3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Roikan by Roikan
September 6, 2019
in Esai
Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Foto: koleksi prinadi penulis

 “Mangan tape gak atek ragi tuku, tuku tetel nang Suroboyo. Modele arek saiki rabine kendel blonjo nunut morotuo. Iku ngunu nek aku dhewe. Tuku bandeng Cuma siji, rupane ngganteng sandale dipeniteni” (Makan tape tidak pakai ragi, beli tetel di Surabaya. Modelnya anak sekarang kawinnya berani [tapi] urusan belanja ikut mertua. Itulah aku sendiri. Beli bandeng cuma satu, mukanya tampang (tapi) sandalnya dikasih peniti).

____

Itulah kidung pembuka pada guyonan CS dalam judul Besut 81. Dagelan Kartolo CS dalam kidung jula-julinya terdapat beberapa bagian yaitu bagian awal, tengah dan penutupan. Setelah jula-juli pembuka, dilanjutkan dengan masuknya musik dari gamelan kemudian kidungan berubah menjadi lirik-lirik yang lebih bersifat edukatif, memuat nilai moralitas, spiritual, pesan sosial sampai pesan pembangunan.

Akhir kidungan pembuka dilanjutkan dengan musik jula-juli dengan lirik yang bersifat menghibur, berisi mengenai cerita-cerita keseharian berdasarkan pengalaman yang bersifat lucu atau mengejutkan tapi tetap mengundang senyum. Bagian terakhir berbeda dalam setiap seri kaset rekaman Kartolo CS, ada yang menggunakan jula-juli standar, jula-juli dangdut, tembang rujak jeruk, tembang walang kekek, dodol tinuku sampai instrumen gaya musik khas mandarin. Beberapa kidungan jula-juli Kartolo CS adalah representasi kehidupan pada masa Orde Baru yang berisi tentang perkembangan dalam pembangunan, meliputi pengadaan infrastruktur, pendidikan sampai pada harapan untuk suksesnya pembangunan.

Kota besar sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi siapa saja untuk didatangi, ditinggali dalam mencari penghidupan yang lebih baik. Beragamnya lapangan pekerjaan, sarana pendidikan dan hiburan yang memadai dan gaji yang tinggi menjadi semacam ‘magnets of hope’.

Sebagaimana buku Smart Economy in Smart Cities yang dieditori T.M. Vinod Kumar (2017) dari penelitian lintas wilayah di berbagai kota besar dunia yang melihat kota sebagai arena kompetisi antara orang-orang yang mempunyai keahlian dan kurang mempunyai keahlian dalam mencari tempat tinggal yang lebih baik dan gaya hidup untuk datang ke kota yang diidentik dengan mobilitas manusia yang tinggi.

“Aku nek ndelok Wonokromo, Keputran lan Tunjungan wis diwenehi tretek sak nduwure dalan, perlu kanggo njogo nek keslametan supoyo lancer jalane kendaraan. Mulo nek wis ono dulur peraturan kita ayo nurut berek ketentuan, kadang-kadang sebagen sek ono sing melanggar senengane mencolot pager nyabrang dalan”

[saya kalau lihat (daerah) Wonokromo, Keputran dan Tunjungan sudah diberi
jembatan di atas jalan (jembatan penyeberangan), berguna untuk menjaga
keselamatan supaya lancar jalannya kendaraan. Jadi kalau sudah ada saudara
peraturan mari kita menurutinya, kadang sebagian masih ada yang melanggar suka
melompat pagar ketika menyebrang jalan]

. Inilah gambaran bagaimana pembangunan infrastruktur yang tidak diimbangi pembangunan mentalitas manusianya.

Jula-juli yang memuat tentang apresiasi terhadap pembangunan jembatan penyeberangan terdapat pada lakon Branjang Kabel. Pembangunan jembatan penyeberangan yang berada di daerah Wonokromo, Pasar Keputran dan Tunjungan ditujukan untuk keselamatan melalui kaset guyonan jula-juli kartolo CS disuarakan kepada khalayak umum.

Demikian juga dalam bidang perekonomian melalui pengadaan pasar, toko-toko modern dan pelebaran jalan terdapat pada lakon Dukun Ulo Entong : “Suroboyo dulur pancen kutho pahlawan, pembangunane gak ketinggalan, gedung sekolahan lan jembatan penyeberangan, toko-toko lan pelebaran jalan” (Surabaya saudara, memang kota pahlawan, pembangunannya tidak ketinggalan, gedung sekolah dan jembatan penyeberangan, toko-toko dan (proyek) pelebaran jalan).

