4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

GIBAH

Oka Rusmini by Oka Rusmini
October 14, 2019
in Esai
RIPUH

Edisi 14/10/19

KOPLAK terdiam sebentar sambil memandang hamparan rumput di depan rumahnya. Bagi Koplak beristirahat di rumah layaknya merasakan sorga yang sesungguhnya. Bisa leyeh-leyeh, bisa tidak mandi. Bahkan untuk sarapan pagi, Koplak bisa berjalan santai menuju warung nasi be guling. Atau jika ingin agak bergerak lebih jauh bisa juga duduk lesehan di warung sate kambing di pintu masuk desa Sawut, milik haji Kodir, satenya empuk, gulainya dahsyat pokoknya, sate haji Kodir adalah sate terbaik yang ada di lingkungan desa Koplak.

Haji Kodir juga orangnya sangat pengertian, jika ada upacara di desa, tidak segan-segan menyumpang gulai khusus untuk setiap ada upacara di pura Desa, Koplak dan warga biasanya agak segan juga. Akhirnya keputusan desa memutuskan desa membeli satu ekor kambing, haji Kodir yang memasak, tadinya haji Kodir menolak, merasa apa yang dia berikan untuk desanya adalah bagian dari tugasnya sebagai warga. Sebagai kepala desa Koplaklah yang menjelaskan pada haji Kodir bahwa gotong-royong itu berarti yang satu dengan yang lain memiliki kesimbangan, tidak ada yang lebih banyak, tidak ada yang lebih sedikit.

Akhirnya Haji Kodir pun menerima hasil keputusan bersama warga desa Sawut. Makanya setiap ada odalan di pura Desa menunya selalu beragam ada gulai kambing, ada juga lawar babi. Begitulah kehidupan dibina di desa Sawut. Semua merasa bersaudara, semua merasa memiliki desa. Jika merasa memiliki otomatis seluruh warga juga memiliki kewajiban untuk merawat kebersamaan, toleransi, dan saling menghargai. Makanya Koplak heran dengan kehidupan Kemitir di kota.

“Hari raya kamu tidak mengantar makanan ke tetangga?” tanya Koplak ketika berada di rumah Kemitir.

“Di kota besar seperti ini tidak ada acara seperti itu.” Jawab Kemitir santai.

“Kok bisa?”

“Ya, bisa, Bape. Ini kan bukan di desa?”

“Aneh hidup orang di kota, ya?”

“Aneh bagaimana? Nanti kalau kita mengantar makanan ke tetangga dikira kita sok kaya. Atau kalau makanan yang kita hantarkan menimbulkan penyakit bagaimana?”

“Penyakit? Kok bisa?” tanya Koplak tak habis pikir.

“Kalau tetangga itu mati habis makan makanan kita, bagaimana?” tanya Kemitir serius. Koplak terdiam.

“Belum lagi ada orang yang berbeda agama? Bisa salah kita.” Jawab Kemitir lagi, Koplak terdiam. Bingung dengan jawaban yang diberikan anak semata wayangnya. Koplak heran dan linglung dengan segala kehidupan Kemitir. Bagi Koplak cara-cara Kemitir hidup seperti bumi dan langit bagi Koplak.

Aneh, aneh orang kota itu! Koplak bergumam dalam hati. Kenapa mereka bisa berpikiran jotan, hantaran beragam hidangan atau makanan bisa membuat orang yang menerima mati? Apa Kemitir tidak berlebihan? Bukankah jot-jotan yang diberikan tetangga biasanya yang dimakan juga oleh sebuah keluarga. Kenapa bisa mati?

Kata Kemitir juga jika berbeda agama urusan jot-jotan juga bisa menimbulkan masalah. Kata Kemitir ada beberapa golongan di kota tidak mau makan yang dimasak oleh orang yang berbeda agama? Sejak kapan makanan memiliki agama? Koplak mengernyitkan alisnya. Mau bertanya lebih jauh lagi tidak enak hati. Sesungguhnya Koplak ingin bertanya pada Kemitir, bisakah Kemitr menunjukkan orang yang mau makan jika yang memasak makanan juga memiliki agama yang sama.

Terbayang raut wajah Haji Kodir, lelaki yang konon berasal dari Madura itu, lelaki yang memiliki gaya berpakaian bagi Koplak lucu dengan celana hitam di atas mata kaki. Lelaki yang begitu sopan dan ringan tangan. Lelaki yang memiliki agama berbeda dengan agama sebagian warga di desa Sawut itu tidak memiliki tingkah aneh-aneh, padahal ketika tinggal di desa dia dia juga tidak memiliki aturan-aturan seperti yang Kemitir ceritakan.

Haji Kodir memang menikah dengan perempuan Bali, perempuan Bali itu juga tidak terlihat paling mengerti Tuhan, tidak juga merasa agamanya paling benar. Bahkan istri Haji Kodir sering ikut acara perempuan-perempuan menyiapkan sesaji di balai banjar, bahkan mengenakan kebaya lengkap, dengan kerudung. Istri haji Kodir terlihat cantik dan bersahaya bergaul melebur menjadi satu dengan warga di desa Sawut.

Haji Kodir juga dengan ringan tangan ikut menyembelih kambing, untuk upacara di pura Desa. Warga juga mengerti bahwa Haji Kodir tentu tidak makan babi, warga pun menghormati lelaki setengah baya itu. Lelaki yang bersahaja. Walau pun tidak memiliki anak, kadang-kadang haji Kodir sering memberi sedekah kepada anak-anak desa berupa satu lusin buku dan alat tulis jika bulan Ramafhan tiba. Tidak ada yang aneh-aneh, haji Kodir juga menerima jot-jotan dari warga berupa buah-buahan sehabis upacara di pura. Hidup terasa guyup dan menyenangkan di desa Sawut, tak ada yang merasa lebih jemawa dari yang lain. Semua sama.

Koplak terdiam lama termangu sambil menatap hamparan rumput. Kemana arah mata angin jadwal makan hari ini? Babi Guling? Atau Sate Kambing aduhai haji Kodir? Mumpung Kemitir tidak ada di rumah, kalau Kemitir ada. Perempuan cantik itu akan berteriak.

“Awas kolesterol, Bape! Tidak baik bagi janjung Bape!” Koplak tersenyum, mencuci muka tanpa sikat gigi, mengambil sarung dan kemeja. Siap-siap membuka pintu depan. Kemitir sudah berada di pintu pagar. Koplak terdiam. Patah hatinya, lapar perutnya. Kemitir. Kemitir. Datanglah besok saja kenapa harus hari ini. Koplak berkata dalam hati. Duduk dengan lemas di beranda. Sambil menarik nafas membayangkan menyantap sate dan gulai kambing. [T]

Tags: desakuliner
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Kebencian, Joker dan Indonesia

Next Post

Kenapa Setiap Keluar Bali Disebut ke Jawa? – Catatan Harian Sugi Lanus

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Setiap Keluar Bali Disebut ke Jawa? – Catatan Harian Sugi Lanus

Kenapa Setiap Keluar Bali Disebut ke Jawa? - Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co