24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serba-Serbi Rasa Menjelang Wisuda dan Pascawisuda

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 14, 2019
in Esai
Serba-Serbi Rasa Menjelang Wisuda dan Pascawisuda

Foto: Mursal Buyung

Berbicara tentang wisuda bagi mahasiswa yang lazimnya dikatakan semester akhir tentunya penuh rasa, pastinya ada rasa bahagia, dan ada rasa sedihnya.

Jika kita mengulas kembali pada saat kita memasuki awal kuliah, pastinya ada rasa bangga tersendiri, karena kita merasa kita mampu dan memiliki ilmu yang lebih daripada orang yang tidak kuliah, di satu sisi lain kita memiliki tanggungjawab yang lebih untuk mengemban selama beberapa tahun.

Di awal kuliah tepatnya semester satu bisa dikatakan masih kuliah santai, karena bisa dikatakan itu masih memperkenalkan mata kuliah dasar. Kemudian beranjak menuju semester-semester selanjutnya hingga semester enam, sudah mulai ada rasa yang lebih berbeda, bisa dikatakan mulai tidak santai lagi, karena semakin naik semester maka semakin banyak juga tanggungjawab yang diemban.

Dan sampai pada akhirnya beranjak memasuki semester tujuh, semester tujuh ini sudah bisa dikatakan semester tua, karena di semester tujuh ini sudah mulai mengambil mata kuliah yang dikatakan sebagai persyaratan lulus universitas strata satu, yakni “skripsi”.

Banyak cerita yang saya dapat dari teman-teman mahasiswa di berbagai perguruan tinggi baik negeri dan swasta yang sedang mulai menggarap skripsi. Sampai pada akhirnya nama skripsi diplesetkan oleh mahasiswa, seperti ada mahasiswa yang menyebutkan dengan sebutan “skipsweet”.

Mengapa dikatakan seperti itu? Jawabannya cukup sederhana, yakni agar mahasiswa tidak seram saat mendengarnya dan agar membuat ghairah mahasiswa lebih santai ketika menggarapnya. Kemudian ada yang menyebutnya dengan istilah kasar yaitu “skripshit”, Mengapa dikatakan sekasar itu? Karena perasaan mahasiswa yang sangat kesal dengan skripsinya yang tak kunjung selesai dan membuatnya jengkel, marah, seakan seperti ingin mengakhiri tapi nanggung, dan akhirnya keluarlah kata-kata kasar dari mulut mahasiswa tersebut dengan sebutan itu.

Mahasiswa semester akhir yang sedang menggarap skripsi memang banyak sekali halangan dan rintangan yang sedang dihadapi, disatu sisi mereka mempunyai keinginan agar segera selesai dan dapat wisuda, di satu sisi lain mereka pun ada yang masih bingung dengan membuat judul skripsi yang akan diteliti, ada juga yang bingung mau mencari tempat penelitian di mana.

Kemudian ada juga yang sudah mendapatkan tempat penelitian namun bingung belum ada masalah yang harus diteliti. Ada juga yang bingung pada saat mengerjakan di bagian per babnya, ada juga yang bingung dan kesal karena susah menemui dosen pembimbing sehingga selalu menunda untuk revisi skripsi, atau bahkan ada juga yang masih malas untuk melanjutkan revisian dan ingin berleha-leha sebentar. Itu lah serba serbi rasa mahasiswa yang sedang menggarap skripsi.

Curhat sedikit deh, karena saya pun yang menulis tulisan ini sedang dalam masa menggarap skripsi tentunya banyak sekali halangan dan rintangan pada saat menggarap, saya pun juga pastinya ingin segera wisuda. Ketika saya sekarang sedang menggarap skripsi, saya tidak mau mengambil terlalu pusing bahkan sampai setres, diawal pada saat menggarap saya membuat target untuk paling lambat lulus empat tahun pas, tidak mau lebih.

Jadi keinginan dan tekad saya untuk itu selalu berusaha semampu saya untuk dapat itu tercapai, apalagi saya juga tidak hanya disibukkan dengan akademis saja, karena saya juga bisa dikatakan mahasiswa aktivis, jadi saya pun mempunyai tanggungjawab di organisasi yang saya ikuti. Jadi disini bagaimana cara saya untuk dapat membagi waktu dengan baik dan balance (seimbang) agar semuanya dapat berjalan, tetap saya prioritaskan untuk akademis, namun organisasi harus totalitas.

Jadi cara saya yaitu, yang pertama kita harus menyisihkan waktu luang beberapa jam untuk menggarap skripsi, kalau saya sih karena saya orangnya suka begadang dan itu sudah menjadi kebiasaaan saya, jadi saya memakai waktu di malam hari untuk menggarap skripsi, yang kedua yaitu lawan dan buanglah rasa malas yang ada pada diri sendiri, rasa malas itu memang selalu muncul, akan tetapi ketika kita mengingat kita harus mencapai tujuan itu pasti akan bisa kita lawan rasa malas.

