6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 22, 2020
in Opini
Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

Petani Rumput Laut di Nusa Penida. Sumber Foto: balipost.com

Sektor apa yang paling ampuh dapat menarik generasi milenial bertahan dan bahkan kembali ke kampung Nusa Penida (NP)? Untuk sementara, jawabannya tiada lain yakni sektor pariwisata. Kemajuan sektor pariwisata di NP (sekarang) tidak hanya membuat generasi milenial betah di kampung halaman, tetapi menarik beberapa generasi muda perantauan di Bali daratan kembali ke kampung halaman. Bahkan, beberapa transmigran pun ikut kembali ke tanah kelahiran untuk mencicipi kue pariwisata di NP. Wow, luar biasa!

Sebelum pariwisata melejit, lebih dari 90 persen generasi milenial NP menetap di Bali daratan mulai dari usia pelajar, mahasiswa hingga usia kerja. Kampung NP dianggap tidak menjanjikan sebagai pengembangan karier kerja. Karena itu, para generasi milenial berlomba-lomba bekerja di Bali daratan. Mereka bekerja dalam berbagai sektor, dengan tingkatan kerja yang bervariasi (dari pekerja kasar/ serabutan, pedagang, PNS, pengusaha, dsb). Lalu, para generasi ini menjadikan kampung halaman hanya sebagai “pelepas rindu” pada musim hari raya (hindu) atau acara penting lainnya.

Begitu juga ketika sektor pertanian budidaya rumput laut meroket di NP era 1990-an sampai 2000-an. Sektor ini tidak mampu meredam arus urbanisasi dari NP ke Bali daratan. Para generasi muda zaman itu kurang tertarik menetap di NP, apalagi kembali ke kampung NP. Padahal, penghasilan rumput laut zaman itu cukup menjanjikan. Setidak-setidaknya dapat mengakomodir biaya kehidupan sehari-hari bahkan dapat mengcover biaya pendidikan. Namun, sektor pertanian ini tidak mampu membuat generasi muda betah di kampung apalagi untuk kembali ke NP.

Saya kurang paham terhadap fenomena itu. Mungkin, pekerjaan petani memang dipandang rendah dan kurang populer di masyarakat. Menjadi petani masih dianggap sebagai pekerjaan kuno, tak menjanjikan, wong deso, kurang bergengsi, dan identik dengan kemiskinan. Karena itulah, banyak orang tua (di desa) mendorong anak-anaknya untuk tidak menjadi petani. “Cita-cita menjadi petani adalah haram,” kira-kira begitulah prinsip ortu zaman dulu (dan termasuk sekarang).

Itulah sebabnya, para ortu akan bangga jika anaknya dapat bekerja di kantoran, meskipun penghasilan tidak seberapa. Mereka akan bangga jika melihat anaknya berpakaian rapi (dinas) dan tidak kotor. Pergi ke kantor setiap hari, bukan ke sawah, ladang, kebun atau ke laut.

Ekspektasi para orang tua ini bak gayung bersambut. Nyoman Suwirta menduduki singgasana Klungkung (2013), lalu menggenjot sektor pariwisata di NP. Kebijakan ini seolah-olah menjadi semacam “hero” di tengah pertanian rumput laut yang memang sudah lama mati suri di NP. Sektor pariwisata melejit. Ruang-ruang agraris terekspansi, terutama pesisir pantai. Medan agraris (laut) telah berubah menjadi pelabuhan (jembatan ponton) fast boat, titik snorkeling, diving, sport water dan lain sebagainya.

Kondisi inilah yang justru membuat para kaum milenial menjadi sumringah. Ruang kerja (lapangan pekerjaan) menjadi terbuka. Hingga awal tahun 2020, sebanyak 329 hotel di NP terdaftar dalam m.traveloka.com. Sedangkan, booking.com mencatat 437 hotel bertebaran di NP. Jumlah ini setidak-setidaknya dapat mengakamodir kebutuhan kerja dari kaum milenial di NP. Apalagi jumlah akomodasi tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan.

Keberadaan akomodasi penginapan didukung pula oleh maraknya jumlah warung makan dan restoran di NP. Tripadvisor mencatat bahwa ada kurang lebih 142 warung makan dan restoran bertebaran di NP. Jumlah ini semakin memperlebar lapangan pekerjaan bagi kaum milenial. Belum lagi, sektor-sektor lainnya, yang memunculkan pekerjaan baru, yang mendukung operasional pariwisata di NP.

Hingga sekarang, beragam pekerjaan bidang pariwisata bermunculan seperti guide, sopir, usaha travel agent, waiter/ waitress, bisnis akomodasi dan lain sebagainya. Pekerjaan dengan pakaian rapi dan tidak kotor plus penghasilan yang menjanjikan—sesuai harapan para orang tua dan generasi milenial. Inilah magnet kuat yang menarik generasi milenial NP bertahan dan kembali ke kampung.

Lalu, bagaimana nasib para generasi petani rumput laut sekarang? Kemana mereka? Game overkah mereka? Atau jangan-jangan mereka juga ikut mencicipi gemerincing dolar tersebut?

