23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Puisi-Musik”, – Misi Agar Puisi Menjangkau Publik yang Lebih Luas.

Tan Lioe Ie by Tan Lioe Ie
July 5, 2019
in Esai
“Puisi-Musik”, – Misi Agar Puisi Menjangkau Publik yang Lebih Luas.

Pementasan Puisi-Musik dari Tan Lioe Ie

PADA dasarnya sebuah ideal punya potensi berubah. Apa yang ideal pada suatu ruang, waktu, tertentu potensial bergeser pada ruang dan waktu lain. 

Berubah di sini, juga termasuk bertambah. Jadi ideal yang sebelumnya bisa berjalan seiring dengan ideal yang belakangan muncul. Saya dulu menganggap, akustik adalah ideal untuk puisi-musik (yang saya yakini sementara ini lebih tepat secara maknawi/kebahasaan dibanding yang dulu juga saya gunakan, musikalisasi puisi, karena puisi sudah musikal, meski tanpa dimusikalisasi), jadi puisi-musik, dua kata menyatu, sehingga serupa “bersenyawa” dalam sinergi. 

Jika istilah puisi musik (dua kata terpisah), dapat bermakna puisinya musik atau sebaliknya jika musik menerangkan puisi ( hukum DM). 

Saya juga pernah dan masih yakin istilah adalah soal kesepakatan pemakainya, namun wajar sebagai orang yang bergiat di bidang terkait bahasa, sejauh istilah tersebut bukan lisensi puitika, maka masih boleh dipertanyakan. Para munsyi kerap melakukan hal ini dalam kolom bahasa Kompas (saya merasa saya bukan munsyi, tapi tentu boleh juga sekali-sekali bicara). 
Belakangan saya meyakini tak harus akustik. Bahkan tanpa instrumen musik yang “umum” pun boleh (acapella, misalnya). 

Saya dulu meyakini, jangan terlalu banyak baris puisi yang dibacakan, jika ada yang dibacakan. Namun belakangan saya belajar, ternyata gradasi vokal, kuat dan lembut, keras dan pelan…, dalam resital puisi (istilah ini memberi ruang untuk baca, baca plus nyanyi, dan nyanyi, serta digunakan oleh Berthold Damshausser juga dalam festival sastra yang pernah saya ikuti).

Dengan kata lain, baca seluruh puisi pun boleh (ini pandangan saya sebagai seniman), jadi saya belajar sambil melihat makna leksikalnya juga dalam hal ini. Tentang apakah puisi-musik belakangan ini semakin ruwet dan semakin jauh dari misi awal mendekatkan puisi ke publik yang tak hanya publik konvensional puisi, menurut saya, tergantung ekspektasi/ideal saat ini dari setiap kita yang sah jika berbeda.

Ketika dulu menganggap akustik ideal dan minimalis dalam instrumen (bukan genre musik minimalis), sehingga bisa dimainkan dengan satu gitar sambil camping, misalnya, saya pernah mengungkapkan, walau mungkin ke kalangan terbatas, tak tertutup dikembangkan dalam bentuk yang lebih “besar”, semisal orchestra. Hanya tentu saya harus realistis pada sumber daya yang ada, termasuk kapasitas saya. Misal, vokal saya tak mampu mencapai 3 oktav, maka saya harus tahu diri jangan memaksakan diri menyanyikan yang mencapai 3 oktav.

“Puisi memiliki nasibnya sendiri”, saya dengar diucapkan Frans Nadjira dan pengalaman saya menunjukkan ini memiliki kebenaran, namun konteksnya bukan puisi-musik. Saya menggunakan dalam puisi-musik, puisi “meminta” musiknya sendiri, sehingga konsekuensi logisnya, semakin beragam puisi, semakin beragam pula “bentuk” musik yang dapat bersinergi dengan puisi.

Walau, “deklarasi awal” Bali PuisiMusik (karena kami 4 personil Bali PuisiMusik), ikut terlibat sejak dini dalam Bali Blues Island, komunitas Blues di Bali, bahwa karya kami “blues-puisi”, dalam perjalanan kami, meski sentuhan blues (minjam istilah gitaris kami Yande Subawa), umumnya terjaga, dalam diskusi kami pada satu sesi latihan, saya melontarkan pertanyaan ke Yande selaku arranger di album Exorcism, apakah semua akan kita blueskan?

Jangan, jawabnya. Saya suka jawaban ini, sebab seperti saya sebut di atas puisi “minta” musiknya sendiri, karenanya musik kami lintas “rupa”, dengan sentuhan blues terjaga pada komposisi kami, umumnya. Musik juga bisa “minta” puisinya sendiri. Misalnya, Anda “fanatik” country, maka pilih saja puisi yang pas untuk country dan ini ada (jika tidak tulis atau minta dituliskan puisinya), sehingga mungkin. 