Pembangunan jembatan penyeberangan berpengaruh pada kesadaran masyarakat Surabaya akan pentingnya menjaga keselamatan terutama saat melintasi jalan kota yang ramai. Jalanan yang dilalui banyak kendaraan memerlukan penanganan khusus agar tidak terjadi kemacetan dan salah satu solusinya adalah dengan pelebaran jalan. Jalan yang lebar mendukung kelancaran lalu lintas baik orang maupun pengiriman barang.

Permasalahan yang terjadi pada saat ini penduduk Kota Surabaya berdasarkan sensus 2010 berjumlah 2.765.487 Jiwa, sementara proyeksi pertambahan penduduk dari sensus penduduk 2010, pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 2.896,6 artinya penduduk kota Surabaya hampir mencapai angka 3 Juta Jiwa dengan luas wilayah 326,36 km2.

Artinya terjadi kepadatan penduduk yang tidak ditopang dengan ruang yang ada dan sarana jalan yang memadai menjadikan permasalahan terkait penggunaan ruang dan jalan yang semakin kompleks. Telah terjadi pula ketidakseimbangan antara rasio jumlah penduduk: jumlah kendaraan: sarana jalan.

Pada lakon Sinden Bledek dibahas tentang pembangunan pendukung infrastruktur yaitu sarana penerangan jalan. “ndelok kahanane kutho saiki pembangunan wis maju, embong-embong podho di aspal, lampune wis padang, mlaku bengi koyo awan”

[melihat keadaan kota sekarang pembangunan telah maju, jalanan sudah diaspal,
lampu sudah terang,berjalan malam hari seperti siang]

. Jalan yang telah diterangi oleh lampu membuat suasan malam terasa siang dan mempengaruhi kinerja masyarakatnya. Jika pada masyarakat agraris aktifitas hanya terbatas pada pagi sampai sore mengingat fasilitas listrik masih terbatas bahkan belum ada.

Silampukau, sebuah band indie folk asal Surabaya dibentuk pada tahun 2009. Melalui Malam Jatuh Di Surabaya mengatakan “Gelanggang ganas 5:15, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya”. Kota pahlawan telah berubah, terjadi pula perubahan pandangan bahwa era modern memunculkan pekerjaan yang tidak lagi menggantungkan pada terbitnya dan tergelincirnya matahari, karena malam tetap bisa beraktifitas. Jalan yang terang merubah pula anggapan tempat yang rawan menjadi tempat yang bisa diberdayakan.

Jalanan juga menjadi tempat beraktualisasi diri. Leo Imam Sukarno atau yang lebih dikenal sebagai Leo Kristi, musisi pengelana asal Surabaya yang menjadikan jalanan sebagai cara berproses. Dalam SALS (Solus Aegroti Suprema Lexest) Leo mengungkapkan “Lilin putih ditepi taman biru. Gedung putih luar, tenang, damai. Serasa tak lagi otot dan perang. Karena saat telah dekat jalan Tuhan. Solus Aegroti Supreme Lexest. Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah airmata”.

Inilah masa Leo berjuang untuk hidup dari musik dengan mengamen di jalanan. Sebagai musisi asli Kota Surabaya Leo merepresentasikan pengalaman indrawi dalam lagu berjudul “Oh Surabaya”, “Sudut Jalan Surabaya 1979”, “Nyiur Melambai di Plaza Surabaya”, “Surabaya Bernyanyi” dan “Tepi Surabaya”. Rupanya Surabaya mempunyai tempat khusus di hati Leo Kristi.

Lirik kidung dan lagu menjadi gambaran kehidupan kota Surabaya baik secara tersurat maupun tersirat. Seperti Kartolo CS dengan jula juli yang tidak hanya mengajak pendengar untuk sekadar tertawa. Ada ajakan untuk ‘menertawakan’ keadaan. Demikian juga Silampukau yang melihat jumlah penduduk kota yang terus bertambah terutama dari para pendatang dan cenderung tinggal di kawasan pinggiran berkontribusi pada kepadatan lalu lintas.

Harga properti yang semakin tinggi itulah yang membuat Silampukau sampai “Sambat omah” dalam Lagu Rantau. Belum lagi terjadi peningkatan daya beli masyarakat pada kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Bersedih pada kesenjangan. Bersedih sepanjang jalan seperti Leo Kristi “Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah air mata”. Karya berasal dari persepsi dan pengalaman hidup. Menjadi satu kesatuan dan kekuatan dalam sebuah lirik untuk melihat lebih mendalam keadaan. Kota Pahlawan yang semakin dan akan terus berubah. [T]

Tags: kidungKotalagumusikSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuak Adalah Nyawa: Tetap Macho, Jangan Kacau!

Next Post

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Roikan

Roikan

Asisten Peneliti di Center for Security and Welfare Studies (CSWS) FISIP UNAIR. Blogger dan Kartunis Lepas di www.roikansoekartun.com

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co