24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cita-cita Toya Bungkah, Cita-cita Kebudayaan Bangsa Indonesia

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
April 8, 2019
in Esai
Cita-cita Toya Bungkah, Cita-cita Kebudayaan Bangsa Indonesia

Toyabungkah. (Foto: FB/Kurnia Effendi)

Tahun 1938, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) mengunjungi Kintamani untuk pertamakalinya ditemani sastrawan Panji Tisna. Rupanya mereka mengunjungi Toya Bungkah (kadang ditulis Toyabungkah), yang ketika itu masih perladangan dengan topografi tanah yang landai di kaki gugusan perbukitan Kintamani. Posisinya berhadapan-hadapan dengan desa Trunyan yang mempunyai tradisi “merawat mayat” berusia 10 abad di seberang Danau Batur.

Di bawah suhu pegunungan yang sejuk, Toya Bungkah yang mempunyai banyak sumber air panas alami, tampak istimewa karena seakan – akan menjadi simbol perpaduan dua kutub energi: panas dan dingin. Sementara keberadaan budaya Bali Aga (budaya pegunungan atau budaya Bali mula) di seberang danaunya yang tenang, menghadirkan suatu panorama waktu yang ideal bagi seorang perenung. Tradisi-tradisi Bali Aga yang masih tetap bertahan di Trunyan itu, yang siginifikan berbeda dengan tradisi besar di bagian selatan, seakan menampilkan sisi waktu yang lain di pulau Bali, yakni “waktu statis”, sebagai padanan dari waktu Bali yang dinamis.

Bagi seorang sastrawan, filsuf dan futurolog seperti STA, lanskap yang seperti itu pastilah sangat menarik. Terbukti, tiga puluh dua tahun kemudian, ia kembali mengunjungi Toya Bungkah, membeli sehamparan tanah di lerengnya dan kemudian mendirikan Balai Seni Toya Bungkah pada tahun 1973.

Tidak banyak sastrawan maupun pengamat seni yang tertarik pada topik STA berkaitan dengan gagasannya mendirikan Balai Seni Toya Bungkah itu. Lain dengan Siti Zainon Ismail, penyair Malaysia yang melihat Toya Bungkah sebagai titik balik dalam perjalanan pemikiran Sutan Takdir Alisyahbana. Secara khusus, ia menulis sajak berjudul  “Nafas Toyabungkah – di Taman Pak Takdir” sebagai bentuk interpretasinya atas sosok STA yang kontroversial itu.

…

kau lihat batu-batu cadas itu

yang dibentuk oleh api dan air

atau pohon kembali

mengenal akar,

setia nelayan

memintal lumut di hujung kail

mujahir danau

tiba-tiba muncul setelah kebakaran

Ditulis pada 1985, sajak ini mencoba merekam sisi dialektika dari dunia batin STA melalui pemandangan sehari-hari di Toya Bungkah. Yakni pemandangan hidup yang bersumber dari ketenangan masa lampau, warisan masyarakat pra Indonesia, yang selama ini dikecam STA kurang “mendayagunakan otak lantaran terbiasa menjadi sleursmans, manusia yang hamba kebiasaan”. [1]  

Apakah dengan demikian, Toya Bungkah dapat dikatakan sebuah titik balik dari pemikiran STA tentang kemajuan? Bila mengikut kerangka interpretasi Siti Zainon tentu jawabnya adalah iya. Tetapi perlu diingat, STA sendiri menolak disebut telah mengubah pendirian awalnya mengenai cita-cita kemajuan kebudayaan Indonesia.  Dalam sebuah  esai yang ditulisnya pada 1982, ia menekankan kembali pentingnya muncul suatu avangart baru di dalam kebudayaan. Dan itu mestilah diikuti kaum seniman, lebih-lebih kaum sasterawan dalam rekonstruksi kehidupan pribadi, masyarakat dan kebudayaan yang baru… yang bahu membahu bekerja dengan ahli-ahli ekonomi, politik, agama, dan pemimpin-pemimpin masyarakat[2]

Ia menolak spesialisasi di lapangan kebudayaan. Karena kerisis yang melanda manusia kontemporer menurutnya memerlukan peninjauan menyeluruh serta global pula sifatnya, tidak dapat dijawab oleh spesialisma. Dalam visi seperti ini pula Balai Seni Toya Bungkah digagas, yang makin ditegaskannya dengan mendirikan International Association of Art and the Future pada 1978 bersama masyarakat intelek dan seni internasional.

