22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Roikan by Roikan
September 6, 2019
in Esai
Dinamika Kota dalam Kidung dan Lagu

Foto: koleksi prinadi penulis

 “Mangan tape gak atek ragi tuku, tuku tetel nang Suroboyo. Modele arek saiki rabine kendel blonjo nunut morotuo. Iku ngunu nek aku dhewe. Tuku bandeng Cuma siji, rupane ngganteng sandale dipeniteni” (Makan tape tidak pakai ragi, beli tetel di Surabaya. Modelnya anak sekarang kawinnya berani [tapi] urusan belanja ikut mertua. Itulah aku sendiri. Beli bandeng cuma satu, mukanya tampang (tapi) sandalnya dikasih peniti).

____

Itulah kidung pembuka pada guyonan CS dalam judul Besut 81. Dagelan Kartolo CS dalam kidung jula-julinya terdapat beberapa bagian yaitu bagian awal, tengah dan penutupan. Setelah jula-juli pembuka, dilanjutkan dengan masuknya musik dari gamelan kemudian kidungan berubah menjadi lirik-lirik yang lebih bersifat edukatif, memuat nilai moralitas, spiritual, pesan sosial sampai pesan pembangunan.

Akhir kidungan pembuka dilanjutkan dengan musik jula-juli dengan lirik yang bersifat menghibur, berisi mengenai cerita-cerita keseharian berdasarkan pengalaman yang bersifat lucu atau mengejutkan tapi tetap mengundang senyum. Bagian terakhir berbeda dalam setiap seri kaset rekaman Kartolo CS, ada yang menggunakan jula-juli standar, jula-juli dangdut, tembang rujak jeruk, tembang walang kekek, dodol tinuku sampai instrumen gaya musik khas mandarin. Beberapa kidungan jula-juli Kartolo CS adalah representasi kehidupan pada masa Orde Baru yang berisi tentang perkembangan dalam pembangunan, meliputi pengadaan infrastruktur, pendidikan sampai pada harapan untuk suksesnya pembangunan.

Kota besar sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi siapa saja untuk didatangi, ditinggali dalam mencari penghidupan yang lebih baik. Beragamnya lapangan pekerjaan, sarana pendidikan dan hiburan yang memadai dan gaji yang tinggi menjadi semacam ‘magnets of hope’.

Sebagaimana buku Smart Economy in Smart Cities yang dieditori T.M. Vinod Kumar (2017) dari penelitian lintas wilayah di berbagai kota besar dunia yang melihat kota sebagai arena kompetisi antara orang-orang yang mempunyai keahlian dan kurang mempunyai keahlian dalam mencari tempat tinggal yang lebih baik dan gaya hidup untuk datang ke kota yang diidentik dengan mobilitas manusia yang tinggi.

“Aku nek ndelok Wonokromo, Keputran lan Tunjungan wis diwenehi tretek sak nduwure dalan, perlu kanggo njogo nek keslametan supoyo lancer jalane kendaraan. Mulo nek wis ono dulur peraturan kita ayo nurut berek ketentuan, kadang-kadang sebagen sek ono sing melanggar senengane mencolot pager nyabrang dalan”

[saya kalau lihat (daerah) Wonokromo, Keputran dan Tunjungan sudah diberi
jembatan di atas jalan (jembatan penyeberangan), berguna untuk menjaga
keselamatan supaya lancar jalannya kendaraan. Jadi kalau sudah ada saudara
peraturan mari kita menurutinya, kadang sebagian masih ada yang melanggar suka
melompat pagar ketika menyebrang jalan]

. Inilah gambaran bagaimana pembangunan infrastruktur yang tidak diimbangi pembangunan mentalitas manusianya.

Jula-juli yang memuat tentang apresiasi terhadap pembangunan jembatan penyeberangan terdapat pada lakon Branjang Kabel. Pembangunan jembatan penyeberangan yang berada di daerah Wonokromo, Pasar Keputran dan Tunjungan ditujukan untuk keselamatan melalui kaset guyonan jula-juli kartolo CS disuarakan kepada khalayak umum.

Demikian juga dalam bidang perekonomian melalui pengadaan pasar, toko-toko modern dan pelebaran jalan terdapat pada lakon Dukun Ulo Entong : “Suroboyo dulur pancen kutho pahlawan, pembangunane gak ketinggalan, gedung sekolahan lan jembatan penyeberangan, toko-toko lan pelebaran jalan” (Surabaya saudara, memang kota pahlawan, pembangunannya tidak ketinggalan, gedung sekolah dan jembatan penyeberangan, toko-toko dan (proyek) pelebaran jalan).

Pembangunan jembatan penyeberangan berpengaruh pada kesadaran masyarakat Surabaya akan pentingnya menjaga keselamatan terutama saat melintasi jalan kota yang ramai. Jalanan yang dilalui banyak kendaraan memerlukan penanganan khusus agar tidak terjadi kemacetan dan salah satu solusinya adalah dengan pelebaran jalan. Jalan yang lebar mendukung kelancaran lalu lintas baik orang maupun pengiriman barang.

