23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Tanah Kelahiran, Menapaki Jalan Kesenian – Pengantar Pameran Putu Sudiana Bonuz

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
February 28, 2018
in Esai
Mengenang Tanah Kelahiran, Menapaki Jalan Kesenian – Pengantar Pameran Putu Sudiana Bonuz
  • Pameran lukisan “A Land to Remember” Putu Sudiana Bonuz
  • di Griya Santrian Gallery, Sanur
  • Jumat, 2 Maret 2018, jam 18.30 Wita.

TANAH kelahiran seringkali menerbitkan banyak kisah dan kenangan. Ada kenangan indah, ada pula kenangan sedih. Kenangan indah tentu membangkitkan kerinduan. Sedangkan kenangan sedih pasti ingin segera dilupakan. Namun, bagi seniman, kenangan indah maupun sedih selalu bermakna dan menjadi energi kreatif untuk dituangkan dalam bentuk karya seni.

Putu Sudiana alias Bonuz termasuk seniman yang mencintai kenangan. Nusa Penida tempat dia dilahirkan pada 30 Desember 1972 adalah pulau yang menyimpan banyak kenangannya. Dia mencintai tanah kelahirannya seperti mencintai jalan kesenian.

Nusa Penida ketika Bonuz masa kanak tentu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Saat itu, pulau tersebut dipenuhi ladang gersang yang selalu kesulitan air pada saat musim kemarau menyengat. Karang-karang terjal dan ganas berpadu cuaca ekstrem. Malam hari menebarkan suasana magis yang merindingkan bulu kuduk. Selain menjadi nelayan, satu-satunya harapan hidup masyarakat pada saat itu adalah bertani rumput laut.

Kenangan masa kanak yang begitu getir mengendap dalam batin Bonuz. Dia ditinggal orang tuanya bertransmigrasi ke Sumbawa selama enam tahun. Saat itu memang banyak warga Nusa Penida memilih bertransmigrasi ke pulau-pulau yang lebih menjanjikan masa depan. Bonuz kecil kemudian diasuh neneknya.

Bonuz tumbuh menjadi anak yang tak terurus, bermain sesuka hati, sering tidur di balai banjar, makan sembarangan. Hamparan pantai yang berdekatan dengan rumahnya menjadi salah satu arena bermain yang menyenangkan. Pantai dan laut pula yang membuat hatinya selalu merindukan kebebasan.

Ketika remaja, Bonuz pergi merantau, meninggalkan tanah kelahirannya. Dia melanjutkan sekolah di SMSR Denpasar dan kemudian di jurusan Seni Lukis STSI (kini ISI) Denpasar. Namun, Bonuz rajin pulang kampung untuk berbagai keperluan. Dia menjadi salah satu saksi bagaimana tanah kelahirannya mengalami perubahan drastis belakangan ini. Industri pariwisata telah menyulap Nusa Penida menjadi lebih gemerlap. Villa, restauran, kafe, dan berbagai sarana pariwisata bermunculan, memberi warna tersendiri bagi pulau tersebut.

Tentu saja perubahan yang terjadi di Nusa Penida berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, goncangan-goncangan sosial-budaya pun tak bisa dihindari. Dan, di sisi lain, kerusakan alam sangat terasa, bataran (pematang ladang) di keruk, pohon-pohon tua ditebang, rumah-rumah khas Nusa Penida diganti baru.

Kenangan masa kanak dan kegelisahan Bonuz menyaksikan perubahan yang terjadi di tanah kelahirannya kemudian menjadi energi kreatif yang diungkapkannya lewat lukisan-lukisan bercorak abstrak. Komposisi lukisannya cenderung dinamis dan mengandung luapan emosi yang sangat kuat. Hal itu bisa dicermati pada guratan-guratan garis ataupun sapuan warna ekspresif yang mewakili kegelisahan batinnya menyaksikan pembangunan yang tidak memedulikan alam.

Karya Pameran Putu Sudiana Bonuz yang dipamerkan

“Warna-warna gelap adalah ungkapan pemberontakan alam bawah sadar saya menyaksikan berbagai hal yang bertentangan dengan hati kecil. Ketika kesal dan kecewa tidak bisa disampaikan lewat kata-kata, maka garis dan warna menjadi pilihan saya,” ujar Bonuz.

