2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bissu; Waria Sebagai Pemuka Agama Dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
April 4, 2019
in Esai
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Beberapa hari lalu saya dikagetkan oleh aksi seorang rektor yang memecat seluruh pengurus pers mahasiswanya karena persoalan cerpen yang disinyalir mengandung dukungan terhadap LGBT dan cerpen penuh dengan “sperma”.

Wuih, sebagai penikmat cerita pendek dan seorang yang menulis cerita pendek boleh dong sesekali saya bangga terhadap cerita pendek hehe. Ternyata pemilihan tema yang diceritakan dengan format cerita pendek ini sampai segitunya ditakuti keberadaannya bahkan oleh orang sekelas rektor.

Apa sampai segitu cerpen bisa menghancurkan dunia? Eh, salah ding ketinggian. Apa sampai segitunya cerpen bisa menghancurkan tatanan masyarakat Indonesia? Apa iya setelah membaca cerpen yang bertemakan homoseksual bisa merubah yang membaca menjadi orang homoseks? Ya ampun, ngeri banget dong kalau tiba-tiba baca Ensiklopedia hewan tiba-tiba perilaku jadi kayak hewan, hehe. Eh nggak ding, kayaknya hewan lebih manusiawi. 

Di kolom Rak Buku kali ini saya ingin membahas soal satu novel yang ditulis oleh penulis muda asal Makasar, Faisal Oddang, dengan judul Tiba Sebelum Berangkat. Wah berangkat aja belum, gimana bisa tiba ya? Hheehe. Kita gas nanti saat pembahasan.

Ulasan novel ini saya tulis lantaran ingat kejadian soal pembubaran pers mahasiswa di atas karena kebetulan dengan menyentil isu yang sama, gender dan kenapa novel ini begitu menarik bagi saya karena mengambil dari sudut pandang Bissu, pendeta bagi masyarakat Bugis yang sering disebut “waria” karena gendernya yang non biner alias tidak secara khusus mengkategorikan diri cowok atau cewek. Apalagi nih, penulisnya ini adalah orang yang hidup dalam lingkungan bissu dan adalah keturunannya. Jadi secara tidak langsung dia mengalaminya. Begitu menarik atau mendorong? Yuks!

Secara umum

Agar tidak spoiler, secara garis besar novel ini bercerita soal pencarian seseorang yang disekap saat kejadian bersejarah tahun 1950 di Sulawesi Selatan. Alur novel ini maju mundur. Jadi sesekali pembaca akan dihadapkan situasi penyekapan dan sesekali dihadapkan masa lalu karakternya hingga akhirnya dia terbebas dan ah bro endingnya keren buanget, perlu aku kasi tau?

Selama masa hidupnya inilah dia mengalami begitu banyak persoalan dari sejak kecil mendengar kemelut partai orang tuanya, kehilangan ayahnya atas dasar beda pandangan politik, hasrat seks yang tidak biasa dan pelarian untuk terbebas dari perasaannya sendiri dan dari seorang bissu tua.

Tentang bissu

Bissu sendiri adalah karakter yang digunakan penulis sebagai karakter di dalam novelnya. Dalam struktur budaya Bugis, peran bissu tergolong istimewa karena dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai satu-satunya operator komunikasi antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa/langit (Basa Torilangi), oleh karena itu bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis Kuno sure’La Galigo. Bissu juga berperan mengatur semua pelaksaan upacara tradisional, seperti upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan (indo’botting), kematian, pelepasan nazar, persembahan, tolak bala, dan lain-lain. Intinya, peran bissu itu sangat penting.

Bissu itu memiliki gender yang non biner. Jika melihat seksnya, mereka laki-laki, tapi dari penampilannya lebih condong ke perempuan dan feminim, lengkap dengan rambutnya yang panjang. Mungkin banyak orang akan menyebut mereka waria. Dalam bahasa Bugis, waria disebut calabai. Kata ini berasal dari sala baine, yang artinya “bukan perempuan”. Mereka adalah lelaki dengan kondisi jasmaniah melawan kodratnya. Senang berpenampilan dan bertingkah laku feminin dalam kehidupan sehari-hari, pada raga seorang laki-laki. Apabila terdapat remaja dalam suku Bugis yang menjadi calabai, biasanya ia terpanggil pula untuk menjadi seorang Bissu.

