24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nava-Sāgarāvarteṣu, Sembilan Teluk Mengitari Bali – Catatan Harian Sugi Lanus

Sugi Lanus by Sugi Lanus
November 14, 2019
in Esai
Nava-Sāgarāvarteṣu, Sembilan Teluk Mengitari Bali  – Catatan Harian Sugi Lanus

Foto Sugi Lanus

Simpul awal peradaban Bali dan parameter kerusakan Bali bisa dilihat di sembilan teluk yang mengitari Bali.

Sembilan teluk yang istimewa (NAVA-SĀGARĀVARTEṢU) dari awal masehi menjadi titik-titik bertumbuhnya peradaban Bali. Bahkan jauh sebelum itu. Dari kesembilan teluk itu, merujuk berbagai temuan arkeologi dan rujukan prasasti, berkembang menjadi hunian, masih sampai kini menjadi titik yang disucikan. Disakralkan oleh masyarakat Bali. Namun, karena istimewa kesemua teluk ini, banyak kepentingan masuk, umumnya dengan alasan pengembangan fasilitas pariwisata, yang ujung-ujungnya diprivatisasi, 9 teluk ini bisa menjadi titik-titik parameter mengukur kerusakan Bali.

Apa saja 9 teluk tersebut?

1. Teluk Gilimanuk, disebut juga sebagai Teluk Lumpur. Terletak di bagian ujung barat pulau Bali. Dikenal sebagai Pelabuhan Gilimanuk oleh masyarakat umum. Tapi jika masuk ke dalam ke Teluk Lumpur, kawasan adalah salah satu kawasan terindah dan penuh ikan dan burung yang paling menarik di Bali. Dari jaman prasejarah kawasan ini dihuni oleh manusia Bali yang menjadi cikal-bakal kita sekarang. Peninggalannya sampai kini masih terkubur dan sudah teliti tersedia bukti-buktinya di Museum Gilimanuk. Sayang, Museum Gilimanuk yang menjadi bukti dari 100 tahun sebelum masehi manusia Bali telah melakukan “ritual potong gigi” ini tidak dikelola dengan memadai, padahal Museum Gilimanuk dan kawasan Teluk Gilimanuk sudah jelas menjadi bukti-bukti awal dari peradaban Bali yang sangat penting. Kawasan ini bisa menjadi pusat belajar bagi generasi muda Bali mengenal leluhurnya secara arkeologis dan melihat peradaban Bali di awal masehi. Teluk ini meliputi hutan menuju kawasan Segara Rupek yang menjadi salah satu pusat spiritual yang banyak dikunjungi umat Hindu.

2. Teluk Terima dikenal sebagai teluk yang menjadi penyembarangan ke Pulau Menjangan. Teluk ini meliputi kawasan Hutan Bali Barat, Sumerkelampok-Sumberbatok-Terima, yang dikenal legendanya sebagai tempat berpulangnya Jayaprana, kini Pura Teluk Terima (Jayaprana distanakan) berada di pinggir hutan Teluk Terima. Titik dimana terjadi perang dalam kisah Jayaprana dan tumpah darah akibat kepentingan penguasa yang ingin menyerobot istri bawahannya. Pulau Menjangan yang menjadi bagian wilayah Teluk Terima berkembang menjadi tujuan dharmayatra, berdiri berbagai Pura, tapi sekaligus tempat plesiran dan berjamuran hotel di sekitarnya. Bola liar yang bisa melalap kelestarian hutan dan teluk. Investasi yang masuk telah ada yang menerima penolakan warga.

3. Teluk Banyuwedang masih berada di Kawasan Hutan Bali Barat. Masuk kawasan Desa Goris dan sekitarnya, menjadi kawasan pariwisata Bali yang sangat pesat perkembangannya di tengah-tengah hutan bakau dan pantai kawasan hutan. Perkembangan dan masuknya investasi di teluk ini telah memunculkan sederatan kasus masalah pelanggaran terhadap kawasan hutan negara. Pura yang disucikan di sini adalah Pura Banyuwedang dengan mata air panas yang secara turun-temurun menjadi tempat nunas tamba (memohon kesembuhan/obat).

4. Teluk Penerusan-Sumberkima dengan Gisi Kisik dan Gili Putih, salah satu teluk yang keindahannya luar biasa dengan dua pulau munggil berpasir putih. Menjadi incaran banyak pengembang. Kawasan telah dilirik Pemerintah Kolonial Belanda menjadi kawasan pertambakan perintis ditahun 1930-an, dan sampai kini potensinya masih sangat besar. Kini nasibnya diserbu investor pengembangan fasilitas wisata. Telah muncul berbagai kerumitan urusan pertanahan sangat besar, beberapa konflik tanah belakangan mengemuka di kawasan ini.

5. Teluk Sendang, dengan Pura Pucak Gunung Beratan yang menaunginya. Kawasan ini masih sedikit terisolasi dan tidak banyak dikenal kecuali menjadi budidaya mutiara. Teluk ini bisa dilihat dari Pucak Gunung Beratan, Desa Pemuteran, Gerokgak, Buleleng.

