6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 1, 2020
in Esai
Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Ilustrasi Tatkala/ Jro Adit Alamsta

Cinta, sebuah kata yang tiada jelas rupanya, tapi jadi jelas ketika ada yang berkhianat.

Wujud rupanya: Cekcok mulut, adu jotos, video mesum tersebar, gantung diri, dan seterusnya, bahkan buang bayi di tong sampah atau di selokan.

Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Bali, sepanjang 2017-2019 ada 40 kasus pembuangan bayi baik masih hidup maupun meninggal dunia.

Sosmed dan koran digemparkan dengan berita seorang doktor gantung diri dua bulan lalu. Baru terlupakan sejenak berita doktor gantung diri tersebut, kembali media di Bali digempar oleh berita dokter muda gantung diri bulan ini. Di luar kisah doktor dan dokter tersebut, banyak peristiwa gantung diri di Bali yang tidak menyedot perhatian publik. Gantung diri, seakan-akan, hal biasa saja. Seperti kematian biasa saja.

Seandainya ada Komisi Perlindungan Cinta dan Kesetiaan Bali, kira-kira berapa kasus tercatat perselingkuhan, dan lain-lain, dan sejenisnya, yang berujung bunuh diri, cekcok, pembuangan bayi dan pengguguran kandungan?

Lalu, pertanyaannya: Apa perspektif kultural dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap selingkuh, bunuh diri, buang anak?

Jawabnya: Cuntaka, cemer, leteh, sebel.

Cuntaka sama dengan cemer atau letuh (leteh) atau sebel. Semuanya berarti ‘ternoda kesucian sekala-niskala’.

Pesamuhan Agung PHDP Nomor 015/Tap/PA.PHDP/1984 menyebutkan istilah cuntaka bermakna suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal-hal lain yang dipandang kotor.

Apa saja hal-hal yang dipandang kotor dalam perspektif kepercayaan masyarakat Hindu di Bali?

1. Keguguran kandungan di bawah 6 bulan termasuk dalam cuntaka yang disamakan dengan cuntaka datang bulan. Keguguran kandungan di atas umur enam bulan atau berupa bayi, ‘cuntaka penuh’ yaitu kematian bayi sebelum kepus puser.

2. Cuntaka dari datang bulan yang umum terjadi pada wanita normal.

3. Upakara pernikahan dipandang membawa cuntaka dialami oleh kedua mempelai. Tidak cuntaka setelah dibersihkan dengan upacara pabersihan.

4. Cuntaka mitra ngalang, yaitu semua hubungan seks di luar pernikahan. Dari kategori ini perselingkuhan dan semua hubungan di luar pernikahan adalah pembawa cuntaka pada desa dan membawa pulau cemer.

5. Cuntaka akibat agamya-gamana, yaitu hubungan seks menyimpang. Seks antara anak dengan orang tua, atau termasuk juga hubungan seks antara saudara kandung, serta perilaku menyimpang lainnya.

6. Cuntaka salah-gamya-gama khusus pada leteh atau kekotoran sekala-niskala akibat manusia melakukan hubungan seks dengan binatang. Dipercaya sebagai ciri dari rusaknya ketidakseimbangan alam. Pabersihan sekala niskala wajib dilakukan oleh desa dan kawasan cuntaka.

7. Cuntaka akibat kehamilan di luar pernikahan, atau banyi lahir tanpa upakara pernikahan orang tuanya, dan lahir anak babinyat adalah cuntaka yang dipandang mengganggu keharmonisan alam dan tatanan desa dan pulau.

8. Semua tindakan sad atetayi atau enam pembunuhan sadis, membawa cuntaka besar pada lingkungan dan pulau:

– Agnida : membakar milik orang lain dan juga membakar orang lain.

– Wisada : meracuni orang lain.

– Atharwa : melakukan ilmu hitam untuk membunuh orang lain.

– Sastraghna : mengamuk sehingga menyebabkan kematian orang lain.

– Dratikrama : memperkosa sehingga membuat orang lain kehilangan kehormatan.

– Rajapisuna : suka memfitnah sampai mengakibatkan kematian orang.

9. Penderita sakit kelainan atau ila (gila) sampai merusak pura, ngamuk, dan menggangu ketertiban membawa konsekwensi cuntaka (leteh) dan perlu disucikan oleh penduduk setempat.

Kalau kita lihat garis besar peristiwa yang menyebabkan cuntaka hampir ke semua akibat ulah manusia yang melibatkan nafsu.

10. Cuntaka karena ada ulahpati (kematian tidak normal/wajar) seperti gantung diri atau kasus bunuh diri lainnya.

11. Cuntaka brunaha yaitu membunuh bayi. Brunaha ada sumber petaka membawa ketidakseimbangan kosmik dan sangat besar disebutkan dosa pelakunya, juga berdampak pada hilangnya kesucian sekitar yang tidak kecil.

