12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Roikan by Roikan
September 6, 2019
in Esai
Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Foto: koleksi prinadi penulis

 “Mangan tape gak atek ragi tuku, tuku tetel nang Suroboyo. Modele arek saiki rabine kendel blonjo nunut morotuo. Iku ngunu nek aku dhewe. Tuku bandeng Cuma siji, rupane ngganteng sandale dipeniteni” (Makan tape tidak pakai ragi, beli tetel di Surabaya. Modelnya anak sekarang kawinnya berani [tapi] urusan belanja ikut mertua. Itulah aku sendiri. Beli bandeng cuma satu, mukanya tampang (tapi) sandalnya dikasih peniti).

____

Itulah kidung pembuka pada guyonan CS dalam judul Besut 81. Dagelan Kartolo CS dalam kidung jula-julinya terdapat beberapa bagian yaitu bagian awal, tengah dan penutupan. Setelah jula-juli pembuka, dilanjutkan dengan masuknya musik dari gamelan kemudian kidungan berubah menjadi lirik-lirik yang lebih bersifat edukatif, memuat nilai moralitas, spiritual, pesan sosial sampai pesan pembangunan.

Akhir kidungan pembuka dilanjutkan dengan musik jula-juli dengan lirik yang bersifat menghibur, berisi mengenai cerita-cerita keseharian berdasarkan pengalaman yang bersifat lucu atau mengejutkan tapi tetap mengundang senyum. Bagian terakhir berbeda dalam setiap seri kaset rekaman Kartolo CS, ada yang menggunakan jula-juli standar, jula-juli dangdut, tembang rujak jeruk, tembang walang kekek, dodol tinuku sampai instrumen gaya musik khas mandarin. Beberapa kidungan jula-juli Kartolo CS adalah representasi kehidupan pada masa Orde Baru yang berisi tentang perkembangan dalam pembangunan, meliputi pengadaan infrastruktur, pendidikan sampai pada harapan untuk suksesnya pembangunan.

Kota besar sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi siapa saja untuk didatangi, ditinggali dalam mencari penghidupan yang lebih baik. Beragamnya lapangan pekerjaan, sarana pendidikan dan hiburan yang memadai dan gaji yang tinggi menjadi semacam ‘magnets of hope’.

Sebagaimana buku Smart Economy in Smart Cities yang dieditori T.M. Vinod Kumar (2017) dari penelitian lintas wilayah di berbagai kota besar dunia yang melihat kota sebagai arena kompetisi antara orang-orang yang mempunyai keahlian dan kurang mempunyai keahlian dalam mencari tempat tinggal yang lebih baik dan gaya hidup untuk datang ke kota yang diidentik dengan mobilitas manusia yang tinggi.

“Aku nek ndelok Wonokromo, Keputran lan Tunjungan wis diwenehi tretek sak nduwure dalan, perlu kanggo njogo nek keslametan supoyo lancer jalane kendaraan. Mulo nek wis ono dulur peraturan kita ayo nurut berek ketentuan, kadang-kadang sebagen sek ono sing melanggar senengane mencolot pager nyabrang dalan”

[saya kalau lihat (daerah) Wonokromo, Keputran dan Tunjungan sudah diberi
jembatan di atas jalan (jembatan penyeberangan), berguna untuk menjaga
keselamatan supaya lancar jalannya kendaraan. Jadi kalau sudah ada saudara
peraturan mari kita menurutinya, kadang sebagian masih ada yang melanggar suka
melompat pagar ketika menyebrang jalan]

. Inilah gambaran bagaimana pembangunan infrastruktur yang tidak diimbangi pembangunan mentalitas manusianya.

Jula-juli yang memuat tentang apresiasi terhadap pembangunan jembatan penyeberangan terdapat pada lakon Branjang Kabel. Pembangunan jembatan penyeberangan yang berada di daerah Wonokromo, Pasar Keputran dan Tunjungan ditujukan untuk keselamatan melalui kaset guyonan jula-juli kartolo CS disuarakan kepada khalayak umum.

Demikian juga dalam bidang perekonomian melalui pengadaan pasar, toko-toko modern dan pelebaran jalan terdapat pada lakon Dukun Ulo Entong : “Suroboyo dulur pancen kutho pahlawan, pembangunane gak ketinggalan, gedung sekolahan lan jembatan penyeberangan, toko-toko lan pelebaran jalan” (Surabaya saudara, memang kota pahlawan, pembangunannya tidak ketinggalan, gedung sekolah dan jembatan penyeberangan, toko-toko dan (proyek) pelebaran jalan).

