12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 22, 2020
in Opini
Di Nusa Penida, Ketika Pariwisata “Menghegemoni”, ke Mana Generasi Petani Rumput Laut?

Petani Rumput Laut di Nusa Penida. Sumber Foto: balipost.com

Sektor apa yang paling ampuh dapat menarik generasi milenial bertahan dan bahkan kembali ke kampung Nusa Penida (NP)? Untuk sementara, jawabannya tiada lain yakni sektor pariwisata. Kemajuan sektor pariwisata di NP (sekarang) tidak hanya membuat generasi milenial betah di kampung halaman, tetapi menarik beberapa generasi muda perantauan di Bali daratan kembali ke kampung halaman. Bahkan, beberapa transmigran pun ikut kembali ke tanah kelahiran untuk mencicipi kue pariwisata di NP. Wow, luar biasa!

Sebelum pariwisata melejit, lebih dari 90 persen generasi milenial NP menetap di Bali daratan mulai dari usia pelajar, mahasiswa hingga usia kerja. Kampung NP dianggap tidak menjanjikan sebagai pengembangan karier kerja. Karena itu, para generasi milenial berlomba-lomba bekerja di Bali daratan. Mereka bekerja dalam berbagai sektor, dengan tingkatan kerja yang bervariasi (dari pekerja kasar/ serabutan, pedagang, PNS, pengusaha, dsb). Lalu, para generasi ini menjadikan kampung halaman hanya sebagai “pelepas rindu” pada musim hari raya (hindu) atau acara penting lainnya.

Begitu juga ketika sektor pertanian budidaya rumput laut meroket di NP era 1990-an sampai 2000-an. Sektor ini tidak mampu meredam arus urbanisasi dari NP ke Bali daratan. Para generasi muda zaman itu kurang tertarik menetap di NP, apalagi kembali ke kampung NP. Padahal, penghasilan rumput laut zaman itu cukup menjanjikan. Setidak-setidaknya dapat mengakomodir biaya kehidupan sehari-hari bahkan dapat mengcover biaya pendidikan. Namun, sektor pertanian ini tidak mampu membuat generasi muda betah di kampung apalagi untuk kembali ke NP.

Saya kurang paham terhadap fenomena itu. Mungkin, pekerjaan petani memang dipandang rendah dan kurang populer di masyarakat. Menjadi petani masih dianggap sebagai pekerjaan kuno, tak menjanjikan, wong deso, kurang bergengsi, dan identik dengan kemiskinan. Karena itulah, banyak orang tua (di desa) mendorong anak-anaknya untuk tidak menjadi petani. “Cita-cita menjadi petani adalah haram,” kira-kira begitulah prinsip ortu zaman dulu (dan termasuk sekarang).

Itulah sebabnya, para ortu akan bangga jika anaknya dapat bekerja di kantoran, meskipun penghasilan tidak seberapa. Mereka akan bangga jika melihat anaknya berpakaian rapi (dinas) dan tidak kotor. Pergi ke kantor setiap hari, bukan ke sawah, ladang, kebun atau ke laut.

Ekspektasi para orang tua ini bak gayung bersambut. Nyoman Suwirta menduduki singgasana Klungkung (2013), lalu menggenjot sektor pariwisata di NP. Kebijakan ini seolah-olah menjadi semacam “hero” di tengah pertanian rumput laut yang memang sudah lama mati suri di NP. Sektor pariwisata melejit. Ruang-ruang agraris terekspansi, terutama pesisir pantai. Medan agraris (laut) telah berubah menjadi pelabuhan (jembatan ponton) fast boat, titik snorkeling, diving, sport water dan lain sebagainya.

Kondisi inilah yang justru membuat para kaum milenial menjadi sumringah. Ruang kerja (lapangan pekerjaan) menjadi terbuka. Hingga awal tahun 2020, sebanyak 329 hotel di NP terdaftar dalam m.traveloka.com. Sedangkan, booking.com mencatat 437 hotel bertebaran di NP. Jumlah ini setidak-setidaknya dapat mengakamodir kebutuhan kerja dari kaum milenial di NP. Apalagi jumlah akomodasi tersebut diperkirakan akan terus mengalami peningkatan.

Keberadaan akomodasi penginapan didukung pula oleh maraknya jumlah warung makan dan restoran di NP. Tripadvisor mencatat bahwa ada kurang lebih 142 warung makan dan restoran bertebaran di NP. Jumlah ini semakin memperlebar lapangan pekerjaan bagi kaum milenial. Belum lagi, sektor-sektor lainnya, yang memunculkan pekerjaan baru, yang mendukung operasional pariwisata di NP.

Hingga sekarang, beragam pekerjaan bidang pariwisata bermunculan seperti guide, sopir, usaha travel agent, waiter/ waitress, bisnis akomodasi dan lain sebagainya. Pekerjaan dengan pakaian rapi dan tidak kotor plus penghasilan yang menjanjikan—sesuai harapan para orang tua dan generasi milenial. Inilah magnet kuat yang menarik generasi milenial NP bertahan dan kembali ke kampung.

Lalu, bagaimana nasib para generasi petani rumput laut sekarang? Kemana mereka? Game overkah mereka? Atau jangan-jangan mereka juga ikut mencicipi gemerincing dolar tersebut?

