2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Wayan Paing by Wayan Paing
March 18, 2020
in Esai
Covid-19, Siswa Belajar di Rumah, Sapi Masuk Sekolah, dan Renungan Sekolah Alam

Sapi masuk sekolah di sebuah desa di pedalaman Karangasem [Foto Wayan Paing]

Akibat Covid-19, siswa dirumahkan, eh, diputuskan untuk belajar di rumah. Banyak cerita yang terjadi saat anak-anak sekolah harus belajar mandiri di rumah masing-masing.

Misalnya guyonan saat resah kadang bisa sadis. Misalnya, ada yang berkata, “Siswa tidak ke sekolah, belajar di rumah. Bagaimana dengan guru dan pegawai? Guru dan pegawai yang belum meninggal, tetap ke sekolah?” [Guyonan yang keterlaluan seperti itu, kadang bikin stress hilang].

Terjadi juga perdebatan, yang boleh juga disebut guyonan. Misalnya perdebatan mengenai tidak ke luar rumah dan bekerja dari rumah. Lalu, mengapa guru harus ke sekolah? Ada juga yang menanggapi, “Paginya buru-buru dan siangnya menunggu!”

Itu karena guru dan pegawai diolah [baca: diatur] oleh satu barang digital yang bernama finger scan. Benda “pembunuh” satu itu, memang menjadi momok tersendiri sejak mulai diberlakukan. “Pembunuh”? Iya, konon, jika benda itu tidak menyimpan data kehadiran guru di sekolah, tunjangan hidupnya akan ditiadakan.

Tunjangan hidup ditiadakan, bukankah akan merobohkan hidupnya?

Ahh, hanya guyonan kecil yang tampak serius saja bagi beberapa orang. Tapi, ada juga yang menafsirkan, bagi sebagian besar orang, bahwa itu hal serius. Guyonan yang serius.

Dan begitulah, ketika siswa diputuskan oleh pemerintah untuk belajar di rumah, guru-guru tetap pergi ke sekolah. Di sekolah saya juga, di sebuah sekolah terpencil di sebuah desa kecil yang begitu dekat dengan alam di pedalaman Karangasem, Bali.

Sebagai guru, saya masuk juga. Ritual dijalankan. Paginya buru-buru untuk absen finger scan sebelum jam tujuh. Lalu, memang harus menunggu, minimal sampai jam 13.15. Jika tidak, kehadiran mereka akan dicatat tidak wajar oleh alat tersebut.

Kadang-kadang geli sendiri dibuatnya. Olah barang bangka, diatur benda mati — begitu kata sedikit orang.

Berbagai kegiatan dilakukan mengisi waktu sunyi tersebut. Mulai dari menyapu, menggantikan tugas piket siswa. Ada juga mengambil cangkul untuk membuat tempat berkebun di belakang sekolah. Salah satunya, ke dapur, membuat air hangat untuk membuat kopi dan teh bagi yang lainnya.

Tidak ada yang aneh pada semua kegiatan itu. Masyarakat sekitar yang melintas pun tidak ada yang heran, karena pemberitaan sudah mereka dapatkan melalui media sosial. Semua berjalan wajar dan normal, walau tidak biasa.

Waktu istirahat pun tiba. Menikmati kopi dan teh yang disajikan sehabis bekerja. Di meja taman depan kelas-kelas yang ditutup rapat. Tak banyak cerita yang muncul. Semua sibuk dengan kopi dan tehnya masing-masing. Temannya, tentu saja gadget di tangan yang mulai sibuk menerima sajian aktivitas beraneka ragam hari ini. Tidak lupa membalasnya dengan unggahan aktivitasnya hari ini.

Setelah tidak ada lagi guyonan, atau tak ada juga yang serius dibicarakan, satu per satu akhirnya masuk ke ruang guru untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Mengecek tugas yang diberikan melalui media daring. Ada juga yang sibuk menyiapkan tugas-tugas berikutnya.

