2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 19, 2021
in Esai
Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Foto: Rama Surya

—– Catatan Harian Sugi Lanus 11 Februari 2018

Rama Surya dan saya pernah bekerjasama mencari balian atau para penyembuh di semua penjuru di Bali.

Tujuannya: Membuat potrait penyembuh.

Para Balian itu keberadaannya seperti mitos, antara dan dan tiada. Mereka ada, tetapi juga sekaligus tidak tercatat. Tidak ada daftar Balian dalam demografi desa, apalagi statistik kependudukan provinsi Bali. Balian itu pekerjaan, profesi, tapi tidak akan mungkin didaftarkan sebagai bagian profesi untuk dicantumkan dalam KTP atau passport.

Balian itu berkontribusi dalam berbagai sejarah Bali, bahkan dalam berbagai kudeta dan juga dalam berbagai peperangan, serta memerangi wabah, atau grubug dan mrana, tapi tidak banyak ada lontar atau catatan tentang kehidupan para Balian, kecuali kisah Balian Batur yang berontak melawan Gelgel dan akhirnya dikeroyok Mengwi dan Gelgel.

Balian atau penyembuh Bali ini ada banyak lontar atau manual-book-nya, yaitu berbagai lontar Usada, tapi tidak ada yang sungguh-sungguh mempelajarinya secara terbuka, apalagi mau membuka sekolah Balian Usada. Ada yang salahkan kalau seseorang menjadi Balian? Apakah ini tidak boleh menjadi pekerjaan by design? Atau hanya kehendak alam semesta mengirim atau “menendang” seseorang ke “jalan Balian”?

Perjalanan keliling mencari Balian itu kami jalani sebagai “pencarian tambahan” setelah buku kami terbit, ,Bali – Living in Two Worlds, tahun 2001. Dalam buku tersebut, Rama adalah fotografernya, dan saya salah satu penulis dan riset foto dengan Rama.

Pencarian keliling Bali itu, sekitar tahun 2000-2004, meninggalkan banyak catatan, ingatan Balian dan juga lontar-lontar yang saya temui di rumah atau kediaman para Balian, salah satunya yang ada dalam foto ini, yang tak lain adalah lontar Pawacakan.

Lontar Pawacakan adalah bagian dari lontar wariga, seperti lontar lainnya, Ayuning Ala Dewasa, Ala Ayuning Wuku, Palelintangan, Pangalihan Dina, Sadreta, Suryamandala, dan lain-lain. Lontar Pawacakan menarik karena menjelaskan pengaruh buruk hari kelahiran seseorang dan disertai pemecahannya yaitu ruwatan dan dengan detail menyebutkan sesaji/ upakara/caru/banten/panglukatan. Lontar ini juga bisa dimasukan dalam kategori lontar tenung mengingat bisa dijadikan sebagai “pedoman” untuk “petenungan” penyakit bawaan seseorang dan proses penyembuhan yang harus dilalui.

Disebut Lontar Pawacakan mungkin karena dari dalamnya kita mendapat “membaca” (waca) informasi pengaruh buruk, sakit bawaaan orang berdasarkan pengaruh hari dan jam kelahiran, serta banten/sesaji apa bisa dipakai ngruwat yang bersangkutan.

Biasanya usai upakara tubah (ruwat berdasar pengaruh buruk hari kelahiran), orang atau anak yang usai ditubah tidak boleh masuk dapur selama 3 hari. Orang tua atau siapa yang di rumah yang mengambilkan makanan dan minuman. Mungkin juga ini terapi tradisional yang memaksa orang tua lebih perhatian ke anak, dan anak merasa bahagia dan menyehatkan dilayani makan secara penuh bak pangeran atau putri dalam 3 hari. Mungkin juga 3 hari ini anak harus “sembunyi” di kamar. Tak boleh keluar dan tak boleh ke dapur. Total “nyekeb awak” (serta mulatsarira).

Dalam perjalanan mencari Balian itu saya dengan suka-rela kembali di-upah-upah, atau ruwat kecil, menjadi semacam pelengkap 3 kali ditubah di masa kanak-kanak.

Lontar dalam foto ini — rasanya pernah dipamerkan di salah satu pameran tunggal Rama Surya — adalah lontar Pawacakan, koleksi dari salah satu di Griya Budakeling. Teknik penggabungan foto lontar dan foto saya ini bukan photoshop, tapi lewat cetak-persatukan di kamar gelap, karena inilah sepertinya detik-detik Rama Surya dan kebanyakan fotografer pro mengakhiri periode foto dengan negatif hitam-putih yang kini telah menjadi barang sangat-sangat langka.

