27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Dunia Imajiner] – Saat Penyair Menjadi Presiden dan Menteri Pendidikan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
April 4, 2020
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Sebagai seorang penikmat sastra, pengagum sosok sastrawan tak ada salahnya kalau saya mempunyai khayalan liar. Entah kapan waktunya presiden saya adalah Goenawan Mohamad, menteri pendidikan saya adalah Sapardi Djoko Damono dan bupati saya adalah Made Adnyana Ole. Saya tak sanggup membayangkan betapa indahnya dunia kalau khayalan saya itu menjadi kenyataan. Untuk yang pertama dan ketiga mungkin saya perlu tidur nyenyak dulu biar bisa bermimpi seperti itu. Tapi untuk yang kedua itu, saya kira kita tak perlu mimpi. Cukup kita menengok sebentar ke perjalanan negeri kita tercinta ini.

Hari-hari ini dunia disibukkan oleh makhluk tak kasat mata, turunan kesekian dari virus corona yang mewabah dari negeri tirai bambu dan menyebar cepat ke penjuru dunia, nyaris tanpa terkecuali. Saya tak akan membahas tentang pandemi virus ini, karena sudah teramat banyak informasi yang berkelindan di media, baik media konvensional maupun jagat maya. Saat ini yang diperlukan cuma kecerdikan kita dalam memilah informasi tersebut, dan menjaga tangan untuk tak gatal menyebarkan informasi yang tak terbukti kebenarannnya.

Karena siapa tahu karena kegenitan jari jari kita, undang undang ITE bisa menjerat  dan mengantar kita ke gerbang hotel prodeo.

Mari menengok sebentar ke dunia pendidikan kita. Apa yang bisa anda ingat dari ide ide besar sang menteri termuda dalam sejarah Indonesia. Apa kabar kampus merdeka ? Merdeka belajar yang terdengar menggiurkan itu. Saya yakin tak terlalu banyak yang mengingatnya.

Kita terlalu sibuk membantu anak anak kita mengerjakan tugas tugas sekolah yang didiktekan gurunya lewat aplikasi Whatsapp nyaris setiap hari. Entah sampai kapan kebingungan orang tua (khususnya ibu) dalam menggantikan peran guru belajar di rumah sendiri bagi putra putrinya. Waktu luang akibat pandemi corona yang melanda dunia membuat saya sempat membaca tulisan beberapa pakar pendidikan yang meragukan program pendidikan yang ditawarkan oleh pak menteri Nadiem.

Dan dari argumentasi dan penalaran yang ditawarkan, saya sendiri sampai pada kesimpulan untuk tak terlalu berharap banyak pada sang menteri muda untuk bisa membawa pendidikan kita mendekati Finlandia misalnya. Saya terpaksa menurunkan sedikit standar saya padanya.

Kembali sedikit ke awal tulisan. Seorang sastrawan di puncak pimpinan nasional bukanlah hal yang baru di dunia. Nun di awal 90 an saat kejatuhan komunis Uni Soviet mulai membayang. Satu persatu negeri di eropa timur bebalik haluan memilih jalan demokrasi. Saat itulah terpilih seorang penyair cum pengritik pemerintah menjadi presiden Cekoslowakia.

Vaclav Havel, sang penyair terpilih secara demokratis untuk memimpin negeri dari puing puing kebangkrutan komunisme.  Sebagai individu yang kritis, Havel muda juga sempat merasakan hangatnya penjara di bawah rezim komunis yang menguasai Cekoslowakia waktu itu.

Tak ada yang bisa kita ingat dari kepemimpinan sang penyair, yang jelas berapa saat setelah dia lengser, Cekoslowakia terpecah menjadi dua negara yang berdiri sendiri. Ceko yang beribukota Praha, dan Slowakia yang berpusat di Bratislava. Kelembutan hati seorang penyair , yang mungkin berbeda tipis dengan kelemahan sikap. Dan pilihannya terhadap demokrasi mungkin yang menyebabkan negerinya terbagi dua.

Pada masa reformasi, kita pernah berharap seorang sastrawan kawakan tampil ke panggung jasional. Goenawan Mohamad, yang dimusuhi Soeharto karena pemberitaan majalahnya (Tempo) yang kritis. Bahkan sampai dua kali majalahnya dibreidel oleh rezim orde baru karena keberaniannnya itu.

Begitu rezim jatuh, GM bersama beberapa tokoh salah satunya Amien raies mendirikan partai yang menandai mulainya era baru, orde Reformasi. Tapi mungkin dunia politik memang bukan dunianya, disamping karena salah memilih kawan beliau mundur dari panggung politik dan kembali ke dunia yang membesarkannya. Dunia sstra dan pemikiran yang sampai saat itu tetap beliau jalani dengan tekun.

Tak terbayangkan seandainya saat itu rakyat Indonesia memberinya kesempatan menjadi presiden seperti halnya si Vaclav di Cekoslawakia. Apakah Indonesia masih seperti ini, lebih maju atau justru terpecah menjadi banyak negara. Hanya Tuhan yang tahu.

