23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 19, 2021
in Esai
Perjalanan Mencari Dukun-Balian

Foto: Rama Surya

—– Catatan Harian Sugi Lanus 11 Februari 2018

Rama Surya dan saya pernah bekerjasama mencari balian atau para penyembuh di semua penjuru di Bali.

Tujuannya: Membuat potrait penyembuh.

Para Balian itu keberadaannya seperti mitos, antara dan dan tiada. Mereka ada, tetapi juga sekaligus tidak tercatat. Tidak ada daftar Balian dalam demografi desa, apalagi statistik kependudukan provinsi Bali. Balian itu pekerjaan, profesi, tapi tidak akan mungkin didaftarkan sebagai bagian profesi untuk dicantumkan dalam KTP atau passport.

Balian itu berkontribusi dalam berbagai sejarah Bali, bahkan dalam berbagai kudeta dan juga dalam berbagai peperangan, serta memerangi wabah, atau grubug dan mrana, tapi tidak banyak ada lontar atau catatan tentang kehidupan para Balian, kecuali kisah Balian Batur yang berontak melawan Gelgel dan akhirnya dikeroyok Mengwi dan Gelgel.

Balian atau penyembuh Bali ini ada banyak lontar atau manual-book-nya, yaitu berbagai lontar Usada, tapi tidak ada yang sungguh-sungguh mempelajarinya secara terbuka, apalagi mau membuka sekolah Balian Usada. Ada yang salahkan kalau seseorang menjadi Balian? Apakah ini tidak boleh menjadi pekerjaan by design? Atau hanya kehendak alam semesta mengirim atau “menendang” seseorang ke “jalan Balian”?

Perjalanan keliling mencari Balian itu kami jalani sebagai “pencarian tambahan” setelah buku kami terbit, ,Bali – Living in Two Worlds, tahun 2001. Dalam buku tersebut, Rama adalah fotografernya, dan saya salah satu penulis dan riset foto dengan Rama.

Pencarian keliling Bali itu, sekitar tahun 2000-2004, meninggalkan banyak catatan, ingatan Balian dan juga lontar-lontar yang saya temui di rumah atau kediaman para Balian, salah satunya yang ada dalam foto ini, yang tak lain adalah lontar Pawacakan.

Lontar Pawacakan adalah bagian dari lontar wariga, seperti lontar lainnya, Ayuning Ala Dewasa, Ala Ayuning Wuku, Palelintangan, Pangalihan Dina, Sadreta, Suryamandala, dan lain-lain. Lontar Pawacakan menarik karena menjelaskan pengaruh buruk hari kelahiran seseorang dan disertai pemecahannya yaitu ruwatan dan dengan detail menyebutkan sesaji/ upakara/caru/banten/panglukatan. Lontar ini juga bisa dimasukan dalam kategori lontar tenung mengingat bisa dijadikan sebagai “pedoman” untuk “petenungan” penyakit bawaan seseorang dan proses penyembuhan yang harus dilalui.

Disebut Lontar Pawacakan mungkin karena dari dalamnya kita mendapat “membaca” (waca) informasi pengaruh buruk, sakit bawaaan orang berdasarkan pengaruh hari dan jam kelahiran, serta banten/sesaji apa bisa dipakai ngruwat yang bersangkutan.

Biasanya usai upakara tubah (ruwat berdasar pengaruh buruk hari kelahiran), orang atau anak yang usai ditubah tidak boleh masuk dapur selama 3 hari. Orang tua atau siapa yang di rumah yang mengambilkan makanan dan minuman. Mungkin juga ini terapi tradisional yang memaksa orang tua lebih perhatian ke anak, dan anak merasa bahagia dan menyehatkan dilayani makan secara penuh bak pangeran atau putri dalam 3 hari. Mungkin juga 3 hari ini anak harus “sembunyi” di kamar. Tak boleh keluar dan tak boleh ke dapur. Total “nyekeb awak” (serta mulatsarira).

Dalam perjalanan mencari Balian itu saya dengan suka-rela kembali di-upah-upah, atau ruwat kecil, menjadi semacam pelengkap 3 kali ditubah di masa kanak-kanak.

Lontar dalam foto ini — rasanya pernah dipamerkan di salah satu pameran tunggal Rama Surya — adalah lontar Pawacakan, koleksi dari salah satu di Griya Budakeling. Teknik penggabungan foto lontar dan foto saya ini bukan photoshop, tapi lewat cetak-persatukan di kamar gelap, karena inilah sepertinya detik-detik Rama Surya dan kebanyakan fotografer pro mengakhiri periode foto dengan negatif hitam-putih yang kini telah menjadi barang sangat-sangat langka.

