2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gie dan Dinamisnya Gerakan Mahasiswa Angkatan ‘66

Jaswanto by Jaswanto
December 22, 2018
in Esai
Gie dan Dinamisnya Gerakan Mahasiswa Angkatan ‘66

Foto: Putik

Lagi-lagi Soe Hok Gie. Ya, saya tidak akan pernah merasa bosan untuk terus menuliskan tentang Gie. Sebab, bagi saya, riwayat hidup Soe Hok Gie adalah oase di tengah-tengah gerakan mahasiswa yang tidak jelas arahnya ini.

Selama saya menjadi mahasiswa, khususnya di kampus saya, gerakan mahasiswa sangat statis. Serba formal. Tidak dinamis sama sekali. Mungkin ada beberapa yang mencoba bergerak secara dinamis, tapi karena saking sedikitnya, dan tidak kuat dibilang lain dari yang lain (aneh, nyeleneh, dll), sedikit demi sedikit gerakan itu mulai memudar. Hilang. Kemudian muncul kembali dengan gaya yang sama. Angin-anginan pokoknya.

Keadaan ini membuat saya teringat sosok Soe Hok Gie ketika ia masih menjadi mahasiswa. Gerakan Gie dan mahasiswa angkatan ’66, bagi saya sangat dinamis. Sangat bisa dijadikan panutan. Visioner, tujuannya jelas, dan tidak melulu tentang formalitas. Khususnya sosok Soe Hok Gie. Gie sebagai salah seorang mahasiswa yang sangat disegani di UI, perannya sebagai pelopor tidak bisa diremehkan lagi. Seorang mahasiswa yang tidak hanya idealis, tapi juga berpengetahuan luas. Semua ia pelajari. Filsafat, sastra, politik nasional maupun internasional. Kalau sekarang, mungkin ia akan dijuluki sebagai Wikipedia berjalan.

Selain aktif berkegiatan dan mendorong hal-hal yang berkaitan dengan ranah kognitif; meningkatkan kompetensi melalui forum-forum diskusi—Gie bersama dengan Ciil (panggilan Dr. Sjahrir) adalah pendiri GDUI (Grup Diskusi UI)—ia juga sangat aktif di dunia gerakan—aksi demonstrasi menuntut turunnya Soekarno (rezim Orde Lama), pembubaran PKI, dan turunnya harga BBM. Dan jangan lupakan tentang keaktifannya di dunia pecinta alam, di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Pradjna Paramita.

Hok Gie-lah yang menghidupkan kegiatan kampus. Ia mendorong mahasiswa bergairah mengikuti berbagai aktivitas kampus. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menikmati pembacaan puisi, panggung teater, musik, dan diskusi film juga buku. Bahkan, ia pernah mendatangkan W.S. Rendra ke kampus di Rawamangun untuk berdiskusi.

Gie bagi saya adalah sosok yang ambisius tapi sangat dinamis. Jauh dari fundamentalis. Gerakan-gerakannya sangat tidak membosankan. Ia bisa melakukan apa saja. Hobinya menonton film pun ditularkannya pula kepada kawan mahasiswa. Baik menonton di gedung bioskop umum, atau hanya sekadar menonton di sebuah ruangan, yang penting melakukannya beramai-ramai. Dan Gie juga sering mengajak kawan-kawannya untuk menjelajahi kedutaan-kedutaan asing untuk menonton film, seperti Kedutaan Ceko, Kedutaan Rumania, Kedutaan Perancis, dll. Biasanya Gie akan mengajak mereka untuk menonton The Secret of Life, yang bercerita tentang proses bayi, atau The Graduate-nya Dustin Hoffman dan film-film yang lain.

Selain menonton film, kadang Gie hanya berkumpul di rumah seorang kawan hanya untuk mendengarkan lagu-lagu The Beatles, misalnya, dan kemudian membahasnya bersama. Gie sangat suka mendengarkan lagu-lagu protes, seperti lagu Dona Dona yang dinyanyikan Joan Baez, lagu-lagu Bob Dylan, dan juga lagu-lagu perjuangan antridiskriminasi kaum kulit hitam di Amerika Serikat.

Pergerakan mahasiswa angkatan ’66 yang dimotori oleh Soe Hok Gie saya pikir sangat dinamis. Artinya tidak hanya bergelut di bidang akademis, tapi juga bergerak di ranah non-akademis. Tidak hanya formalitas saja. Selogan “buku, pesta, dan cinta” sangat populer waktu itu. Selain aktif di internal kampus, Soe Hok Gie juga sangat aktif di eksternal kampus. Bahkan, ia adalah salah satu otak terpilihnya Herman Lantang sebagai Ketua SM-FSUI yang mengalahkan calon-calon dari organisasi mahasiswa besar kala itu—HMI dan GMNI.

Pada masa Herman menjadi ketua Senat, Soe Hok Gie menduduki posisi pembantu staf SM-FSUI.

