23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lontar, Digital, dan Duduk di Pundak Raksasa

I Gede Gita Purnama A.P by I Gede Gita Purnama A.P
February 22, 2019
in Esai
Lontar, Digital, dan Duduk di Pundak Raksasa

Foto ilustrasi: tatkala

Selama seminggu belakangan kata Digitalisasi Lontar cukup ramai menghiasi media, baik media masa maupun media sosial. Ramainya karena bergema lagi kata digitalisasi lontar setelah beberapa tahun lalu sempat ramai namun redup senyap lalu hilang.

Mari kita lihat dan coba sedikit saja pahami apa digitalisasi lalu  kenapa lontar didigitalisasi. Digitalisasi terhadap manuskrip atau naskah lontar adalah sebuah cara melestarikan kandungan naskah dengan cara mengubahnya menjadi bentuk digital melalui proses fotografi. Lalu pentingnya dimana?

Salah satu hal terpenting dari digitalisasi adalah menyelamatkan kandungan, nilai, pengetahuan, dan sejarah dari naskah lontar tersebut. Sebab, naskah lontar adalah sebuah wadah teks yang memiliki kerentanan sangat tinggi terhadap kerusakan. Kerusakan naskah lontar terutamanya di Bali bisa diakibatkan oleh banyak faktor, yang kalau diurai bisa jadi satu artikel lain. Jadi salah duanya saja akan disebut, yaitu kelalaian pemilik/pewaris dalam merawat dan kerusakan akibat iklim tropis di wilayah Bali.

Setelah melalui proses fotografi baik profesiaonal maupun semi-profesional, hasil foto akan melalui proses editing yang wajar sehingga hasil akhir foto naskah dapat terbaca dengan baik. Proses digitalisasi naskah umumnya akan dilakukan bersamaan dengan pembuatan meta data dari naskah yang mengalami proses digitalisasi. Kebutuhan pembuatan meta data ini adalah untuk identitas naskah sebagai salah satu komponen penting dalam pembuatan arsip digital naskah, baik berupa katalogus maupun bank data naskah. 

Digitalisasi naskah, khususnya di Bali memang baru dikenal beberapa tahun silam, pun belum begitu banyak yang paham apa dan bagaimana barangnya kala itu. Dalam pengetahuan saya, pun yang masih ingat saya ingat, digitalisasi naskah lontar di Bali secara serius, barangkali pertama kali dilakukan beberapa tahun silam.

Digitalisasi ini dilakukan sebuah lembaga asing secara besar-besaran di Bali. Lontar koleksi sebuah perpustakaan milik pemerintah -sebut saja pusdok-menjadi salah satu objek digitalisasi, nyaris lengkap-kalau tak mau disebut semua- naskah lontar di perpustakaan tersebut sukses terdigitalkan. Kegiatan digitalisasi ini sempat menuai pro-kontra, namun hasil digitalisasi lontar tersebut kini dapat diakses dengan mudah dalam sebuah situs-sebut saja archive.org-dapat diunduh dengan kualitas gambar yang cukup memadai untuk membaca naskah beraksara Bali.

Pemerintah Kabupaten Badung juga melakukan program digitalisasi naskah lontar, kegiatan ini dilakukan melalui Dinas Kebudayaan. Program Pemkab Badung ini bahkan telah sampai pada tahap alih aksara dan penerjemahan naskah-naskah lontar yang telah didigitalisasi, hebatnya lagi hasil digitalisasi ini dicetak dalam bentuk buku full colour dan tersebar di masyarakat. Namun demikian versi daring dari hasil digitalisasi naskah lontar ini belum tersedia atau memang sengaja tidak disediakan. Sehingga data hasil digitalisasi belum terakses publik dengan mudah.

UPT Perpustakaan Lontar Universitas Udayana turut pula melakukan digitalisasi pada naskah-naskah lontar yang menjadi koleksi perpustakaan tersebut. Perpustakaan ini memiliki koleksi naskah lontar kurang lebih 900 buah naskah lontar. Pengerjaan digitalisasi dilakukan secara bertahap oleh staf perpustakaan. Hasil digitalisasi sementara masih menjadi arsip perpustakaan dan belum dapat diakses secara bebas oleh publik.

Kegiatan digitalisasi naskah lontar selanjutnya adalah digitalisasi naskah lontar milik Puri Kauhan Ubud. Kali ini, sepanjang pengetahuan saya, inilah kegiatan digitalisasi lontar pertama yang merupakan lontar koleksi pribadi/keluarga yang didigitalisasi secara pribadi. Hasil digitalisasi lontar milik keluarga Puri Kauhan ini kemudian masuk dalam bagian situs website milik keluarga puri, jadi hasil digitalisasi dapat diakses publik.

Pada saat kegitan digitalisasi lontar milik Puri Kauhan ini turut pula dilakukan pembuatan meta data lontar yang sangat detail. Lontar-lontar yang telah terpublikasi melalui daring, juga terdapat alih aksara lontar tersebut. Jadi sepanjang yang saya tahu, inilah hasil digitalisasi lontar yang bersifat daring dengan menyertakan alih aksara serta dilaksanakan oleh pihak pribadi/keluarga secara swadaya.