Mungkin karena dari kecil saya diajak mapuacakang membaca lontar Pawacakan dan dikenai upakara tubah 3 kali + 1 setelah besar (dalam foto ini) saya termasuk paling kagum dengan naskah ini yang sangat detail instruksi dan praktek lontar Pawacakan. Lontar ini juga membuat saya dari dini menyadari bahwa ada banyak teks-teks tertulis di Bali bukan sekedar catatan menyimpan ingatan, atau “teks mati”, beberapa lontar mengandung “teks yang bisa diaktivasi” atau “diinstall” lewat praktek ritual atau “nyasa“.

Pada kesempatan lain, ketika perjalanan mencari Balian tersebut berujung di Desa Kubu, Karangasem, di luar konteks penyembuhan dan perbalianan, kami bertemu dengan orang tua yang berkisah mengenai lontar-lontar tentang letusan gunung Agung, bahkan orang yang saya temui itu hafal luar kepala chandrasangkala letusan-letusan Gunung Agung, bahkan sampai milenia pertama, dari tahun awal abad I-X dan seterusnya. Sampai-sampai ketika itu omongannya saya mengganggap hanya “bualan tanpa data tertulis”.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau hafal isi lontar Babad Bumi, Kalawasan, dan Tusan, dan saya menjadi kembali teringat sosok sepuh itu ketika Gunung Agung meletus 2017 kemarin. Apakah beliau baik-baik saja? Atau beliau telah kembali ke sungsunggan beliau di Gunung Agung?

Perjalanan mencari dan menemui para Balian itu meninggalkan banyak pelajaran dan ingatan penting, melampaui apa yang bisa ditangkap visual. Rata-rata para Balian yang kami temui mengakui perjalanan hidupnya, dari derita dan berbagai cobaan, sampai menjadi “penyembuh”, adalah sebuah derita dan cobaan yang akhirnya menyeberangkannya ke pintu pengabdian. Hidup mereka akui sebagai perjalanan yang “digiring oleh sesuatu”.. Ada menyebut “sesuatu” itu sebagai “taksu”, ada juga menyebutnya sebagai sesuhunan. Sang Pemberi Kekuatan itu.

Mungkin karena ada “sesuatu” itu, variable niskala itu, secara umum, perasaan orang Bali jika diajak memikirkan Balian itu bermacam-macam: Takut, serem, ogah, tidak mau terima, takhayul, dan berbagai konotasi miring lainnya. Seakan-akan, memikirkan saja sudah deg-degan, apalagi ada yang suka rela menjalaninya sebagai sebuah karir atau cita-cita, sepertinya bisa dihitung jari, semuanya “panggilan niskala”. Paradoxnya, Balian tidak mau dijalani secara suka-rela, tapi sekaligus kadang-kadang diburu. Terutama ketika orang Bali sudah “kehabisan akal” alias sudah dirasa “mentok dengan logika”.

Pada saat orang Bali ingin tahu sesuatu yang melampaui logika, orang Bali masih gandrung sampai kini mencari jawab lewat Balian. Jadi, balian itu, berkontribusi? Emm.. tidak pernah diakui oleh publik, malah…

“Apapun kekuatan yang mendorong di belakang saya, ‘kekuatan itu’ meminta saya untuk berkontribusi pada karahayuan-kasukertan (keselamatan dan kesejahteraan) orang lain”, demikian aku salah satu dari mereka.

Belajar dari kisah-kisah hidup para Balian itu, saya mencatat dan belajar, banyak profesi, umumnya di pedesaan dan di pinggiran, yang mendalam “berkontribusi pada hidup” tidak dicatat oleh sejarah, bahkan dinafikan.

Terimakasih untuk Rama Surya atas perjalanan dan fotonya, terimakasih pada semua para Balian yang saya temui, yang telah dengan sukacita membukakan lontar dan juga berbagai kisah perjalanan serta “tetamban” yang menjadi “keahlian” mereka dalam melayani kehidupan. (T)

*Rama Surya adalah salah satu fotografer Indonesia yang malang-melintang dengan karya potrait dan photography essays-nya. Lahir di Bukit Tinggi, 1970, karya yang membuat namanya dikukuhkan dalam dunia fotografi Indonesia adalah buku dan pamerannya yang berjudul ‘Yang Kuat Yang Kalah’ (The Strong Ones Are The Beaten Ones) in 1996. Ia telah berpameran di berbagai negara, seperti di Nikon Image House Gallery di Kusnacht, Switzerland (2000); Museum der Kulturen, Basel, Switzerland (2002; Museum for the World Cultures diFrankfurt, Germany (2004); Taksu Gallery, Jakarta (2004); Richard Meyer Culture Gallery, Petitenget, Bali (2006); the Sogan Gallery, Singapore (2012), berbagai ajang karya foto dunia lainnya. Buku terakhirnya berjudul: ‘A Certain Grace’ adalah rangkuman foto dari perjalanan memberi pelayanan mengajar anak-anak dan penyembuhan bagi masyarakat terasing di Papua.

Tags: baliandukunpengobatan
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Pasar Membeli Harga

Next Post

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co