Mungkin karena dari kecil saya diajak mapuacakang membaca lontar Pawacakan dan dikenai upakara tubah 3 kali + 1 setelah besar (dalam foto ini) saya termasuk paling kagum dengan naskah ini yang sangat detail instruksi dan praktek lontar Pawacakan. Lontar ini juga membuat saya dari dini menyadari bahwa ada banyak teks-teks tertulis di Bali bukan sekedar catatan menyimpan ingatan, atau “teks mati”, beberapa lontar mengandung “teks yang bisa diaktivasi” atau “diinstall” lewat praktek ritual atau “nyasa“.

Pada kesempatan lain, ketika perjalanan mencari Balian tersebut berujung di Desa Kubu, Karangasem, di luar konteks penyembuhan dan perbalianan, kami bertemu dengan orang tua yang berkisah mengenai lontar-lontar tentang letusan gunung Agung, bahkan orang yang saya temui itu hafal luar kepala chandrasangkala letusan-letusan Gunung Agung, bahkan sampai milenia pertama, dari tahun awal abad I-X dan seterusnya. Sampai-sampai ketika itu omongannya saya mengganggap hanya “bualan tanpa data tertulis”.

Belakangan saya baru tahu bahwa beliau hafal isi lontar Babad Bumi, Kalawasan, dan Tusan, dan saya menjadi kembali teringat sosok sepuh itu ketika Gunung Agung meletus 2017 kemarin. Apakah beliau baik-baik saja? Atau beliau telah kembali ke sungsunggan beliau di Gunung Agung?

Perjalanan mencari dan menemui para Balian itu meninggalkan banyak pelajaran dan ingatan penting, melampaui apa yang bisa ditangkap visual. Rata-rata para Balian yang kami temui mengakui perjalanan hidupnya, dari derita dan berbagai cobaan, sampai menjadi “penyembuh”, adalah sebuah derita dan cobaan yang akhirnya menyeberangkannya ke pintu pengabdian. Hidup mereka akui sebagai perjalanan yang “digiring oleh sesuatu”.. Ada menyebut “sesuatu” itu sebagai “taksu”, ada juga menyebutnya sebagai sesuhunan. Sang Pemberi Kekuatan itu.

Mungkin karena ada “sesuatu” itu, variable niskala itu, secara umum, perasaan orang Bali jika diajak memikirkan Balian itu bermacam-macam: Takut, serem, ogah, tidak mau terima, takhayul, dan berbagai konotasi miring lainnya. Seakan-akan, memikirkan saja sudah deg-degan, apalagi ada yang suka rela menjalaninya sebagai sebuah karir atau cita-cita, sepertinya bisa dihitung jari, semuanya “panggilan niskala”. Paradoxnya, Balian tidak mau dijalani secara suka-rela, tapi sekaligus kadang-kadang diburu. Terutama ketika orang Bali sudah “kehabisan akal” alias sudah dirasa “mentok dengan logika”.

Pada saat orang Bali ingin tahu sesuatu yang melampaui logika, orang Bali masih gandrung sampai kini mencari jawab lewat Balian. Jadi, balian itu, berkontribusi? Emm.. tidak pernah diakui oleh publik, malah…

“Apapun kekuatan yang mendorong di belakang saya, ‘kekuatan itu’ meminta saya untuk berkontribusi pada karahayuan-kasukertan (keselamatan dan kesejahteraan) orang lain”, demikian aku salah satu dari mereka.

Belajar dari kisah-kisah hidup para Balian itu, saya mencatat dan belajar, banyak profesi, umumnya di pedesaan dan di pinggiran, yang mendalam “berkontribusi pada hidup” tidak dicatat oleh sejarah, bahkan dinafikan.

Terimakasih untuk Rama Surya atas perjalanan dan fotonya, terimakasih pada semua para Balian yang saya temui, yang telah dengan sukacita membukakan lontar dan juga berbagai kisah perjalanan serta “tetamban” yang menjadi “keahlian” mereka dalam melayani kehidupan. (T)

*Rama Surya adalah salah satu fotografer Indonesia yang malang-melintang dengan karya potrait dan photography essays-nya. Lahir di Bukit Tinggi, 1970, karya yang membuat namanya dikukuhkan dalam dunia fotografi Indonesia adalah buku dan pamerannya yang berjudul ‘Yang Kuat Yang Kalah’ (The Strong Ones Are The Beaten Ones) in 1996. Ia telah berpameran di berbagai negara, seperti di Nikon Image House Gallery di Kusnacht, Switzerland (2000); Museum der Kulturen, Basel, Switzerland (2002; Museum for the World Cultures diFrankfurt, Germany (2004); Taksu Gallery, Jakarta (2004); Richard Meyer Culture Gallery, Petitenget, Bali (2006); the Sogan Gallery, Singapore (2012), berbagai ajang karya foto dunia lainnya. Buku terakhirnya berjudul: ‘A Certain Grace’ adalah rangkuman foto dari perjalanan memberi pelayanan mengajar anak-anak dan penyembuhan bagi masyarakat terasing di Papua.

Tags: baliandukunpengobatan
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Pasar Membeli Harga

Next Post

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Pengungsi Pulang Ditunggu Utang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co