Permasalahan yang terjadi pada saat ini penduduk Kota Surabaya berdasarkan sensus 2010 berjumlah 2.765.487 Jiwa, sementara proyeksi pertambahan penduduk dari sensus penduduk 2010, pada tahun 2017 diperkirakan mencapai 2.896,6 artinya penduduk kota Surabaya hampir mencapai angka 3 Juta Jiwa dengan luas wilayah 326,36 km2.

Artinya terjadi kepadatan penduduk yang tidak ditopang dengan ruang yang ada dan sarana jalan yang memadai menjadikan permasalahan terkait penggunaan ruang dan jalan yang semakin kompleks. Telah terjadi pula ketidakseimbangan antara rasio jumlah penduduk: jumlah kendaraan: sarana jalan.

Pada lakon Sinden Bledek dibahas tentang pembangunan pendukung infrastruktur yaitu sarana penerangan jalan. “ndelok kahanane kutho saiki pembangunan wis maju, embong-embong podho di aspal, lampune wis padang, mlaku bengi koyo awan”

[melihat keadaan kota sekarang pembangunan telah maju, jalanan sudah diaspal,
lampu sudah terang,berjalan malam hari seperti siang]

. Jalan yang telah diterangi oleh lampu membuat suasan malam terasa siang dan mempengaruhi kinerja masyarakatnya. Jika pada masyarakat agraris aktifitas hanya terbatas pada pagi sampai sore mengingat fasilitas listrik masih terbatas bahkan belum ada.

Silampukau, sebuah band indie folk asal Surabaya dibentuk pada tahun 2009. Melalui Malam Jatuh Di Surabaya mengatakan “Gelanggang ganas 5:15, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya”. Kota pahlawan telah berubah, terjadi pula perubahan pandangan bahwa era modern memunculkan pekerjaan yang tidak lagi menggantungkan pada terbitnya dan tergelincirnya matahari, karena malam tetap bisa beraktifitas. Jalan yang terang merubah pula anggapan tempat yang rawan menjadi tempat yang bisa diberdayakan.

Jalanan juga menjadi tempat beraktualisasi diri. Leo Imam Sukarno atau yang lebih dikenal sebagai Leo Kristi, musisi pengelana asal Surabaya yang menjadikan jalanan sebagai cara berproses. Dalam SALS (Solus Aegroti Suprema Lexest) Leo mengungkapkan “Lilin putih ditepi taman biru. Gedung putih luar, tenang, damai. Serasa tak lagi otot dan perang. Karena saat telah dekat jalan Tuhan. Solus Aegroti Supreme Lexest. Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah airmata”.

Inilah masa Leo berjuang untuk hidup dari musik dengan mengamen di jalanan. Sebagai musisi asli Kota Surabaya Leo merepresentasikan pengalaman indrawi dalam lagu berjudul “Oh Surabaya”, “Sudut Jalan Surabaya 1979”, “Nyiur Melambai di Plaza Surabaya”, “Surabaya Bernyanyi” dan “Tepi Surabaya”. Rupanya Surabaya mempunyai tempat khusus di hati Leo Kristi.

Lirik kidung dan lagu menjadi gambaran kehidupan kota Surabaya baik secara tersurat maupun tersirat. Seperti Kartolo CS dengan jula juli yang tidak hanya mengajak pendengar untuk sekadar tertawa. Ada ajakan untuk ‘menertawakan’ keadaan. Demikian juga Silampukau yang melihat jumlah penduduk kota yang terus bertambah terutama dari para pendatang dan cenderung tinggal di kawasan pinggiran berkontribusi pada kepadatan lalu lintas.

Harga properti yang semakin tinggi itulah yang membuat Silampukau sampai “Sambat omah” dalam Lagu Rantau. Belum lagi terjadi peningkatan daya beli masyarakat pada kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Bersedih pada kesenjangan. Bersedih sepanjang jalan seperti Leo Kristi “Di lorong pedestrian tunduk melangkah. Lorong pedestrian basah air mata”. Karya berasal dari persepsi dan pengalaman hidup. Menjadi satu kesatuan dan kekuatan dalam sebuah lirik untuk melihat lebih mendalam keadaan. Kota Pahlawan yang semakin dan akan terus berubah. [T]

Tags: kidungKotalagumusikSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tuak Adalah Nyawa: Tetap Macho, Jangan Kacau!

Next Post

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Roikan

Roikan

Asisten Peneliti di Center for Security and Welfare Studies (CSWS) FISIP UNAIR. Blogger dan Kartunis Lepas di www.roikansoekartun.com

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Rindu Kebangkitan Budaya Seni Silat Bugis Loloan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co