Generasi Petani (Rumput Laut) dan Kepungan Pariwisata

Pada umumnya para petani di NP memiliki banyak skill. Mereka tidak hanya mengandalkan skill bertani tulen (monoskill). Di samping mampu bertani di darat atau di laut, mereka mampu menjadi tukang, buruh bangunan, sopir, nelayan, dan lain sebagainya. Kompleksitas skill ini bertujuan untuk bisa bertahan dalam situasi hidup yang tidak menentu. Misalnya, ketika rumput laut anjlok maka petani banting setir bekerja sebagai tukang, buruh bangunan, dan lain-lainnya.

Jadi, petani di NP kebanyakan memiliki skill ganda (lebih dari satu). Karena itulah, ketika pariwisata bertahta di NP, para generasi petani ini ikut banting setir, menyesesuaikan skillnya dengan kebutuhan pariwisata. Mereka umumnya terpencar dalam berbagai sektor pekerjaan. Paling banyak adalah tukang dan buruh bangunan (akomodasi penginapan/ warung makan).         Sebagai tukang profesional, mereka mendapat bayaran pada kisaran Rp 150-200 ribu per hari. Sedangkan, pengayah (buruh bangunan) mendapat bayaran Rp 100-150 ribu per hari. Sementara, pekerjaan petani dan peternak (pelihara sapi/ babi) tetap mereka jalani sebagai cadangan dana tak terduga atau biaya semesteran atau tahunan.

Lebih beruntung lagi ialah petani rumput laut yang merangkap sebagai nelayan. Mereka memiliki skill yang sangat dibutuhkan dalam dunia pariwisata yakni sebagai kapten boat untuk kegiatan snorkeling, diving, dan mengantar tamu menyeberang ke Pulau Nusa Ceningan atau Lembongan. Malam (dini hari), mereka bekerja mencari ikan di laut. Paginya, mendarat  dan berjualan ikan. Setelah itu, mereka membawa boat untuk mengantar tamu snorkeling atau diving.

Sebagai kapten boat saja, mereka memperoleh penghasilan Rp 250 ribu (minimal 2 titik lokasi). Jika memiliki boat sendiri bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta per hari. Jadi, mereka mendapat penghasilan berlipat ganda. Mereka mendapat penghasilan dari menangkap ikan dan juga penghasilan jasa mengantar wisatawan snorkeling atau diving.

Sayangnya, rata-rata kapten boat ini tidak memiliki sertifikat. Karena mereka memang tidak pernah menempuh pendidikan khusus sebagai kapten boat. Namun, jangan salah! Kita tidak boleh meragukan keprofesionalan mereka. Rata-rata mereka sudah puluhan tahun kuliah dengan alam (iklim, pergerakan arus laut, padewasan, pergerakan angin dll.). Mereka sangat memahami alam dengan studi “mengalami langsung” bahkan (ada) sejak dari kecil.

Selain menjadi tukang, buruh bangunan, dan kapten boat, ada juga yang menjadi sopir. Mereka mengantar wisatawan ke titik objek wisata yang ada di NP. Sebagai jasa sopir saja, mereka mendapat penghasilan berkisar Rp 150-200 ribu per hari. Jika membawa mobil sendiri, mereka bisa meraup penghasilan sekitar Rp 400-600 ribu per hari.

Sementara yang lainnya, ada pula yang terjun menjadi pengusaha properti dan bisnis akomodasi penginapan. Mereka yang terjun ke dunia ini umumnya memiliki modal dan jiwa spekulan yang tinggi. Artinya, beberapa kaum generasi petani rumput laut ini dapat pula bersaing dengan kaum generasi milenial untuk menjadi pelaku pariwisata.

Sekali lagi, dalam konteks perkembangan pariwisata sekarang, skil ganda yang dimiliki oleh generasi petani tumput laut ini memudahkan mereka. Pertama, memudahkan mereka dalam mengubah haluan hidup sesuai perkembangan dan tuntutan terkini. Kedua, menyelamatkan mereka dari korban perubahan (meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai pelaku pariwisata). Ketiga, mereka tetap eksis dan menjadi bagian dari perubahan itu.

Seandainya, petani rumput laut itu hanya bermental petani tulen, barangkali mereka sudah game over. Mereka akan menjadi penonton, sambil sesekali mengucapkan kalimat kebanggaan, “Gumi NP sudah maju. Banyak bule. Banyak penginapan”. Mereka merasa bangga, walaupun hanya bisa melambaikan tangan dan mengatakan “Hallo” kepada setiap bule yang lewat.

Lalu, para bule memandang ramah, melihat para generasi petani tulen yang game over itu. Dalam konteks inilah sesungguhnya terjadi aksi tonton-menonton. Para wisatawan menonton penduduk lokal (petani yang game over itu). Sebaliknya, penduduk lokal juga menonton para wisatawan (bule). Inilah yang mungkin disebut sebagai “panggung banyolan pariwisata”. [T]

Tags: baliNusa PenidaPariwisatarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memeluk “I Jalur”, Durian Juara dari Munduk Bestala

Next Post

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Pacaran, Penting, Tidak Penting…

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co