6. Teluk Bawang (Celukan Bawang), sebelum kemerdekaan celuk ini masuk wilayah Desa Pengulon, teluk yang disakralkan dikenal sebagai tempat ‘tenget’, dengan pelabuan, sekarang kawasan ini menjadi pintu masuk batubara untuk PLTU Celukan Bawang yang telah menuai penolakan keras dari warga. Bermula dari keluhan sejumlah warga atas polusi PLTU Celukan Bawang I, yang beroperasi sejak 2015. Warga memperkirakan jika pembangkit listrik kedua beroperasi, polusi udara dan polusi suara yang mereka alami akan semakin buruk. Bersama Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI-LBH) Bali dan lembaga pemerhati lingkungan Greenpeace, warga melayangkan gugatan pertama ke PTUN Denpasar pada 24 Januari 2018.

7. Celuk Padang (Padang Bai), dikenal sebagai Pelabuhan Padang Bai, dengan Pura Silayukti dan pasraman Mpu Kuturan yang termasyur sebagai salah satu Maharsi  terpenting yang menjadi arsitek kebudayaan Bali. Dalam naskah lontar Negarakrtagama dan Calonarang, teluk ini telah disebutkan sebagai Teluk Padang di desa Padang — kini disebut Padang Bai (baai, bahasa Belanda untuk teluk). Dari data ini kita mengetahui setidaknya dari abad ke 11 teluk ini menjadi salah satu pusat peradaban spiritual Bali yang penting.

8. Teluk Benoa, kawasan spiritual agung Pura Sakenan dan sekitarnya. Semenjak Orde Baru menjadi multi kompleks persoalan. Multi kepentingan dan rawan dicaplok raksasa investasi. Patut disyukuri sekalipun belum tentu ajeg pelaksanaannya di lapangan, baru saja Teluk Benoa ditetapkan sebagai kawasan maritim, melalui KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46/KEPMEN-KP/2019 TENTANG KAWASAN KONSERVASI MARITIM TELUK BENOA DI PERAIRAN PROVINSI BALI. Setelah didemo 5 tahun oleh puluhan desa pakraman dan pemuda Bali, yang tiada henti menuntut pembatalan rencana reklamasi teluk ini. Teluk ini menyimpan sejarah panjang perjalanan para rsi yang berlabuh dan bermukim di Sakenan/Serangan dan sekitar kawasan teluk ini.

9. Teluk Jimbaran telah berkembang menjadi kawasan pantai Jimbaran yang menjadi tujuan wisata terpilih. Teluk Jimbaran telah dihuni dari masa prasejarah. Temuan sekitar teluk Jimbaran telah diteliti dengan baik. Dan Pura Ulun Siwi di Jimbaran adalah salah satu kulminasi dari perkembangan penduduk yang mukim di Teluk Jimbaran. Teluk ini sebelum dibangun Airport Ngurah Rai membentang sampai Kuta dan Pantai Peti Tenget dengan Pura Peti Tenget yang telah ada dari berabad sebelum Danghyang Nirartha ke Bali. Kemungkinan peninggalan zaman Raja Udayana, bersamaan juga dengan Pura Uluwatu dan Tanah Lota yang satu garis kawasan bersimpul di Teluk Jimbaran.

NAVA-SĀGARĀVARTEṢU yaitu SEMBILAN TELUK MENGITARI BALI tersebut adalah kosmologi yang menyerupai genggaman kosmik penyangga pantai dan tepian melingkari Pulau Bali.

Masih ajeg atau mulai roboh konsep “SEGARA-GUNUNG” yang dimuliakan di Bali, yang menjadi dasar kesadaran menata Pulau Bali, bisa dilihat di 9 titik teluk ini. Jika teluk-teluk ini dipreteli dengan sembarang dan dikuasai demi pentingan investasi semata yang menghapuskan atau meniadakan nilai-nilai sejarah, nilai-nilai instrinsik, dan merusak kelestarian alamnya, maka di sinilah titik-titik robohnya konsepsi “segara-gunung”. Roboh pula seluruh tatanan pulau.

Sembilan teluk ini adalah hilir dari “Segara-Gunung”. Titik SEGARA-nya. Jika rusak di hilir, tinggal menunggu menjalar ketuk-tular ke daratan dan pegunungan mewabah sampai danau dan simpul-simpul air di kaki pegunungan, titik-titik ‘SEGARA-GUNUNG’ yang ada di hulu pulau.

Sembilan teluk ini benteng terdepan “SEGARA-GUNUNG”, benteng terdalamnya Sanghyang Catur Danu, empat danau yang menjadi pusat peradaban Bali Aga dan Bali Mula yang bertahan kukuh dari berabad di masa silam bertahan di kerimbunan dan kelebatan pohon pegunungan yang kini sudah mulai keok digunduli dan diserbu berbagai pengerusakan.

Sembilan teluk dan empat danau ini akan menjadi ruang pertarungan (KALA MASA) abadi di Bali dalam penegakan TRI ANGGA (tiga tubuh sekala niskala Bali) yang berwujud tatanan PARAHYANGAN, PALEMAHAN, PAWONGAN. Robohnya semua itu bisa dilihat pertama-tama di SEMBILAN TELUK YANG MENGITARI BALI tersebut.[T]

Catatan Harian 28 Oktober 2019

Tags: balitelukTeluk Benoa
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Kuliah di Pendidikan Teknik Informatika, Nanggung, Nggak Cukup S-1

Next Post

Lowongan PNS Dibuka, Saya Bimbang: Melamar, Tidak, Melamar, Tidak, Melamar, Tidak…

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Lowongan PNS Dibuka, Saya Bimbang: Melamar, Tidak, Melamar, Tidak, Melamar, Tidak…

Lowongan PNS Dibuka, Saya Bimbang: Melamar, Tidak, Melamar, Tidak, Melamar, Tidak…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co