23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2018
in Esai
Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Soe Hok Gie. (Ilustrasi dari Google)

Empat tahun lalu, untuk pertama kalinya, saya mengenal sosok Soe Hok Gie justru tidak dari catatan hariannya, akan tetapi dari sebuah film berjudul GIE yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi oleh Nicholas Saputra.

Baru akhir tahun 2017, seorang senior memberikan sebuah buku kepada saya, buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yanglegendaris itu. Dan kemudian saya kembali mengenalnya dari sebuah buku berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi. Juga membaca karya-karyanya melalui buku Zaman Peralihan.

Awal-awal saya menonton film itu,saya masih belum tahu betul bagaimana sosok Gie. Yang saya tahu hanyalah; dia adalah seorang penentang, tukang protes, diam, dingin, pemikir, pembaca buku,dan angkuh. Akan tetapi, setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran itu dan membaca beberapa pengantar didalamnya, Gie adalah sosok yang riang, tidak bisa diam, penyayang binatang juga manusia tentu saja, suka berdebat, supel, dan ramah.

Gie lahir pada tanggal 17 Desember1942 pada saat perang dingin sedang berkecamuk di Pasifik. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan. Gie merupakan adik dari Soe Hok Djien yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Sebenarnya, dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (organisasi yang saya ikuti sekarang) ada sosok yang mungkin hampir bisa disamakan dengan Gie. Namanya Ahmad Wahib. Sama-sama lahir pada tahun 1942. Bedanya, Gie lahir 17 Desember sedangkan Ahmad Wahib 9 November. Dua-dua adalah aktivis mahasiswa, pemikir, juga sangat aktif menulis catatan hariannya. Dan dua-duanya juga mengalami nasib yang sama: mati muda.

Jika dilihat dari garis organisasi, seharusnya saya lebih mengidolakan Ahmad Wahib daripada Soe Hok Gie. Tapi entah kenapa, saya merasa cocok dengan Gie—walaupun dalam beberapa hal, Ahmad Wahid juga menarik. Jujur saja, jika dibandingkan ketika membaca catatan mereka berdua, saya lebih senang membaca Catatan Seorang Demonstran daripada Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib (di sini saya bukan berarti menganggap bahwa catatannya Ahmad Wahib tidak perlu saya baca, hanya saja ini berkaitan dengan selera dan saya pikir, setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda).

Semenjak membaca Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie Sekali Lagi pada akhir tahun2017 dan kemudian saya lanjutkan membaca buku Zaman Peralihan pada akhir 2018, saya semakin jatuh hati dengan sosok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Seorang mahasiswa yang tetap teguh mempertahankan idealismenya di tengah ingar-bingar zaman kekuasaan pada waktu itu. Rekan-rekan seperjuangannya begitu bernafsu untuk memiliki kekuasaan, ia lebih memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Pada zaman ini, saya belum menemukan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie: seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa saja yang ia alami dan ia pikirkan selama kehidupannya. Dan lewat perantara catatan hariannya itulah, saya—dan mungkin Anda semua—mengenalnya dan memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dan situasi bangsa dengan berbagai permasalahannya.

Walaupun beberapa orang menilai Gie sebagai seorang yang tak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik, tapi setidaknya Gie memiliki sesuatu yang jarang sekali dimiliki oleh pemuda saatitu dan bahkan saat ini: keberanian dan kejujuran. Berkat dua hal itulah, saya sebagai seorang mahasiswa begitu sangat mengidolakannya.

Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan ulung—mungkin juga Ahmad Wahib—yang terpikat pada ide, pemikiran dan menggunakan pikirannya terus-menerus untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Soe Hok  Gie adalah—seperti yang sudah dituliskan Harsja W. Bachtiar dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran—seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus menerus berjuang agar supaya kenyataan-kenyataan yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat manusia. Dalam memperjuangkan cita-citanya ia berani berkurban dan memang sering menjadi kurban.

Atau kata Riri Riza, sutradara film GIE, bahwa Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan—dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Selain menggilai buku, menulis, forum diskusi, pecinta alam, Gie juga pecinta sinema. Ia adalah pendiri kine klub di Fakultas Sastra dan ia juga yang membawa Jules et Jim karya Francois Truffaut, dan Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean ke Fakultas Sastrauntuk bisa dinikmati dan didiskusikan bersama kawan-kawannya.

Selama hidupnya, Gie sepertinyatidak pernah bisa untuk duduk diam. Ia seperti super hero yang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Di mana adajeritan kaum papa yang memerlukan pertolongan, ia seperti mendengar dan begitu mengusik hatinya. Atau seperti kata kakak kandungnya, Arief Budiman, yang mengandaikan peran intelektual sebagai resi, yang dalam waktu-waktu tertentu meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk. Sebagaimana seorang resi, Gie sebagai seorang intelektual yang tak pernah duduk tenang dipertapaannya. Apapun yang membuat hati dan pikirannya terusik, ia tidak akan segan-segan untuk mengungkapkannya baik lisan maupun tulisan.

Dan tentang peran Soe Hok Gie dalam usaha meruntuhkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto saya pikir juga tidak sedikit. Dan harapannya kepada rezim Soeharto agar lebih baik—yang mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial—daripada rezim Soekarno, ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, pada tanggal 16 Desember1969, seorang idealis itu telah tiada. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat ia semakin dijauhi dan dibenci oleh teman-teman mahasiswanya yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ia terpencil, sendirian, kesepian; penderitaan. Dalam suasana yang seperti itulah, ia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru.

Ketika ia tercekik oleh gas beracu nkawah Mahameru, ia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang, begitu tulis Arief Budiman dalam kata pengantarnya dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Gie dicari dan diselamatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia dan ditangisi oleh seluruh kampusnya, disambut dengan histerisnya tangisan gadis-gadis yang dulunya menolak semua uluran tangan Soe Hok Gie sendiri.

Kematian Gie membangkitkan suatu hal dalam diri saya. Bahwa ia telah mewakili salah satu aspek dari generasi pasca kemerdekaan.

Ah, sebenarnya saya ingin sekali menguraikan peristiwa kematian Gie. Tapi saya tidak bisa. Sungguh! Akhirnya, meminjam kata Arief Budiman, yang terbangun dari lamunannya pada saat berdiri di samping peti mati Gie: “Gie, kamu tidak sendirian.” (T)

Tags: aktivisdemokrasilingkunganSoe Hok Gietokoh
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Next Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co