3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kulit Putih, Wajah Glowing, Pakai High Heels – Ah, Cantik Itu Duka

Putu Sulistyawati by Putu Sulistyawati
March 22, 2020
in Esai
Kulit Putih, Wajah Glowing, Pakai High Heels – Ah, Cantik Itu Duka

Ilustrasi: tatkala.co/Nana Partha

Tempo lalu, di tengah merebaknya kasus Covid-19 lengkap dengan segala kekhawatiran banyak orang, saya keluar rumah untuk membeli hand sanitizer tentu saja untuk perlindungan pertama dan pencegahan tertular virus yang menakutkan itu. Selain itu saya juga sambil mencari sebuah masker wajah di salah satu swalayan, alat kecantikan, dan kebutuhan lainnya.

Saya keluar bagaikan vampir yang takut akan terkena sinar matahari. Berbalut pakaian panjang menutupi tangan dan celana jins panjang untuk menutupi kaki guna melindungi diri saat keluar rumah. Kebetulan di hari itu juga jerawat di wajah sedang mekar-mekarnya dikarenakan hormon yang melonjak tinggi. Alhasil sebagai obatnya saya bergegas untuk membeli sebuah masker wajah dengan berharap setelah menggunakannya wajah ini tidak timbul jerawat lagi.

Pada saat di swalayan mencari-cari apa yang saya butuhkan, terdapat dua remaja yang sedang kebingungan memilih skincare apa yang cocok untuk kulit mereka. Saya jadi ingat semasa remaja saya, saya tidak tau apa itu skincare. Berbeda dengan remaja sekarang. Ya begitulah perubahan selalu dinamis. Dua remaja ini membeli skincare tentu dengan maksud dan tujuan untuk menunjang penampilan dan menjadi cantik dikalangan mereka.

Yup, kata cantik merupakan kata yang sangat problematis untuk perempuan sendiri.

Cantik merupakan sebuah kata pujian yang diidam-idamkan oleh seluruh perempuan di muka bumi ini, tak terkecuali saya. Perempuan bisa melayang ke langit ke-7 tanpa ingin turun lagi ke bumi apabila ada orang di sekitarnya yang memujinya dengan kata “cantik”.

Cantik bagaikan candu di mata perempuan, semua perempuan berlomba-lomba mengejar kata cantik dan mengikuti standar kecantikan yang dibuat oleh kapitaslis alias iklan. Mulai dari cantik itu harus kulit putih, rambut panjang hitam lurus, body bak gitar spanyol, wajah mulus nan glowing, kaki jenjang, pakai rok, sepatu high heels atau berhak tinggi dan standar kecantikan yang lainnya.  

Fenomena ini dikuatkan dengan hasil survei ZAP Beauty Index tahun 2018, sebanyak 73.1 persen perempuan Indonesia menganggap cantik adalah memiliki kulit yang bersih, cerah, dan glowing. Keterkaitan persepsi kecantikan dengan definisi putih, yaitu: putih dianggap sebagai ras yang superior, dan karena itu dinormalkan dan diidealkan.

Putih adalah hal yang signifikan, bukan saja dalam kategori sebagai ras saja, melainkan juga dalam definisi dan konstruksi kecantikan, femininitas, seksualitas, dan domestisitas perempuan. Terlebih, bukan laki-laki yang mempelopori hegemoni ini, tetapi kaum perempuan sendirilah yang sesungguhnya melabeli diri sampai melabeli perempuan lain. Dan tentu para perempuan ingin memiliki semua standar kecantikan ini dalam diri nya sampai mereka lupa bahwa kita semua hanyalah manusia biasa bukan juga dewa yang jauh dari kata sempurna.

Menunjang standar kecantikan saat ini brand make up bertebaran, beauty vloggers banyak memberikan tutorial cara ber-make-up gaya ini dan itu, baju-baju fashionable dijual dengan harga yang murah menarik minat pembeli. Salon-salon kecantikan pun bertebaran, menawarkan harga promo, dengan begitu visi misi untuk membuat wanita selalu tampil cantik dan salonnya mendapatkan profit, bisa tercapai.

