemikmik. Pikiranku, itu pasti membicarakanku.

Seringkali tubuh ini tak kuat berdiri lagi setelah berjam-jam berdiri di tengah sawah, tapi babi-babi terus saja memanggil dengan bahasanya yang membuat telingaku serasa pecah saat mendengarkan suara mereka. Tak tega rasanya melihat babi-babi itu berteriak-teriak dan aku memutuskan memandikan mereka dulu sebelum mengerjakan tugas. Belum setengah babi yang aku mandikan bibiku datang menghampiriku, “Sudah selesai mandikan babinya?”. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi suaranya terdengar agak tinggi. Saat itu aku hanya bisa diam dan menggelengkan kepala.

Terlintas di pikiranku, aku yang dari dini hari bangun, bergegas ke sawah, memandikan babi dan rumah masih dalam keadaan kotor dan dia dengan mudahnya berkata seperti itu.  Astaga apa yang sudah ia pikirkan tentangku.

Dua pekan di rumah, hanya begitu saja tidak ada yang istimewa. Bahkan, merasa jauh lebih bodoh dari biasanya. Aku berada dalam rutinitas yang penuh dengan tekanan. Setiap langkahku seolah ada yang mengintai. Tidak ada keceriaan sebab momen ngobrol bersama teman: curhat, bercanda dan sebagainya hilang semua.

Waktu itu Kasanga, ternyata pamanku belum pergi ke pura dan aku disuruh untuk mengantarkannya ke pura. Belum jauh dari rumah masih di sekitar gang rumah seketika pemilik rumah terjatuh dari motor tanpa aku sadari, banten yang dibawanya berserakan kemana-mana, kepalanya mengeluarkan darah dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Yang hanya bisa ku lakukan saat itu adalah terdiam, menatapi pamanku yang sudah berbaring lemas di atas jalan.

Untung saja ada yang melintas digang itu dan membantu ku membawa pamanku ke rumah sakit terdekat. Di sepanjang jalan, wajah pamanku terus bergelindan. Terus pula terngiang kata-katanya yang menyakitkan. Sebagian isi kepalaku bersorak. Bersorak bahagia sebab ini adalah imbalan atas rasa sakit yang selama ini kurasakan. Namun, sebagian lagi isi otakku berkata sinis, menentangku, menghinaku seolah aku takpunya belas kasihan. Sepanjang perjalanan aku terus menangis. Yang ada dipikiranku saat itu adalah “aku tidak sengaja, aku tidak sengaja dan aku tidak berniat melakukan itu semua!”

Setelah diperiksa oleh dokter ternyata penyakit hepilepsi yang dideritanya 5 tahun belakangan ini kumat lagi dan itu yang membuatanya pingsan ketika mengendarai motor dan membuatnya terjatuh. Jadi, itu bukan salahku. Walaupun demikian, masih pula ada hal yang mengganjal, tentang pikiranku terhadap pamanku, juga bibikku. Melihatnya terbaring, aku seperti melihat kembali kenangan saat pertama kali pulang ke kampung halaman, tinggal bersamanya, ditunjukkan tempat tidur dan dimasakkan.

Melihatnya terbaring, aku melihat kembali kenangan saat biaya SPP belum dikirimkan bapakku, ia bersedia meminjamkan. Melihatnya terbaring, aku seperti mendengar kembali omelannya saat aku pulang malam sehingga besoknya aku hanya diam di rumah. Omelan itu adalah pertanda sebab jika aku keluar bersama temanku, musibah mungkin terjadi seperti temanku. Melihatnya terbaring, aku seolah disadarkan bahwa ada banyak kebaikan yang sudah dilakukan pamanku untukku. Saat tertekan, aku seolah melupakan itu, hanya mengingat suara-suaranya yang meninggi dan tugas-tugas yang dibebankan.

Mungkin ini ujian bagi diriku agar aku lebih bisa memahami seseorang dan mengargai kehidupan. Dari kejadian itu aku sadar bahwa itu semua demi kebaikanku sendiri dan agar aku lebih mandiri, mungkin dulu aku terlalu disayang dan dimanja oleh  kedua orang tuaku, apa saja yang aku minta pasti diberikan dan semua yang aku lakukan seolah benar di mata mereka, saat itu aku merasa aku lah anak paling beruntung di dunia, mungkin karna aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga. [T]

____

Biografi

Made Yanti adalah siswa kelas XI MIPA 1 SMA PGRI 1 Amlapura. Ia adalah pimpinan redaksi majalah Waskita, majalah SMA PGRI 1 Amlapura

Tags: Lomba Menulis Cerita Dari Rumah Tentang Rumah
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar di Rumah, Belajar Menanam Padi

Next Post

Dunia Tanpa Suara

Penulis Cerita Katagori Siswa

Penulis Cerita Katagori Siswa

Cerita-cerita ini ditulis para peserta lomba menulis cerita Dari Rumah Tentang Rumah yang diselenggarakan tatkala.co untuk katagori siswa

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Dunia Tanpa Suara

Dunia Tanpa Suara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co