24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenangan, Ketidakpastian, Obat Penawar, dan Lain-lain

Julio Saputra by Julio Saputra
February 5, 2018
in Esai
Kenangan, Ketidakpastian, Obat Penawar, dan Lain-lain

Om swastiastu

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Nammo Buddhaya

Salam Sejahtera untuk kita semua

SALAM BUDAYAAAA!!!!!!

Pertama-tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat, rahmat, serta karunia-Nya yang diberikan kepada kita semua, terutama nikmat sehat dan nikma panjang umur, sehingga syukur alhamdullilah kita semua berkesempatan untuk menyaksikan bersama-sama proses kreatif Teater Kalangan dari awal sampai akhir.

Pembaca yang terhormat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara saudari sebangsa dan setanah air.

Atas nama Teater Kalangan saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu, adik-adik, kakak-kakak, suadara sebangsa setanah air yang telah menyempatkan diri untuk hadir menonton pementasan Teater Kalangan (terutama pementasan Monolog Anjing Gila karya Putu Wijaya pada tangggal 26 Desember 2017 di Wantilan Kampus Bawah Undiksha), baik itu dari awal sampai akhir atau hanya beberapa bagian saja, dan terima kasih serta apreasiasi sebesar-besarnya juga kepada saudara-saudari pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk membaca dan membuang sedikit kuota internetnya. Jika tak ada kalian yang menonton dan membaca, tentu tidak akan berarti apa-apa. Maka dari itu saya sebenarnya berhutang budi pada kalian semua. Entah bagaimana cara saya membalas budi kalian.

Yang kedua saya mohon maaf sebesar-besarnya jika sekiranya sambutan saya ini tidak berfaedah apa-apa. Hahahaha

Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara saudari sebangsa dan setanah air yang dimulaikan Tuhan

Percaya atau tidak, akhir-akhir ini tak henti-hentinya saya memanjatkan puja dan puji syukur (di dalam lubuk hati yang paling dalam) kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat Beliau saya dapat bertemu dengan Teater Kalangan. Ah, bukan bertemu. Maksud saya berproses kreatif bersama Teater Kalangan. Kepada Tuhan dan Teater Kalangan saya ucapkan terima kasih. Jujur,saya banyak berhutang budi, terutama kepada Tuhan karena banyak hal lain yang diberikan selain mempertemukan saya dengan Teater Kalangan.

Tapi cukuplah Teater Kalangan saja yang saya bahas kali ini. Tak ada banyak waktu. Butuh waktu bertahun-tahun kalau saya harus cerita hal lain, semisal perihal patah hati saya ditinggal calon pacar atau diputusin gebetan sebelum nembak. Ah, lupakan.

Namun, harus diakui bahwa ada banyak sekali kenangan manis saya dengan Teater Kalangan selama menjalani proses kreatif bersama-sama. Mulai dari latihan tengah malam, nongkrong tengah malam, diskusi tengah malam, menata panggung tengah malam, pulang pergi Singaraja Denpasar tengah malam, makan tengah malam, mengobrol tengah malam, ketemuan tengah malam dan masih banyak hal tengah malam lainnya. Jujur saya sendiri juga tak begitu mengerti mengapa itu semua dilakukan tengah malam. Tak sedikit juga kenangan pahitnya, seperti ngaret waktu atau salah paham, tapi ya pada akhirnya akanmanis juga, tanpa diperlu ditambahkan pemanis gula batu atau stevia.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara saudari sebangsa dan setanah air yang saya cintai dan banggakan

Kalau boleh saya jujur lagi sebenarnya saya masih mempertanyakan dimensi saya di Teater Kalangan. Saya ini juga memiliki kejelasan yang tidak jelas. “Sebenarnya saya ini Teater Kalangan atau bukan?” itulah yang sering saya tanyakan dalam batin saya. I Wayan Sumahardika, seorang pemuda tampan dan rupawan juga gagah berani, yang juga menjadi setir dan setang kemudi Teater Kalangan, tidak pernah mengajak saya secara jelas untuk tergabung menjadi anggota Teater Kalangan.

Malam itu, malam yang menjadi awal pertemuan saya dengan Teater Kalangan (waktu itu bernama Teater Tebu Tuh), Suma mengajak saya untuk ikut terlibat dalam garapannya yang akan dipentaskan di sebuah acara kampus Universitas Mahasarawasti, Denpasar. Setelah terlibat di sana, saya diajak lagi ikut dalam produksi pementasan Rintrik dalam Mimbar Teater Indonesia V di Solo. Setelah itu saya diajak ikut lagi, diajak lagi, dan diajak lagi, sampai pada pementasan monolog Pidato Gila karya Putu Wijaya bulan Desember kemarin. Nah, saya masih mengganggap saya bukan anggota yang resmi, karena saya merasa selama ini saya diajak untuk ikut terlibat, bukan ikut sebagai anggota.