Yang ketiga, yaitu ketika kita bingung mencari referensi pada saat menggarap, caranya yaitu kita harus mencari literasi sebanyak-banyaknya, bisa kita dapatkan dari diskusi dengan teman atau kakak tingkat yang sudah wisuda, dan lain sebagainya, karena dengan cara berkomunikasi maka semakin juga menambah wawasan kita, dan yang keempat kita juga perlu refreshing sejenak, ya yang dekat-dekat saja mungkin mencari panorama atau ke tempat-tempat wisata yang kita sukai. Itulah pengalaman saya.

Nah, sekarang kita membahas waktu menjelang wisuda, namun sebelum wisuda pastinya yudisium terlebih dahulu ya, menurut beberapa mahasiswa yang sudah mengalami yudisium mereka pun juga memiliki rasa takut, senang dan bercampur aduk bagaikan permen nano-nano, karena mereka takut ketika sidang skripsi tiba-tiba otak blank seperti orang yang tidak mengerti apa.

Kemudian mereka gugup, gerogi, keluar keringat panas dingin, takut bertatapan dengan dosen penguji, dan lain sebagainya, itu disebabkan karena kita sendiri kurang percaya diri. Dan salah satu mahasiswa mengatakan bahwa “Tingkatkan rasa percaya diri dengan kemampuanmu sendiri. Dan juga harus yakin dalam hati bahwa kamu bisa menjalaninya”.

Setelah yudisium berakhir, tiba saatnya yang dinanti yaitu acara wisuda, dimana mahasiswa sudah sibuk untuk mempersiapkan perlengkapan administrasi wisuda,  mempersiapkan pakaian wisuda dengan keluarga bahkan kekasih (bagi yang memiliki) yang akan hadir, kemudian membeli pakaian untuk wisuda, membeli tas, sandal, dan aksesoris lainnya untuk di acara wisuda. Karena sebagian mahasiswa pastinya mempersiapkan yang seperti itu. Karena wisuda yaitu hasil akhir dimana mahasiswa berjuang selama beberapa tahun untuk mendapat gelar Sarjana bagi yang menempuh strata satu, gelar Master bagi yang menempuh strata dua, dan lain sebagainya.

Namun, banyak pertanyaan muncul pasca wisuda, yakni Setelah wisuda mau kerja dimana? Setelah wisuda langsung menikah dengan si do’i kah?. Kedua pertanyaan tersebut selalu muncul dan pastinya banyak orang yang menanyakan.

Lalu bagaimanakah tanggapan orang-orang yang setelah wisuda?. Kemudian ada salah satu kakak tingkat saya yang menceritakan kepada saya tentang perasaan pascawisuda. Setelah yudisium berakhir kakak tingkat saya langsung mencari info lowongan pekerjaan baik dari sosial media maupun teman lainnya.

Dia mengatakan bahwa “ternyata, tidak segampang yang kita bayangkan mencari pekerjaan itu, kita harus sabar dan terus berusaha, harus melamar pekerjaan dibanyak instansi-instansi, jangan hanya berpatokan satu saja, karena menunggu panggilan pekerjaan juga tidak sebentar, jadi kita harus mempunyai cadangan dan target yang lebih banyak.

Saya sendiri malu ketika pasca wisuda masih menganggur, lantas apa gunanya saya dikuliahkan jika menganggur dirumah, masih minta uang dengan orang tua, itu sangat memalukan, jadi harus tetap berusaha, karena rezeki tidak akan pernah tertukar, usaha pun tidak akan mengkhianati hasil.” Begitulah pengalaman dari salah satu kakak tingkat saya.

Disamping itu, tidak sedikit mahasiswa pasca wisuda yang sudah mendapatkan pekerjaan namun tidak sesuai dengan jurusan pada saat kuliah, itu disebabkan karena mahasiswa tersebut memiliki skill dan kemampuan pengetahuan yang lebih di bidang lain daripada di jurusan yang diambil pada saat kuliah.

Kemudian juga ada mahasiswa pasca wisuda yang masih menganggur, itu bisa disebabkan karena kurangnya usaha, kemudian masih ingin bersantai sejenak pasca kuliah yang mungkin dikatakan capek selama beberapa tahun, atau alasan lain sebagainya. Bahkan, tidak sedikit juga mahasiswa pasca wisuda kemudian langsung menikah dan menjadi seorang Ibu Rumah Tangga (IRT).

Itulah serba-serbi rasa mahasiswa menjelang dan pasca wisuda, kesimpulannya yaitu selalu tetap berusaha, pantang menyerah, tetap semangat, capailah tujuan dan impian-impianmu, karena sosok seorang motivator bernama Mario Teguh mengatakan bahwa “Kalau anda malas, rajinkan diri. Kalau anda takut, beranikan diri. Kalau anda tidak tahu,bertanyalah. Kalau anda gagal, coba lagi. Kalau itu anda teruskan, sukses akan menjadi nyata, kalau tidak segera pasti nanti”.

Tags: mahasiswaSarjanaWisuda
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Jah Megesah Vol. 03 – Modal Manusia, Musik dan Militansi

Next Post

McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

McDonald dan Cerita-cerita Kampungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co