2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Valentine Bersama “Mobile Legend”, Ah, Tak Masalah! – Renungan Pejuang LDR

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 14, 2018
in Esai
Valentine Bersama “Mobile Legend”, Ah, Tak Masalah! – Renungan Pejuang LDR

MERAYAKAN kasih sayang bersama pacar mungkin terasa biasa. Bagi jomblo tentu menjemukan bila sendiri. Maka dari itu, tahun ini jadikan sedikit berbeda. Kadang, menekuni hal di luar kebiasaan bisa membuat pikiran kembali segar. Sesuatu yang segar perlu dilakukan untuk merayakan hari kasih sayang tahun ini. Bermain game online contohnya.

Di luar dugaan beberapa teman,  saya memilih untuk bermain game Mobile Legend. Mulanya saya memandang aneh orang-orang yang asik bermain game ini. Mereka biasanya menghabiskan waktu lama untuk menyelesaikan pertandingan. Belum lagi mereka tidak tertarik untuk melakukan pertemuan dengan banyak orang ketika sedang bermain. Saya juga heran, kenapa game menjadi candu bagi mereka.

Apakah ini sebuah tanda bahwa pertemuan tidak lagi berarti dibandingkan gelar Victory ? atau mereka hanya ingin kabur dari hiruk-pikuk hidupnya? Saya pikir tidak semua gamer adalah jomblo. Beberapa dari mereka mempunyai pasangan. Hal itu menampik mitos bahwa game hanya untuk orang kesepian.

Tidak masalah bila kesepian, atau punya pacar. Bahkan status Long Distance Relationship pun tak menjadi soal untuk bermain game. Kadang, kemesraan bisa tumbuh ketika bermain game bersama pacar. Mungkin yang jomblo bisa juga mendapat pacar gamer perempuan. Maka tidak dosa bila kiranya kita merayakan hari ini dengan bermain game.

Salah satu game yang tengah digandrungi anak muda saat ini yakni Mobile Legend. Permainan asal Cina ini merupakan sebuah permainan berjenis MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang dirintis oleh Moonton asal Cina pada Juli 2016.

Biasanya permainan daring (dalam jaringan) hanya bisa dimainkan di laptop. Namun, tidak begitu dengan Mobile Legend. Permainan ini juga bisa dimainkan oleh pengguna iOS dan Android. Kini Mobile Legend sangat populer di kalangan pemain game karena media permainan yang menggunakan gadget dipandang efesien untuk mengisi waktu di mana pun berada.

Mulanya saya memang melihat sebelah mata game ini. Sampai akhirnya seorang saudara sebut saja Mang Adi, nampak tenang menghadapi musuh. Tidak seperti pemain lain yang saya lihat begitu antusias menyerang turrent atau tower. Alhasil, saya pun milu-milu tuung (ikut-ikutan).

Saat itu, saya dan pacar saya (sebut saja) Mahayasa, berpikir “Apakah game ini benar-benar menarik?” selama 2 jam pertama kami bermain (saya dan dia satu tim) kami menyerang pertahanan lawan tanpa strategi, amunisi, dan seenak hati. Lalu, kami berpikir, mencerna, belajar lebih lanjut tentang seluk beluk game ini.

Kalau ada waktu baik, kami bertemu secara daring di game ini untuk bermain dalam satu tim. Romantis kan? Ditengah minimnya kesempatan untuk bertemu, atau kejenuhan komunikasi di chat, WA, video call, kami pun punya cara lain untuk bertemu.

Dua minggu sudah kami bermain game ini nampaknya memang menjadikan kami semakin matang dalam hal mental, batin, pikiran dan perasaan. Bagaimana tidak? Untuk mengejar gelar Master saja sangat sulit.  Harus tekun berlatih, bertanya, mencari sumber, melakukan penelitian, mempelajari karakter hero dengan baik. Hero adalah karakter yang dipilih oleh pemain untuk menyerang pertahanan musuh, merubuhkan tower, dan mengumpulkan poin.

Saya pribadi berpendapat bahwa dengan bermain ini kita pun jadi tahu tentang miniature kehidupan sebenarnya. Saya pun belajar banyak dari permainan ini.

Pertama, belajar kepercayaan membangun tim. Kedua, belajar kata puitis dari tagline hero. Terakhir, belajar mengatur emosi diri. Ketiga hal ini nampaknya sangat penting untuk menumbuhkan kebersamaan dan kasih sayang antarsesama insan asmara.

