24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2018
in Esai
Idola Itu Bernama Soe Hok Gie – Catatan Seorang Fans

Soe Hok Gie. (Ilustrasi dari Google)

Empat tahun lalu, untuk pertama kalinya, saya mengenal sosok Soe Hok Gie justru tidak dari catatan hariannya, akan tetapi dari sebuah film berjudul GIE yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi oleh Nicholas Saputra.

Baru akhir tahun 2017, seorang senior memberikan sebuah buku kepada saya, buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yanglegendaris itu. Dan kemudian saya kembali mengenalnya dari sebuah buku berjudul Soe Hok Gie Sekali Lagi. Juga membaca karya-karyanya melalui buku Zaman Peralihan.

Awal-awal saya menonton film itu,saya masih belum tahu betul bagaimana sosok Gie. Yang saya tahu hanyalah; dia adalah seorang penentang, tukang protes, diam, dingin, pemikir, pembaca buku,dan angkuh. Akan tetapi, setelah membaca buku Catatan Seorang Demonstran itu dan membaca beberapa pengantar didalamnya, Gie adalah sosok yang riang, tidak bisa diam, penyayang binatang juga manusia tentu saja, suka berdebat, supel, dan ramah.

Gie lahir pada tanggal 17 Desember1942 pada saat perang dingin sedang berkecamuk di Pasifik. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan. Gie merupakan adik dari Soe Hok Djien yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Sebenarnya, dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) (organisasi yang saya ikuti sekarang) ada sosok yang mungkin hampir bisa disamakan dengan Gie. Namanya Ahmad Wahib. Sama-sama lahir pada tahun 1942. Bedanya, Gie lahir 17 Desember sedangkan Ahmad Wahib 9 November. Dua-dua adalah aktivis mahasiswa, pemikir, juga sangat aktif menulis catatan hariannya. Dan dua-duanya juga mengalami nasib yang sama: mati muda.

Jika dilihat dari garis organisasi, seharusnya saya lebih mengidolakan Ahmad Wahib daripada Soe Hok Gie. Tapi entah kenapa, saya merasa cocok dengan Gie—walaupun dalam beberapa hal, Ahmad Wahid juga menarik. Jujur saja, jika dibandingkan ketika membaca catatan mereka berdua, saya lebih senang membaca Catatan Seorang Demonstran daripada Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib (di sini saya bukan berarti menganggap bahwa catatannya Ahmad Wahib tidak perlu saya baca, hanya saja ini berkaitan dengan selera dan saya pikir, setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda).

Semenjak membaca Catatan Seorang Demonstran dan Soe Hok Gie Sekali Lagi pada akhir tahun2017 dan kemudian saya lanjutkan membaca buku Zaman Peralihan pada akhir 2018, saya semakin jatuh hati dengan sosok Gie. Seorang pemuda Indonesia yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Seorang mahasiswa yang tetap teguh mempertahankan idealismenya di tengah ingar-bingar zaman kekuasaan pada waktu itu. Rekan-rekan seperjuangannya begitu bernafsu untuk memiliki kekuasaan, ia lebih memilih sendirian, terasing dan kesepian.

Pada zaman ini, saya belum menemukan seorang mahasiswa seperti Soe Hok Gie: seorang mahasiswa yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa saja yang ia alami dan ia pikirkan selama kehidupannya. Dan lewat perantara catatan hariannya itulah, saya—dan mungkin Anda semua—mengenalnya dan memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dan situasi bangsa dengan berbagai permasalahannya.

Walaupun beberapa orang menilai Gie sebagai seorang yang tak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik, tapi setidaknya Gie memiliki sesuatu yang jarang sekali dimiliki oleh pemuda saatitu dan bahkan saat ini: keberanian dan kejujuran. Berkat dua hal itulah, saya sebagai seorang mahasiswa begitu sangat mengidolakannya.

Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan ulung—mungkin juga Ahmad Wahib—yang terpikat pada ide, pemikiran dan menggunakan pikirannya terus-menerus untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya.

Soe Hok  Gie adalah—seperti yang sudah dituliskan Harsja W. Bachtiar dalam kata pengantar buku Catatan Seorang Demonstran—seorang pemuda yang penuh cita-cita dan terus menerus berjuang agar supaya kenyataan-kenyataan yang diwujudkan oleh masyarakat kita dapat diubah sehingga lebih sesuai dengan cita-citanya yang didasarkan atas kesadaran yang besar akan hakikat manusia. Dalam memperjuangkan cita-citanya ia berani berkurban dan memang sering menjadi kurban.

Atau kata Riri Riza, sutradara film GIE, bahwa Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan—dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

Selain menggilai buku, menulis, forum diskusi, pecinta alam, Gie juga pecinta sinema. Ia adalah pendiri kine klub di Fakultas Sastra dan ia juga yang membawa Jules et Jim karya Francois Truffaut, dan Rebel Without A Cause yang dibintangi James Dean ke Fakultas Sastrauntuk bisa dinikmati dan didiskusikan bersama kawan-kawannya.

Selama hidupnya, Gie sepertinyatidak pernah bisa untuk duduk diam. Ia seperti super hero yang memiliki pendengaran yang sangat tajam. Di mana adajeritan kaum papa yang memerlukan pertolongan, ia seperti mendengar dan begitu mengusik hatinya. Atau seperti kata kakak kandungnya, Arief Budiman, yang mengandaikan peran intelektual sebagai resi, yang dalam waktu-waktu tertentu meninggalkan pertapaannya untuk mengabarkan keadaan yang buruk. Sebagaimana seorang resi, Gie sebagai seorang intelektual yang tak pernah duduk tenang dipertapaannya. Apapun yang membuat hati dan pikirannya terusik, ia tidak akan segan-segan untuk mengungkapkannya baik lisan maupun tulisan.

Dan tentang peran Soe Hok Gie dalam usaha meruntuhkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto saya pikir juga tidak sedikit. Dan harapannya kepada rezim Soeharto agar lebih baik—yang mengembangkan dan memperkuat keadilan sosial—daripada rezim Soekarno, ia tidak segan-segan melancarkan kritikan pedas terhadap segala sesuatu yang menurut anggapannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Akhirnya, pada tanggal 16 Desember1969, seorang idealis itu telah tiada. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat ia semakin dijauhi dan dibenci oleh teman-teman mahasiswanya yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966. Ia terpencil, sendirian, kesepian; penderitaan. Dalam suasana yang seperti itulah, ia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak Gunung Semeru.

Ketika ia tercekik oleh gas beracu nkawah Mahameru, ia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang, begitu tulis Arief Budiman dalam kata pengantarnya dalam buku Catatan Seorang Demonstran.

Gie dicari dan diselamatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia dan ditangisi oleh seluruh kampusnya, disambut dengan histerisnya tangisan gadis-gadis yang dulunya menolak semua uluran tangan Soe Hok Gie sendiri.

Kematian Gie membangkitkan suatu hal dalam diri saya. Bahwa ia telah mewakili salah satu aspek dari generasi pasca kemerdekaan.

Ah, sebenarnya saya ingin sekali menguraikan peristiwa kematian Gie. Tapi saya tidak bisa. Sungguh! Akhirnya, meminjam kata Arief Budiman, yang terbangun dari lamunannya pada saat berdiri di samping peti mati Gie: “Gie, kamu tidak sendirian.” (T)

Tags: aktivisdemokrasilingkunganSoe Hok Gietokoh
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Saya Tentang Mandi dan Budaya Konsumerisme

Next Post

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Smile Shop, Toko Buku Kecil di Ubud: Agar Anak-anak Tersenyum

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co