23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Valentine Bersama “Mobile Legend”, Ah, Tak Masalah! – Renungan Pejuang LDR

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 14, 2018
in Esai
Valentine Bersama “Mobile Legend”, Ah, Tak Masalah! – Renungan Pejuang LDR

MERAYAKAN kasih sayang bersama pacar mungkin terasa biasa. Bagi jomblo tentu menjemukan bila sendiri. Maka dari itu, tahun ini jadikan sedikit berbeda. Kadang, menekuni hal di luar kebiasaan bisa membuat pikiran kembali segar. Sesuatu yang segar perlu dilakukan untuk merayakan hari kasih sayang tahun ini. Bermain game online contohnya.

Di luar dugaan beberapa teman,  saya memilih untuk bermain game Mobile Legend. Mulanya saya memandang aneh orang-orang yang asik bermain game ini. Mereka biasanya menghabiskan waktu lama untuk menyelesaikan pertandingan. Belum lagi mereka tidak tertarik untuk melakukan pertemuan dengan banyak orang ketika sedang bermain. Saya juga heran, kenapa game menjadi candu bagi mereka.

Apakah ini sebuah tanda bahwa pertemuan tidak lagi berarti dibandingkan gelar Victory ? atau mereka hanya ingin kabur dari hiruk-pikuk hidupnya? Saya pikir tidak semua gamer adalah jomblo. Beberapa dari mereka mempunyai pasangan. Hal itu menampik mitos bahwa game hanya untuk orang kesepian.

Tidak masalah bila kesepian, atau punya pacar. Bahkan status Long Distance Relationship pun tak menjadi soal untuk bermain game. Kadang, kemesraan bisa tumbuh ketika bermain game bersama pacar. Mungkin yang jomblo bisa juga mendapat pacar gamer perempuan. Maka tidak dosa bila kiranya kita merayakan hari ini dengan bermain game.

Salah satu game yang tengah digandrungi anak muda saat ini yakni Mobile Legend. Permainan asal Cina ini merupakan sebuah permainan berjenis MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) yang dirintis oleh Moonton asal Cina pada Juli 2016.

Biasanya permainan daring (dalam jaringan) hanya bisa dimainkan di laptop. Namun, tidak begitu dengan Mobile Legend. Permainan ini juga bisa dimainkan oleh pengguna iOS dan Android. Kini Mobile Legend sangat populer di kalangan pemain game karena media permainan yang menggunakan gadget dipandang efesien untuk mengisi waktu di mana pun berada.

Mulanya saya memang melihat sebelah mata game ini. Sampai akhirnya seorang saudara sebut saja Mang Adi, nampak tenang menghadapi musuh. Tidak seperti pemain lain yang saya lihat begitu antusias menyerang turrent atau tower. Alhasil, saya pun milu-milu tuung (ikut-ikutan).

Saat itu, saya dan pacar saya (sebut saja) Mahayasa, berpikir “Apakah game ini benar-benar menarik?” selama 2 jam pertama kami bermain (saya dan dia satu tim) kami menyerang pertahanan lawan tanpa strategi, amunisi, dan seenak hati. Lalu, kami berpikir, mencerna, belajar lebih lanjut tentang seluk beluk game ini.

Kalau ada waktu baik, kami bertemu secara daring di game ini untuk bermain dalam satu tim. Romantis kan? Ditengah minimnya kesempatan untuk bertemu, atau kejenuhan komunikasi di chat, WA, video call, kami pun punya cara lain untuk bertemu.

Dua minggu sudah kami bermain game ini nampaknya memang menjadikan kami semakin matang dalam hal mental, batin, pikiran dan perasaan. Bagaimana tidak? Untuk mengejar gelar Master saja sangat sulit.  Harus tekun berlatih, bertanya, mencari sumber, melakukan penelitian, mempelajari karakter hero dengan baik. Hero adalah karakter yang dipilih oleh pemain untuk menyerang pertahanan musuh, merubuhkan tower, dan mengumpulkan poin.

Saya pribadi berpendapat bahwa dengan bermain ini kita pun jadi tahu tentang miniature kehidupan sebenarnya. Saya pun belajar banyak dari permainan ini.

Pertama, belajar kepercayaan membangun tim. Kedua, belajar kata puitis dari tagline hero. Terakhir, belajar mengatur emosi diri. Ketiga hal ini nampaknya sangat penting untuk menumbuhkan kebersamaan dan kasih sayang antarsesama insan asmara.

