3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 22, 2020
in Opini
Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

Petani Rumput Laut di Nusa Penida. Sumber Foto: balipost.com

Sektor apa yang paling ampuh dapat menarik generasi milenial bertahan dan bahkan kembali ke kampung Nusa Penida (NP)? Untuk sementara, jawabannya tiada lain yakni sektor pariwisata. Kemajuan sektor pariwisata di NP (sekarang) tidak hanya membuat generasi milenial betah di kampung halaman, tetapi menarik beberapa generasi muda perantauan di Bali daratan kembali ke kampung halaman. Bahkan, beberapa transmigran pun ikut kembali ke tanah kelahiran untuk mencicipi kue pariwisata di NP. Wow, luar biasa!

Sebelum pariwisata melejit, lebih dari 90 persen generasi milenial NP menetap di Bali daratan mulai dari usia pelajar, mahasiswa hingga usia kerja. Kampung NP dianggap tidak menjanjikan sebagai pengembangan karier kerja. Karena itu, para generasi milenial berlomba-lomba bekerja di Bali daratan. Mereka bekerja dalam berbagai sektor, dengan tingkatan kerja yang bervariasi (dari pekerja kasar/ serabutan, pedagang, PNS, pengusaha, dsb). Lalu, para generasi ini menjadikan kampung halaman hanya sebagai “pelepas rindu” pada musim hari raya (hindu) atau acara penting lainnya.

Begitu juga ketika sektor pertanian budidaya rumput laut meroket di NP era 1990-an sampai 2000-an. Sektor ini tidak mampu meredam arus urbanisasi dari NP ke Bali daratan. Para generasi muda zaman itu kurang tertarik menetap di NP, apalagi kembali ke kampung NP. Padahal, penghasilan rumput laut zaman itu cukup menjanjikan. Setidak-setidaknya dapat mengakomodir biaya kehidupan sehari-hari bahkan dapat mengcover biaya pendidikan. Namun, sektor pertanian ini tidak mampu membuat generasi muda betah di kampung apalagi untuk kembali ke NP.

Saya kurang paham terhadap fenomena itu. Mungkin, pekerjaan petani memang dipandang rendah dan kurang populer di masyarakat. Menjadi petani masih dianggap sebagai pekerjaan kuno, tak menjanjikan, wong deso, kurang bergengsi, dan identik dengan kemiskinan. Karena itulah, banyak orang tua (di desa) mendorong anak-anaknya untuk tidak menjadi petani. “Cita-cita menjadi petani adalah haram,” kira-kira begitulah prinsip ortu zaman dulu (dan termasuk sekarang).

Itulah sebabnya, para ortu akan bangga jika anaknya dapat bekerja di kantoran, meskipun penghasilan tidak seberapa. Mereka akan bangga jika melihat anaknya berpakaian rapi (dinas) dan tidak kotor. Pergi ke kantor setiap hari, bukan ke sawah, ladang, kebun atau ke laut.

Ekspektasi para orang tua ini bak gayung bersambut. Nyoman Suwirta menduduki singgasana Klungkung (2013), lalu menggenjot sektor pariwisata di NP. Kebijakan ini seolah-olah menjadi semacam “hero” di tengah pertanian rumput laut yang memang sudah lama mati suri di NP. Sektor pariwisata melejit. Ruang-ruang agraris terekspansi, terutama pesisir pantai. Medan agraris (laut) telah berubah menjadi pelabuhan (jembatan ponton) fast boat, titik snorkeling, diving, sport water dan lain sebagainya.

Kondisi inilah yang justru membuat para kaum milenial menjadi sumringah. Ruang kerja (lapangan pekerjaan) menjadi terbuka. Hingga awal tahun 2020, sebanyak 329 hotel di NP terdaftar dalam m.traveloka.com. Sedangkan, booking.com mencatat 437 hotel bertebaran di NP. Jumlah ini setidak-setidaknya dapat mengakamodir kebutuhan kerja dari kaum milenial di NP. Apalagi jumlah akomodasi tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan.

Keberadaan akomodasi penginapan didukung pula oleh maraknya jumlah warung makan dan restoran di NP. Tripadvisor mencatat bahwa ada kurang lebih 142 warung makan dan restoran bertebaran di NP. Jumlah ini semakin memperlebar lapangan pekerjaan bagi kaum milenial. Belum lagi, sektor-sektor lainnya, yang memunculkan pekerjaan baru, yang mendukung operasional pariwisata di NP.

Hingga sekarang, beragam pekerjaan bidang pariwisata bermunculan seperti guide, sopir, usaha travel agent, waiter/ waitress, bisnis akomodasi dan lain sebagainya. Pekerjaan dengan pakaian rapi dan tidak kotor plus penghasilan yang menjanjikan—sesuai harapan para orang tua dan generasi milenial. Inilah magnet kuat yang menarik generasi milenial NP bertahan dan kembali ke kampung.

Lalu, bagaimana nasib para generasi petani rumput laut sekarang? Kemana mereka? Game overkah mereka? Atau jangan-jangan mereka juga ikut mencicipi gemerincing dolar tersebut?

