2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Roikan by Roikan
September 6, 2019
in Esai
Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Foto: koleksi prinadi penulis

 “Mangan tape gak atek ragi tuku, tuku tetel nang Suroboyo. Modele arek saiki rabine kendel blonjo nunut morotuo. Iku ngunu nek aku dhewe. Tuku bandeng Cuma siji, rupane ngganteng sandale dipeniteni” (Makan tape tidak pakai ragi, beli tetel di Surabaya. Modelnya anak sekarang kawinnya berani [tapi] urusan belanja ikut mertua. Itulah aku sendiri. Beli bandeng cuma satu, mukanya tampang (tapi) sandalnya dikasih peniti).

____

Itulah kidung pembuka pada guyonan CS dalam judul Besut 81. Dagelan Kartolo CS dalam kidung jula-julinya terdapat beberapa bagian yaitu bagian awal, tengah dan penutupan. Setelah jula-juli pembuka, dilanjutkan dengan masuknya musik dari gamelan kemudian kidungan berubah menjadi lirik-lirik yang lebih bersifat edukatif, memuat nilai moralitas, spiritual, pesan sosial sampai pesan pembangunan.

Akhir kidungan pembuka dilanjutkan dengan musik jula-juli dengan lirik yang bersifat menghibur, berisi mengenai cerita-cerita keseharian berdasarkan pengalaman yang bersifat lucu atau mengejutkan tapi tetap mengundang senyum. Bagian terakhir berbeda dalam setiap seri kaset rekaman Kartolo CS, ada yang menggunakan jula-juli standar, jula-juli dangdut, tembang rujak jeruk, tembang walang kekek, dodol tinuku sampai instrumen gaya musik khas mandarin. Beberapa kidungan jula-juli Kartolo CS adalah representasi kehidupan pada masa Orde Baru yang berisi tentang perkembangan dalam pembangunan, meliputi pengadaan infrastruktur, pendidikan sampai pada harapan untuk suksesnya pembangunan.

Kota besar sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi siapa saja untuk didatangi, ditinggali dalam mencari penghidupan yang lebih baik. Beragamnya lapangan pekerjaan, sarana pendidikan dan hiburan yang memadai dan gaji yang tinggi menjadi semacam ‘magnets of hope’.

Sebagaimana buku Smart Economy in Smart Cities yang dieditori T.M. Vinod Kumar (2017) dari penelitian lintas wilayah di berbagai kota besar dunia yang melihat kota sebagai arena kompetisi antara orang-orang yang mempunyai keahlian dan kurang mempunyai keahlian dalam mencari tempat tinggal yang lebih baik dan gaya hidup untuk datang ke kota yang diidentik dengan mobilitas manusia yang tinggi.

“Aku nek ndelok Wonokromo, Keputran lan Tunjungan wis diwenehi tretek sak nduwure dalan, perlu kanggo njogo nek keslametan supoyo lancer jalane kendaraan. Mulo nek wis ono dulur peraturan kita ayo nurut berek ketentuan, kadang-kadang sebagen sek ono sing melanggar senengane mencolot pager nyabrang dalan”

[saya kalau lihat (daerah) Wonokromo, Keputran dan Tunjungan sudah diberi
jembatan di atas jalan (jembatan penyeberangan), berguna untuk menjaga
keselamatan supaya lancar jalannya kendaraan. Jadi kalau sudah ada saudara
peraturan mari kita menurutinya, kadang sebagian masih ada yang melanggar suka
melompat pagar ketika menyebrang jalan]

. Inilah gambaran bagaimana pembangunan infrastruktur yang tidak diimbangi pembangunan mentalitas manusianya.

Jula-juli yang memuat tentang apresiasi terhadap pembangunan jembatan penyeberangan terdapat pada lakon Branjang Kabel. Pembangunan jembatan penyeberangan yang berada di daerah Wonokromo, Pasar Keputran dan Tunjungan ditujukan untuk keselamatan melalui kaset guyonan jula-juli kartolo CS disuarakan kepada khalayak umum.

Demikian juga dalam bidang perekonomian melalui pengadaan pasar, toko-toko modern dan pelebaran jalan terdapat pada lakon Dukun Ulo Entong : “Suroboyo dulur pancen kutho pahlawan, pembangunane gak ketinggalan, gedung sekolahan lan jembatan penyeberangan, toko-toko lan pelebaran jalan” (Surabaya saudara, memang kota pahlawan, pembangunannya tidak ketinggalan, gedung sekolah dan jembatan penyeberangan, toko-toko dan (proyek) pelebaran jalan).