Berbagai jenis cuntaka lain masih secara detail tidak akan saya masukkan di sini. Daftar tersebut di atas sudah cukup menjadi gambaran umum.

Nafsu tak terkendali.

Nafsu salah alamat.

Nasfu pengerusakan.

Apakah cuntaka itu, di baliknya pertimbangan niskalanya, ada idea untuk meregulasi nafsu manusia agar tercipta tatanan?

Jadi bukan cinta yang hendak diregulasi tapi nafsu?

Nafsu yang berhamburan tiada kendali membawa kedukaan dan suasana sekala-niskala tidak seimbang? Kosmik dalam ketidakseimbangan?

Jika tabel kecil penyebab cuntaka tersebut di atas dijadikan tolak ukur melihat pulau Bali, apakah ada mekanisme untuk melakukan cek terhadap semua pasangan yang menginap  di hotel-hotel di Bali?

Adakah siap dan berani memastikan bahwa hotelnya adalah “hotel sukla” yang tidak menfasilitasi cuntaka karena ada ribuan pasangan bukan suami-istri yang menginap di hotel di Bali?

Bagaimana dengan gantung diri di hotel atau di wilayah Bali yang terjadi di hotel atau di wilayah tertentu? Siapa bertanggungjawab melakukan ruwatan penyucian? Pihak hotel atau desanya ikut kena cuntaka?

Seingat saya kalau ada kematian di desa saya, desa ikut sebel. Jika ditemukan bayi terbuang dan meninggal di got, pasar, sungai, pantai, atau tempat lainnya, siapa yang melakukan resik-ruwat-pabersihan kawasan?

Membuka diri pada pariwisata, jika memperhatikan tabel cuntaka dan kesimpulan yang diberikan oleh parisada 1984, banyak hal harus dipertimbangkan kembali jika melihat pulau Bali dari segi niskala, atau tinjauan keagamaan.

Ketika saya masih kecil, jika saya tidak salah ingat, saya bertemu orang yang tidak mau mengontrakkan tanahnya kalau dijadikan kos-kosan. Katanya, kos-kosan tidak bisa kita awasi siapa bermalam dan siapa pasangan sah dan tidak. Orang tersebut merasa takut kalau membuka kos-kosan akan ikut berkontribusi pada cemer-leteh pada desa dan pulau Bali.

Susah sekali memikirkan Pulau Bali ini kalau serius mempelajari pertimbangan niskala?

Ya susah, katanya. Tapi juga ada jalan keluarnya: Upakara diperbanyak. Kata teman lainnya.

Di masa kecil saya hanya melongo mendampingi banyak percakapan generasi kakek dan ayah saya yang pemangku dengan kawan-kawannya yang lingkarnya juga pemangku serta sulinggih. Mereka sibuk sekali mencoba menimbang agar pulau ini tidak jadi pulau cuntaka. Agar tetap ada keseimbangan niskala dan sekala.

Dalam pandangan pemangku-pemangku yang menjadi tempat saya belajar mendengar di masa kecil saya belajar banyak tentang ritual caru prayascita, caru mancasata, dan seterusnya. Semuanya usaha menghalau semua cemer-cuntaka di atas pulau ini.

Pada persiapan pangeresik, pecaruan, pangrupukan, dan caru penyepian para pemangku sangat berdedikasi menjalaninya dengan laku yang serius. Mendalam, bukan sekedar prilaku laku simbolik. Mereka melakukan persiapan dengan brata puasa dan pabersihan diri. Masyarakat awam mungkin ada yang berpikir bahwa pacaru dan prayascita adalah upakara simbolik sebatas seremonial. Tapi buat pemangku atau sulinggih, persiapan batinnya sangat serius.

Tawur, caru dan pangrupukan dan lain-lain adalah kegiatan yang sangat serius sebagaimana persiapan ngereh atau nglekas. Ini adalah kegiatan white-magic (magi putih) yang bertujuan untuk purifikasi atau penyucian jagat niskala. Semua dilakukan dan dipersiapkan dengan serius, kalau tidak, pulau ini akan menjadi pulau cuntaka. Demikian kesadaran mereka.

Bergaul dan tumbuh di kalangan pemangku sulinggih yang ortodok, saya berkesempatan melihat dunia dari sudut pandang mereka, bahwa pulau Bali punya potensi besar jadi pulau cuntaka jika tidak hati-hati merawatnya.

Selingkuh, gantung diri, buang bayi, bukan hanya hentakan ketidak-seimbang sosial, tapi dari kaca mata para sulinggih, peristiwa-peristiwa tersebut adalah hentakan niskala yang berakumulasi untuk memporandakan keseimbangan kosmik. [T]

Tags: balibuang bayigantung diriselingkuh
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Kepiluan dalam Realita Sosial – Ulasan Buku Kumpulan Cerpen “Begal”

Next Post

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co