2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2018
in Esai
Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Soe Hok Gie. (Ilustrasi dari Google)

Empat tahun lalu, untuk pertama kalinya, saya mengenal sosok Soe Hok Gie justru tidak dari catatan hariannya, akan tetapi dari sebuah film berjudul GIE yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi oleh Nicholas Saputra.

Baru akhir tahun 2017, seorang senior memberikan sebuah buku kepada saya, buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yanglegendaris itu. Dan kemudian saya kembali mengenalnya dari sebuah buku berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi. Juga membaca karya-karyanya melalui buku Zaman Peralihan.

Awal-awal saya menonton film itu,saya masih belum tahu betul bagaimana sosok Gie. Yang saya tahu hanyalah; dia adalah seorang penentang, tukang protes, diam, dingin, pemikir, pembaca buku,dan angkuh. Akan tetapi, setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran itu dan membaca beberapa pengantar didalamnya, Gie adalah sosok yang riang, tidak bisa diam, penyayang binatang juga manusia tentu saja, suka berdebat, supel, dan ramah.

Gie lahir pada tanggal 17 Desember1942 pada saat perang dingin sedang berkecamuk di Pasifik. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan. Gie merupakan adik dari Soe Hok Djien yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Sebenarnya, dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (organisasi yang saya ikuti sekarang) ada sosok yang mungkin hampir bisa disamakan dengan Gie. Namanya Ahmad Wahib. Sama-sama lahir pada tahun 1942. Bedanya, Gie lahir 17 Desember sedangkan Ahmad Wahib 9 November. Dua-dua adalah aktivis mahasiswa, pemikir, juga sangat aktif menulis catatan hariannya. Dan dua-duanya juga mengalami nasib yang sama: mati muda.

Jika dilihat dari garis organisasi, seharusnya saya lebih mengidolakan Ahmad Wahib daripada Soe Hok Gie. Tapi entah kenapa, saya merasa cocok dengan Gie—walaupun dalam beberapa hal, Ahmad Wahid juga menarik. Jujur saja, jika dibandingkan ketika membaca catatan mereka berdua, saya lebih senang membaca Catatan Seorang Demonstran daripada Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib (di sini saya bukan berarti menganggap bahwa catatannya Ahmad Wahib tidak perlu saya baca, hanya saja ini berkaitan dengan selera dan saya pikir, setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda).

Semenjak membaca Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie Sekali Lagi pada akhir tahun2017 dan kemudian saya lanjutkan membaca buku Zaman Peralihan pada akhir 2018, saya semakin jatuh hati dengan sosok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Seorang mahasiswa yang tetap teguh mempertahankan idealismenya di tengah ingar-bingar zaman kekuasaan pada waktu itu. Rekan-rekan seperjuangannya begitu bernafsu untuk memiliki kekuasaan, ia lebih memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Pada zaman ini, saya belum menemukan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie: seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa saja yang ia alami dan ia pikirkan selama kehidupannya. Dan lewat perantara catatan hariannya itulah, saya—dan mungkin Anda semua—mengenalnya dan memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dan situasi bangsa dengan berbagai permasalahannya.

Walaupun beberapa orang menilai Gie sebagai seorang yang tak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik, tapi setidaknya Gie memiliki sesuatu yang jarang sekali dimiliki oleh pemuda saatitu dan bahkan saat ini: keberanian dan kejujuran. Berkat dua hal itulah, saya sebagai seorang mahasiswa begitu sangat mengidolakannya.

Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan ulung—mungkin juga Ahmad Wahib—yang terpikat pada ide, pemikiran dan menggunakan pikirannya terus-menerus untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Soe Hok  Gie adalah—seperti yang sudah dituliskan Harsja W. Bachtiar dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran—seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus menerus berjuang agar supaya kenyataan-kenyataan yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat manusia. Dalam memperjuangkan cita-citanya ia berani berkurban dan memang sering menjadi kurban.

Atau kata Riri Riza, sutradara film GIE, bahwa Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan—dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Selain menggilai buku, menulis, forum diskusi, pecinta alam, Gie juga pecinta sinema. Ia adalah pendiri kine klub di Fakultas Sastra dan ia juga yang membawa Jules et Jim karya Francois Truffaut, dan Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean ke Fakultas Sastrauntuk bisa dinikmati dan didiskusikan bersama kawan-kawannya.

Selama hidupnya, Gie sepertinyatidak pernah bisa untuk duduk diam. Ia seperti super hero yang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Di mana adajeritan kaum papa yang memerlukan pertolongan, ia seperti mendengar dan begitu mengusik hatinya. Atau seperti kata kakak kandungnya, Arief Budiman, yang mengandaikan peran intelektual sebagai resi, yang dalam waktu-waktu tertentu meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk. Sebagaimana seorang resi, Gie sebagai seorang intelektual yang tak pernah duduk tenang dipertapaannya. Apapun yang membuat hati dan pikirannya terusik, ia tidak akan segan-segan untuk mengungkapkannya baik lisan maupun tulisan.

Dan tentang peran Soe Hok Gie dalam usaha meruntuhkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto saya pikir juga tidak sedikit. Dan harapannya kepada rezim Soeharto agar lebih baik—yang mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial—daripada rezim Soekarno, ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, pada tanggal 16 Desember1969, seorang idealis itu telah tiada. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat ia semakin dijauhi dan dibenci oleh teman-teman mahasiswanya yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ia terpencil, sendirian, kesepian; penderitaan. Dalam suasana yang seperti itulah, ia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru.

Ketika ia tercekik oleh gas beracu nkawah Mahameru, ia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang, begitu tulis Arief Budiman dalam kata pengantarnya dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Gie dicari dan diselamatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia dan ditangisi oleh seluruh kampusnya, disambut dengan histerisnya tangisan gadis-gadis yang dulunya menolak semua uluran tangan Soe Hok Gie sendiri.

Kematian Gie membangkitkan suatu hal dalam diri saya. Bahwa ia telah mewakili salah satu aspek dari generasi pasca kemerdekaan.

Ah, sebenarnya saya ingin sekali menguraikan peristiwa kematian Gie. Tapi saya tidak bisa. Sungguh! Akhirnya, meminjam kata Arief Budiman, yang terbangun dari lamunannya pada saat berdiri di samping peti mati Gie: “Gie, kamu tidak sendirian.” (T)

Tags: aktivisdemokrasilingkunganSoe Hok Gietokoh
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Next Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co