Waktu terasa lama dan membosankan, sebelum akhirnya dari balik jendela melihat ke halaman sekolah. Ada sesuatu yang tak biasa. Lalu, saya alihkan perhatian teman-teman yang tampak sangat serius.

“Bu Mang, ada yang mencari.”

“Siapa?”

“Itu di halaman sekolah!”

Semuanya menoleh ke halaman, lalu meledaklah tawa semua yang ada di ruang guru, ketika melihat dua ekor anak sapi dengan santainya melenggang di halaman sekolah. Bahkan, ketika didekati untuk diambil foto, anak-anak sapi itu bukannya lari, malah mendekat. Padahal belum kenal. Ha ha ha.

Tidak lupa, salah satu diantaranya memberi “imbalan” untuk sekolah. Mungkin hadiah karena diijinkan masuk dan tidak diganggu. Hadiah berupa gundukan kotoran yang dikeluarkannya tanpa beban apalagi malu.

Anak sapi dan kotorannya [Foto Wayan Paing]

Mungkin juga karena tak tega melihat tanah lapang yang tidak ditumbuhi rumput, lalu berinisiatif untuk menyuburkannya. Jika selama dua minggu dilakukan secara teratur, bukan tidak mungkin, rumput akan tumbuh subur apalagi didukung oleh musim hujan saat ini.

Saya ingat teori pembelajaran yang mengatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah mendekatkan siswa dengan lingkungan nyata. Artinya siswa bisa belajar dengan mendekat bahkan menyatu kepada alam.  

Tetapi, selama ini, pembelajaran tentang alam justru lebih banyak dilakukan di dalam kelas, dengan teori-teori dan nama serta istilah-istilah asing.

Ketika sapi masuk sekolah pada saat siswa belajar di rumah, membuat saya kembali merenung soal pembelajaran di alam. Saat kelas-kelas itu kosong, maka sapi [baca; alam] itu datang ke sekolah untuk memberi pelajaran, untuk mengingatkan bahwa sekolah sebenarnya tak bisa dipisahkan dari alam.

Siswa yang belajar di rumah (bukan liburan) kini mungkin bisa belajar pada alam bebas. Apalagi siswa yang rumahnya di tengah tegalan, atau di sebuah desa di balik bukit, di lembah yang alami, dan tak punya koneksi dengan guru-guru secara online.

Mereka bisa kembali mengenal daun-daunan di sekitar rumahnya, misalnya daun yang bisa dijadikan loloh untuk meredakan demam, flu atau sakit kepala.

Ketika dunia begitu modern, sekolah seakan punya sekat kuat antara sekolah dengan alam. Sekolah dipagar tinggi-tinggi agar orang luar, apalagi hewan, tak bisa masuk ke sekolah.

Dan, pada saat merebak kasus Covid 19, kita baru ingat hal-hal yang pernah kita pelajari dari alam, dari leluhur yang begitu dekat dengan alam. Misalnya, loloh, daun-daunan semak yang bisa dijadikan obat.

Sapi yang masuk ke sekolah, ketika banyak anak-anak tak tahu lagi bagaimana sapi menjadi tulang-punggung kehidupan masyarakat Bali di masa lalu, adalah sebuah peringatan, sebuah pelajaran. Ia jadi renungan.

Oh, ya, peristiwa ini bisa juga jadi renungan tentang alam dan pariwisata atau pariwisata dan alam. Sapi itu mungkin minta perhatian. Bahwa pada saat-saat banyak yang cemas akan ambruknya pariwisata, sapi [baca: alam] yang dulu kerap dilupakan, kini sebaiknya diperhatikan dengan amat-amat serius.  [T/editor Adnyana Ole]

Tags: alamcovid 19lingkungansekolahsekolah dasar
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

Next Post

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Kisah Hubungan Nusa Penida dan Bali: Dulu Tak Harmonis, Kini Jadi Spirit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co