25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gie dan Dinamisnya Gerakan Mahasiswa Angkatan ‘66

Jaswanto by Jaswanto
December 22, 2018
in Esai
Gie dan Dinamisnya Gerakan Mahasiswa Angkatan ‘66

Foto: Putik

Lagi-lagi Soe Hok Gie. Ya, saya tidak akan pernah merasa bosan untuk terus menuliskan tentang Gie. Sebab, bagi saya, riwayat hidup Soe Hok Gie adalah oase di tengah-tengah gerakan mahasiswa yang tidak jelas arahnya ini.

Selama saya menjadi mahasiswa, khususnya di kampus saya, gerakan mahasiswa sangat statis. Serba formal. Tidak dinamis sama sekali. Mungkin ada beberapa yang mencoba bergerak secara dinamis, tapi karena saking sedikitnya, dan tidak kuat dibilang lain dari yang lain (aneh, nyeleneh, dll), sedikit demi sedikit gerakan itu mulai memudar. Hilang. Kemudian muncul kembali dengan gaya yang sama. Angin-anginan pokoknya.

Keadaan ini membuat saya teringat sosok Soe Hok Gie ketika ia masih menjadi mahasiswa. Gerakan Gie dan mahasiswa angkatan ’66, bagi saya sangat dinamis. Sangat bisa dijadikan panutan. Visioner, tujuannya jelas, dan tidak melulu tentang formalitas. Khususnya sosok Soe Hok Gie. Gie sebagai salah seorang mahasiswa yang sangat disegani di UI, perannya sebagai pelopor tidak bisa diremehkan lagi. Seorang mahasiswa yang tidak hanya idealis, tapi juga berpengetahuan luas. Semua ia pelajari. Filsafat, sastra, politik nasional maupun internasional. Kalau sekarang, mungkin ia akan dijuluki sebagai Wikipedia berjalan.

Selain aktif berkegiatan dan mendorong hal-hal yang berkaitan dengan ranah kognitif; meningkatkan kompetensi melalui forum-forum diskusi—Gie bersama dengan Ciil (panggilan Dr. Sjahrir) adalah pendiri GDUI (Grup Diskusi UI)—ia juga sangat aktif di dunia gerakan—aksi demonstrasi menuntut turunnya Soekarno (rezim Orde Lama), pembubaran PKI, dan turunnya harga BBM. Dan jangan lupakan tentang keaktifannya di dunia pecinta alam, di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Pradjna Paramita.

Hok Gie-lah yang menghidupkan kegiatan kampus. Ia mendorong mahasiswa bergairah mengikuti berbagai aktivitas kampus. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menikmati pembacaan puisi, panggung teater, musik, dan diskusi film juga buku. Bahkan, ia pernah mendatangkan W.S. Rendra ke kampus di Rawamangun untuk berdiskusi.

Gie bagi saya adalah sosok yang ambisius tapi sangat dinamis. Jauh dari fundamentalis. Gerakan-gerakannya sangat tidak membosankan. Ia bisa melakukan apa saja. Hobinya menonton film pun ditularkannya pula kepada kawan mahasiswa. Baik menonton di gedung bioskop umum, atau hanya sekadar menonton di sebuah ruangan, yang penting melakukannya beramai-ramai. Dan Gie juga sering mengajak kawan-kawannya untuk menjelajahi kedutaan-kedutaan asing untuk menonton film, seperti Kedutaan Ceko, Kedutaan Rumania, Kedutaan Perancis, dll. Biasanya Gie akan mengajak mereka untuk menonton The Secret of Life, yang bercerita tentang proses bayi, atau The Graduate-nya Dustin Hoffman dan film-film yang lain.

Selain menonton film, kadang Gie hanya berkumpul di rumah seorang kawan hanya untuk mendengarkan lagu-lagu The Beatles, misalnya, dan kemudian membahasnya bersama. Gie sangat suka mendengarkan lagu-lagu protes, seperti lagu Dona Dona yang dinyanyikan Joan Baez, lagu-lagu Bob Dylan, dan juga lagu-lagu perjuangan antridiskriminasi kaum kulit hitam di Amerika Serikat.

Pergerakan mahasiswa angkatan ’66 yang dimotori oleh Soe Hok Gie saya pikir sangat dinamis. Artinya tidak hanya bergelut di bidang akademis, tapi juga bergerak di ranah non-akademis. Tidak hanya formalitas saja. Selogan “buku, pesta, dan cinta” sangat populer waktu itu. Selain aktif di internal kampus, Soe Hok Gie juga sangat aktif di eksternal kampus. Bahkan, ia adalah salah satu otak terpilihnya Herman Lantang sebagai Ketua SM-FSUI yang mengalahkan calon-calon dari organisasi mahasiswa besar kala itu—HMI dan GMNI.

