24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Wayan Paing by Wayan Paing
March 18, 2020
in Esai
Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Sapi masuk sekolah di sebuah desa di pedalaman Karangasem [Foto Wayan Paing]

Akibat Covid-19, siswa dirumahkan, eh, diputuskan untuk belajar di rumah. Banyak cerita yang terjadi saat anak-anak sekolah harus belajar mandiri di rumah masing-masing.

Misalnya guyonan saat resah kadang bisa sadis. Misalnya, ada yang berkata, “Siswa tidak ke sekolah, belajar di rumah. Bagaimana dengan guru dan pegawai? Guru dan pegawai yang belum meninggal, tetap ke sekolah?” [Guyonan yang keterlaluan seperti itu, kadang bikin stress hilang].

Terjadi juga perdebatan, yang boleh juga disebut guyonan. Misalnya perdebatan mengenai tidak ke luar rumah dan bekerja dari rumah. Lalu, mengapa guru harus ke sekolah? Ada juga yang menanggapi, “Paginya buru-buru dan siangnya menunggu!”

Itu karena guru dan pegawai diolah [baca: diatur] oleh satu barang digital yang bernama finger scan. Benda “pembunuh” satu itu, memang menjadi momok tersendiri sejak mulai diberlakukan. “Pembunuh”? Iya, konon, jika benda itu tidak menyimpan data kehadiran guru di sekolah, tunjangan hidupnya akan ditiadakan.

Tunjangan hidup ditiadakan, bukankah akan merobohkan hidupnya?

Ahh, hanya guyonan kecil yang tampak serius saja bagi beberapa orang. Tapi, ada juga yang menafsirkan, bagi sebagian besar orang, bahwa itu hal serius. Guyonan yang serius.

Dan begitulah, ketika siswa diputuskan oleh pemerintah untuk belajar di rumah, guru-guru tetap pergi ke sekolah. Di sekolah saya juga, di sebuah sekolah terpencil di sebuah desa kecil yang begitu dekat dengan alam di pedalaman Karangasem, Bali.

Sebagai guru, saya masuk juga. Ritual dijalankan. Paginya buru-buru untuk absen finger scan sebelum jam tujuh. Lalu, memang harus menunggu, minimal sampai jam 13.15. Jika tidak, kehadiran mereka akan dicatat tidak wajar oleh alat tersebut.

Kadang-kadang geli sendiri dibuatnya. Olah barang bangka, diatur benda mati — begitu kata sedikit orang.

Berbagai kegiatan dilakukan mengisi waktu sunyi tersebut. Mulai dari menyapu, menggantikan tugas piket siswa. Ada juga mengambil cangkul untuk membuat tempat berkebun di belakang sekolah. Salah satunya, ke dapur, membuat air hangat untuk membuat kopi dan teh bagi yang lainnya.

Tidak ada yang aneh pada semua kegiatan itu. Masyarakat sekitar yang melintas pun tidak ada yang heran, karena pemberitaan sudah mereka dapatkan melalui media sosial. Semua berjalan wajar dan normal, walau tidak biasa.

Waktu istirahat pun tiba. Menikmati kopi dan teh yang disajikan sehabis bekerja. Di meja taman depan kelas-kelas yang ditutup rapat. Tak banyak cerita yang muncul. Semua sibuk dengan kopi dan tehnya masing-masing. Temannya, tentu saja gadget di tangan yang mulai sibuk menerima sajian aktivitas beraneka ragam hari ini. Tidak lupa membalasnya dengan unggahan aktivitasnya hari ini.

Setelah tidak ada lagi guyonan, atau tak ada juga yang serius dibicarakan, satu per satu akhirnya masuk ke ruang guru untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Mengecek tugas yang diberikan melalui media daring. Ada juga yang sibuk menyiapkan tugas-tugas berikutnya.

Waktu terasa lama dan membosankan, sebelum akhirnya dari balik jendela melihat ke halaman sekolah. Ada sesuatu yang tak biasa. Lalu, saya alihkan perhatian teman-teman yang tampak sangat serius.

“Bu Mang, ada yang mencari.”

“Siapa?”

“Itu di halaman sekolah!”

Semuanya menoleh ke halaman, lalu meledaklah tawa semua yang ada di ruang guru, ketika melihat dua ekor anak sapi dengan santainya melenggang di halaman sekolah. Bahkan, ketika didekati untuk diambil foto, anak-anak sapi itu bukannya lari, malah mendekat. Padahal belum kenal. Ha ha ha.

Tidak lupa, salah satu diantaranya memberi “imbalan” untuk sekolah. Mungkin hadiah karena diijinkan masuk dan tidak diganggu. Hadiah berupa gundukan kotoran yang dikeluarkannya tanpa beban apalagi malu.

Anak sapi dan kotorannya [Foto Wayan Paing]

Mungkin juga karena tak tega melihat tanah lapang yang tidak ditumbuhi rumput, lalu berinisiatif untuk menyuburkannya. Jika selama dua minggu dilakukan secara teratur, bukan tidak mungkin, rumput akan tumbuh subur apalagi didukung oleh musim hujan saat ini.

Saya ingat teori pembelajaran yang mengatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah mendekatkan siswa dengan lingkungan nyata. Artinya siswa bisa belajar dengan mendekat bahkan menyatu kepada alam.  

Tetapi, selama ini, pembelajaran tentang alam justru lebih banyak dilakukan di dalam kelas, dengan teori-teori dan nama serta istilah-istilah asing.

Ketika sapi masuk sekolah pada saat siswa belajar di rumah, membuat saya kembali merenung soal pembelajaran di alam. Saat kelas-kelas itu kosong, maka sapi [baca; alam] itu datang ke sekolah untuk memberi pelajaran, untuk mengingatkan bahwa sekolah sebenarnya tak bisa dipisahkan dari alam.

Siswa yang belajar di rumah (bukan liburan) kini mungkin bisa belajar pada alam bebas. Apalagi siswa yang rumahnya di tengah tegalan, atau di sebuah desa di balik bukit, di lembah yang alami, dan tak punya koneksi dengan guru-guru secara online.

Mereka bisa kembali mengenal daun-daunan di sekitar rumahnya, misalnya daun yang bisa dijadikan loloh untuk meredakan demam, flu atau sakit kepala.

Ketika dunia begitu modern, sekolah seakan punya sekat kuat antara sekolah dengan alam. Sekolah dipagar tinggi-tinggi agar orang luar, apalagi hewan, tak bisa masuk ke sekolah.

Dan, pada saat merebak kasus Covid 19, kita baru ingat hal-hal yang pernah kita pelajari dari alam, dari leluhur yang begitu dekat dengan alam. Misalnya, loloh, daun-daunan semak yang bisa dijadikan obat.

Sapi yang masuk ke sekolah, ketika banyak anak-anak tak tahu lagi bagaimana sapi menjadi tulang-punggung kehidupan masyarakat Bali di masa lalu, adalah sebuah peringatan, sebuah pelajaran. Ia jadi renungan.

Oh, ya, peristiwa ini bisa juga jadi renungan tentang alam dan pariwisata atau pariwisata dan alam. Sapi itu mungkin minta perhatian. Bahwa pada saat-saat banyak yang cemas akan ambruknya pariwisata, sapi [baca: alam] yang dulu kerap dilupakan, kini sebaiknya diperhatikan dengan amat-amat serius.  [T/editor Adnyana Ole]

Tags: alamcovid 19lingkungansekolahsekolah dasar
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

Next Post

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co