2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenang Tanah Kelahiran, Menapaki Jalan Kesenian – Pengantar Pameran Putu Sudiana Bonuz

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
February 28, 2018
in Esai
Mengenang Tanah Kelahiran, Menapaki Jalan Kesenian – Pengantar Pameran Putu Sudiana Bonuz
  • Pameran lukisan “A Land to Remember” Putu Sudiana Bonuz
  • di Griya Santrian Gallery, Sanur
  • Jumat, 2 Maret 2018, jam 18.30 Wita.

TANAH kelahiran seringkali menerbitkan banyak kisah dan kenangan. Ada kenangan indah, ada pula kenangan sedih. Kenangan indah tentu membangkitkan kerinduan. Sedangkan kenangan sedih pasti ingin segera dilupakan. Namun, bagi seniman, kenangan indah maupun sedih selalu bermakna dan menjadi energi kreatif untuk dituangkan dalam bentuk karya seni.

Putu Sudiana alias Bonuz termasuk seniman yang mencintai kenangan. Nusa Penida tempat dia dilahirkan pada 30 Desember 1972 adalah pulau yang menyimpan banyak kenangannya. Dia mencintai tanah kelahirannya seperti mencintai jalan kesenian.

Nusa Penida ketika Bonuz masa kanak tentu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Saat itu, pulau tersebut dipenuhi ladang gersang yang selalu kesulitan air pada saat musim kemarau menyengat. Karang-karang terjal dan ganas berpadu cuaca ekstrem. Malam hari menebarkan suasana magis yang merindingkan bulu kuduk. Selain menjadi nelayan, satu-satunya harapan hidup masyarakat pada saat itu adalah bertani rumput laut.

Kenangan masa kanak yang begitu getir mengendap dalam batin Bonuz. Dia ditinggal orang tuanya bertransmigrasi ke Sumbawa selama enam tahun. Saat itu memang banyak warga Nusa Penida memilih bertransmigrasi ke pulau-pulau yang lebih menjanjikan masa depan. Bonuz kecil kemudian diasuh neneknya.

Bonuz tumbuh menjadi anak yang tak terurus, bermain sesuka hati, sering tidur di balai banjar, makan sembarangan. Hamparan pantai yang berdekatan dengan rumahnya menjadi salah satu arena bermain yang menyenangkan. Pantai dan laut pula yang membuat hatinya selalu merindukan kebebasan.

Ketika remaja, Bonuz pergi merantau, meninggalkan tanah kelahirannya. Dia melanjutkan sekolah di SMSR Denpasar dan kemudian di jurusan Seni Lukis STSI (kini ISI) Denpasar. Namun, Bonuz rajin pulang kampung untuk berbagai keperluan. Dia menjadi salah satu saksi bagaimana tanah kelahirannya mengalami perubahan drastis belakangan ini. Industri pariwisata telah menyulap Nusa Penida menjadi lebih gemerlap. Villa, restauran, kafe, dan berbagai sarana pariwisata bermunculan, memberi warna tersendiri bagi pulau tersebut.

Tentu saja perubahan yang terjadi di Nusa Penida berdampak pada kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, goncangan-goncangan sosial-budaya pun tak bisa dihindari. Dan, di sisi lain, kerusakan alam sangat terasa, bataran (pematang ladang) di keruk, pohon-pohon tua ditebang, rumah-rumah khas Nusa Penida diganti baru.

Kenangan masa kanak dan kegelisahan Bonuz menyaksikan perubahan yang terjadi di tanah kelahirannya kemudian menjadi energi kreatif yang diungkapkannya lewat lukisan-lukisan bercorak abstrak. Komposisi lukisannya cenderung dinamis dan mengandung luapan emosi yang sangat kuat. Hal itu bisa dicermati pada guratan-guratan garis ataupun sapuan warna ekspresif yang mewakili kegelisahan batinnya menyaksikan pembangunan yang tidak memedulikan alam.

Karya Pameran Putu Sudiana Bonuz yang dipamerkan

“Warna-warna gelap adalah ungkapan pemberontakan alam bawah sadar saya menyaksikan berbagai hal yang bertentangan dengan hati kecil. Ketika kesal dan kecewa tidak bisa disampaikan lewat kata-kata, maka garis dan warna menjadi pilihan saya,” ujar Bonuz.