Jika disimak blues kami yang bagan utamanya 12 bar pada Exorcism dan one chord pada Malam Cahaya Lampion, sesungguhnya kami sudah “mbalelo”, terutama dari segi “anger”-nya. Blues dalam kedua format tadi yang cenderung “introvert”, kami jadikan “explosive blues”. Ada alasannya, blues lahir di masa perbudakan oleh kaum Afro-Amerika, mereka duka, menderita dan marah (tentunya), hanya saja keadaan saat itu tak memungkinkan mereka “meledakkan” amarahnya, ini tentu beda dengan kami yang bukan dari serta tak mengalami masa “gelap” itu, dan semoga tak mengalami masa “gelap” seperti itu. 

Saya juga beruntung menyaksikan atau mendengarkan Dennis Jannah (Suriname, membawakan puisi-musik genre Jazz, Deff P dari Belanda Hip Hop, Jim Morisson (the Doors), Blues, dan kecenderungan Rock & Roll yang menambah wawasan saya. Tentu ada banyak yang bisa kawan-kawan contohkan di sini. Saya semakin yakin semuanya dengan segala perbedaannya masih on the right track, termasuk tidak eksklusif (dalam arti hanya untuk publik “konvensional” puisi berbahasa Indonesia).

Saya punya beberapa pengalaman yang membuat saya meyakini hal ini. Pentas saya juga Bali Musik Puisi (Bali PM) di publik non-konvensional sastra, beserta apresiasi bagus yang kami terima menunjukkan hal ini (Mungkin ada indikator lain?), al : Di komunitas meditasi, apresiasi atas pentas Bali PM di komunitas ini bagus, hemat saya (Saya baru saja dihubungi untuk pentas lagi di HUT Komunitas ini 17-08-2018 ini).

Saat Bali PM pentas di Anjung Cahaya Tanjungpinang (Kawasan wisata, dengan publik beragam, penonton betah menyaksikan kami, sementara (maaf), maestro monolog kita Putu Wijaya ditinggalkan mayoritas penonton, mungkin karena tak semua penonton “publik sastra”. di Festival Seni Surabaya, sebagian penonton bergoyang dan betah mendengar kami (kami tampil pertama), namun ada dua kelompok masing-masing dari Solo dan Madura ditinggalkan sebagian penonton, bisa tak kena di selera penonton tsb, tak mustahil juga soal pencapaian yang debatable, tentunya.

Di JCC, kami tampil di Pameran Dagang, Kemendag dan industri Kreatif, ternyata apresiasi juga bagus. Ada yang tak saya kenal menyaksikan video yang diupload teman ke youtube berkomentar: “Saya menyaksikan orang ini, Gokil abis”.

Usai menyaksikan kami pentas di UWRF, Myrna Ratna (Kompas), yang duduk di sebelah Ari-Reda (Yang juga tampil sebelum kami), minta waktu untuk interview (saya tak mengenalnya sebelumnya). Yang menarik sepanjang interview, beberapa orang asing mendekat dan mengatakan “it was great”, padahal puisi yang kami bawakan berbahasa Indonesia. 

Pengalaman dengan orang asing yang memuji terjadi lebih dari sekali, termasuk dari mantan tour manager the Rolling Stones Sam Cutler. Bahkan ada yang mengatakan suka hanya berdasarkan video sederhana kami. Tentu untuk yang orang asing, banyak di antaranya tak mengerti bahasa Indonesia, tapi tak mengahalangi untuk menikmati. Dan mereka ini boleh dikatakan lebih tidak konvensional dari publik sastra Indonesia yang tidak konvensional apalagi yang konvensional. 

Lalu, apakah gagal mendekatkan puisi, karena publik yang orang asing itu, tak mengerti bahasa Indonesia? Masih terlalu dini untuk dinilai sekarang. Sebab tak mustahil di antaranya lalu berminat mendalami bahasa Indonesia termasuk puisi Indonesia walau tak pasti. Apalagi kelebihan bahasa, kan bisa diterjemahkan. Saya juga dulu menyukai banyak lagu bahasa Inggris tanpa mengerti banyak, arti liriknya. Walau belum ahli, saya mulai juga mempelajarinya.

Ada juga orang asing yang nonton Bali PM, berkata kepada saya : I don’t undesrtand the meaning, but I feel the energy”. Pernah di Casablanca, Sanur, di mana mayoritas publik orang asing dan band yang tampil tak hanya Bali PM, tapi yang diminta tambah oleh publik penonton, Bali PM bukan band yang lain. Ada beberapa contoh lainnya yang tak perlu rasanya diungkapkan di sini. Yang jelas jika orang sudah suka, maka berbagai ruang kemungkinan jadi terbuka. 