Akibat standar kecantikan perempuan di-paksa untuk mengikuti standar ini demi lebelitas “cantik” dan pada akhirnya segala cara dilakukan, dari segala jenis produk pemutih, tindakan operasi, hingga memaksakan warna yang tidak cocok dengan kami dalam make-up. Tidak terhitung berapa banyaknya tenaga, waktu dan uang yang dihamburkan untuk mencapai standar cantik. Tidak itu saja, perempuan pun kini rata-rata menjaga berat badannya atau melangsingkan tubuh di pusat kebugaran setempat. Inilah bukti nyata bahwa cantik fisik itu lebih penting dari pada cantik hati atau inner beauty. Cantik memang multitafsir. Tapi sayang, ia terpengaruh oleh media iklan.

Nyatanya, di lingkungan kita perempuan Indonesia masih kurang percaya diri akan dirinya sendiri. Hal ini tentu didasari oleh faktor standar kecantikan yang dibuat oleh para kapitalis tadi. Padahal seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Indonesia merupakan negara multicultural dan heterogen.

Di Indonesia terdapat berbagai macam suku bangsa, agama, adat istiadat, golongan, tak terkecuali etnis dan ras. Perempuan di Indonesia tak hanya terlahir dengan kulit putih, tetapi ada juga yang terlahir dengan kulit sawo matang, kulit kuning langsat, kulit hitam, coklat dan sebagainya. standar kecantikan yang selama ini ada selalu menjadi momok yang mendegradasi jati diri dan menggerus rasa percaya diri perempuan Indonesia.

Tidak sedikit perempuan menilai dirinya tidak cantik karena berkulit gelap atau cokelat. Tidak sedikit perempuan menilai dirinya jelek karena memiliki rambut ikal dan keriting. Tidak sedikit perempuan merendahkan diri karena memiliki tubuh yang gemuk dan tidak langsing. Tidak sedikit perempuan yang kurang pede apabila tidak menggunakan heels.

Maka dengan menjamurnya standar kecantikan yang keliru ini mengakibatkan kata “cantik” itu mendapat predikat cantik itu luka. Cantik itu memaksa. Memaksa mu untuk mengikuti standar kecantikan, apabila kamu tak mengikutinya kamu tidak ada mendapatkan kata “cantik” itu.

Saya pernah mengikuti ajang yang memberikan sebuah pengalaman membekas mengenai standar kecantikan sampai saat ini. Saya pernah mengikuti sebuah ajang kecantikan yang menonjolkan 3B (Beauty, Behavior, Brain). Pada saat mengikuti ajang ini saya kurang pede(Percaya Diri) akan diri saya, karena jika dilihat-lihat saya jauh kata dari perempuan yang pantas masuk ajang kecantikan. Bukannya tanpa alasan, saya tidak percaya diri karena saya belumnya berpenampilan “dekil” alias buluk atau kusam. Ya, tentu jauh dari standar kecantikan.

Tapi jika dilihat ajang ini juga memperlihatkan Behavior dan Brains. Selain itu terdapat dorongan keras dari kakak saya untuk mengikuti ajang ini padahal saya sudah pesimis karena kurang merasa percaya diri. Namun pada akhirnya saya termakan bujuk rayunya dan akhirnya saya ikut. Dan saya pun mendaftar dan saya lolos. Saya masuk sebagai kandidat finalis didalamnya. Maka setelah menjadi finalis saya harus menjalani karantina kurang lebih 5-7 hari. Kami dibekali berbagai keterampilan untuk menunjang diri nantinya di atas panggung.

Pada saat karantina terdapat hal terberat yang pernah saya lalui yaitu menggunakan heels atau sepatu/sandal dengan tinggi minimal 13cm-18cm. Tentu untuk perempuan buluk seperti saya merupakan sebuah tantangan berat karena sebelumnya saya jarang dan bisa dikatakan belum pernah menggunakan heels setinggi itu. Menggunakan heels adalah sebuah standar kecantikan yang dibuat selain kulit putih. Mau tidak mau saya harus mengikutinya dalam menjalani fase karantina ini.