Generasi Petani (Rumput Laut) dan Kepungan Pariwisata

Pada umumnya para petani di NP memiliki banyak skill. Mereka tidak hanya mengandalkan skill bertani tulen (monoskill). Di samping mampu bertani di darat atau di laut, mereka mampu menjadi tukang, buruh bangunan, sopir, nelayan, dan lain sebagainya. Kompleksitas skill ini bertujuan untuk bisa bertahan dalam situasi hidup yang tidak menentu. Misalnya, ketika rumput laut anjlok maka petani banting setir bekerja sebagai tukang, buruh bangunan, dan lain-lainnya.

Jadi, petani di NP kebanyakan memiliki skill ganda (lebih dari satu). Karena itulah, ketika pariwisata bertahta di NP, para generasi petani ini ikut banting setir, menyesesuaikan skillnya dengan kebutuhan pariwisata. Mereka umumnya terpencar dalam berbagai sektor pekerjaan. Paling banyak adalah tukang dan buruh bangunan (akomodasi penginapan/ warung makan).         Sebagai tukang profesional, mereka mendapat bayaran pada kisaran Rp 150-200 ribu per hari. Sedangkan, pengayah (buruh bangunan) mendapat bayaran Rp 100-150 ribu per hari. Sementara, pekerjaan petani dan peternak (pelihara sapi/ babi) tetap mereka jalani sebagai cadangan dana tak terduga atau biaya semesteran atau tahunan.

Lebih beruntung lagi ialah petani rumput laut yang merangkap sebagai nelayan. Mereka memiliki skill yang sangat dibutuhkan dalam dunia pariwisata yakni sebagai kapten boat untuk kegiatan snorkeling, diving, dan mengantar tamu menyeberang ke Pulau Nusa Ceningan atau Lembongan. Malam (dini hari), mereka bekerja mencari ikan di laut. Paginya, mendarat  dan berjualan ikan. Setelah itu, mereka membawa boat untuk mengantar tamu snorkeling atau diving.

Sebagai kapten boat saja, mereka memperoleh penghasilan Rp 250 ribu (minimal 2 titik lokasi). Jika memiliki boat sendiri bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta per hari. Jadi, mereka mendapat penghasilan berlipat ganda. Mereka mendapat penghasilan dari menangkap ikan dan juga penghasilan jasa mengantar wisatawan snorkeling atau diving.

Sayangnya, rata-rata kapten boat ini tidak memiliki sertifikat. Karena mereka memang tidak pernah menempuh pendidikan khusus sebagai kapten boat. Namun, jangan salah! Kita tidak boleh meragukan keprofesionalan mereka. Rata-rata mereka sudah puluhan tahun kuliah dengan alam (iklim, pergerakan arus laut, padewasan, pergerakan angin dll.). Mereka sangat memahami alam dengan studi “mengalami langsung” bahkan (ada) sejak dari kecil.

Selain menjadi tukang, buruh bangunan, dan kapten boat, ada juga yang menjadi sopir. Mereka mengantar wisatawan ke titik objek wisata yang ada di NP. Sebagai jasa sopir saja, mereka mendapat penghasilan berkisar Rp 150-200 ribu per hari. Jika membawa mobil sendiri, mereka bisa meraup penghasilan sekitar Rp 400-600 ribu per hari.

Sementara yang lainnya, ada pula yang terjun menjadi pengusaha properti dan bisnis akomodasi penginapan. Mereka yang terjun ke dunia ini umumnya memiliki modal dan jiwa spekulan yang tinggi. Artinya, beberapa kaum generasi petani rumput laut ini dapat pula bersaing dengan kaum generasi milenial untuk menjadi pelaku pariwisata.

Sekali lagi, dalam konteks perkembangan pariwisata sekarang, skil ganda yang dimiliki oleh generasi petani tumput laut ini memudahkan mereka. Pertama, memudahkan mereka dalam mengubah haluan hidup sesuai perkembangan dan tuntutan terkini. Kedua, menyelamatkan mereka dari korban perubahan (meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai pelaku pariwisata). Ketiga, mereka tetap eksis dan menjadi bagian dari perubahan itu.

Seandainya, petani rumput laut itu hanya bermental petani tulen, barangkali mereka sudah game over. Mereka akan menjadi penonton, sambil sesekali mengucapkan kalimat kebanggaan, “Gumi NP sudah maju. Banyak bule. Banyak penginapan”. Mereka merasa bangga, walaupun hanya bisa melambaikan tangan dan mengatakan “Hallo” kepada setiap bule yang lewat.

Lalu, para bule memandang ramah, melihat para generasi petani tulen yang game over itu. Dalam konteks inilah sesungguhnya terjadi aksi tonton-menonton. Para wisatawan menonton penduduk lokal (petani yang game over itu). Sebaliknya, penduduk lokal juga menonton para wisatawan (bule). Inilah yang mungkin disebut sebagai “panggung banyolan pariwisata”. [T]

Tags: baliNusa PenidaPariwisatarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memeluk “I Jalur”, Durian Juara dari Munduk Bestala

Next Post

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Pacaran, Penting, Tidak Penting…

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co