Yang jelas saya tak jemu belajar. Saya pun sungguh terkagum-kagum akan skill bermusik cukup banyak anak-anak muda sekarang. Mari kita terus belajar. Bukankah kita di Bali kerap mendengar “de ngaden awak bisa” dst, di mana ada bagian yang sangat penting untuk kita, menurut saya yaitu, “masih banyak yang perlu dipelajari”.

Dan mari menyadari bersama bahwa perubahan bersifat niscaya. Satu-satunya keabadian adalah perubahan itu sendiri, bukan? Dan seperti kerap saya ungkapkan, dalam lomba, sesungguhnya kemenangan adalah merayakan sukacita, menjadi juara cuma bonus, apalagi di luar lomba yang relatif lebih bebas bagi kita dalam berekspresi. 

Dan dengan masuknya puisi-musik sebagai bahan ajar SMP dan SMA, juga di Untirta sebagai bahan ajar, rasanya tak bisa dikatakan sebuah misi yang sia-sia(tentu di sini ada peran banyak pihak). Mungkin tak semasif musik indutri yang memang menguasai pasar saat ini, tapi bukanlah ukuran kegagalan.

Kita patut juga becermin pada kegigihan pemusik dangdut yang musiknya tadinya hanya dinikmati “kalangan bawah”, dicap kampungan, toh akhirnya sekarang berterima lintas segmen. Bahkan saya beranggapan untuk dunia musik yang berorientasi pasar, mereka bisa menjadi “komoditi” unggulan kita untuk bersaing di pasar global. 

Satu hal yang juga penting dalam menjaga gairah berkarya adalah, kesiapan menghadapi surprise karena ketakterdugaan, “the future not eyes to see” bahkan 1 detik di depan kita pun belum kita ketahui, sebelum detik itu tiba. Jika segalanya terbaca, ibarat Lao Tse yang mengalami pencerahan dan tak ada lagi rahasia, tak ada lagi teka-teki, beliau hendak mengasingkan diri ke gurun.

Tentu yang dicapai Lao Tse tak dapat dikatakan buruk, malah mungkin banyak orang mendambakannya. Saya hanya ingin mengatakan, jika tak adalagi rahasia / teka-teki/ misteri, maka “apa yang hendak kau katakan/ tak lagi kau ucapkan” (seperti kutipan puisi saya, kali ini 🙂 ). Maka perlu juga disyukuri jika masih ada teka-teki yang tak terbaca, sehingga menantang gairah dan kreativitas kita untuk membacanya lewat karya dan tak membeku di satu titik beku. 

Seorang teman jurnalis dari Suriname pernah berkata kepada saya : “Sulit mengerti lirik (baca puisi) lagumu karena dalam bahasa Indonesia” (bahasa nasional Suriname, bahasa Belanda dan dia bisa bahasa Inggris).

Saya menjawab: “Jangankan bagimu, bagi banyak orang Indonesia pun puisi (meski puisi yang berbahasa Indonesia), sulit dimengerti”.

Menjangkau lapisan masyarakat yang bukan publik konvensional sastra lewat puisi-musik, bukan berarti mereka harus mengerti. Bisa terasosiasi pun, sudah cukup. Juga jika gubahan puisi-musik dimainkan dan atau didengar dan atau dinyanyikan, dinikmati pun cukup. Bukankah kita kerap mengalami hal ini, saat berhadapan dengan lirik musik berbahasa asing yang tak kita mengerti sebagian dan atau seluruhnya?. 

“Angkasa ini begitu luas/ tapi aku telah sampai pada batas/ di mana aku tak mungkin kembali”(Subagio Satrowardoyo), “the only possiible is non stop flying sonder mendarat”(Chairil Anwar). Selamat berkarya. Salam 🙂 [T]

Nb. Maaf, contohnya banyak pengalaman pribadi, karena ini yang lebih saya tahu untuk saya ungkapkan di sini.

Tags: musikmusikalisasi puisiPuisisastraseniman
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Penghargaan 11 Seniman – Besar Pengabdiannya, Besar Perhatian Pemerintah, Kecil Hadiahnya…

Next Post

Kelor untuk Kesehatan: Dari Mistis hingga Bisnis, Dari “Jukut” hingga “Laklak”

Tan Lioe Ie

Tan Lioe Ie

Penyair, tinggal di Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kelor untuk Kesehatan: Dari Mistis hingga Bisnis, Dari “Jukut” hingga “Laklak”

Kelor untuk Kesehatan: Dari Mistis hingga Bisnis, Dari “Jukut” hingga “Laklak”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co