Awal karantina saya sering terjatuh karena heels tinggi itu sampai kaki saya bengkak dan sampai rumah saya harus merendam kaki saya dengan air garam agar otot – otot kembali pulih pasca tegang menggunakan heels. Saya berlatih setiap hari demi mendapatkan hasil yang maksimal.

Pada saat perkuliahan di saat waktu senggang saya sedikit berkeluh kesah dengan salah satu dosen saya mengenai penggunaan heels ini. Dan dosen saya menanggapinya dengan nada bercanda; dan ia berkata “yang membuatmu cantik bukanlah heels itu tapi rasa percaya diri, mencintai dirimu sendiri dan hatimu. Semua orang akan bisa menilainya dan yang terpenting cantik itu bukan soal fisik melainkan hati dan kualitas intelektualmu”.

Mulai saat itu pikiran saya mulai tercerahkan bagaikan sinar matahari setelah hujan mengenai apa itu cantik. Saya mulai untuk percaya diri dan lebih mencintai diri saya sendiri karena cantik itu ada ketika kita bisa menghargai diri kita sendiri.

Cantik nggak hanya diukur dari level putih dan seberapa miripnya dengan model di majalah. Ada banyak tolak ukur bagaimana menilai cantiknya perempuan. Bisa tentang bagaimana ia menampilkan diri, bagaimana ia merasa nyaman dengan kulitnya sendiri, atau dengan pemikiran-pemikirannya yang bijaksana. Jadi para perempuan Indonesia sudah bukan saatnya lagi ada rasa tidak percaya diri akan dirimu sendiri.

Sudah saatnya kita bersyukur akan rahmat Tuhan dan pemberian dari-Nya. Saatnya kita menghargai diri kita sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Rolene Strauss Miss World 2014 menurutnya Cantik adalah ketika seseorang menjadi dirinya sendiri dan bagaimana cantik itu terpancar dari dalam diri seseorang.

Selain itu hal serupa juga di katakana oleh Miss World 2019 yang baru saja terpilih yaitu perempuan yang berasal dari Afrika Selatan; Zozibini Tunzi. Zozibini adalah perempuan berkulit hitam pertama yang memenangi kontes Miss Universe sejak Leila Lopes pada 2011. Ia merupakan penyokong kecantikan alami. Walau ia lahir dengan kulit hitam dan rambut keriting, namun ia tetap mencintai dirinya dan menghargai dirinya. Menurutnya cantik ketika kamu bisa mencintai dirimu dan bersyukur akan anugrah tuhan.

Definisi cantik bukan hanya soal fisik wahai para perempuan se-Indonesia terkhusus untuk para pembaca tulisan ini. Cantik itu ketika setiap perempuan bisa menghargai dirinya sendiri, ketika dia bisa mencintai dirinya sendiri, dan percaya akan dirinya sendiri. Rambut keriting, kulit hitam dan tubuh gemuk pun mereka tetap cantik semasih mereka perempuan. Jangan korbankan dirimu untuk mengikuti standar kecantikan, Tuhan menganugrahkan setiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Dan saya yakin setiap perempuan terlahir cantik dengan cara masing-masing. Mereka cantik dengan hatinya yang tulus. Mereka cantik dengan kulitnya yang gelap. Dan mereka cantik dengan tubuhnya yang gemuk. Semua perempuan cantik dengan jalannya masing-masing.

Just be your self girls, kamu gak perlu putih untuk cantik, gak perlu langsing untuk jadi cantik. Kamu cantik dengan caramu. Kamu hebat dan luar biasa. [T]

Tags: kecantikanPerempuan
Share264TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi AA Ayu Rahatri Ningrat # 1 Menit Sebelum 12 Malam

Next Post

Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Putu Sulistyawati

Putu Sulistyawati

Lahir di Tista 16 Januari 1999. Mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah / Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan, Undiksha Singaraja

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Covid-19, LPD Baiknya Ringankan Kredit Krama – Contoh LPD Peliatan Ubud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co