2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Seorang yang Melawan: Aku Bukan Siapa, Aku Bukan Aku

Jro Adit Alamsta by Jro Adit Alamsta
December 27, 2019
in Esai
Catatan Seorang yang Melawan:  Aku Bukan Siapa, Aku Bukan Aku

Ilustrasi Jero Adit

Aku bukan Soe Hok Gie, aku bukan Munir, aku bukan Wiji Thukul, aku bukan Che Guevara aku juga bukan mereka yang berlipat ganda dan aku bukan aku. Aku adalah pertanyaan yang masih mencari peng’aku’an. Aku mencari-cari, aku bertanya-tanya. Sebab pencarianku belum usai. Sebab jawaban dari pertanyaanku yang telah aku dapat tak terjawabkan dengan nilai-nilai. Nilai kebenaran dan kejujuran. Apa mungkin kebenaran juga bagian dari perspektif masing-masing individu dan kelompok,lantas kejujuran ikut serta dari bagian itu? Lalu seharusnya aku memandang kehidupan dari sudut yang mana? Bisakah aku mendefinisikan kehidupan adalah pilihan perspektif?

Aku memikirkan kehidupan, untuk apa semua ini. Kehidupan secara tidak langsung memaksa generasi ke generasi untuk saling berhubungan tetapi juga memutuskan tali hubungan itu sendiri. Apakah kehidupan adalah penghancuran itu sendiri? Ada yang mempertahankan, ada yang berusaha untuk mendapatkan dan ada juga yang kehilangan. Ini akan terus-menurus terjadi siklus kehidupan yang tiada henti. Rasanya rutinitas-rutinitas biasa ini justru menjerumuskan diriku menuju ketiadaan pengertian tentang arti sesungguhnya kehidupan. Apa yang harus aku lakukan di tengah rasa gelisah dan tak tahu arah ini.

Aku hidup dalam kemunafikan, dimana orang-orang hidup dengan penuh kepura-puraan. Seolah-olah mereka menyukai, tapi di hatinya memungkiri. Seolah mereka dalam kebahagiaan tapi mereka dalam kesengsaraan. Mereka tidak lagi wujud dari keniscayaan yang dihadapi. Mereka mencari keamanan mengorbankan keberadaban. Mereka mencari kenyamanan mengorbankan kawanan.

Hari ini kita bukanlah manusia yang bisa menghidupi, tapi kita wujud dari ancaman. Ancaman bagi mereka mahluk hidup lainnya. Ini bukanlah keberlangsungan hidup manusia saja, hanya kita yang terlalu serakah dan ingin hidup mewah dalam penindasan yang terus-menerus kita wariskan. Apa yang kita hari ini rayakan, dengan dosa-dosa yang telah kita perbuatan dengan alasan memenuhi perut. Perut manusia tak pernah kenyang karena makanan, dihatinya bersemayam keingianan untuk menguasai, mengendalikan, memanfaatkan dan memperkosa. 

Manusia bukanlah Tuhan yang bisa mengatur kehidupan mahluk lainnya, tetapi yang terjadi sedemikian. Manusia memperalat mahluk lain, mengatur jumlah populasi yang diinginkan agar harga tidak anjlok merosot turun. Manusia membabat, menentukan hak hidup tanaman dan juga binatang. Rasanya terlalu kejam menjadi manusia, justru masalah menjadi manusia. Ekologi tak lagi dimengerti, penjarahan alam semakin menjadi-jadi nilai-nilai leluhur sirnah dari semayamnya hati nurani. Hari ini kita merayakan dengan gelar bahwa mahluk pintar dan cerdas itu bernama manusia. Kita menyebut mahluk lain tidak berbudi dan tidak berarti hanya bisa dinikmati. Ini yang dilakukan manusia agar tetap hidup dan memenuhi keinginan yang tak terbatas.

Aku cukup bosan dengan apa yang kita perbuat hari ini, kita disibukkan oleh material, kita lupa merawat dan memberi asupan akal menuju berpikir rasional. Entahlah hari ini kita hanya mesin penggerak ekonomi global atau mesin-mesin tak berfungsional bagi peradaban. Seharusnya kita berkontribusi untuk peradaban menyadarkan dan menyembuhkan peradaban yang telah lama dibutakan. Kita disibukan mencari uang sebanyak-banyaknya, menyembah kenikmatan yang berlebihan, popularitas dan kekayaan seakan menjadi nomor satu dalam meperlihatkan dan memamerkan.

Kini popularitas dan ketenaran tidaklah muncul dari perjalanan prestasi. Dengan membodohi diri, berbuat aneh, khonyol, mencari sensasi masalah kesana-kesini dan membahayakan diri bisa viral danberlagak sebagai selebriti. Lalu orang-orang menyebarluaskan kebodohan, menyebarkan asumsi-asumsi pertikaian dan perseteruan hingga saat ini dilarutkan oleh kebiasaan-kebiasaan tak berarti. Hari ini ketenaran hanya perlahan-lahan menyeret kita dalam lingkar kenaifan dan rasa ketidakpedulian. Dan mereka yang berkarya, berkesenian dan berprestasi tidak dapat pengakuan apa-apa di zaman ini. 

Bentuk apa yang akan menyadarkan kita ditengah dilemanya dunia, ditengah abstraknya dunia. Aku rasa bukan pupolaritas, eksistensi, kesuksesan atau karir bukan juga jabatan kekuasaan terbih bukan juga doktrin-doktrin agama. Tetapi aku lebih percaya manusia disadarkan dengan petualangan berkelana masa pencarian, rasa ingin tahu, kebebasan liar dalam berekspresi imajinasi.

Apakah aku terlalu serius dan amat serius menyikapi hidup ini. Memang suka-duka silih berganti datang dan pergi. Tetapi aku mengalami titik kejenuhan dalam kehidupan dan rutinitas-rutinitas manusia, seakan aku berfikir tujuan hidup itu sebenarnya untuk apa. Hari ini aku masih tetap mencari-cari tentang hidup, ilmu pengetahuan yang mutlak dan sejati.

“Aku bernama persepsi hari ini, arah tujuanku tidak sangatlah jelas untuk dimengerti. Tapi orang-orang terus menasehati agar aku terus berani menghadapi dan tegak berdiri.“

Tags: alamrenungansastra
Share86TweetSendShareSend
Previous Post

“Cedarwood Road”, Kampung Halaman, dan Bapak

Next Post

Merayakan Kegembiraan dan Kebhinekaan Melalui Musik #Catatan ICAS dari ISBI Bandung

Jro Adit Alamsta

Jro Adit Alamsta

Lahir 16 Juni 1998. Hidup dan besar di pulau Bali yang konon katanya pulau surga, tetapi ia hanyalah anak biasa saja yang ingin melakukan hal-hal tak biasa melawan pembatas hidupnya. Ia tinggal di desa Sinarata yang berarti menyinari secara merata, berupaya adil dalam apa pun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Merayakan Kegembiraan dan Kebhinekaan Melalui Musik #Catatan ICAS dari ISBI Bandung

Merayakan Kegembiraan dan Kebhinekaan Melalui Musik #Catatan ICAS dari ISBI Bandung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co