23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bissu; Waria Sebagai Pemuka Agama Dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
April 4, 2019
in Esai
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Beberapa hari lalu saya dikagetkan oleh aksi seorang rektor yang memecat seluruh pengurus pers mahasiswanya karena persoalan cerpen yang disinyalir mengandung dukungan terhadap LGBT dan cerpen penuh dengan “sperma”.

Wuih, sebagai penikmat cerita pendek dan seorang yang menulis cerita pendek boleh dong sesekali saya bangga terhadap cerita pendek hehe. Ternyata pemilihan tema yang diceritakan dengan format cerita pendek ini sampai segitunya ditakuti keberadaannya bahkan oleh orang sekelas rektor.

Apa sampai segitu cerpen bisa menghancurkan dunia? Eh, salah ding ketinggian. Apa sampai segitunya cerpen bisa menghancurkan tatanan masyarakat Indonesia? Apa iya setelah membaca cerpen yang bertemakan homoseksual bisa merubah yang membaca menjadi orang homoseks? Ya ampun, ngeri banget dong kalau tiba-tiba baca Ensiklopedia hewan tiba-tiba perilaku jadi kayak hewan, hehe. Eh nggak ding, kayaknya hewan lebih manusiawi. 

Di kolom Rak Buku kali ini saya ingin membahas soal satu novel yang ditulis oleh penulis muda asal Makasar, Faisal Oddang, dengan judul Tiba Sebelum Berangkat. Wah berangkat aja belum, gimana bisa tiba ya? Hheehe. Kita gas nanti saat pembahasan.

Ulasan novel ini saya tulis lantaran ingat kejadian soal pembubaran pers mahasiswa di atas karena kebetulan dengan menyentil isu yang sama, gender dan kenapa novel ini begitu menarik bagi saya karena mengambil dari sudut pandang Bissu, pendeta bagi masyarakat Bugis yang sering disebut “waria” karena gendernya yang non biner alias tidak secara khusus mengkategorikan diri cowok atau cewek. Apalagi nih, penulisnya ini adalah orang yang hidup dalam lingkungan bissu dan adalah keturunannya. Jadi secara tidak langsung dia mengalaminya. Begitu menarik atau mendorong? Yuks!

Secara umum

Agar tidak spoiler, secara garis besar novel ini bercerita soal pencarian seseorang yang disekap saat kejadian bersejarah tahun 1950 di Sulawesi Selatan. Alur novel ini maju mundur. Jadi sesekali pembaca akan dihadapkan situasi penyekapan dan sesekali dihadapkan masa lalu karakternya hingga akhirnya dia terbebas dan ah bro endingnya keren buanget, perlu aku kasi tau?

Selama masa hidupnya inilah dia mengalami begitu banyak persoalan dari sejak kecil mendengar kemelut partai orang tuanya, kehilangan ayahnya atas dasar beda pandangan politik, hasrat seks yang tidak biasa dan pelarian untuk terbebas dari perasaannya sendiri dan dari seorang bissu tua.

Tentang bissu

Bissu sendiri adalah karakter yang digunakan penulis sebagai karakter di dalam novelnya. Dalam struktur budaya Bugis, peran bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit (Basa Torilangi), oleh karena itu bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’La Galigo. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan (indo’botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain. Intinya, peran bissu itu sangat penting.

Bissu itu memiliki gender yang non biner. Jika melihat seksnya, mereka laki-laki, tapi dari penampilannya lebih condong ke perempuan dan feminim, lengkap dengan rambutnya yang panjang. Mungkin banyak orang akan menyebut mereka waria. Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah melawan kodratnya. Senang berpenampilan dan bertingkah laku feminin dalam kehidupan sehari-hari, pada raga seorang laki-laki. Apabila terdapat remaja dalam suku Bugis yang menjadi calabai, biasanya ia terpanggil pula untuk menjadi seorang Bissu.

Seorang waria baru dikatakan layak menjadi Bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai Bissu, calabbai tersebut harus menjalani prosesi dibaringkan yang dilakukan di loteng bagian depan rumah Arajang. Calabbai yang hendak dibaringkan ituhanya berlaku untuk satu orang saja. Pada hari terakhir ia akan dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama sehari hingga senja. Selama dibaringkan, di atas tubuhnya digantung sebuah guci berisi air.

Setelah melakukan prosesi itu, Bissu mendapat perlakuan yang sangat istemewa. Bissu yang telah resmi dilantik akan diberi gelar “Puang”, sebagaimana ia kemudian akan dipanggil dan disapa. Puang Matoa (pimpinan tertua Bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas Bissu selama setahun ke depan.Tidak hanya itu, perlakuan istimewa yang didapat termasuk kebutuhan biologisnya. Di novel ini penulis menggambar adegan homoseks bissu yang baru dilantik dengan Puang Matoa (pemimpin tertua bissu).

Sejarah DI/TII di Sulawesi Selatan

Novel ini juga menarik dengan ditambahkannya unsur sejarah. Dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat juga disisipkan unsur sejarah tentang Sulawesi Selatan yang menjelaskan bagaimana bissu beserta generasinya dihabisi oleh kejadian sejarah DI/TII karena pertentangan agama yang terjadi di era 1950an.Bissu mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissu-annya.

Ini ditandai pada masa pemberontakan DI/TII tahun 1950-an, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu yang disebut dengan operasi toba (operasi taubat) yang gencar terjadi pada tahun 1966. Perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut dan tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Karena keberadaannya yang ambivalen, bissu dianggap tidak menerima sunnatullah, karena secara fisik mereka adalah laki-laki tapi penampilan seperti perempuan (tranvestities). Juga dianggap menyimpang dari agama.

Tentang judulnya, menurut interpretasi saya

Saya belum pernah bertemu langsung dengan penulisnya. Hanya melalui sosial media saja. Faisal Oddang sendiri adalah penulis yang bagi saya begitu progressif di dunia sastra dan perlu kita slikidikin, eh selidiki. Dia adalah penulis muda berbakat. Tahun 2018 karyanya masuk dalam pilihan Kusala Sastra Khatulistiwa dan juga sempat mengikuti residensi penulis ke Iowa, Amerika Serikat. Nah bicara judulnya, ini saya menerka dan coba menghubungkannya.

Menurut saya sendiri, judul ini diambil dari apa yang masyarakat Bugis percaya terhadap bissu. Begini, bagi masyarakat Bugis, setiap bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa depan. Dengan bahasa tersendiri, atau basa to rilangi(kalau orang di sana bilangnya), bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula hingga ke masa depan. Bahkan dia dianggap bisa meramalkan masa depan.

Atas dasar itulah saya menyimpulkan kenapa penulisnya memberi judul Tiba Sebelum Berangkat. Ibarat kata, tubuh kasarnya di sini, pikirannya sudah mekeber melingser alias sudah kemana mana.

————————–

Secara keseluruhan, konten novel ini begitu menarik buat saya. Soal sosial, politik, budaya dan sejarah lengkap tercermin dalam karya Oddang ini. Bulan lalu kita sudah bahas non fiksi dan sekarang kita sudah bahas fiksi (meskipun sebagian ceritanya fakta hehe).

Berarti bulan depan aku akan menulis ulasan non fiksi lagi, bagaimana kalau bahas The Gay Archipelago? Mumpung masih membicarakan homoseks dan gender? Atau ada usulan lain? Komen di facebook fanspage Tatkala!  [T]

Tags: BukuFaisal OddangLGBTnovelwaria
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Next Post

“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co