2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peminta-Minta

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
October 22, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kata shastra janganlah berkata “tidak ada” saat ada orang yang meminta sedekah. Konon perkataan itu berpahala tidak baik. Berikanlah sedekah kepada yang membutuhkan. Puncak sedekah yang diajarkan shastra adalah memberikan seekor Lembu Kapila. Kapila berarti coklat, kuning kecoklatan, kemerahan. Lembu itu dilengkapi dengan pakaian dan dihias ujung tanduknya dengan emas. Juga dilengkapi dengan Bejana Kangsa, yaitu bejana kuningan. Jika telah demikian, akan didapat pahala berupa Kamadugadenu. Kamadugadenu konon adalah sebutan untuk lembu yang dapat mengabulkan semua keinginan.

Tidak mudah untuk mensedekahkan Lembu Kapila bersyarat semacam itu. Isi kantong haruslah setebal wajah pemimpin yang mengingkari janji-janji kampanye. Jangan setengah-setengah, seperti orang yang belajar spiritual tapi etiknya tidak bagus. Spiritual haruslah didasari dengan etika. Upacara atau Tattwa tanpa Etika, sama setengah-setengahnya. Jangan mengandalkan kantong setipis jaring laba-laba. Karena tentu saja mudah sobek. Jika jaring sobek, sulitlah memerangkap binatang. Jaring sedekah haruslah tebal, agar makin banyak yang bisa terperangkap dan ditangkap, hap hap hap.

Ada banyak yang bisa disedekahkan. Bahkan shastra menjanjikan pahala-pahala yang bisa didapat oleh penyedekah. Bagi orang yang menyedekahkan pakaian, dupa, atau wewangian, maka kelak ia akan memiliki wajah yang rupawan. Menyedekahkan minyak, umbi-umbian, pahalanya adalah hidup bahagia bersama keluarga. Bahkan jika ada orang yang menyedekahkan pelita, konon kelak matanya akan berbinar terang benderang. Bagi mereka yang menyedekahkan payung, pahala yang diterima adalah dipuja dan dihormati oleh penghuni surga.

Barangkali ada banyak lagi yang bisa disedekahkan. Shastra bahkan menuliskan syarat sedekah yang sangat penting. Syarat sedekah itu yakni salwiraning wastu kinatresnan. Artinya segala hal yang disayangi atau dicintai, itulah yang patut disumbangkan. Sayang kepada emas, maka sumbangkanlah emas milikmu itu. Sayang pada pakaian, sumbangkan juga pakaian itu. Sayang pada makanan, sumbangkan makanan. Sayang pada pasangan? Bagaimanakah itu?

Jangan jawab pertanyaan tadi. Pertanyaan itu tidak ada dalam shastra. Segala sesuatu yang tidak ada dalam shastra, artinya tidak patut dipertanyakan. Begitu ucapan orang-orang yang pura-pura hafal isi shastra. Satu isi shastra dihafalnya, yang satu-satu lainnya tidak. Bukan tidak jarang, yang dinobatkan sebagai bamper agama penghafal sloka sudah gelap matanya karena ditutupi oleh sloka-sloka yang dibacanya. Sungguh mengenaskan, sloka yang konon adalah penerang itulah yang justru menggelapkan mata. Tapi alam memang begitu, justru segala sesuatu menjadi tidak terlihat di tempat yang terlalu terang.

Saya ini Cangak penghayat agama yang konon menerangi itu. Hasil penghayatan adalah kesimpulan. Kesimpulan ala Cangak, lebih sering berupa pertanyaan dibandingkan pernyataan. Contohnya pertanyaan ini. Jika benar segala yang disayangi itulah yang patut disumbangkan atau disedekahkan, atau dalam bahasa shastranya danakena, ijinkan saya bertanya kepada hadirin sekalian. Di dalam hidup yang penuh dengan cinta ini, apa yang paling kalian cintai? Setelah menjawabnya, pertanyaan selanjutnya adalah “relakah kalian menyumbangkannya?”.

Silahkan dijawab sendiri-sendiri di tempat paling rahasia, agar tidak ada yang mendengar. Biarkan jawaban tadi menjadi rahasia pribadi yang hanya diketahui oleh beberapa saksi. Jika jawaban tadi diungkapkan saat malam, maka malam adalah saksinya. Jika pagi, maka pagi adalah saksinya. Tentu saja ada beberapa saksi lain yang sudah mendengar jawaban tadi. Siapa saja saksi itu?

Menurut banyak penutur kejernihan yang konon sudah sampai di titik paling Sunya dalam hidupnya, saksi ada beberapa. Untuk mengidentifikasi saksi, didasari oleh pengetahuan tentang tubuh. Konon, tubuh ini dibentuk oleh unsur yang sama dengan semesta. Maka unsur-unsur itu pula yang sudah menjadi saksi jawaban kita. Mereka adalah unsur tanah yang padat seperti tulang. Unsur air yang cair seperti darah. Unsur api yang panas seperti suhu tubuh. Unsur udara yang bergerak seperti nafas. Unsur bunyi yang bergema seperti suara-suara dalam banyak rongga. Itulah beberapa saksi yang mengetahui jawaban tadi. Tentu saja masih ada saksi yang lain. Jika hidup masih panjang, kita akan bertemu lagi untuk membahasnya.

Jadi, apakah yang paling kita cintai dalam hidup ini? Bagi saya pribadi, tidak ada yang lebih saya cintai dari pada “hidup” dalam kehidupan ini. Karena dengan hidup, segala Dharma dapat saya lakukan. Segala harta dapat saya raih. Segala keinginan dapat saya tempuh. Tentu saja, kematian yang indah adalah hadiah dari mencintai kehidupan ini. Dan kematian yang indah itu, hanya bisa didapat oleh yang hidup. Mencintai kehidupan, sama artinya dengan menyayangi kematian.

Kalau sudah demikian, kehidupan inilah yang harus saya sedekahkan. Tapi kepada apa, kepada siapa, dan untuk apa?

Semoga saja, hadirin sekalian ada yang juga berpikir demikian. Saya ingin mengajak semuanya untuk menyadari, kita terlalu sering memberi untuk mendapatkan. Kita peminta-minta yang pura-pura menjadi pemberi dana. Tidak lebih. [T]

Kamus Cangak [Kacang]

yadnya            : cara berhubungan

ikhlas              : menerima dan memberi tanpa syarat


Tags: filsafatfilsafat balirenungansastra
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Bunut Bolong, Antara Pertemuan, Cinta dan Kenangan

Next Post

Bintangnya Kini adalah Bintang Puspayoga

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bintangnya Kini adalah Bintang Puspayoga

Bintangnya Kini adalah Bintang Puspayoga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co