Seorang waria baru dikatakan layak menjadi Bissu sepenuhnya berdasarkan penilaian Puang Matoa atau Puang Lolo. Namun, sebelum benar-benar diterima sebagai Bissu, calabbai tersebut harus menjalani prosesi dibaringkan yang dilakukan di loteng bagian depan rumah Arajang. Calabbai yang hendak dibaringkan ituhanya berlaku untuk satu orang saja. Pada hari terakhir ia akan dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama sehari hingga senja. Selama dibaringkan, di atas tubuhnya digantung sebuah guci berisi air.

Setelah melakukan prosesi itu, Bissu mendapat perlakuan yang sangat istemewa. Bissu yang telah resmi dilantik akan diberi gelar “Puang”, sebagaimana ia kemudian akan dipanggil dan disapa. Puang Matoa (pimpinan tertua Bissu) diberi berhektar-hektar sawah yang pengerjaannya dilakukan secara bergotong-royong, dan hasilnya digunakan untuk membiayai upacara-upacara ritual dan kebutuhan hidup komunitas Bissu selama setahun ke depan.Tidak hanya itu, perlakuan istimewa yang didapat termasuk kebutuhan biologisnya. Di novel ini penulis menggambar adegan homoseks bissu yang baru dilantik dengan Puang Matoa (pemimpin tertua bissu).

Sejarah DI/TII di Sulawesi Selatan

Novel ini juga menarik dengan ditambahkannya unsur sejarah. Dalam Novel Tiba Sebelum Berangkat juga disisipkan unsur sejarah tentang Sulawesi Selatan yang menjelaskan bagaimana bissu beserta generasinya dihabisi oleh kejadian sejarah DI/TII karena pertentangan agama yang terjadi di era 1950an.Bissu mengalami prahara yang memorak-porandakan seluruh pranata kebissu-annya.

Ini ditandai pada masa pemberontakan DI/TII tahun 1950-an, gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar melancarkan operasi penumpasan bissu yang disebut dengan operasi toba (operasi taubat) yang gencar terjadi pada tahun 1966. Perlengkapan upacara ritual bissu dibakar atau ditenggelamkan ke laut dan tidak sedikit bissu maupun sanro (dukun) dibunuh. Karena keberadaannya yang ambivalen, bissu dianggap tidak menerima sunnatullah, karena secara fisik mereka adalah laki-laki tapi penampilan seperti perempuan (tranvestities). Juga dianggap menyimpang dari agama.

Tentang judulnya, menurut interpretasi saya

Saya belum pernah bertemu langsung dengan penulisnya. Hanya melalui sosial media saja. Faisal Oddang sendiri adalah penulis yang bagi saya begitu progressif di dunia sastra dan perlu kita slikidikin, eh selidiki. Dia adalah penulis muda berbakat. Tahun 2018 karyanya masuk dalam pilihan Kusala Sastra Khatulistiwa dan juga sempat mengikuti residensi penulis ke Iowa, Amerika Serikat. Nah bicara judulnya, ini saya menerka dan coba menghubungkannya.

Menurut saya sendiri, judul ini diambil dari apa yang masyarakat Bugis percaya terhadap bissu. Begini, bagi masyarakat Bugis, setiap bissu diyakini memiliki kemampuan untuk melakukan kontak dengan masa lalu dan juga masa depan. Dengan bahasa tersendiri, atau basa to rilangi(kalau orang di sana bilangnya), bissu mampu berkomunikasi dengan para leluhurnya dari zaman baheula hingga ke masa depan. Bahkan dia dianggap bisa meramalkan masa depan.

Atas dasar itulah saya menyimpulkan kenapa penulisnya memberi judul Tiba Sebelum Berangkat. Ibarat kata, tubuh kasarnya di sini, pikirannya sudah mekeber melingser alias sudah kemana mana.

————————–

Secara keseluruhan, konten novel ini begitu menarik buat saya. Soal sosial, politik, budaya dan sejarah lengkap tercermin dalam karya Oddang ini. Bulan lalu kita sudah bahas non fiksi dan sekarang kita sudah bahas fiksi (meskipun sebagian ceritanya fakta hehe).

Berarti bulan depan aku akan menulis ulasan non fiksi lagi, bagaimana kalau bahas The Gay Archipelago? Mumpung masih membicarakan homoseks dan gender? Atau ada usulan lain? Komen di facebook fanspage Tatkala!  [T]

Tags: BukuFaisal OddangLGBTnovelwaria
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Next Post

“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

“Quarter Life Crisis”, Ini Biasa Terjadi Usai Kamu Wisuda S1

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co