23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Kritik terhadap Pratek Tri Hita Karana dari Sebuah Lukisan

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
February 3, 2020
in Esai
Sebuah Kritik terhadap Pratek Tri Hita Karana dari Sebuah Lukisan

Lukisan di Kulidan Kitchen

Di Kulidan Kitchen, di Guwang, Sukawati, Gianyar, ada satu lukisan berbingkai kayu dan dilapisi kaca. Ini dipajang di lemari terbuka. Lukisan tersebut bertanda trashstock bali di atas kanannya. Di lukisan ini dua wisatawan macanegara berkunjung menikmati alam Bali dengan latar belakang tanah hijau berbukit dengan tegakan pohon kelapa serta persawahan dibelah oleh aliran sungai dan langit cerah berwarna biru muda memayungi tanah Bali.

Seorang pemandu wisata berpakaian adat menerangkan keadaan alam dan budaya Bali. Dia juga berbicara konsep yang sering dibunyikan oleh pejabat daerah Bali dari dulu sampai sekarang yaitu Tri Hita Karana. Gubernur, Bupati dan Walikota masih suka meniupkan terompet bernada Tri Hita Karana. Salah satu konsep ini adalah keharmonisan manusia dengan alam. Di Seberang sungai , ada seorang anak berusia sekolah membuang sampah sembarangan ke sungai. Wisatawan yang melihat perilaku bocah tersebut bingung dengan kenyataan yang terjadi. Mereka berpikir ini cuma slogan belaka.

Sampah yang dibuang olehnya mencemari lautan. Penumpukan sampah di sungai akibat perilaku tak peduli lingkungan berpotensi menimbulkan banjir yang merugikan secara ekonomi. Kerugian langsung adalah kerusakan rumah, fasilitas umum, sawah dan kendaraan. Secara tak langsung adalah terganggunya wisatawan yang menyebabkan keengganan mereka mengunjungi tempat yang sering dilanda banjir.

Sawah yang tercemar sampah akibat perilaku tak peduli lingkungan mengurangi keindahan alam Bali. Ini menyebabkan pendapatan daerah menurun karena pariwisata terganggu. Perilaku ini merusak dua sendi perekonomian Bali yaitu pariwisata dan pertanian. Belum lagi sampah menyebabkan saluran irigasi terganggu dengan sumbatan sampah sehingga air sulit mengairi sawah. Sungai yang terpapar sampah di hulu menyebabkan sawah di tengah dan hilir tidak maksimal memproduksi beras.

Dari segi kesehatan perilaku buang sampah sembarangan menjadi tempat munculnya penyakit. Sampah makanan yang dibuang sembarangan menyebabkan ledakan populasi lalat. Lalat adalah vector penyakit disentri. Sampah basah sehabis banjir merupakan rumah bagi nyamuk demam berdarah yang dapat merenggut nyawa.

Dari perilaku tak peduli lingkungan saja sudah membahayakan nyawa manusia secara langsung. Saat kesehatan lingkungan terganggu kesehatan manusia terancam. Lingkungan berbau busuk akibat timbunan sampah membawa gangguan psikis manusia. Ada satu penghubung tak kelihatan antara manusia dengan alam yang menjaid bukti bahwa manusia tak terpisahkan darinya.

Sampah yang dibuang ke sungai merusak ekosistem. Plastik, kaca, logam dan bahan kimia di dalam kemasan membunuh ikan dan tanaman air. Sebagian dari sampah mengalir ke laut dan menjadi santapan bagi hewan laut yang penting bagi ekosistem seperti penyu dan yang berfungsi untuk makanan yaitu ikan laut. Usus penyu tersumbat oleh plastik yang disangka ubur ubur sehingga menyebabkan makanan tak dapat dicerna lalu penyu mati kelaparan.

Sampah sampah yang masuk ke laut terurai menjadi partikel amat kecil yang masuk ke dalam tubuh hewan laut. Sampah yang mengandung racun ikut termakan olehnya dan terakumulasi. Saat manusia memakan ikan atau cumi cumi, dia terpapar partikel sampah dan memiliki resiko berbagai penyakit. Pencemaran laut dari berbagai jenis bahan kimia dari sampah dan limbah mungkin salah satu penyebab alergi makanan laut yang banyak dijumpai.

Di sini, Tri Hita Karana yang disajikan oleh media massa dan diajarkan di sekolah sekolah patut dipertanyakan. Skeptis dan kritis terhadap praktek Tri Hita Karana diperlukan. Tri Hita Karana indah di atas kertas namun pelaksaan di lapangan berlainan dari yang diserukan. Mengapa Tri Hita Karana dalam pendidikan formal dan informal belum berhasil membangkitkan kesadaran lingkungan menurut pembaca sekalian? Apa yang kurang tepat dari pengajaran Tri Hita Karana dan nangun sakerti loka Bali di lembaga pendidikan formal?

Pendidikan Bali di kebanyakan sekolah mengarahkan siswa untuk belajar secara pasif mengikuti guru dan buku. Siswa kurang didorong untuk berpikir kritis dan skeptic dalam menyikapi keadaan sekitar. Kenyataan pahit berikutnya adalah lingkungan kampus yang masih terdapat sampah tidak pada tempatnya. Apa yang diajarkan di ruang kelas tidak sesuai dengan kenyataan. Praktek pendidikan Tri Hita Karana gagal membentuk kepribadian siswa untuk penduli pada alam. Pendidikan alam yang sejati adalah pergi ke lapangan lihat keadaan sebenarnya.

 Saat ada pendidikan Tri Hita Karana, siswa harus ke luar kelas mengamati gejala yang terjadi. Guru mengembangkan pendidikan yang interaktif kepada siswa, tidak hanya bersifat satu arah dimana siswa menjadi pendengar saja. Siswa diajak berinteraksi dengan warga sekitar untuk berdialog menyikapi kondisi lingkungan yang ada sampah dibuang sembarangan sehingga diambil tindakan kolektif untuk membersihkan dan mengurangi perilaku warga yang buang sampah sembarangan.

Untuk tempat umum yang bukan lembaga pendidikan seperti kulidan kitchen yang merupakan ruang makan dan galeri seni, memajang lukisan yang menggambarkan skeptic terhadap Tri Hita Karana adalah usaha yang baik untuk membangkitkan kesaaran kritis. Saya terinspirasi dari lukisan tersebut untuk menulis artikel ini yang menyatakan skeptic terhadap slogan Tri Hita Karana.

Saat Tri Hita Karana benar benar diterapkan lingkungan menjadi asri dan sehat. Ini menghemat biaya kesehatan yang dikeluarkan dan mencegah penyakit muncul. Lingkungan yang sehat bebas dari bau sampah mengurangin perasaan stress. Kondisi psikologi manusia akan membaik. Ini membantu penyembuhan penyakit yang amat dipengaruhi oleh stress seperti serangan jantung dan sakit kepala. Merawat lingkungan lebih hemat daripada memulihkan kerusakannya dan mengobati penyakit yang muncul. [T]

Tags: lingkunganSeni RupaTri Hita Karana
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Pariwisata Nusa Penida Menggeliat, Bisnis Jasa Transportasi Fast Boat Kian Kompetitif

Next Post

Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Kolaborasi Erick Est, Bayak dan Pohon Tua dalam Hyena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co