Generasi Petani (Rumput Laut) dan Kepungan Pariwisata

Pada umumnya para petani di NP memiliki banyak skill. Mereka tidak hanya mengandalkan skill bertani tulen (monoskill). Di samping mampu bertani di darat atau di laut, mereka mampu menjadi tukang, buruh bangunan, sopir, nelayan, dan lain sebagainya. Kompleksitas skill ini bertujuan untuk bisa bertahan dalam situasi hidup yang tidak menentu. Misalnya, ketika rumput laut anjlok maka petani banting setir bekerja sebagai tukang, buruh bangunan, dan lain-lainnya.

Jadi, petani di NP kebanyakan memiliki skill ganda (lebih dari satu). Karena itulah, ketika pariwisata bertahta di NP, para generasi petani ini ikut banting setir, menyesesuaikan skillnya dengan kebutuhan pariwisata. Mereka umumnya terpencar dalam berbagai sektor pekerjaan. Paling banyak adalah tukang dan buruh bangunan (akomodasi penginapan/ warung makan).         Sebagai tukang profesional, mereka mendapat bayaran pada kisaran Rp 150-200 ribu per hari. Sedangkan, pengayah (buruh bangunan) mendapat bayaran Rp 100-150 ribu per hari. Sementara, pekerjaan petani dan peternak (pelihara sapi/ babi) tetap mereka jalani sebagai cadangan dana tak terduga atau biaya semesteran atau tahunan.

Lebih beruntung lagi ialah petani rumput laut yang merangkap sebagai nelayan. Mereka memiliki skill yang sangat dibutuhkan dalam dunia pariwisata yakni sebagai kapten boat untuk kegiatan snorkeling, diving, dan mengantar tamu menyeberang ke Pulau Nusa Ceningan atau Lembongan. Malam (dini hari), mereka bekerja mencari ikan di laut. Paginya, mendarat  dan berjualan ikan. Setelah itu, mereka membawa boat untuk mengantar tamu snorkeling atau diving.

Sebagai kapten boat saja, mereka memperoleh penghasilan Rp 250 ribu (minimal 2 titik lokasi). Jika memiliki boat sendiri bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta per hari. Jadi, mereka mendapat penghasilan berlipat ganda. Mereka mendapat penghasilan dari menangkap ikan dan juga penghasilan jasa mengantar wisatawan snorkeling atau diving.

Sayangnya, rata-rata kapten boat ini tidak memiliki sertifikat. Karena mereka memang tidak pernah menempuh pendidikan khusus sebagai kapten boat. Namun, jangan salah! Kita tidak boleh meragukan keprofesionalan mereka. Rata-rata mereka sudah puluhan tahun kuliah dengan alam (iklim, pergerakan arus laut, padewasan, pergerakan angin dll.). Mereka sangat memahami alam dengan studi “mengalami langsung” bahkan (ada) sejak dari kecil.

Selain menjadi tukang, buruh bangunan, dan kapten boat, ada juga yang menjadi sopir. Mereka mengantar wisatawan ke titik objek wisata yang ada di NP. Sebagai jasa sopir saja, mereka mendapat penghasilan berkisar Rp 150-200 ribu per hari. Jika membawa mobil sendiri, mereka bisa meraup penghasilan sekitar Rp 400-600 ribu per hari.

Sementara yang lainnya, ada pula yang terjun menjadi pengusaha properti dan bisnis akomodasi penginapan. Mereka yang terjun ke dunia ini umumnya memiliki modal dan jiwa spekulan yang tinggi. Artinya, beberapa kaum generasi petani rumput laut ini dapat pula bersaing dengan kaum generasi milenial untuk menjadi pelaku pariwisata.

Sekali lagi, dalam konteks perkembangan pariwisata sekarang, skil ganda yang dimiliki oleh generasi petani tumput laut ini memudahkan mereka. Pertama, memudahkan mereka dalam mengubah haluan hidup sesuai perkembangan dan tuntutan terkini. Kedua, menyelamatkan mereka dari korban perubahan (meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai pelaku pariwisata). Ketiga, mereka tetap eksis dan menjadi bagian dari perubahan itu.

Seandainya, petani rumput laut itu hanya bermental petani tulen, barangkali mereka sudah game over. Mereka akan menjadi penonton, sambil sesekali mengucapkan kalimat kebanggaan, “Gumi NP sudah maju. Banyak bule. Banyak penginapan”. Mereka merasa bangga, walaupun hanya bisa melambaikan tangan dan mengatakan “Hallo” kepada setiap bule yang lewat.

Lalu, para bule memandang ramah, melihat para generasi petani tulen yang game over itu. Dalam konteks inilah sesungguhnya terjadi aksi tonton-menonton. Para wisatawan menonton penduduk lokal (petani yang game over itu). Sebaliknya, penduduk lokal juga menonton para wisatawan (bule). Inilah yang mungkin disebut sebagai “panggung banyolan pariwisata”. [T]

Tags: baliNusa PenidaPariwisatarumput laut
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memeluk “I Jalur”, Durian Juara dari Munduk Bestala

Next Post

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Pacaran, Penting, Tidak Penting…

Apa Gunanya Memiliki Presiden Mahasiswa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co