Hal pertama, belajar kepercayaan membangun tim. Kebiasaan saya dibidang organisasi tidak serta merta berhasil dalam permainan ini. Orang yang berada dalam tim berjumlah lima orang yang dipilih secara acak oleh sistem. Kita bisa bertemu dengan orang dari daerah lain, negara lain, atau kita bisa mengajak orang untuk bergabung. Namun yang jadi masalah jika kita tidak tahu orang itu.

Kita tidak tahu karakter, usia, wajah, dan sifat orang itu. Kita hanya mempunyai kepercayaan untuk bertarung bersama, susah bersama, lawan bersama, saling mengerti satu sama lain. Menurut saya ini menarik. Kita bisa tahu karakter orang tanpa melihat orang itu langsung, tapi kita bisa tahu dari rasa percaya. Percaya bahwa kita ingin menang bersama. Atas dasar kepentingan politis itu, kita pun mulai bijak menyikapi kelemahan dan kelebihan tim. Ini cocok untuk memupuk persatuan dan kesatuan tanpa pandang latar belakang. Seperti cinta pada pandangan pertama lah ya…

Yang kedua, belajar kata dari tagline Hero. Saya sebagai penikmat kata, sangat kaget saat melihat Hero memiliki jargonnya. Selain kita bisa belajar bahasa Inggris (karena jargon dalam bahasa Inggris), kita pun bisa menelisik makna dibalik kata-kata itu. Secara langsung kita pun menjadi tertarik untuk bermain. Karena kata-kata itu seperti memotivasi kita untuk terus berjuang dan melangkah.

Semisal karakter favorit saya Miya moonlight archer dengan jargonnya wise choice, one shoot one kill, walk in the darkness dance with the stars. Ada pula kata-kata dari Alice, the darkness can also be a friend. Ada juga Hero tampan favorit saya Alucard dengan kata-katanya nothing last forever, we can change the future. Beberapa kata-kata tersebut memang menarik untuk kita telusuri bersama baik dari segi bahasa dan maknanya. Lumayan lah untuk gombalan valentine..

Yang terakhir, belajar mengatur emosi diri. Mengendalikan emosi tidak hanya dengan meditasi atau yoga. Bermain game ini cukup menguras emosi. Mulai dari pengendalian diri untuk tidak ambisius menyerang lawan, tidak terpancing kata-kata kasar dari tim atau pihak lawan, tidak kecewa dikatakan gob**k, *njing, c*pu, dll. Saya sangat kaget saat saya tahu orang-orang cukup emosian dalam game ini.

Mereka dengan gampang mengeluarkan kata umpatan. Sedikit saja salah langkah, mereka langsung bilang dasar gak bisa main, dasar nyampah. Saya kaget, syok, dan tidak habis pikir. Bagaimana bisa mereka mengatakan hal-hal kasar pada orang yang mereka tidak kenal? Bagaimana bisa mereka menyakiti teman satu tim dengan bahasa kasar seperti itu? Saya pun kadang terpancing untuk membalas umpatan mereka. Alhasil permainan pun gagal, tidak fokus, dan kami kalah.

Kemudian saya menyimpulkan bahwa hal itu sangat tidak baik. Siapa yang dewasa, dialah yang bijak. Maka dari itu, kesabaran saya sangat diuji. Saya harus menyadarkan diri saya untuk tidak terbawa emosi. Begitu pun kasih sayang. Luapan emosi sebaiknya diutarakan dengan bijak dan santun, romantis dan puitis, humoris dan sedikit drama. Bila menggebu tentu gagal fokus. Fokus utama adalah membangun kebahagiaan atas kepentingan bersama.

Maka sebaiknya kita tak perlu memandang negatif dampak game online, mengingat kata Evangeline pakar psikolog bahwa game mempunyai dampak baik untuk anak-anak bahkan orang dewasa. Kita bisa belajar bahasa Inggris dengan menyenangkan, melatih logika, melatih kemampuan spasial, pengenalan teknologi, kemampuan membaca, melatih kerjasama, stimulasi otak, dan imajinasi. Lalu sudahkan Anda memanfaatkan game online ke arah yang lebih baik?

Semisal memanfaatkan game online sebagai solusi untuk pejuang LDR, atau solusi bagi para pegiat jomblo yang tidak mau dikatakan kesepian.

Selamat hari kasih sayang pemain kehidupan! (T)

 

Pejuang LDR,

Moonlight*

*ID Mobile Legend

Tags: cintagameHari Valentine
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Jenis Laki-Laki yang Biasa Ditunggu di Hari Valentine

Next Post

“Kaja-Kangin” Bukan Timur-Laut

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Kaja-Kangin” Bukan Timur-Laut

"Kaja-Kangin" Bukan Timur-Laut

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co