Dapat dikatakan Balai Seni Toya Bungkah merupakan titik kulminasi dalam perjalanan pemikiran dan perenungan STA selaku seorang visioner kebangsaan dan kebudayaan. Di samping tujuan untuk menciptakan avangart budaya,  ia sekaligus merepresentasikan STA selaku manusia nusantara yang tidak dapat disedot sepenuhnya oleh modernisme dan westernisasi, tetapi ingin menjadi bagian aktif dan progresif dalam tataran global.  Di sisi lain, gagasan pendirian  Balai Seni Toya Bungkah, bukan pula merupakan suatu perangkap tradisional yang hendak menjerat kita dalam romantika masa lalu belaka. Yang dulu, yang sekarang, yang nanti justru berpadu di situ. STA mewujudkannya melalui cita-cita seni yang bercorak eksperimental, dengan mengelaborasi lalu mengkolaborasikan sisi-sisi paling original, mutual dan penuh visi dari sebuah pencapaian seni. Baik yang tradisi maupun yang kontemporer.

Barangkali karena itu pula ia memilih puisi untuk dieksperimentasi dengan tarian saat mengundang Ni Ketut Reneng (yang maestro tari tradisi) mencipta dan melatih di Toya Bungkah. Sebab bagaimanapun kekuatan puisi yang mampu mensublimasi ragam peristiwa dari ragam lapangan kehidupan dalam satu memontum estetika yang unik, juga terdapat dalam seni tari dan seni masa lampau kita. Dalam hal ini, Ni Reneng tentu sosok yang sangat tepat karena taksu masa lampau yang hidup di dalam dirinya.

Terlepas dari tidak ada pernyataan eksplisit mengenai pengaruh Ni Reneng dalam kehidupan pemikiran STA, kita tetap dapat menjangka, bahwa melalui Ni Reneng, STA telah melihat sepirit seni Bali yang memenuhi kriterianya perihal “seni yang bertanggungjawab kepada masyarakat dan keindahan itu sendiri”.

Tak pelak, sajak Siti Zainon Ismail juga menyiratkan hal itu, sebagaimana tampak dalam bait di bawah ini:

ketika seniman tua itu mengumpul batu-batu

mengatur kemboja di halaman

keinginan yang hangat, apakah kita

yang muda hanya terpukau

kagum lalu melupakan?

Malam itu

kusimpul senyum Nyi Gadung

kenangan masa lalunya

ada ilmu yang harus kusimpulkan

benarkan cahaya itu merimbas

hingga darahku

memercik ke danaumu!

Kritikus Dami N.Toda mengira bahwa sosok yang dimaksud bait tersebut adalah STA di masa tuanya (Dewan Sastera, Oktober 2002). Tetapi saya lebih suka melihat figur itu sebagai sosok simbolik yang mewakil “taksu masa lalu”, kepada siapa si aku menemukan keinginan yang hangat itu, dan perlu menyimpul ilmu demi membenarkan cahaya yang merimbas itu. Tak terkecuali bagi seorang STA tentunya.

Toya Bungkah yang terpencil di hulu Kintamani itu, kini memang terabaikan seperti cita dan cinta yang belum kesampaian. Sebagian lahannya mungkin sudah dialihguna, papan mereknya tertutup semak, dan panggung, properti serta buku-buku di perpustakaan sudah dimakan rayap. Namun gagasan pendiriannya layak direfleksi, sebuah monumen visi yang penting dalam usaha menemukan karakter kemajuan kebudayaan Indonesia.


[1] STA, Semboyan Yang Tegas

Kritik terhadap beberapa prae-advies Kongres Permusyarawarat Perguran  Indonesia. Lampiran pada buku Sang Pujangga. Terbitan Pustaka Pelajar. 2005

[2] Ilmu Dan Budaya 4/TH.IV/Juli 1982

Tags: baliBanglikebudayaanKintamanisastraSutan Takdir AlisyahbanaToyabungkah
Share100TweetSendShareSend
Previous Post

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Next Post

Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Kisah Caleg Perjuangkan Bebotoh dan Legalkan Tajen: Bukan Kampanye Buduh-buduhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co