14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “The Story of A Tree”, Tentang Pohon, Kita, dan Pelajaran di Dalamnya

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
February 2, 2018
in Ulasan

Pementasan Drama "The Story of A Tree" oleh mahasiswa Bahasa Inggris Undiksha, Kelas 5G, Minggu 17 Desember 2017 malam. /Foto: Wahyu Mahendra

 

BAGI mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesham mata kuliah drama memang menjadi tantangan dan pengalaman trsendiri, Sript dengan judul The story of a tree ini disodorkan kepada saya dan teman-teman sekelas tahun 2012, atau tepat lima tahun silam.

Naskah yang digarap oleh Ibu Kadek Sonia Piscayanti ketika itu belum sepenuhnya rampung, bisa bilang dua pertiga dari total naskah. Sialnya lagi, bulan sudah memasuki pertengahan oktober yang berarti praktis kami hanya mempunyai dua bulan persiapan menjelang pementasan. Kami yang bertanya-tanya tentang naskah ini diyakinkan oleh Ibu Sonia bahwa naskah ini sangat cocok untuk kelas kami, 5E. Seperti biasa, gaya dosen satu ini memang meledak-ledak dalam meyakinkan mahasiswa.

Ibu Sonia memulai penjelasan singkat tentang naskah ini. “Baik, naskah ini berisikan buah pikiran saya tentang sebatang pohon kamboja yang dulu hidup mekar bebas di kampus ini, namun dengan keadaan kampus yang usai renovasi, ia perlahan mati.

Padahal pohon kamboja ini merupakan saksi perjalanan setiap mahasiswa, dosen, dan seluruh orang yang terlibat dikampus ini. Saya ingin semua orang mengingat jasa pohon ini. Pohon ini juga merupakan simbol bagaimana masa depan dipersiapkan, masa kini yang harus dinikmati, dan memetik pelajaran dari masa lalu”

Pandangan kami tentang Ibu Sonia saat itu adalah ibu ini tidak ingin basa-basi terlalu panjang. Ia memulai memilih mahasiswa untuk memerankan tokoh-tokoh dalam naskah ini. Yang pertama dicari? Pemeran pohon tentunya. Dari 10 laki-laki yang berada di kelas, semua tidak luput dari pandangan.

Kami yang hanya bersepuluh ini saling sikut, dorong, berharap bukan diri masing-masing yang ditunjuk. Kenapa? Jelas, sebagai pohon, kami harus mengingat berlembar-lembar monolog. Kami bukan manusia-manusia bertalenta, belum lagi jika mengingat kewajiban lain di semester itu yang sangat menuntut.

Pada akhirnya, saya terpilih menjadi pemeran pohon kamboja ikonik ini. Senang? Tentu tidak. Belum memulai saja saya sudah menghela napas berat nan panjang memikirkan bagaimana menjadi pohon. Belum lagi kritikan demi kritikan yang ibu Sonia lontarkan, “jiwai dong Wahyu, Jiwai” disertai gestur rada kesal.

Sejak saat itu, saya memutuskan metode saya sendiri untuk menjiwai dan merasakan apa yang pohon ini rasakan. Maka setiap pukul 15.00-17.00 tiap harinya, saya duduk sendiri di bawah pohon kamboja ini, meratap ke pohon, dan sesekali ke sekeliling.

Hingga pada suatu waktu seorang mahasiswa mendekati saya dan bertanya, “kak, sedang apa duduk disini?” Sambil tersenyum tipis saya menjawab, “tidak ada, hanya duduk-duduk sore”.

Mahasiswa yang tidak saya kenal ini kemudian berbisik memperingatkan, “Kak, di sini banyak mahkluk tidak keliatan, baiknya jangan disini,” “hah, jika ada memang maka biarkan saya bicara dengan mereka”. Si mahasiswa hanya bisa geleng-geleng sambil berlalu, membiarkan saya melanjutkan duduk sore.

Sepanjang persiapan, seperti kata saya tadi, jauh dari kata mudah. Mereka yang hobi pulang kampung akhir minggu harus menunda kepulangannya, yang hobi menyendiri dipaksa bekerja bersama. Kami membuat properti yang dibutuhkan di rumah salah satu teman bernama Chintya Dewi.

Selain sebagai direktur drama kelas, ia bertugas menjaga properti dari musim penghujan di akhir tahun agar bisa digunakan nantinya. Tidak jarang Chintya harus mengores kocek pribadi untuk membelikan kami sekedar minum yang bekerja tiap hari mengerjakan properti sambil berlatih.