Bonuz tidak anti perubahan. Dia senang melihat kemajuan yang terjadi di tanah kelahirannya. Namun di sisi lain kemajuan itu juga membuatnya khawatir. Rumah-rumah khas Nusa Penida di masa kanaknya sering hadir dalam mimpinya. Hal itu membuat batinnya seringkali berontak menyaksikan pembangunan yang mengorbankan atau menghancurkan alam. “Seharusnya pembangunan ramah lingkungan, atau mampu menciptakan suatu keharmonisan dengan alam,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai pemangku, Bonuz termasuk seniman multitalenta yang memiliki pergaulan sangat luas. Sebagai seniman, dia bergaul melampaui sekat-sekat seni. Dia tidak hanya dikenal sebagai pelukis, namun juga pembaca puisi. Di saat lain, dia juga membuat seni instalasi, atau menggelar performance art.

Sejak SD Bonuz telah menyukai puisi. Dia masih ingat, ketika berangkat ke sekolah dengan menyusuri pantai, dia menghafal puisi untuk dideklamasikan di depan kelas. Seiring perjalanan waktu, hobinya pada puisi sempat menghilang. Dia kembali menggemari puisi ketika sering diundang menghadiri acara-acara sastra dan bergaul dengan penyair. Namun dia mengaku merasa tidak percaya diri bila membaca puisi di depan sastrawan.

Sejak bergaul di dunia sastra, Bonuz pun kembali belajar menulis puisi. Baginya, puisi adalah cara lain untuk mengekspresikan kegelisahan batinnya. Namun, seringkali dia tidak yakin apa yang ditulisnya bisa disebut puisi. Dia menganggap tulisannya hanya orasi berbentuk puisi.

Selain puisi, musik juga menarik perhatian Bonuz. Sejak sekolah di SMSR, Bonuz telah menyukai musik. Dia menggemari lagu-lagu Iwan Fals yang banyak bermuatan kritik sosial. Pada masa di SMSR pula dia rajin menulis cerita untuk dipajang di koran dinding sekolahnya. Cerita-cerita tersebut terkadang berisi kritikan terhadap sekolah atau hal-hal yang mengusik hatinya.

Musik memang ikut memengaruhi proses berkesenian Bonuz. Baginya, melukis tanpa mendengarkan musik terasa ada yang kurang. Musik merangsang Bonuz menumpahkan energi kreatifnya. Bahkan ketika dia menulis puisi, setiap rangkaian kata selalu disesuaikannya dengan irama atau nada musik yang akan menjadi pengiring pembacaan puisinya. Dia menjadi lebih bergairah membaca puisi di depan publik bila diiringi musik.

Karya Putu Sudiana Bonuz yang dipamerkan

Bonuz tidak sekadar menikmati musik, namun juga belajar memahami musik yang didengarnya. Dia sering berdiskusi tentang musik dengan beberapa musisi Bali untuk sekadar mendapatkan pengetahuan baru. Pada saat musisi itu konser, Bonuz terkadang diundang tampil membaca puisi dan berkolaborasi dengan mereka.

Bonuz memang seniman yang mampu bergaul dengan siapa pun. Dia tidak mau mengotakkan diri sebagai pelukis saja. Justru dengan pergaulannya yang luas dia menyerap banyak energi kreatif dan sekaligus mengapresiasi berbagai jenis seni.

Sejak lama Bonuz menyadari bahwa seni bukan hanya melukis. Ada banyak seni lain yang juga layak diapresiasi demi meningkatkan wawasan berkesenian. “Atas dasar kesadaran itulah saya bergaul dengan semua sekte seni,” pungkasnya.

Kehidupan Bonuz yang unik dan eksentrik menarik minat Ida Bagus Hari Kayana Putra alias Gus Hari. Sutradara muda itu membuat film yang berkisah tentang sekelumit kehidupan Bonuz dan proses kreatifnya menapaki jalan kesenian. Film semi biografi berjudul “Napak Pertiwi” itu hampir selesai digarap. Trailer dan teasernya bisa dinikmati pada saat pembukaan pameran lukisan ini. (T)

Tags: kehidupanPameran Seni RupaSeni Rupa
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Pelaba Intaran — Catatan untuk Perayaan 6 Tahun Rumah Intaran

Next Post

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co