23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wisata Monolog Teater Kalangan: Yang Asing Dirayakan, Yang Raya Diasingkan

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
February 2, 2018
in Esai

 

Selamat datang di Wisata Monolog Teater Kalangan!

Kepada kawan-kawan yang merasa asing di rumah sendiri. Kepada kawan-kawan yang sudah teramat jenuh dengan paket-paket wisata; pemandangan khas, unik, asyik bin ajaib; hotel, kafe, restoran, atau mall mewah, murah, meriah, pun dengan diskon promo sana-sini sebagai bentuk perhatian kepada semuanya yang sebenarnya, jika dicek kembali, harganya toh sama saja dengan hari biasa. Tentu, undangan ini jadi begitu penting artinya. Sebab ini wisata bukan sembarang wisata. Ini wisata begitu intim terpencil. Amat jauh dari hingar bingar yel-yel, iklan, baliho bertuliskan Wonderful Indonesia yang dijumpai sehari-hari.

Sebagaimana namanya, wisata ini menyajikan beberapa monolog sebagai menu hidangan yang ditawarkan kepada para wisatawan. Perlu saya garisbawahi sejak awal, konsep wisata monolog sendiri sejatinya baru sebatas rancangan dari tema besar tentang pembacaan terhadap realitas Bali hari ini. Jika dikaitkan dengan produktifitas pariwisata Bali yang makin hari makin gencar memproklamirkan diri sebagai destinasi pariwisata dunia, apakah ada hubungan diantaranya?

Saya sendiri sebagai sutradara amat tergelitik saat menemukan begitu banyak kasus ketegangan yang terjadi akibat dampak pariwisata yang berkembang. Erupsi Gunung Agung misalnya, wacana lebih cenderung digulirkan pada persoalan pariwisata Bali yang akan terpuruk. Hal yang sama juga terjadi pada kasus joged porno yang sempat viral beberapa waktu lalu. Ada saja orang yang beralasan bahwa hal tersebut akan mencemari nama Bali sebagai tempat destinasi pariwisata. Sungguh ironis! Betapa semuanya selalu bermuara pada terpuruknya pariwisata. Seolah-olah, tanpa pariwisata, Bali akan hancur lebur, luluh lanta tak bersisa!

Ini sungguh bukan masalah benar-salah atau setuju-tidak setuju perihal wacana-wacana yang tengah bergulir tersebut. Yang menarik perhatian saya justru keberjarakan kita dalam memahami realitas yang sedang terjadi. Jika mau dikejar, mengapa kita bisa begitu resisten dengan adanya joged porno, sementara begitu banyak kafe-kafe atau kompleks prostitusi yang menjamur di sekitar? Mengapa joged yang notabene, dulunya memang ditujukan untuk tari pergaulan, dimaksudkan untuk membangun hasrat bercinta penontonnya jadi disikapi sedemikian tengetnya? Tak bisakah kita menyempatkan diri untuk berpikir mengapa penari joged bisa menjadi sedemikian porno? Pun ketika status Gunung Agung yang ingin diturunkan. Hanya gara-gara pariwisata saja, gunung siap meletus yang nyata tampak di depan mata ingin dikatakan baik-baik saja. Betapa absurdnya!

Saya tak ingin memperkeruh tulisan dengan merinci persoalan-persoalan tersebut, sebab memang perlu adanya observasi dan riset yang lebih mendalam untuk mengkajinya. Yang ingin saya tekankan adalah paradigma pariwisata modern yang terlampau optimis dengan rasionalitas ilmiahnya, memandang masa depan pasti menuju ke arah lebih baik justru membuat masyarakat lokal menjadi asing di negeri sendiri. Benturan kultur yang dibawa tourist asing dan pandangan dunia yang hilir mudik pertemu-dipertemukan secara tak langsung telah memengaruhi interpretasi penduduk lokal dalam memandang realitas. Parahnya, ini tak terjadi secara organis! Rancangan wisata modern yang cenderung mementingkan kuantitas sebagai indikator keberhasilan ditambah dualitas posisi subjek-objek dan oposisi biner, yang elit dan yang liyan, yang menguasai dan dikuasai menjadikan interpretasi seolah dipreteli, diikat, dan diperkosa oleh pandangan dunia pada umumnya. Tak ada lagi kesempatan buat merabai realitas kita sendiri dengan lebih intim. Keberjarakkan ini, sekali lagi menjadi hal unik dan menarik untuk dipertemukan dalam pentas.

Monolog dalam Wisata

Sebagaimana yang telah diuraikan, konsep keberjarakan dalam pariwisata ini menjadi titik keberangkatan kami menciptakan pentas bertajuk “Wisata Monolog”. Bukan hanya mempertanyakan jarak sebagai sebuah lintasan fisik yang diraba dan dilalui dengan badan indrawi semata, melainkan masuk pada relasi psikologis yang menghadirkan makna antara ruang, teks, dan aktor itu sendiri. Relasi jarak ini, kami percaya saling taut-bertaut-menautkan.

Bagaimana refren yang dipunya penonton sebelumnya juga turut memberi andil dalam memaknai pentas? Bagaimana pengaruh pentas jika penonton ditempatkan dalam sudut pandang berbeda? Mampukah pentas itu sendiri diperbincangkan atau paling tidak, dapat nyempil di pikiran penonton, sama seperti pengalaman yang didapat sepulang wisata meski perjalanan telah usai?

