2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2018
in Esai
Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Soe Hok Gie. (Ilustrasi dari Google)

Empat tahun lalu, untuk pertama kalinya, saya mengenal sosok Soe Hok Gie justru tidak dari catatan hariannya, akan tetapi dari sebuah film berjudul GIE yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi oleh Nicholas Saputra.

Baru akhir tahun 2017, seorang senior memberikan sebuah buku kepada saya, buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yanglegendaris itu. Dan kemudian saya kembali mengenalnya dari sebuah buku berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi. Juga membaca karya-karyanya melalui buku Zaman Peralihan.

Awal-awal saya menonton film itu,saya masih belum tahu betul bagaimana sosok Gie. Yang saya tahu hanyalah; dia adalah seorang penentang, tukang protes, diam, dingin, pemikir, pembaca buku,dan angkuh. Akan tetapi, setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran itu dan membaca beberapa pengantar didalamnya, Gie adalah sosok yang riang, tidak bisa diam, penyayang binatang juga manusia tentu saja, suka berdebat, supel, dan ramah.

Gie lahir pada tanggal 17 Desember1942 pada saat perang dingin sedang berkecamuk di Pasifik. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan. Gie merupakan adik dari Soe Hok Djien yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Sebenarnya, dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (organisasi yang saya ikuti sekarang) ada sosok yang mungkin hampir bisa disamakan dengan Gie. Namanya Ahmad Wahib. Sama-sama lahir pada tahun 1942. Bedanya, Gie lahir 17 Desember sedangkan Ahmad Wahib 9 November. Dua-dua adalah aktivis mahasiswa, pemikir, juga sangat aktif menulis catatan hariannya. Dan dua-duanya juga mengalami nasib yang sama: mati muda.

Jika dilihat dari garis organisasi, seharusnya saya lebih mengidolakan Ahmad Wahib daripada Soe Hok Gie. Tapi entah kenapa, saya merasa cocok dengan Gie—walaupun dalam beberapa hal, Ahmad Wahid juga menarik. Jujur saja, jika dibandingkan ketika membaca catatan mereka berdua, saya lebih senang membaca Catatan Seorang Demonstran daripada Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib (di sini saya bukan berarti menganggap bahwa catatannya Ahmad Wahib tidak perlu saya baca, hanya saja ini berkaitan dengan selera dan saya pikir, setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda).

Semenjak membaca Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie Sekali Lagi pada akhir tahun2017 dan kemudian saya lanjutkan membaca buku Zaman Peralihan pada akhir 2018, saya semakin jatuh hati dengan sosok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Seorang mahasiswa yang tetap teguh mempertahankan idealismenya di tengah ingar-bingar zaman kekuasaan pada waktu itu. Rekan-rekan seperjuangannya begitu bernafsu untuk memiliki kekuasaan, ia lebih memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Pada zaman ini, saya belum menemukan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie: seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa saja yang ia alami dan ia pikirkan selama kehidupannya. Dan lewat perantara catatan hariannya itulah, saya—dan mungkin Anda semua—mengenalnya dan memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dan situasi bangsa dengan berbagai permasalahannya.

Walaupun beberapa orang menilai Gie sebagai seorang yang tak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik, tapi setidaknya Gie memiliki sesuatu yang jarang sekali dimiliki oleh pemuda saatitu dan bahkan saat ini: keberanian dan kejujuran. Berkat dua hal itulah, saya sebagai seorang mahasiswa begitu sangat mengidolakannya.

Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan ulung—mungkin juga Ahmad Wahib—yang terpikat pada ide, pemikiran dan menggunakan pikirannya terus-menerus untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Soe Hok  Gie adalah—seperti yang sudah dituliskan Harsja W. Bachtiar dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran—seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus menerus berjuang agar supaya kenyataan-kenyataan yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat manusia. Dalam memperjuangkan cita-citanya ia berani berkurban dan memang sering menjadi kurban.

Atau kata Riri Riza, sutradara film GIE, bahwa Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan—dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Selain menggilai buku, menulis, forum diskusi, pecinta alam, Gie juga pecinta sinema. Ia adalah pendiri kine klub di Fakultas Sastra dan ia juga yang membawa Jules et Jim karya Francois Truffaut, dan Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean ke Fakultas Sastrauntuk bisa dinikmati dan didiskusikan bersama kawan-kawannya.

Selama hidupnya, Gie sepertinyatidak pernah bisa untuk duduk diam. Ia seperti super hero yang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Di mana adajeritan kaum papa yang memerlukan pertolongan, ia seperti mendengar dan begitu mengusik hatinya. Atau seperti kata kakak kandungnya, Arief Budiman, yang mengandaikan peran intelektual sebagai resi, yang dalam waktu-waktu tertentu meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk. Sebagaimana seorang resi, Gie sebagai seorang intelektual yang tak pernah duduk tenang dipertapaannya. Apapun yang membuat hati dan pikirannya terusik, ia tidak akan segan-segan untuk mengungkapkannya baik lisan maupun tulisan.

Dan tentang peran Soe Hok Gie dalam usaha meruntuhkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto saya pikir juga tidak sedikit. Dan harapannya kepada rezim Soeharto agar lebih baik—yang mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial—daripada rezim Soekarno, ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, pada tanggal 16 Desember1969, seorang idealis itu telah tiada. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat ia semakin dijauhi dan dibenci oleh teman-teman mahasiswanya yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ia terpencil, sendirian, kesepian; penderitaan. Dalam suasana yang seperti itulah, ia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru.

Ketika ia tercekik oleh gas beracu nkawah Mahameru, ia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang, begitu tulis Arief Budiman dalam kata pengantarnya dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Gie dicari dan diselamatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia dan ditangisi oleh seluruh kampusnya, disambut dengan histerisnya tangisan gadis-gadis yang dulunya menolak semua uluran tangan Soe Hok Gie sendiri.

Kematian Gie membangkitkan suatu hal dalam diri saya. Bahwa ia telah mewakili salah satu aspek dari generasi pasca kemerdekaan.

Ah, sebenarnya saya ingin sekali menguraikan peristiwa kematian Gie. Tapi saya tidak bisa. Sungguh! Akhirnya, meminjam kata Arief Budiman, yang terbangun dari lamunannya pada saat berdiri di samping peti mati Gie: “Gie, kamu tidak sendirian.” (T)

Tags: aktivisdemokrasilingkunganSoe Hok Gietokoh
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Next Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co