Bonuz tidak anti perubahan. Dia senang melihat kemajuan yang terjadi di tanah kelahirannya. Namun di sisi lain kemajuan itu juga membuatnya khawatir. Rumah-rumah khas Nusa Penida di masa kanaknya sering hadir dalam mimpinya. Hal itu membuat batinnya seringkali berontak menyaksikan pembangunan yang mengorbankan atau menghancurkan alam. “Seharusnya pembangunan ramah lingkungan, atau mampu menciptakan suatu keharmonisan dengan alam,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai pemangku, Bonuz termasuk seniman multitalenta yang memiliki pergaulan sangat luas. Sebagai seniman, dia bergaul melampaui sekat-sekat seni. Dia tidak hanya dikenal sebagai pelukis, namun juga pembaca puisi. Di saat lain, dia juga membuat seni instalasi, atau menggelar performance art.

Sejak SD Bonuz telah menyukai puisi. Dia masih ingat, ketika berangkat ke sekolah dengan menyusuri pantai, dia menghafal puisi untuk dideklamasikan di depan kelas. Seiring perjalanan waktu, hobinya pada puisi sempat menghilang. Dia kembali menggemari puisi ketika sering diundang menghadiri acara-acara sastra dan bergaul dengan penyair. Namun dia mengaku merasa tidak percaya diri bila membaca puisi di depan sastrawan.

Sejak bergaul di dunia sastra, Bonuz pun kembali belajar menulis puisi. Baginya, puisi adalah cara lain untuk mengekspresikan kegelisahan batinnya. Namun, seringkali dia tidak yakin apa yang ditulisnya bisa disebut puisi. Dia menganggap tulisannya hanya orasi berbentuk puisi.

Selain puisi, musik juga menarik perhatian Bonuz. Sejak sekolah di SMSR, Bonuz telah menyukai musik. Dia menggemari lagu-lagu Iwan Fals yang banyak bermuatan kritik sosial. Pada masa di SMSR pula dia rajin menulis cerita untuk dipajang di koran dinding sekolahnya. Cerita-cerita tersebut terkadang berisi kritikan terhadap sekolah atau hal-hal yang mengusik hatinya.

Musik memang ikut memengaruhi proses berkesenian Bonuz. Baginya, melukis tanpa mendengarkan musik terasa ada yang kurang. Musik merangsang Bonuz menumpahkan energi kreatifnya. Bahkan ketika dia menulis puisi, setiap rangkaian kata selalu disesuaikannya dengan irama atau nada musik yang akan menjadi pengiring pembacaan puisinya. Dia menjadi lebih bergairah membaca puisi di depan publik bila diiringi musik.

Karya Putu Sudiana Bonuz yang dipamerkan

Bonuz tidak sekadar menikmati musik, namun juga belajar memahami musik yang didengarnya. Dia sering berdiskusi tentang musik dengan beberapa musisi Bali untuk sekadar mendapatkan pengetahuan baru. Pada saat musisi itu konser, Bonuz terkadang diundang tampil membaca puisi dan berkolaborasi dengan mereka.

Bonuz memang seniman yang mampu bergaul dengan siapa pun. Dia tidak mau mengotakkan diri sebagai pelukis saja. Justru dengan pergaulannya yang luas dia menyerap banyak energi kreatif dan sekaligus mengapresiasi berbagai jenis seni.

Sejak lama Bonuz menyadari bahwa seni bukan hanya melukis. Ada banyak seni lain yang juga layak diapresiasi demi meningkatkan wawasan berkesenian. “Atas dasar kesadaran itulah saya bergaul dengan semua sekte seni,” pungkasnya.

Kehidupan Bonuz yang unik dan eksentrik menarik minat Ida Bagus Hari Kayana Putra alias Gus Hari. Sutradara muda itu membuat film yang berkisah tentang sekelumit kehidupan Bonuz dan proses kreatifnya menapaki jalan kesenian. Film semi biografi berjudul “Napak Pertiwi” itu hampir selesai digarap. Trailer dan teasernya bisa dinikmati pada saat pembukaan pameran lukisan ini. (T)

Tags: kehidupanPameran Seni RupaSeni Rupa
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Pelaba Intaran — Catatan untuk Perayaan 6 Tahun Rumah Intaran

Next Post

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Buku Harian Fans Bali United dari Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co