 “Pokoknya waktu gua ketua Senat itu, Hok-gie otaknya. Pidato gua waktu jadi ketua Senat aja Hok-gie yang bikin. Juga waktu nyusun organisasi SM-FSUI, Hok-gie yang ngatur semua,” ucap Herman Lantang.

Hampir semua kawan yang pernah dekat dengan Gie, atau beberapa orang yang kemudian ikut serta berkomentar dalam buku Soe Hok-gie Sekali Lagi, misalnya, mengatakan bahwa sosok Gie mampu mewakili pemuda pada zamannya. Ia begitu sangat istimewa. Berani, jujur, dan sangat idealis.

Pada tahun 1967, ketika mendapat dukungan dari kelompok independen—mereka yang tidak tergabung di HMI, PMII, PMKRI, dan GMKI—Soe Hok Gie kembali memenangkan pemilihan ketua SM-FSUI. Sejak itu, suasana fakultas kembali meriah. Berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Ada olah raga, penanaman pohon, pendkian gunung, ada klub buku, film, musik, dan tentu saja demonstrasi. Bahkan, teater Populer pimpinan Teguh Karya dan Teater Kecil Arifin C. Noor pernah didatangkan Gie untuk pentas di FS-UI. Tidak ketinggalan W.S. Rendra juga pernah ia datangkan sebagai pembicara.

Pada masa Gie menjabat sebagai ketua Senat, terbentuk Ikmasi (Ikatan Mahasiswa Sastra se-Indonesia) yang beranggotakan fakultas-fakultas sastra budaya dari berbagai universitas negeri se-Indonesia.

***

 Saya mencoba belajar dari Gie dalam pergerakan mahasiswa. Dengan semboyan “Buku, Pesta, dan Cinta” seperti mahasiswa FS-UI yang diharapkan tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Hok-gie dengan penuh kesadaran mencoba membangun watak para mahasiswa bukan dengan cara memprovokasi atau mengkader secara kasat mata, tetapi lebih mengajak secara halus untuk berpartisipasi membesarkan bangsa lewat pengalaman kehidupan mahasiswa di fakultas.

Mahasiswa FS-UI juga diajak untuk bersikap kritis terhadap pengelolaan pendidikan di fakultas, termasuk kritis terhadap dosen yang tidak cakap, yang tidak disiplin karena sering terlambat mengajar atau bahkan sering bolos. Menciptakan gerakan mahasiswa yang tidak kaku. Sof- fun. Elegan. Tidak perlu kerusuhan, frontal, atau membabi buta.

Saya membayangkan gerakan mahasiswa sekarang ini sedinamis angkatan ’66 itu. Di samping meningkatkan kognitif, juga sangat aktif meningkatkan afektif dan psikomotorik. Selain belajar di dalam kelas, juga mencoba aktif belajar di luar kelas; berorganisasi, bersosialisasi, dll. Di samping banyak membaca buku, sesekali juga mendengarkan puisi, diskusi film, menonton panggung-panggung teater, menulis, dan demontrasi tentu saja.

Namun saya melihat mahasiswa sekarang tidak sedinamis itu. Banyak mahasiswa yang sudah disibukkan dengan tugas-tugas dosen, rapat-rapat yang tak kunjung menemukan solusi untuk segera bergerak, atau urusan yang berkaitan dengan kemalasan. Hingga sepertinya mereka tidak punya waktu untuk sekadar gelisah terhadap permasalahan di sekitarnya. Jangankan gelisah terhadap permasalahan sekitar, hanya sekadar nonton film bareng saja mereka tak punya waktu.

Tidak hanya itu. Mahasiswa sekarang sudah banyak sekali yang berpikiran untung-rugi. Ya nggak salah. Cuma dari sanalah saya melihat, bibit-bibit kapitalisme itu muncul. Kemudian, mereka akan bersifat individu, apatis, yang penting mereka dapat untung, kehidupan selesai. Tak perlu memikirkan bagaimana si miskin, atau bagaimana kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, atau dosen yang semena-mena terhadap mahasiswa, dan kebijakan rektorat yang nyeleneh yang merugikan mahasiswa. Yang penting tugas kuliah mereka beres, sok manis di depan dosen, nurut, manut. Itu bukan urusan saya, kata mereka.

Nah, melalui gerakan-gerakan seperti yang dilakukan Soe Hok Gie itulah, saya berharap gerakan mahasiswa saat ini bisa dinamis. Tidak membosankan, dan tentu saja bisa bermanfaat bagi sesama.

Salam pergerakan! (T)

Tags: aktivismahasiswapergerakanSoe Hok Gie
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Sulit Mencari Guru

Next Post

Waktu –Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Waktu  –Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Waktu --Orasi Jun pada Peluncuran Buku Puisi “Saron” di Jatijagat Kampung Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co