Saya bahkan masih mempertanyakan apakah sebenarnya saya pantas tergabung dalam Teater Kalangan. Saya tidak bisa apa-apa. Tidak bisa main musik. Tidak bisa mengendarai motor dengan kopling. Tidak bisa menyutradari. Tidak bisa menata panggung. Saya tidak bisa apa-apa. Jadi MC masih dan bermain peran pun masih di bawah kategori “bagus”. Kalau masalah berjualan ya saya jago. Saya bisa jual apa saja, jual kupon bazzar, jual tiket, jual kaset, jual album, jual buku dan lain-lain. Naluri saya sebagai orang cina benar-benar bisa diandalkan.

Selain tidak bisa apa-apa, saya juga tidak mengerti apa-apa. Saya selalu akan bengong sendiri jika sudah tergabung dalam diskusi yang Suma dan kawan-kawan lakukan. Saya tak pernah paham apa yang mereka bicarakan. Mereka berbicara tentang konsep ruang, konsep tubuh, konsep segala konsep, tawaran akting, ruang adalah teks, ini adalah teks, itu adalah teks, semua adalah teks, arrrghhhh pokoknya saya tidak mengerti. Saya hanya mengerti cara membuat proposal penggalian dana, pembuatan surat pertanggungjawaban, surat undangan, surat peminjaman tempat dan tidak banyak lagi. Itu saja. Menyedihkan sekali.

Dan lagi, saya selalu benci kalau sudah diminta melakukan pemanasan oleh Suma. Pemanasan versi Suma benar-benar melelahkan. Lelah fisik lelah batin. Saya diminta berlari sambil tetap menjaga tempo tapi sambil mengucapkan monolog atau dialog yang akan saya mainkan nanti. Aduh, bagaimana ya menjelaskannya. Derap langkah saya saat berlari itu seperti menjadi ketukan, ritme, atau tempo bagi saya. Jadi saya tidak bisa santai dalam mengucapkan monolog atau dialog, selalu dipengaruhi ketukan langkah saya, dan karena saya berlari tentu saja ketukan langkah saya itu cepat. Ya merasakannya cepat dan saat mengucapkan monolog atau dialog juga menjadi agak cepat.

Belum lagi bagian perut bawah sebelah kanan akan terasa nyeri lebih cepat karena saya berlari dan saya berucap, ditambah waktu lari yang katanya 15 menit malah menjadi 25 menit atau 30 menit dan ditambah Suma yang galak. Dan yang paling parah, setiap berlari (biasanya di Taman Kota) saya selalu bertemu dengan mantan pacar, mantan calon pacar, dan beberapa orang-orang yang saya punya hubungan tidak baik dengan saya. Pokoknya malu. Sekali malu, malu sekali. Tebek tiang tebek. Terkadang saya juga kesal sendiri, kenapa Suma tak pernah ikut lari ya? Ah, lupakan. Pada akhirnya, saya mengenang semua itu dengan manis. Berat di awal, manis di akhir. Hahahaha

Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara saudari sebangsa dan setanah air yang saya kasihi.

Harus saya akui, Teater Kalangan bagi saya lebih dari sekedar komunitas teater yang belajar teater kemudian mempertunjukan teater kepada para penikmat teater. Teater Kalangan bagi saya adalah obat. Obat bagi segala kesepian saya. Penawar bagi semua luka batin saya yang membunuh. Pembasuh bagi setiap memar dan lebam hidup dan kehidupan saya. Yah agak alaymemang, tapi saya bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang membebani pikiran saya. Saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah menemani saya sepanjang kebersamaan kita bersama. Meski saya tidak tahu apa-apa, saya tetep tresna Teater Kalangan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudara saudari sebangsa dan setanah air yang berbahagia, masih semangat?

Demikianlah sepatah dua patah dari saya tentang Teater Kalangan. Semoga saudara-sudara tidak mengantuk membaca tulisan saya yang lebih mirip curhat awal tahun ketimbang catatan awal tahun. Saya mohon saudara-saudara agar senantiasa mendoakan saya dan teman-teman saya juga Teater Kalangan selalu menjadi inshan yang kreatif, unggul dan memiliki daya saing tinggi, juga berguna bagi nusa dan bangsa. Hahaha. Akhir kata saya ucapkan terima kasih

Om Santhi Santhi Santhi Om

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Nammo Buddhaya

Salam Sejatera untuk kita semua

SALAM BUDAYA (T)

Tags: kenanganTeaterTeater Kalangan
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus# Gelar Berjejer Kok Nyontek?

Next Post

“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co