Pada masa Herman menjadi ketua Senat, Soe Hok Gie menduduki posisi pembantu staf SM-FSUI.

 “Pokoknya waktu gua ketua Senat itu, Hok-gie otaknya. Pidato gua waktu jadi ketua Senat aja Hok-gie yang bikin. Juga waktu nyusun organisasi SM-FSUI, Hok-gie yang ngatur semua,” ucap Herman Lantang.

Hampir semua kawan yang pernah dekat dengan Gie, atau beberapa orang yang kemudian ikut serta berkomentar dalam buku Soe Hok-gie Sekali Lagi, misalnya, mengatakan bahwa sosok Gie mampu mewakili pemuda pada zamannya. Ia begitu sangat istimewa. Berani, jujur, dan sangat idealis.

Pada tahun 1967, ketika mendapat dukungan dari kelompok independen—mereka yang tidak tergabung di HMI, PMII, PMKRI, dan GMKI—Soe Hok Gie kembali memenangkan pemilihan ketua SM-FSUI. Sejak itu, suasana fakultas kembali meriah. Berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Ada olah raga, penanaman pohon, pendkian gunung, ada klub buku, film, musik, dan tentu saja demonstrasi. Bahkan, teater Populer pimpinan Teguh Karya dan Teater Kecil Arifin C. Noor pernah didatangkan Gie untuk pentas di FS-UI. Tidak ketinggalan W.S. Rendra juga pernah ia datangkan sebagai pembicara.

Pada masa Gie menjabat sebagai ketua Senat, terbentuk Ikmasi (Ikatan Mahasiswa Sastra se-Indonesia) yang beranggotakan fakultas-fakultas sastra budaya dari berbagai universitas negeri se-Indonesia.

***

 Saya mencoba belajar dari Gie dalam pergerakan mahasiswa. Dengan semboyan “Buku, Pesta, dan Cinta” seperti mahasiswa FS-UI yang diharapkan tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Hok-gie dengan penuh kesadaran mencoba membangun watak para mahasiswa bukan dengan cara memprovokasi atau mengkader secara kasat mata, tetapi lebih mengajak secara halus untuk berpartisipasi membesarkan bangsa lewat pengalaman kehidupan mahasiswa di fakultas.

Mahasiswa FS-UI juga diajak untuk bersikap kritis terhadap pengelolaan pendidikan di fakultas, termasuk kritis terhadap dosen yang tidak cakap, yang tidak disiplin karena sering terlambat mengajar atau bahkan sering bolos. Menciptakan gerakan mahasiswa yang tidak kaku. Sof- fun. Elegan. Tidak perlu kerusuhan, frontal, atau membabi buta.

Saya membayangkan gerakan mahasiswa sekarang ini sedinamis angkatan ’66 itu. Di samping meningkatkan kognitif, juga sangat aktif meningkatkan afektif dan psikomotorik. Selain belajar di dalam kelas, juga mencoba aktif belajar di luar kelas; berorganisasi, bersosialisasi, dll. Di samping banyak membaca buku, sesekali juga mendengarkan puisi, diskusi film, menonton panggung-panggung teater, menulis, dan demontrasi tentu saja.

Namun saya melihat mahasiswa sekarang tidak sedinamis itu. Banyak mahasiswa yang sudah disibukkan dengan tugas-tugas dosen, rapat-rapat yang tak kunjung menemukan solusi untuk segera bergerak, atau urusan yang berkaitan dengan kemalasan. Hingga sepertinya mereka tidak punya waktu untuk sekadar gelisah terhadap permasalahan di sekitarnya. Jangankan gelisah terhadap permasalahan sekitar, hanya sekadar nonton film bareng saja mereka tak punya waktu.

Tidak hanya itu. Mahasiswa sekarang sudah banyak sekali yang berpikiran untung-rugi. Ya nggak salah. Cuma dari sanalah saya melihat, bibit-bibit kapitalisme itu muncul. Kemudian, mereka akan bersifat individu, apatis, yang penting mereka dapat untung, kehidupan selesai. Tak perlu memikirkan bagaimana si miskin, atau bagaimana kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, atau dosen yang semena-mena terhadap mahasiswa, dan kebijakan rektorat yang nyeleneh yang merugikan mahasiswa. Yang penting tugas kuliah mereka beres, sok manis di depan dosen, nurut, manut. Itu bukan urusan saya, kata mereka.

Nah, melalui gerakan-gerakan seperti yang dilakukan Soe Hok Gie itulah, saya berharap gerakan mahasiswa saat ini bisa dinamis. Tidak membosankan, dan tentu saja bisa bermanfaat bagi sesama.

Salam pergerakan! (T)

Tags: aktivismahasiswapergerakanSoe Hok Gie
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Sulit Mencari Guru

Next Post

Waktu –Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Waktu  –Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Waktu --Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co