3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Wayan Paing by Wayan Paing
March 18, 2020
in Esai
Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Sapi masuk sekolah di sebuah desa di pedalaman Karangasem [Foto Wayan Paing]

Akibat Covid-19, siswa dirumahkan, eh, diputuskan untuk belajar di rumah. Banyak cerita yang terjadi saat anak-anak sekolah harus belajar mandiri di rumah masing-masing.

Misalnya guyonan saat resah kadang bisa sadis. Misalnya, ada yang berkata, “Siswa tidak ke sekolah, belajar di rumah. Bagaimana dengan guru dan pegawai? Guru dan pegawai yang belum meninggal, tetap ke sekolah?” [Guyonan yang keterlaluan seperti itu, kadang bikin stress hilang].

Terjadi juga perdebatan, yang boleh juga disebut guyonan. Misalnya perdebatan mengenai tidak ke luar rumah dan bekerja dari rumah. Lalu, mengapa guru harus ke sekolah? Ada juga yang menanggapi, “Paginya buru-buru dan siangnya menunggu!”

Itu karena guru dan pegawai diolah [baca: diatur] oleh satu barang digital yang bernama finger scan. Benda “pembunuh” satu itu, memang menjadi momok tersendiri sejak mulai diberlakukan. “Pembunuh”? Iya, konon, jika benda itu tidak menyimpan data kehadiran guru di sekolah, tunjangan hidupnya akan ditiadakan.

Tunjangan hidup ditiadakan, bukankah akan merobohkan hidupnya?

Ahh, hanya guyonan kecil yang tampak serius saja bagi beberapa orang. Tapi, ada juga yang menafsirkan, bagi sebagian besar orang, bahwa itu hal serius. Guyonan yang serius.

Dan begitulah, ketika siswa diputuskan oleh pemerintah untuk belajar di rumah, guru-guru tetap pergi ke sekolah. Di sekolah saya juga, di sebuah sekolah terpencil di sebuah desa kecil yang begitu dekat dengan alam di pedalaman Karangasem, Bali.

Sebagai guru, saya masuk juga. Ritual dijalankan. Paginya buru-buru untuk absen finger scan sebelum jam tujuh. Lalu, memang harus menunggu, minimal sampai jam 13.15. Jika tidak, kehadiran mereka akan dicatat tidak wajar oleh alat tersebut.

Kadang-kadang geli sendiri dibuatnya. Olah barang bangka, diatur benda mati — begitu kata sedikit orang.

Berbagai kegiatan dilakukan mengisi waktu sunyi tersebut. Mulai dari menyapu, menggantikan tugas piket siswa. Ada juga mengambil cangkul untuk membuat tempat berkebun di belakang sekolah. Salah satunya, ke dapur, membuat air hangat untuk membuat kopi dan teh bagi yang lainnya.

Tidak ada yang aneh pada semua kegiatan itu. Masyarakat sekitar yang melintas pun tidak ada yang heran, karena pemberitaan sudah mereka dapatkan melalui media sosial. Semua berjalan wajar dan normal, walau tidak biasa.

Waktu istirahat pun tiba. Menikmati kopi dan teh yang disajikan sehabis bekerja. Di meja taman depan kelas-kelas yang ditutup rapat. Tak banyak cerita yang muncul. Semua sibuk dengan kopi dan tehnya masing-masing. Temannya, tentu saja gadget di tangan yang mulai sibuk menerima sajian aktivitas beraneka ragam hari ini. Tidak lupa membalasnya dengan unggahan aktivitasnya hari ini.

Setelah tidak ada lagi guyonan, atau tak ada juga yang serius dibicarakan, satu per satu akhirnya masuk ke ruang guru untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Mengecek tugas yang diberikan melalui media daring. Ada juga yang sibuk menyiapkan tugas-tugas berikutnya.

Waktu terasa lama dan membosankan, sebelum akhirnya dari balik jendela melihat ke halaman sekolah. Ada sesuatu yang tak biasa. Lalu, saya alihkan perhatian teman-teman yang tampak sangat serius.

“Bu Mang, ada yang mencari.”

“Siapa?”

“Itu di halaman sekolah!”

Semuanya menoleh ke halaman, lalu meledaklah tawa semua yang ada di ruang guru, ketika melihat dua ekor anak sapi dengan santainya melenggang di halaman sekolah. Bahkan, ketika didekati untuk diambil foto, anak-anak sapi itu bukannya lari, malah mendekat. Padahal belum kenal. Ha ha ha.

Tidak lupa, salah satu diantaranya memberi “imbalan” untuk sekolah. Mungkin hadiah karena diijinkan masuk dan tidak diganggu. Hadiah berupa gundukan kotoran yang dikeluarkannya tanpa beban apalagi malu.

Anak sapi dan kotorannya [Foto Wayan Paing]

Mungkin juga karena tak tega melihat tanah lapang yang tidak ditumbuhi rumput, lalu berinisiatif untuk menyuburkannya. Jika selama dua minggu dilakukan secara teratur, bukan tidak mungkin, rumput akan tumbuh subur apalagi didukung oleh musim hujan saat ini.

Saya ingat teori pembelajaran yang mengatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah mendekatkan siswa dengan lingkungan nyata. Artinya siswa bisa belajar dengan mendekat bahkan menyatu kepada alam.  

Tetapi, selama ini, pembelajaran tentang alam justru lebih banyak dilakukan di dalam kelas, dengan teori-teori dan nama serta istilah-istilah asing.

Ketika sapi masuk sekolah pada saat siswa belajar di rumah, membuat saya kembali merenung soal pembelajaran di alam. Saat kelas-kelas itu kosong, maka sapi [baca; alam] itu datang ke sekolah untuk memberi pelajaran, untuk mengingatkan bahwa sekolah sebenarnya tak bisa dipisahkan dari alam.

Siswa yang belajar di rumah (bukan liburan) kini mungkin bisa belajar pada alam bebas. Apalagi siswa yang rumahnya di tengah tegalan, atau di sebuah desa di balik bukit, di lembah yang alami, dan tak punya koneksi dengan guru-guru secara online.

Mereka bisa kembali mengenal daun-daunan di sekitar rumahnya, misalnya daun yang bisa dijadikan loloh untuk meredakan demam, flu atau sakit kepala.

Ketika dunia begitu modern, sekolah seakan punya sekat kuat antara sekolah dengan alam. Sekolah dipagar tinggi-tinggi agar orang luar, apalagi hewan, tak bisa masuk ke sekolah.

Dan, pada saat merebak kasus Covid 19, kita baru ingat hal-hal yang pernah kita pelajari dari alam, dari leluhur yang begitu dekat dengan alam. Misalnya, loloh, daun-daunan semak yang bisa dijadikan obat.

Sapi yang masuk ke sekolah, ketika banyak anak-anak tak tahu lagi bagaimana sapi menjadi tulang-punggung kehidupan masyarakat Bali di masa lalu, adalah sebuah peringatan, sebuah pelajaran. Ia jadi renungan.

Oh, ya, peristiwa ini bisa juga jadi renungan tentang alam dan pariwisata atau pariwisata dan alam. Sapi itu mungkin minta perhatian. Bahwa pada saat-saat banyak yang cemas akan ambruknya pariwisata, sapi [baca: alam] yang dulu kerap dilupakan, kini sebaiknya diperhatikan dengan amat-amat serius.  [T/editor Adnyana Ole]

Tags: alamcovid 19lingkungansekolahsekolah dasar
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

Next Post

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co