Dalam rangka menjawab semua itu, kami akan membagi penonton dalam dua kelompok besar. Yang jadi wisatawan dan yang jadi liyan. Yang wisatawan akan diberi paket-paket wisata, sebagaimana biasa kita jumpai pada agen-agen travel yang menawarkan destinasi objek wisata. Paket-paket wisata ini, terbagi dalam tiga sesi. Semuanya menampilkan naskah monolog karya Putu Wijaya. Sesi pertama akan menampilkan pameran “Instalasi Ingatan” pertunjukan monolog yang pernah dimainkan Teater Kalangan sebelumnya. Dilanjutkan dengan monolog “AUT”, dimainkan oleh saya sendiri bersama beberapa pemeran pembantu lainnya. Kemudian menampilkan “PIDATO GILA” dimainkan oleh Julio Saputra.

Pada sesi kedua akan menampilkan lima monolog yang dimainkan sekaligus secara bersamaan dengan tempat yang berbeda. Penonton wisatawan akan dipersilahkan memilih salah satu monolog yang ingin ditonton. Adapun kelima monolog itu adalah “MATAHARI TERAKHIR” yang dimainkan oleh Agus Wiratama, “HP” yang dimainkan oleh Ni Putu Purnamiati, “DAMAI” yang dimainkan oleh Manik Sukadana, “TEROR” yang dimainkan oleh Cleo Chintya, dan “SURAT KEPADA SETAN” yang dimainkan oleh A.A.N Anggara Surya. Sedangkan pada sesi ketiga, kembali penonton berkumpul bersama menyaksikan monolog “BALI” yang dimainkan oleh saya sendiri. Dan dilanjutkan dengan bonus berhadiah, menampilkan monolog “MEMEK” yang dimainkan dan disutradai oleh Putu Satriya Koesuma.

Lalu, bagaimana dengan penonton yang menjadi liyan? Adapun paket khusus yang ditawarkan adalah menyaksikan pentas dengan sudut pandang ketiga. Menyaksikan interaksi penonton, aktor, ruang, dan teks pada masing-masing tempat yang berbeda sebagai sebuah keutuhan pentas. Penonton ini, bisa saja menyikapi dirinya sebagai subjek dengan penonton wisatawan dan pentas sebagai objek. Pun terbuka peluang bagi penonton liyan untuk menenggelamkan diri dalam fungsi dan peran yang ditujukan untuk penonton wisatawan.

Bentuk Monolog

Adapun bentuk monolog sendiri dipilih, selain berkenaan dengan acara Festival Monolog 100 Putu Wijaya, juga usaha untuk mengingatkan, betapa keberadaan seni modern seperti monolog masih mengalami ketegangan dengan seni tradisi lainnya. Semakin ironis, ketika monolog masih diinterpretasi pada wilayah penyelenggaraan lomba yang sarat dengan aturan dan standarisasi penjurian. Konsep wisata monolog adalah usaha untuk menarik masuk penonton pada pemikiran dan kegelisahan kami yang tak terlepas dari niatan menginterpretasi teks dan konteks itu sendiri.

Dari delapan monolog yang saya sutradarai, sebagian merupakan monolog yang sudah pernah dipentaskan, sebagian lagi adalah produksi baru Teater Kalangan. Adapun produksi yang baru adalah “Aut”, “Matahari Terakhir”, “Teror”, dan “Bali” Sementara pada monolog produksi lama, saya tak ingin terjebak pada pengulangan pentas. Niatan untuk mengeksplorasi keberjarakan yang diungkapkan sebelumnya, justru membawa saya dan kawan-kawan lainnya pada proses memahami naskah lebih lanjut.

Pada monolog “Pidato Gila”, “HP” dan “Surat Kepada Setan” yang sudah pernah dipentaskan, kami mencoba bermain pada wilayah pengembangan pentas, kemungkinan lain yang sekiranya luput pada produksi sebelumnya, serta penyikapan terhadap ruang yang berbeda. Pada monolog “Damai” yang kami anggap sudah mapan sebagai pentas, kami mencoba bermain-main dalam konteks pra produksi pementasan. Bisakah pra produksi pentas punya makna yang sama nilainya dengan saat pentas itu sendiri atau malah pemaknaan cenderung berbeda, atau bisa tak ada maknanya sama sekali. Dalam rangka membangunkan ingatan, memberi referen terhadap pentas, akan ditampilkan “Pameran Instalasi Ingatan” sebelum penonton memasuki pentas.

Bagaimana semestinya desain pariwisata yang ideal? Bagaimana kita menyikapi realitas yang terjadi? Sampai saat ini, kami pun masih tengah mendiskusikan. Sambil merampungkan pentas hari-H, saya tulis catatan ini. Dalam bahasa yang terbata, ini akan jadi awal titik kami berangkat menuju pentas-pentas selanjutnya. Pada akhirnya, apa yang saya uraikan ini hanyalah sebuah pengantar untuk memasuki panggung Wisata Monolog. Entah itu akan terbaca, terpapar, dan mengena, saya serahkan kembali pada para wisatawan.

Maka dari itu kawan-kawan, sempatkanlah diri untuk hadir pada 26 Desember 2016 pukul 18.30 Wita di Kampus Bawah Undiksha, Singaraja nanti. Pentas ini tak dipungut biaya apapun alias gratis, namun untuk pemesanan kursi, sebisa mungkin hubungi saya terlebih dahulu (081805552079). Sebagaimana tuan dan puan pernah berwisata, tak mungkin pihak travel mempersilakan siapapun masuk apabila kursi di bis yang telah terisi penuh, Bukan? Maka segeralah berkabar! Sebab ini wisata bukan sembarang wisata.

Selamat datang di Wisata Monolog Teater Kalangan! (T)

Singaraja, 2017

 

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologTeaterTeater KalanganUndiksha
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Agung Meletus? Ah, Kata Siapa?

Next Post

Pengantar Pertunjukan: Mari Berwisata yang Ini, Bukan yang Itu

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Pengantar Pertunjukan: Mari Berwisata yang Ini, Bukan yang Itu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co