2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Dunia Imajiner] – Saat Penyair Menjadi Presiden dan Menteri Pendidikan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
April 4, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Sebagai seorang penikmat sastra, pengagum sosok sastrawan tak ada salahnya kalau saya mempunyai khayalan liar. Entah kapan waktunya presiden saya adalah Goenawan Mohamad, menteri pendidikan saya adalah Sapardi Djoko Damono dan bupati saya adalah Made Adnyana Ole. Saya tak sanggup membayangkan betapa indahnya dunia kalau khayalan saya itu menjadi kenyataan. Untuk yang pertama dan ketiga mungkin saya perlu tidur nyenyak dulu biar bisa bermimpi seperti itu. Tapi untuk yang kedua itu, saya kira kita tak perlu mimpi. Cukup kita menengok sebentar ke perjalanan negeri kita tercinta ini.

Hari-hari ini dunia disibukkan oleh makhluk tak kasat mata, turunan kesekian dari virus corona yang mewabah dari negeri tirai bambu dan menyebar cepat ke penjuru dunia, nyaris tanpa terkecuali. Saya tak akan membahas tentang pandemi virus ini, karena sudah teramat banyak informasi yang berkelindan di media, baik media konvensional maupun jagat maya. Saat ini yang diperlukan cuma kecerdikan kita dalam memilah informasi tersebut, dan menjaga tangan untuk tak gatal menyebarkan informasi yang tak terbukti kebenarannnya.

Karena siapa tahu karena kegenitan jari jari kita, undang undang ITE bisa menjerat  dan mengantar kita ke gerbang hotel prodeo.

Mari menengok sebentar ke dunia pendidikan kita. Apa yang bisa anda ingat dari ide ide besar sang menteri termuda dalam sejarah Indonesia. Apa kabar kampus merdeka ? Merdeka belajar yang terdengar menggiurkan itu. Saya yakin tak terlalu banyak yang mengingatnya.

Kita terlalu sibuk membantu anak anak kita mengerjakan tugas tugas sekolah yang didiktekan gurunya lewat aplikasi Whatsapp nyaris setiap hari. Entah sampai kapan kebingungan orang tua (khususnya ibu) dalam menggantikan peran guru belajar di rumah sendiri bagi putra putrinya. Waktu luang akibat pandemi corona yang melanda dunia membuat saya sempat membaca tulisan beberapa pakar pendidikan yang meragukan program pendidikan yang ditawarkan oleh pak menteri Nadiem.

Dan dari argumentasi dan penalaran yang ditawarkan, saya sendiri sampai pada kesimpulan untuk tak terlalu berharap banyak pada sang menteri muda untuk bisa membawa pendidikan kita mendekati Finlandia misalnya. Saya terpaksa menurunkan sedikit standar saya padanya.

Kembali sedikit ke awal tulisan. Seorang sastrawan di puncak pimpinan nasional bukanlah hal yang baru di dunia. Nun di awal 90 an saat kejatuhan komunis Uni Soviet mulai membayang. Satu persatu negeri di eropa timur bebalik haluan memilih jalan demokrasi. Saat itulah terpilih seorang penyair cum pengritik pemerintah menjadi presiden Cekoslowakia.

Vaclav Havel, sang penyair terpilih secara demokratis untuk memimpin negeri dari puing puing kebangkrutan komunisme.  Sebagai individu yang kritis, Havel muda juga sempat merasakan hangatnya penjara di bawah rezim komunis yang menguasai Cekoslowakia waktu itu.

Tak ada yang bisa kita ingat dari kepemimpinan sang penyair, yang jelas berapa saat setelah dia lengser, Cekoslowakia terpecah menjadi dua negara yang berdiri sendiri. Ceko yang beribukota Praha, dan Slowakia yang berpusat di Bratislava. Kelembutan hati seorang penyair , yang mungkin berbeda tipis dengan kelemahan sikap. Dan pilihannya terhadap demokrasi mungkin yang menyebabkan negerinya terbagi dua.

Pada masa reformasi, kita pernah berharap seorang sastrawan kawakan tampil ke panggung jasional. Goenawan Mohamad, yang dimusuhi Soeharto karena pemberitaan majalahnya (Tempo) yang kritis. Bahkan sampai dua kali majalahnya dibreidel oleh rezim orde baru karena keberaniannnya itu.

Begitu rezim jatuh, GM bersama beberapa tokoh salah satunya Amien raies mendirikan partai yang menandai mulainya era baru, orde Reformasi. Tapi mungkin dunia politik memang bukan dunianya, disamping karena salah memilih kawan beliau mundur dari panggung politik dan kembali ke dunia yang membesarkannya. Dunia sstra dan pemikiran yang sampai saat itu tetap beliau jalani dengan tekun.

Tak terbayangkan seandainya saat itu rakyat Indonesia memberinya kesempatan menjadi presiden seperti halnya si Vaclav di Cekoslawakia. Apakah Indonesia masih seperti ini, lebih maju atau justru terpecah menjadi banyak negara. Hanya Tuhan yang tahu.