Pembangunan jembatan penyeberangan berpengaruh pada kesadaran masyarakat Surabaya akan pentingnya menjaga keselamatan terutama saat melintasi jalan kota yang ramai. Jalanan yang dilalui banyak kendaraan memerlukan penanganan khusus agar tidak terjadi kemacetan dan salah satu solusinya adalah dengan pelebaran jalan. Jalan yang lebar mendukung kelancaran lalu lintas baik orang maupun pengiriman barang.

Permasalahan yang terjadi pada saat ini penduduk Kota Surabaya berdasarkan sensus 2010 berjumlah 2.765.487 Jiwa, sementara proyeksi pertambahan penduduk dari sensus penduduk 2010, pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 2.896,6 artinya penduduk kota Surabaya hampir mencapai angka 3 Juta Jiwa dengan luas wilayah 326,36 km2.

Artinya terjadi kepadatan penduduk yang tidak ditopang dengan ruang yang ada dan sarana jalan yang memadai menjadikan permasalahan terkait penggunaan ruang dan jalan yang semakin kompleks. Telah terjadi pula ketidakseimbangan antara rasio jumlah penduduk: jumlah kendaraan: sarana jalan.

Pada lakon Sinden Bledek dibahas tentang pembangunan pendukung infrastruktur yaitu sarana penerangan jalan. “ndelok kahanane kutho saiki pembangunan wis maju, embong-embong podho di aspal, lampune wis padang, mlaku bengi koyo awan”

[melihat keadaan kota sekarang pembangunan telah maju, jalanan sudah diaspal,
lampu sudah terang,berjalan malam hari seperti siang]

. Jalan yang telah diterangi oleh lampu membuat suasan malam terasa siang dan mempengaruhi kinerja masyarakatnya. Jika pada masyarakat agraris aktifitas hanya terbatas pada pagi sampai sore mengingat fasilitas listrik masih terbatas bahkan belum ada.

Silampukau, sebuah band indie folk asal Surabaya dibentuk pada tahun 2009. Melalui Malam Jatuh Di Surabaya mengatakan “Gelanggang ganas 5:15, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya”. Kota pahlawan telah berubah, terjadi pula perubahan pandangan bahwa era modern memunculkan pekerjaan yang tidak lagi menggantungkan pada terbitnya dan tergelincirnya matahari, karena malam tetap bisa beraktifitas. Jalan yang terang merubah pula anggapan tempat yang rawan menjadi tempat yang bisa diberdayakan.

Jalanan juga menjadi tempat beraktualisasi diri. Leo Imam Sukarno atau yang lebih dikenal sebagai Leo Kristi, musisi pengelana asal Surabaya yang menjadikan jalanan sebagai cara berproses. Dalam SALS (Solus Aegroti Suprema Lexest) Leo mengungkapkan “Lilin putih ditepi taman biru. Gedung putih luar, tenang, damai. Serasa tak lagi otot dan perang. Karena saat telah dekat jalan Tuhan. Solus Aegroti Supreme Lexest. Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah airmata”.

Inilah masa Leo berjuang untuk hidup dari musik dengan mengamen di jalanan. Sebagai musisi asli Kota Surabaya Leo merepresentasikan pengalaman indrawi dalam lagu berjudul “Oh Surabaya”, “Sudut Jalan Surabaya 1979”, “Nyiur Melambai di Plaza Surabaya”, “Surabaya Bernyanyi” dan “Tepi Surabaya”. Rupanya Surabaya mempunyai tempat khusus di hati Leo Kristi.

Lirik kidung dan lagu menjadi gambaran kehidupan kota Surabaya baik secara tersurat maupun tersirat. Seperti Kartolo CS dengan jula juli yang tidak hanya mengajak pendengar untuk sekadar tertawa. Ada ajakan untuk ‘menertawakan’ keadaan. Demikian juga Silampukau yang melihat jumlah penduduk kota yang terus bertambah terutama dari para pendatang dan cenderung tinggal di kawasan pinggiran berkontribusi pada kepadatan lalu lintas.

Harga properti yang semakin tinggi itulah yang membuat Silampukau sampai “Sambat omah” dalam Lagu Rantau. Belum lagi terjadi peningkatan daya beli masyarakat pada kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Bersedih pada kesenjangan. Bersedih sepanjang jalan seperti Leo Kristi “Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah air mata”. Karya berasal dari persepsi dan pengalaman hidup. Menjadi satu kesatuan dan kekuatan dalam sebuah lirik untuk melihat lebih mendalam keadaan. Kota Pahlawan yang semakin dan akan terus berubah. [T]

Tags: kidungKotalagumusikSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuak Adalah Nyawa: Tetap Macho, Jangan Kacau!

Next Post

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Roikan

Roikan

Asisten Peneliti di Center for Security and Welfare Studies (CSWS) FISIP UNAIR. Blogger dan Kartunis Lepas di www.roikansoekartun.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co