24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “The Story of A Tree”, Tentang Pohon, Kita, dan Pelajaran di Dalamnya

Made Wahyu Mahendra by Made Wahyu Mahendra
February 2, 2018
in Ulasan

Pementasan Drama "The Story of A Tree" oleh mahasiswa Bahasa Inggris Undiksha, Kelas 5G, Minggu 17 Desember 2017 malam. /Foto: Wahyu Mahendra

 

BAGI mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesham mata kuliah drama memang menjadi tantangan dan pengalaman trsendiri, Sript dengan judul The story of a tree ini disodorkan kepada saya dan teman-teman sekelas tahun 2012, atau tepat lima tahun silam.

Naskah yang digarap oleh Ibu Kadek Sonia Piscayanti ketika itu belum sepenuhnya rampung, bisa bilang dua pertiga dari total naskah. Sialnya lagi, bulan sudah memasuki pertengahan oktober yang berarti praktis kami hanya mempunyai dua bulan persiapan menjelang pementasan. Kami yang bertanya-tanya tentang naskah ini diyakinkan oleh Ibu Sonia bahwa naskah ini sangat cocok untuk kelas kami, 5E. Seperti biasa, gaya dosen satu ini memang meledak-ledak dalam meyakinkan mahasiswa.

Ibu Sonia memulai penjelasan singkat tentang naskah ini. “Baik, naskah ini berisikan buah pikiran saya tentang sebatang pohon kamboja yang dulu hidup mekar bebas di kampus ini, namun dengan keadaan kampus yang usai renovasi, ia perlahan mati.

Padahal pohon kamboja ini merupakan saksi perjalanan setiap mahasiswa, dosen, dan seluruh orang yang terlibat dikampus ini. Saya ingin semua orang mengingat jasa pohon ini. Pohon ini juga merupakan simbol bagaimana masa depan dipersiapkan, masa kini yang harus dinikmati, dan memetik pelajaran dari masa lalu”

Pandangan kami tentang Ibu Sonia saat itu adalah ibu ini tidak ingin basa-basi terlalu panjang. Ia memulai memilih mahasiswa untuk memerankan tokoh-tokoh dalam naskah ini. Yang pertama dicari? Pemeran pohon tentunya. Dari 10 laki-laki yang berada di kelas, semua tidak luput dari pandangan.

Kami yang hanya bersepuluh ini saling sikut, dorong, berharap bukan diri masing-masing yang ditunjuk. Kenapa? Jelas, sebagai pohon, kami harus mengingat berlembar-lembar monolog. Kami bukan manusia-manusia bertalenta, belum lagi jika mengingat kewajiban lain di semester itu yang sangat menuntut.

Pada akhirnya, saya terpilih menjadi pemeran pohon kamboja ikonik ini. Senang? Tentu tidak. Belum memulai saja saya sudah menghela napas berat nan panjang memikirkan bagaimana menjadi pohon. Belum lagi kritikan demi kritikan yang ibu Sonia lontarkan, “jiwai dong Wahyu, Jiwai” disertai gestur rada kesal.

Sejak saat itu, saya memutuskan metode saya sendiri untuk menjiwai dan merasakan apa yang pohon ini rasakan. Maka setiap pukul 15.00-17.00 tiap harinya, saya duduk sendiri di bawah pohon kamboja ini, meratap ke pohon, dan sesekali ke sekeliling.

Hingga pada suatu waktu seorang mahasiswa mendekati saya dan bertanya, “kak, sedang apa duduk disini?” Sambil tersenyum tipis saya menjawab, “tidak ada, hanya duduk-duduk sore”.

Mahasiswa yang tidak saya kenal ini kemudian berbisik memperingatkan, “Kak, di sini banyak mahkluk tidak keliatan, baiknya jangan disini,” “hah, jika ada memang maka biarkan saya bicara dengan mereka”. Si mahasiswa hanya bisa geleng-geleng sambil berlalu, membiarkan saya melanjutkan duduk sore.

Sepanjang persiapan, seperti kata saya tadi, jauh dari kata mudah. Mereka yang hobi pulang kampung akhir minggu harus menunda kepulangannya, yang hobi menyendiri dipaksa bekerja bersama. Kami membuat properti yang dibutuhkan di rumah salah satu teman bernama Chintya Dewi.

Selain sebagai direktur drama kelas, ia bertugas menjaga properti dari musim penghujan di akhir tahun agar bisa digunakan nantinya. Tidak jarang Chintya harus mengores kocek pribadi untuk membelikan kami sekedar minum yang bekerja tiap hari mengerjakan properti sambil berlatih.

Masih ingat tentang naskah yang belum rampung? Nah, sehari sebelum waktu kami untuk pentas ibu Sonia datang membawa naskah yang tersisa. Pikir kami, sisanya tidak akan lebih dari dua atau tiga lembar. Ternyata terdapat sekitar enam lembar lagi yang harus kami latih. Belum lagi membuat lagu dari puisi.