 Tiba saatnya untuk tak berandai andai, tapi menengok sejenak ke belakang perjalanan negeri tercinta. Pada masa orde baru pernah terpilih seorang sastrawan, Nugroho Notosusanto menjadi menteri pendidikan (dan kebudayaan) saat itu. Nugroho termasuk dalam sastrawan angkatan 66 sesuai buku pegangan bahasa dan sastra yang saya baca waktu SMP. Dua karyanya yang tercantum di sana adalah roman berjudul Hujan Kepagian dan Rasa Sayange.

Dan sayangnya sepanjang usia saya tak pernah sekalipun sempat membaca buku itu langsung, ataupun tulisan yang membahas tentang karya Nugroho itu. Satu hal yang bisa kita ingat dari beliau adalah penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. Dan yang paling menonjol di buku itu dalah penulisan sejarah tentang peristiwa 65 yang menjadi tragedi terburuk sepanjang sejarah Indonesia modern. Mungkin karena jasa beliau inilah pak Harto memberinya kesempatan untuk menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan saat itu.

Pada kenyataannya, buku sejarah yang beliau tulis, termasuk yang membahas peristiwa 65 jarang sekali dikutip ataupun dijadikan acuan oleh penulis sejarah yang lebih muda, baik dari luar negeri ataupun sejarawan nasional, semisal Hermawan Sulistyo. Mungkin karena kesahihan fakta yang beliu pakai diragukan oleh banyak pihak. Dalam kasus ini tepat kiranya kata History diplesetkan menjadi His story. Sejarah yang dibuat berdasarkan kebenaran ataupun pesanan satu orang atau golongan.

Terlepas dari catatan yang kurang bagus terkait reputasi beliau sebagai sastrawan merangkap sejarawan. Beliau tetaplah menteri pendidikan terbaik yang pernah ada di Indonesia, dimata almarhum ayah saya. Setidaknya dibandingkan beberapa nama yang pernah menjabat semasa hidup bapak saya, entah itu sang profesor lintas ilmu Daoed Joesoep, Fuad Hassan maupun Wardiman. Tak cukup meninggalkan kenangan dan legacy di hati bapak saya. Saya teringat kata kata beliau saat menasehati kami dulu, “Made, Ketut ingatlah selalu, kalau tak ada pak Nugroho Notosusanto kalian tak akan bisa seperti ini. Bapak tak akan bisa menyekolahkan kalian tinggi tinggi. Barangkali bisa tamat SMP adalah pendidikan tertinggi kalian.”

Nugroho Notosusanto yang memperkenalkan ujian nasional ( Ebtanas ) dengan bukti hasilnya satu lembar NEM (Nilai Ebtanas Murni). Dengan berbekal NEM ini kalian bisa sekolah ke SMA manapun yang kalian inginkan, asalkan nilai kalian mencukupi. Nilai NEM siswa di puncak gunung seperti kami akan dinilai sama dengan milik siswa yang bersekolah di kota.

Bapak pasti tak melupakan betapa susahnya mendaftarkan kakak tertua saya ke sekolah di kota Tabanan, saat belum diberlakukannya NEM ini.Beberapa kali saya ingat beliau bolak balik dari Buleleng ke Tabanan menemui guru, kepala sekolah dan pihak yang bisa membantu memasukkan nama kakak ke seklah itu. Pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang beliau rasakan saat itu pastilah menjadi beban yang berat untuk niatnya mmemberikan pendidikan yang baik untuk kami anak anaknnya.

Begitu diterapkannya aturan penerimaan siswa baru hanya berdasarkan NEM, segalanya terlihat lebih sedrhana. Mulai kakak nomer dua sampai si bungsu keluarga kami bisa sekolah di sekolah terbaik di kota Singaraja dan Tabanan. Kebetulan nilai ujian kami (NEM) termasuk yang terbaik di sekolah dan masih bisa bersaing untuk mencari sekolah favorit di kota.

Seandainya bapak saya masih hidup. Dan kepadanya ditanyakan pendapat tentang sistem pendidikan yang hendak terapkan oleh menteri Nadiem. Barangkali bisa saya bayangkan jawaban beliau akan seperti ini, ” Jangan repot repot mengubah sesuatu yang sudah terbukti baik dan berpihak pada rakyat kecil, tinggal lanjutkan program pak Nugroho, lengkapi kekurangannya, sesuaikan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi “

Pada konteks ini kata kata sakti Bung Karno seperti mendapat pembenarannya kembali. JASMERAH, jangan sekali sekali melupakan sejarah. Bagaimanpun situasinya sejarah selalu aktual. [T]

Tags: Gunawan MohammadPendidikanPenyairSapardi Djoko Damonosastra
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Tanpa Suara

Next Post

Komentar-komentar Miring tentang Pekerja Kapal Pesiar

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Komentar-komentar Miring tentang Pekerja Kapal Pesiar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co