 Tiba saatnya untuk tak berandai andai, tapi menengok sejenak ke belakang perjalanan negeri tercinta. Pada masa orde baru pernah terpilih seorang sastrawan, Nugroho Notosusanto menjadi menteri pendidikan (dan kebudayaan) saat itu. Nugroho termasuk dalam sastrawan angkatan 66 sesuai buku pegangan bahasa dan sastra yang saya baca waktu SMP. Dua karyanya yang tercantum di sana adalah roman berjudul Hujan Kepagian dan Rasa Sayange.

Dan sayangnya sepanjang usia saya tak pernah sekalipun sempat membaca buku itu langsung, ataupun tulisan yang membahas tentang karya Nugroho itu. Satu hal yang bisa kita ingat dari beliau adalah penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. Dan yang paling menonjol di buku itu dalah penulisan sejarah tentang peristiwa 65 yang menjadi tragedi terburuk sepanjang sejarah Indonesia modern. Mungkin karena jasa beliau inilah pak Harto memberinya kesempatan untuk menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan saat itu.

Pada kenyataannya, buku sejarah yang beliau tulis, termasuk yang membahas peristiwa 65 jarang sekali dikutip ataupun dijadikan acuan oleh penulis sejarah yang lebih muda, baik dari luar negeri ataupun sejarawan nasional, semisal Hermawan Sulistyo. Mungkin karena kesahihan fakta yang beliu pakai diragukan oleh banyak pihak. Dalam kasus ini tepat kiranya kata History diplesetkan menjadi His story. Sejarah yang dibuat berdasarkan kebenaran ataupun pesanan satu orang atau golongan.

Terlepas dari catatan yang kurang bagus terkait reputasi beliau sebagai sastrawan merangkap sejarawan. Beliau tetaplah menteri pendidikan terbaik yang pernah ada di Indonesia, dimata almarhum ayah saya. Setidaknya dibandingkan beberapa nama yang pernah menjabat semasa hidup bapak saya, entah itu sang profesor lintas ilmu Daoed Joesoep, Fuad Hassan maupun Wardiman. Tak cukup meninggalkan kenangan dan legacy di hati bapak saya. Saya teringat kata kata beliau saat menasehati kami dulu, “Made, Ketut ingatlah selalu, kalau tak ada pak Nugroho Notosusanto kalian tak akan bisa seperti ini. Bapak tak akan bisa menyekolahkan kalian tinggi tinggi. Barangkali bisa tamat SMP adalah pendidikan tertinggi kalian.”

Nugroho Notosusanto yang memperkenalkan ujian nasional ( Ebtanas ) dengan bukti hasilnya satu lembar NEM (Nilai Ebtanas Murni). Dengan berbekal NEM ini kalian bisa sekolah ke SMA manapun yang kalian inginkan, asalkan nilai kalian mencukupi. Nilai NEM siswa di puncak gunung seperti kami akan dinilai sama dengan milik siswa yang bersekolah di kota.

Bapak pasti tak melupakan betapa susahnya mendaftarkan kakak tertua saya ke sekolah di kota Tabanan, saat belum diberlakukannya NEM ini.Beberapa kali saya ingat beliau bolak balik dari Buleleng ke Tabanan menemui guru, kepala sekolah dan pihak yang bisa membantu memasukkan nama kakak ke seklah itu. Pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang beliau rasakan saat itu pastilah menjadi beban yang berat untuk niatnya mmemberikan pendidikan yang baik untuk kami anak anaknnya.

Begitu diterapkannya aturan penerimaan siswa baru hanya berdasarkan NEM, segalanya terlihat lebih sedrhana. Mulai kakak nomer dua sampai si bungsu keluarga kami bisa sekolah di sekolah terbaik di kota Singaraja dan Tabanan. Kebetulan nilai ujian kami (NEM) termasuk yang terbaik di sekolah dan masih bisa bersaing untuk mencari sekolah favorit di kota.

Seandainya bapak saya masih hidup. Dan kepadanya ditanyakan pendapat tentang sistem pendidikan yang hendak terapkan oleh menteri Nadiem. Barangkali bisa saya bayangkan jawaban beliau akan seperti ini, ” Jangan repot repot mengubah sesuatu yang sudah terbukti baik dan berpihak pada rakyat kecil, tinggal lanjutkan program pak Nugroho, lengkapi kekurangannya, sesuaikan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi “

Pada konteks ini kata kata sakti Bung Karno seperti mendapat pembenarannya kembali. JASMERAH, jangan sekali sekali melupakan sejarah. Bagaimanpun situasinya sejarah selalu aktual. [T]

Tags: Gunawan MohammadPendidikanPenyairSapardi Djoko Damonosastra
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Tanpa Suara

Next Post

Komentar-komentar Miring tentang Pekerja Kapal Pesiar

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Komentar-komentar Miring tentang Pekerja Kapal Pesiar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co