Bertempat di gedung Sasana Budaya Singaraja, kami akhirnya memutuskan untuk menginap. Berlatih, mengganti properti yang dirasa kurang cocok, menambah yang kurang. Bukan perkara yang mudah untuk memutuskan menginap, ada yang bahkan harus cekcok dengan pasangannya karena lebih mementingkan drama.

Waktu beranjak tengah malam, dan kami tiba-tiba teringat bahwa batas pengumpulan tugas mata kuliah lain adalah esok hari. Adalah kami saling membangunkan teman untuk mengerjakan ini bersama dibawah gerimis tengah malam.

Waktu pementasan semakin dekat. Kami berias dan bersiap-siap. Mengenai riasan, riasan saya harusnya terbilang mudah dengan hanya membubuhkan warna coklat di wajah. Namun karena kesalahan si perias, wajah saya berwarna ungu, persis ketela ungu di pasar-pasar itu.

Ibu Sonia bolak-balik terlihat panik, sesekali melihat jam tangannya. Waktu yang ada tinggal 5 menit. Mungkin saat itu yang ada di benak Ibu Sonia bahwa ia pintar dalam mewarnai. Diambilnya kuas lukis dari tangan teman saya kemudian meminta saya menaruh wajah tepat di lubang pohon yang kami gunakan dalam pementasan.

Dengan gaya pelukis, ia menggoreskan kuas kesana kemari, mencoba menyamarkan perbedaan warna yang sayang tidak berhasil. Waktu yang mepet menuntut keputusan yang cepat. Saya meminta salah seorang teman untuk mengambil kaleng cat tembok warna coklat yang kami siapkan. Kali ini bukan gaya pelukis, cat tadi disiramkan ke wajah dan sekitar lubang pohon, sehingga warnanya samar.

Seakan tidak terjadi kekacauan dibelakang panggung, kami memulai pementasan. Tidak disangka-sangka, penonton yang menyaksikan riuh, beberapa alumni yang kami undang bahkan tak kuasa menahan tangis. Beberapa mendatangi untuk berterima kasih karena telah diingatkan kembali akan masa-masa indah menjadi mahasiswa.

Kami sadar seketika itu juga bahwa drama ini bukan sekedar menghapal naskah, bukan sekedar pentas kemudian memperoleh nilai, tapi membawa arti bagi mereka yang melihat pohon kamboja ini sebagai bagian dari hidup.

“The Story of A Tree” versi 2017

Mementaskan dan menonton naskah yang sama dipentaskan kembali membawa sensasi yang berbeda. Pementasan naskah ”The Story of A Tree” yang dibawakan mahasiswa pada tahun 2017 ini menorehkan kesan tidak biasa.

Mereka mampu membawa saya kembali ke masa lalu melalui lagu dan melodi yang kami buat dahulu tanpa meninggalkan sentuhan original mereka. Juga sesekali tersenyum geli ketika melihat adik-adik ini pentas. Bukan karena mereka konyol, tapi seakan bercermin pada kami yang dahulu berada dipanggung itu. Sesekali, bibir saya juga bergerak sendiri melafalkan naskah yang muncul kembali dari alam bawah sadar.

Sesungguhnya drama ini menyadarkan kita bahwa jauh didalam lubuk hati, kita melihat apa yang pohon kamboja ini lihat. Melihat sepasang kekasih yang kandas hubungannya ditengah jalan, tentang seorang gadis penyair yang mencurahkan isi hatinya kepada pohon kamboja, tentang mereka yang lalu lalang dibawahnya tanpa peduli, tentang mereka yang berharap menjadi lulusan terbaik namun gagal, hingga hal menggelitik seperti memikirkan judul si angker skripsi.

Maka terima kasih, cerita tentang pohon kamboja telah mengingatkan bahwa masa lalu telah kami lalui untuk kami kenang. Terima kasih telah mengingatkan masih ada masa depan yang harus dikejar.

Terima kasih mengingatkan bahwa kita hidup di masa sekarang yang harus dinikmati penuh syukur. Saya yakin, hingga pada saatnya nanti akan tiba giliran mereka yang mementaskan naskah ini dimasa sekarang menceritakan pengalamannya di masa mendatang. Cerita pohon ini tidak akan pernah berakhir dan cocok diceritakan kembali di segala waktu. Karena pohon ini sesungguhnya adalah saya, anda, dan kita semua. (T)

Tags: kampusPendidikanpohonTeaterUndiksha
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Lukisan Asehou Jayakatowan: Terpesona Peradaban Lama

Next Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Made Wahyu Mahendra

Made Wahyu Mahendra

Lahir di Negara, Bali. Alumni S1 Bahasa Inggris di Undiksha dan S2 Universitas Negeri Malang. Beberapa kali memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Nasi Blabar” di Pacung: “Banjir Nasi” dan Makan Bersama Jelang Nyepi Adat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co