Terakhir, menurut pengetahuan dan ingatan saya, seminggu lalu DREAMSEA Project yang merupakan kerjasama beberapa lembaga di Indoensia dan Jerman, mengadakan kegiatan digitalisasi naskah lontar di sebuah rumah milik keluarga I Made Kajeng di Kota Denpasar. Digitalisasi lontar ini berlangsung kurang lebih selama seminggu, dengan hasil 54 cakep lontar terdigitalisasi dengan jumlah halaman melebihi 3751 halaman. Sebuah kegiatan pendigitalisasian yang sangat cepat dengan tempo waktu yang sangat singkat, dengan standart alat digitalisasi yang sangat tinggi. Hasil digitalisasi kegiatan ini nantinya akan diunggah secara daring pada situs DREAMSEA.org, dan dapat diakses publik dengan mudah.

Kegiatan digitalisasi naskah lontar di Bali seperti pengetahuan saya di atas merupakan satu langkah maju, jika kita coba kaitkan dengan istilah yang lagi ramai dibicarakan tapi tak banyak dipahami, revolusi industri 4.0. Revolusi industri ini selalu dikaitkan dengan segala yang berbau daring, mudah terakses, big data, dan tentu saja unicorn. Penyiapan bank data menjadi salah satu kunci utama arus industri 4.0 ini, dan lontar digital turut ada di dalamnya kini.

Hasil digitalisasi lontar yang telah dilakukan di Bali selama ini merupakan salah satu potensi bank data pengetahuan intelektual Bali masa lampau, selanjutnya bagaimana mengelola bank data ini. Tujuan mulia proses digitalisasi adalah penyelamatan isi, setelah itu lalu apa langkah selanjutnya? Idealnya ia menjadi awal menuju era baru pengkajian pengetahuan Bali. Nyatanya pengetahuan tradisional Bali bersifat universal, namun tak banyak diketahui publik secara luas. Sebabnya sederhana, pengetahuan itu tidak pernah dibuka pada publik untuk bersama-sama dilihat, ditelaah, dianalisis, dari berbagai sudut pandang dan sudut pikir.

Ia hanya dibuka pada ruang-ruang eksklusif dan kerap kali masih terhegemoni kaum konservatif. Mereka menyatakan pengetahuan itu universal, tapi sulit sekali berbagi pada universe, lucu sedikit sih.

Rupa digital telah siap, meta data telah siap, kini beranjak pada penyiapan alih aksara-bahasa, lalu interpretasi. Alih aksara-bahasa dikerjakan oleh para professional dengan kompetensi baik, semacam Penyuluh Bahasa Bali atau mahasiswa jurusan Bahasa Bali, atau individu penekun sastra Bali. Interpretasi pun demikian, dilakukan oleh interpreter yang professional dan memiliki  kompetensi tanpa intimidasi. Posisi pengalih aksara-bahasa dan interpreter akan memiliki nilai tawar yang sangat tinggi nantinya, sebab mereka pembuka kunci pintu gerbang, menjembatani pemikir menemukan pemikiran baru.

Setelah semua lengkap dan terdokumentasi menjadi bank data, maka inilah yang benar-benar membuat kita duduk pada pundak raksasa, mencapai jangka pandang yang lebih jauh ke depan dengan daya jelajah lebih luas. Pada titik inilah mega data ini akan menjadi lapangan luas silang pandang dan silang pikir antar pemandang dan pemikir, pada titik inilah pengetahuan tradisional Bali dalam naskah lontar betul-betul bersifat universal.

Akan lahir berbagai pemikiran filsafat yang tak lagi semata merujuk pada Plato, Aristoteles, tapi juga Dang Hyang Nirartha, Mpu Monaguna, atau Pedanda Sidemen. Orang tak hanya merujuk Marxs sebagai bentuk idealisme perlawanan, tapi merujuk pula Ki Dalang Tangsub dengan pemikiran dan idealisme perlawanan, dunia tanpa kelas ala Bungkling, serupa Marxsisme. Bayangkan akan muncul mahzab Bungklingisme dalam jajaran pemikiran sosialis,itu keren sekali!

Dunia telah melihat Bali dalam sudut pandang eksotisme budaya secara fisik, telah diperbincangkan dengan fasih pula oleh kaum orientalis sebagai pusat peradaban. Kini, bolehlah kita tak semata mendengar perbincangan tentang Bali pada fisik, namun pada inti dari Bali itu sendiri, pengetahuan leluhurnya. Mari kita ngopi, itu saja… [T]

Tags: digitallontarsastratekhnologi
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Manusia di Antara Binatang dan Tanaman

Next Post

Mimpi Berbisnis Yuk! (2) – Millenial, Cukup Satu Ide Sederhana Saja

I Gede Gita Purnama A.P

I Gede Gita Purnama A.P

Terkenal dengan panggilan Bayu. Hobi membaca dan minum kopi. Sehari-hari mondar-mandir di Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mimpi Bisnis Yuk! (1) – Bermimpi, Lakukan Kemudian

Mimpi Berbisnis Yuk! (2) - Millenial, Cukup Satu Ide Sederhana Saja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co