Masih ingat tentang naskah yang belum rampung? Nah, sehari sebelum waktu kami untuk pentas ibu Sonia datang membawa naskah yang tersisa. Pikir kami, sisanya tidak akan lebih dari dua atau tiga lembar. Ternyata terdapat sekitar enam lembar lagi yang harus kami latih. Belum lagi membuat lagu dari puisi.

Bertempat di gedung Sasana Budaya Singaraja, kami akhirnya memutuskan untuk menginap. Berlatih, mengganti properti yang dirasa kurang cocok, menambah yang kurang. Bukan perkara yang mudah untuk memutuskan menginap, ada yang bahkan harus cekcok dengan pasangannya karena lebih mementingkan drama.

Waktu beranjak tengah malam, dan kami tiba-tiba teringat bahwa batas pengumpulan tugas mata kuliah lain adalah esok hari. Adalah kami saling membangunkan teman untuk mengerjakan ini bersama dibawah gerimis tengah malam.

Waktu pementasan semakin dekat. Kami berias dan bersiap-siap. Mengenai riasan, riasan saya harusnya terbilang mudah dengan hanya membubuhkan warna coklat di wajah. Namun karena kesalahan si perias, wajah saya berwarna ungu, persis ketela ungu di pasar-pasar itu.

Ibu Sonia bolak-balik terlihat panik, sesekali melihat jam tangannya. Waktu yang ada tinggal 5 menit. Mungkin saat itu yang ada di benak Ibu Sonia bahwa ia pintar dalam mewarnai. Diambilnya kuas lukis dari tangan teman saya kemudian meminta saya menaruh wajah tepat di lubang pohon yang kami gunakan dalam pementasan.

Dengan gaya pelukis, ia menggoreskan kuas kesana kemari, mencoba menyamarkan perbedaan warna yang sayang tidak berhasil. Waktu yang mepet menuntut keputusan yang cepat. Saya meminta salah seorang teman untuk mengambil kaleng cat tembok warna coklat yang kami siapkan. Kali ini bukan gaya pelukis, cat tadi disiramkan ke wajah dan sekitar lubang pohon, sehingga warnanya samar.

Seakan tidak terjadi kekacauan dibelakang panggung, kami memulai pementasan. Tidak disangka-sangka, penonton yang menyaksikan riuh, beberapa alumni yang kami undang bahkan tak kuasa menahan tangis. Beberapa mendatangi untuk berterima kasih karena telah diingatkan kembali akan masa-masa indah menjadi mahasiswa.

Kami sadar seketika itu juga bahwa drama ini bukan sekedar menghapal naskah, bukan sekedar pentas kemudian memperoleh nilai, tapi membawa arti bagi mereka yang melihat pohon kamboja ini sebagai bagian dari hidup.

“The Story of A Tree” versi 2017

Mementaskan dan menonton naskah yang sama dipentaskan kembali membawa sensasi yang berbeda. Pementasan naskah ”The Story of A Tree” yang dibawakan mahasiswa pada tahun 2017 ini menorehkan kesan tidak biasa.

Mereka mampu membawa saya kembali ke masa lalu melalui lagu dan melodi yang kami buat dahulu tanpa meninggalkan sentuhan original mereka. Juga sesekali tersenyum geli ketika melihat adik-adik ini pentas. Bukan karena mereka konyol, tapi seakan bercermin pada kami yang dahulu berada dipanggung itu. Sesekali, bibir saya juga bergerak sendiri melafalkan naskah yang muncul kembali dari alam bawah sadar.

Sesungguhnya drama ini menyadarkan kita bahwa jauh didalam lubuk hati, kita melihat apa yang pohon kamboja ini lihat. Melihat sepasang kekasih yang kandas hubungannya ditengah jalan, tentang seorang gadis penyair yang mencurahkan isi hatinya kepada pohon kamboja, tentang mereka yang lalu lalang dibawahnya tanpa peduli, tentang mereka yang berharap menjadi lulusan terbaik namun gagal, hingga hal menggelitik seperti memikirkan judul si angker skripsi.

Maka terima kasih, cerita tentang pohon kamboja telah mengingatkan bahwa masa lalu telah kami lalui untuk kami kenang. Terima kasih telah mengingatkan masih ada masa depan yang harus dikejar.

Terima kasih mengingatkan bahwa kita hidup di masa sekarang yang harus dinikmati penuh syukur. Saya yakin, hingga pada saatnya nanti akan tiba giliran mereka yang mementaskan naskah ini dimasa sekarang menceritakan pengalamannya di masa mendatang. Cerita pohon ini tidak akan pernah berakhir dan cocok diceritakan kembali di segala waktu. Karena pohon ini sesungguhnya adalah saya, anda, dan kita semua. (T)

Tags: kampusPendidikanpohonTeaterUndiksha
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Lukisan Asehou Jayakatowan: Terpesona Peradaban Lama

Next Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co