2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Kritik terhadap Pratek Tri Hita Karana dari Sebuah Lukisan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
February 3, 2020
in Esai
Sebuah Kritik terhadap Pratek Tri Hita Karana dari Sebuah Lukisan

Lukisan di Kulidan Kitchen

Di Kulidan Kitchen, di Guwang, Sukawati, Gianyar, ada satu lukisan berbingkai kayu dan dilapisi kaca. Ini dipajang di lemari terbuka. Lukisan tersebut bertanda trashstock bali di atas kanannya. Di lukisan ini dua wisatawan macanegara berkunjung menikmati alam Bali dengan latar belakang tanah hijau berbukit dengan tegakan pohon kelapa serta persawahan dibelah oleh aliran sungai dan langit cerah berwarna biru muda memayungi tanah Bali.

Seorang pemandu wisata berpakaian adat menerangkan keadaan alam dan budaya Bali. Dia juga berbicara konsep yang sering dibunyikan oleh pejabat daerah Bali dari dulu sampai sekarang yaitu Tri Hita Karana. Gubernur, Bupati dan Walikota masih suka meniupkan terompet bernada Tri Hita Karana. Salah satu konsep ini adalah keharmonisan manusia dengan alam. Di Seberang sungai , ada seorang anak berusia sekolah membuang sampah sembarangan ke sungai. Wisatawan yang melihat perilaku bocah tersebut bingung dengan kenyataan yang terjadi. Mereka berpikir ini cuma slogan belaka.

Sampah yang dibuang olehnya mencemari lautan. Penumpukan sampah di sungai akibat perilaku tak peduli lingkungan berpotensi menimbulkan banjir yang merugikan secara ekonomi. Kerugian langsung adalah kerusakan rumah, fasilitas umum, sawah dan kendaraan. Secara tak langsung adalah terganggunya wisatawan yang menyebabkan keengganan mereka mengunjungi tempat yang sering dilanda banjir.

Sawah yang tercemar sampah akibat perilaku tak peduli lingkungan mengurangi keindahan alam Bali. Ini menyebabkan pendapatan daerah menurun karena pariwisata terganggu. Perilaku ini merusak dua sendi perekonomian Bali yaitu pariwisata dan pertanian. Belum lagi sampah menyebabkan saluran irigasi terganggu dengan sumbatan sampah sehingga air sulit mengairi sawah. Sungai yang terpapar sampah di hulu menyebabkan sawah di tengah dan hilir tidak maksimal memproduksi beras.

Dari segi kesehatan perilaku buang sampah sembarangan menjadi tempat munculnya penyakit. Sampah makanan yang dibuang sembarangan menyebabkan ledakan populasi lalat. Lalat adalah vector penyakit disentri. Sampah basah sehabis banjir merupakan rumah bagi nyamuk demam berdarah yang dapat merenggut nyawa.

Dari perilaku tak peduli lingkungan saja sudah membahayakan nyawa manusia secara langsung. Saat kesehatan lingkungan terganggu kesehatan manusia terancam. Lingkungan berbau busuk akibat timbunan sampah membawa gangguan psikis manusia. Ada satu penghubung tak kelihatan antara manusia dengan alam yang menjaid bukti bahwa manusia tak terpisahkan darinya.

Sampah yang dibuang ke sungai merusak ekosistem. Plastik, kaca, logam dan bahan kimia di dalam kemasan membunuh ikan dan tanaman air. Sebagian dari sampah mengalir ke laut dan menjadi santapan bagi hewan laut yang penting bagi ekosistem seperti penyu dan yang berfungsi untuk makanan yaitu ikan laut. Usus penyu tersumbat oleh plastik yang disangka ubur ubur sehingga menyebabkan makanan tak dapat dicerna lalu penyu mati kelaparan.

Sampah sampah yang masuk ke laut terurai menjadi partikel amat kecil yang masuk ke dalam tubuh hewan laut. Sampah yang mengandung racun ikut termakan olehnya dan terakumulasi. Saat manusia memakan ikan atau cumi cumi, dia terpapar partikel sampah dan memiliki resiko berbagai penyakit. Pencemaran laut dari berbagai jenis bahan kimia dari sampah dan limbah mungkin salah satu penyebab alergi makanan laut yang banyak dijumpai.

Di sini, Tri Hita Karana yang disajikan oleh media massa dan diajarkan di sekolah sekolah patut dipertanyakan. Skeptis dan kritis terhadap praktek Tri Hita Karana diperlukan. Tri Hita Karana indah di atas kertas namun pelaksaan di lapangan berlainan dari yang diserukan. Mengapa Tri Hita Karana dalam pendidikan formal dan informal belum berhasil membangkitkan kesadaran lingkungan menurut pembaca sekalian? Apa yang kurang tepat dari pengajaran Tri Hita Karana dan nangun sakerti loka Bali di lembaga pendidikan formal?

Pendidikan Bali di kebanyakan sekolah mengarahkan siswa untuk belajar secara pasif mengikuti guru dan buku. Siswa kurang didorong untuk berpikir kritis dan skeptic dalam menyikapi keadaan sekitar. Kenyataan pahit berikutnya adalah lingkungan kampus yang masih terdapat sampah tidak pada tempatnya. Apa yang diajarkan di ruang kelas tidak sesuai dengan kenyataan. Praktek pendidikan Tri Hita Karana gagal membentuk kepribadian siswa untuk penduli pada alam. Pendidikan alam yang sejati adalah pergi ke lapangan lihat keadaan sebenarnya.

 Saat ada pendidikan Tri Hita Karana, siswa harus ke luar kelas mengamati gejala yang terjadi. Guru mengembangkan pendidikan yang interaktif kepada siswa, tidak hanya bersifat satu arah dimana siswa menjadi pendengar saja. Siswa diajak berinteraksi dengan warga sekitar untuk berdialog menyikapi kondisi lingkungan yang ada sampah dibuang sembarangan sehingga diambil tindakan kolektif untuk membersihkan dan mengurangi perilaku warga yang buang sampah sembarangan.

Untuk tempat umum yang bukan lembaga pendidikan seperti kulidan kitchen yang merupakan ruang makan dan galeri seni, memajang lukisan yang menggambarkan skeptic terhadap Tri Hita Karana adalah usaha yang baik untuk membangkitkan kesaaran kritis. Saya terinspirasi dari lukisan tersebut untuk menulis artikel ini yang menyatakan skeptic terhadap slogan Tri Hita Karana.

Saat Tri Hita Karana benar benar diterapkan lingkungan menjadi asri dan sehat. Ini menghemat biaya kesehatan yang dikeluarkan dan mencegah penyakit muncul. Lingkungan yang sehat bebas dari bau sampah mengurangin perasaan stress. Kondisi psikologi manusia akan membaik. Ini membantu penyembuhan penyakit yang amat dipengaruhi oleh stress seperti serangan jantung dan sakit kepala. Merawat lingkungan lebih hemat daripada memulihkan kerusakannya dan mengobati penyakit yang muncul. [T]

Tags: lingkunganSeni RupaTri Hita Karana
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida Menggeliat, Bisnis Jasa Transportasi Fast Boat Kian Kompetitif

Next Post

Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co