Pembangunan jembatan penyeberangan berpengaruh pada kesadaran masyarakat Surabaya akan pentingnya menjaga keselamatan terutama saat melintasi jalan kota yang ramai. Jalanan yang dilalui banyak kendaraan memerlukan penanganan khusus agar tidak terjadi kemacetan dan salah satu solusinya adalah dengan pelebaran jalan. Jalan yang lebar mendukung kelancaran lalu lintas baik orang maupun pengiriman barang.

Permasalahan yang terjadi pada saat ini penduduk Kota Surabaya berdasarkan sensus 2010 berjumlah 2.765.487 Jiwa, sementara proyeksi pertambahan penduduk dari sensus penduduk 2010, pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 2.896,6 artinya penduduk kota Surabaya hampir mencapai angka 3 Juta Jiwa dengan luas wilayah 326,36 km2.

Artinya terjadi kepadatan penduduk yang tidak ditopang dengan ruang yang ada dan sarana jalan yang memadai menjadikan permasalahan terkait penggunaan ruang dan jalan yang semakin kompleks. Telah terjadi pula ketidakseimbangan antara rasio jumlah penduduk: jumlah kendaraan: sarana jalan.

Pada lakon Sinden Bledek dibahas tentang pembangunan pendukung infrastruktur yaitu sarana penerangan jalan. “ndelok kahanane kutho saiki pembangunan wis maju, embong-embong podho di aspal, lampune wis padang, mlaku bengi koyo awan”

[melihat keadaan kota sekarang pembangunan telah maju, jalanan sudah diaspal,
lampu sudah terang,berjalan malam hari seperti siang]

. Jalan yang telah diterangi oleh lampu membuat suasan malam terasa siang dan mempengaruhi kinerja masyarakatnya. Jika pada masyarakat agraris aktifitas hanya terbatas pada pagi sampai sore mengingat fasilitas listrik masih terbatas bahkan belum ada.

Silampukau, sebuah band indie folk asal Surabaya dibentuk pada tahun 2009. Melalui Malam Jatuh Di Surabaya mengatakan “Gelanggang ganas 5:15, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya”. Kota pahlawan telah berubah, terjadi pula perubahan pandangan bahwa era modern memunculkan pekerjaan yang tidak lagi menggantungkan pada terbitnya dan tergelincirnya matahari, karena malam tetap bisa beraktifitas. Jalan yang terang merubah pula anggapan tempat yang rawan menjadi tempat yang bisa diberdayakan.

Jalanan juga menjadi tempat beraktualisasi diri. Leo Imam Sukarno atau yang lebih dikenal sebagai Leo Kristi, musisi pengelana asal Surabaya yang menjadikan jalanan sebagai cara berproses. Dalam SALS (Solus Aegroti Suprema Lexest) Leo mengungkapkan “Lilin putih ditepi taman biru. Gedung putih luar, tenang, damai. Serasa tak lagi otot dan perang. Karena saat telah dekat jalan Tuhan. Solus Aegroti Supreme Lexest. Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah airmata”.

Inilah masa Leo berjuang untuk hidup dari musik dengan mengamen di jalanan. Sebagai musisi asli Kota Surabaya Leo merepresentasikan pengalaman indrawi dalam lagu berjudul “Oh Surabaya”, “Sudut Jalan Surabaya 1979”, “Nyiur Melambai di Plaza Surabaya”, “Surabaya Bernyanyi” dan “Tepi Surabaya”. Rupanya Surabaya mempunyai tempat khusus di hati Leo Kristi.

Lirik kidung dan lagu menjadi gambaran kehidupan kota Surabaya baik secara tersurat maupun tersirat. Seperti Kartolo CS dengan jula juli yang tidak hanya mengajak pendengar untuk sekadar tertawa. Ada ajakan untuk ‘menertawakan’ keadaan. Demikian juga Silampukau yang melihat jumlah penduduk kota yang terus bertambah terutama dari para pendatang dan cenderung tinggal di kawasan pinggiran berkontribusi pada kepadatan lalu lintas.

Harga properti yang semakin tinggi itulah yang membuat Silampukau sampai “Sambat omah” dalam Lagu Rantau. Belum lagi terjadi peningkatan daya beli masyarakat pada kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Bersedih pada kesenjangan. Bersedih sepanjang jalan seperti Leo Kristi “Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah air mata”. Karya berasal dari persepsi dan pengalaman hidup. Menjadi satu kesatuan dan kekuatan dalam sebuah lirik untuk melihat lebih mendalam keadaan. Kota Pahlawan yang semakin dan akan terus berubah. [T]

Tags: kidungKotalagumusikSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuak Adalah Nyawa: Tetap Macho, Jangan Kacau!

Next Post

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Roikan

Roikan

Asisten Peneliti di Center for Security and Welfare Studies (CSWS) FISIP UNAIR. Blogger dan Kartunis Lepas di www.roikansoekartun.com

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co