Hal pertama, belajar kepercayaan membangun tim. Kebiasaan saya dibidang organisasi tidak serta merta berhasil dalam permainan ini. Orang yang berada dalam tim berjumlah lima orang yang dipilih secara acak oleh sistem. Kita bisa bertemu dengan orang dari daerah lain, negara lain, atau kita bisa mengajak orang untuk bergabung. Namun yang jadi masalah jika kita tidak tahu orang itu.

Kita tidak tahu karakter, usia, wajah, dan sifat orang itu. Kita hanya mempunyai kepercayaan untuk bertarung bersama, susah bersama, lawan bersama, saling mengerti satu sama lain. Menurut saya ini menarik. Kita bisa tahu karakter orang tanpa melihat orang itu langsung, tapi kita bisa tahu dari rasa percaya. Percaya bahwa kita ingin menang bersama. Atas dasar kepentingan politis itu, kita pun mulai bijak menyikapi kelemahan dan kelebihan tim. Ini cocok untuk memupuk persatuan dan kesatuan tanpa pandang latar belakang. Seperti cinta pada pandangan pertama lah ya…

Yang kedua, belajar kata dari tagline Hero. Saya sebagai penikmat kata, sangat kaget saat melihat Hero memiliki jargonnya. Selain kita bisa belajar bahasa Inggris (karena jargon dalam bahasa Inggris), kita pun bisa menelisik makna dibalik kata-kata itu. Secara langsung kita pun menjadi tertarik untuk bermain. Karena kata-kata itu seperti memotivasi kita untuk terus berjuang dan melangkah.

Semisal karakter favorit saya Miya moonlight archer dengan jargonnya wise choice, one shoot one kill, walk in the darkness dance with the stars. Ada pula kata-kata dari Alice, the darkness can also be a friend. Ada juga Hero tampan favorit saya Alucard dengan kata-katanya nothing last forever, we can change the future. Beberapa kata-kata tersebut memang menarik untuk kita telusuri bersama baik dari segi bahasa dan maknanya. Lumayan lah untuk gombalan valentine..

Yang terakhir, belajar mengatur emosi diri. Mengendalikan emosi tidak hanya dengan meditasi atau yoga. Bermain game ini cukup menguras emosi. Mulai dari pengendalian diri untuk tidak ambisius menyerang lawan, tidak terpancing kata-kata kasar dari tim atau pihak lawan, tidak kecewa dikatakan gob**k, *njing, c*pu, dll. Saya sangat kaget saat saya tahu orang-orang cukup emosian dalam game ini.

Mereka dengan gampang mengeluarkan kata umpatan. Sedikit saja salah langkah, mereka langsung bilang dasar gak bisa main, dasar nyampah. Saya kaget, syok, dan tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka mengatakan hal-hal kasar pada orang yang mereka tidak kenal? Bagaimana bisa mereka menyakiti teman satu tim dengan bahasa kasar seperti itu? Saya pun kadang terpancing untuk membalas umpatan mereka. Alhasil permainan pun gagal, tidak fokus, dan kami kalah.

Kemudian saya menyimpulkan bahwa hal itu sangat tidak baik. Siapa yang dewasa, dialah yang bijak. Maka dari itu, kesabaran saya sangat diuji. Saya harus menyadarkan diri saya untuk tidak terbawa emosi. Begitu pun kasih sayang. Luapan emosi sebaiknya diutarakan dengan bijak dan santun, romantis dan puitis, humoris dan sedikit drama. Bila menggebu tentu gagal fokus. Fokus utama adalah membangun kebahagiaan atas kepentingan bersama.

Maka sebaiknya kita tak perlu memandang negatif dampak game online, mengingat kata Evangeline pakar psikolog bahwa game mempunyai dampak baik untuk anak-anak bahkan orang dewasa. Kita bisa belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan, melatih logika, melatih kemampuan spasial, pengenalan teknologi, kemampuan membaca, melatih kerjasama, stimulasi otak, dan imajinasi. Lalu sudahkan Anda memanfaatkan game online ke arah yang lebih baik?

Semisal memanfaatkan game online sebagai solusi untuk pejuang LDR, atau solusi bagi para pegiat jomblo yang tidak mau dikatakan kesepian.

Selamat hari kasih sayang pemain kehidupan! (T)

 

Pejuang LDR,

Moonlight*

*ID Mobile Legend

Tags: cintagameHari Valentine
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Jenis Laki-Laki yang Biasa Ditunggu di Hari Valentine

Next Post

“Kaja-Kangin” Bukan Timur-Laut

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Kaja-Kangin” Bukan Timur-Laut

"Kaja-Kangin" Bukan Timur-Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co