23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

November dan Botol Limun – Tiba-tiba Teringat Timpal Dole Sumadi

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari sumber Google

 

NOVEMBER, sebagaimana mungkin banyak orang lain, selalu mengingatkan saya pada sebuah lagu GunsN’Roses yang menggeram, dengan dentum drum dan petikan gitar seperti hujan dalam badai. Lagu itu, “November Rain”, menyeret saya pada sosok sahabat waktu di sekolah menengah atas, di kota kabupaten, nun di pesisir barat Sumatera.

Namanya Oesman Gumanti, akrab dipanggil Igan. Ia jago sekali membawakan lagu itu, meski hanya dengan petikan gitar, dan seolah hanya itulah satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan—kami pun merasa, lagu lain yang ia mainkan seolah tak lagi diperlukan.

Biasanya, sehabis menyanyi di kantin (di situ ada gitar tua milik anak penjaga sekolah), Igan akan membuka sebotol limun rasa jeruk, dan meminumnya.

“Metal tak  harus ngebir, limun lebih segar,” kata Igan, bersendawa.

Kami mengiyakan dan mereguk limun dari botol yang sama. Waktu itu, botol-botol limun masih berderet rapi, tertata di meja warung-warung kota kecil kami. Limun produksi lokal yang rasanya nendang, belum tersaingi minuman botol perusahaan raksasa seperti Sosro atau Coca-Cola.

Jangan pula sebut bir, minuman bersoda pun sangat jarang. Alhasil memang hanya limun yang bisa dipilih dari minuman botol. Tak tahu, apakah jika ada jenis minuman botol lain, Igan tetap bersetia dengan botol limun. Sebab, kami tahu di beberapa warung tersedia juga “vigur”—jenis minuman lokal berakhohol—dan beberapa kali terjadi peristiwa menggemparkan di kota kecil kami: minuman keras hilang dari gudang penyimpanan barang bukti Kejati!

Ah, itu masa lalu. Tapi sebuah momentum bisa membawa kita ke suatu tempat, ruang, waktu, peristiwa, kenangan, nama-nama, atau apa pun sebutannya.

Setelah “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono “abadi” jadi penanda pertengahan tahun sekaligus musim kemarau (meski sekarang Juni kerap dikunjungi penghujan), saya kira “November Rain” sahih jadi penanda musim basah (meski kini langit lebih sering bunting berlama-lama); dan bagi saya sekaligus jadi penanda ingatan pada Igan beserta semua kawan yang sudah berpencar.

Bertahun-tahun seperti itu, sampai pada dua atau tiga tahun terakhir, peta ingatan itu berubah. November bukan hanya mengingatkan saya pada sosok Igan, laki-laki jangkung berambut jagung, tapi juga kepada nama dan sosok lain, laki-laki tambun dengan kumis yang rimbun.

Berawal dari cara yang ganjil, kesedihan menyelinap, diam-diam, ketika pertengahan November yang lembab, dua tahun lalu, saya terima kabar dari penyair Nuryana Asmaudi tentang perginya seorang sahabat kami ke alam keabadian. Kabar yang terlambat. Saya juga baru tahu. Semua kita tahu terlambat, tulis balasan di layar handphone waktu saya menggugat kenapa baru mendapat kabar.

Di tengah kecepatan informasi dan kecanggihan gawai, sebuah berita duka justru terlambat kami dapatkan. Tapi mungkin lantaran itu pula ia menyusup dan menyelinap diam-diam, dingin, beku, seperti cuaca akhir tahun yang selalu lembab. Sosok yang pergi itu pun seolah basah kuyup di ujung jalan, bukan hanya oleh curah hujan, juga oleh derasnya kenangan, bagai ditumpahkan dari pancuran batu di kaki bukit, di tepi ladang yang jauh.

Laki-laki dengan wajah bulat tembam, badan besar bongsor, kata-kata dan senyumannya selalu menyatu setiap kami berhadap muka dalam percakapan-percakapan panjang. Dari Marga Tabanan, pantai Nyanyi, Kreneng, warung Padang di Ubung, Kantor Bali Post di Jalan Kepundung, sebuah rumah di Jalan Bedahulu XV/28, hingga rumahnya sendiri di bilangan Teuku Umar Denpasar.

Ditemani minuman hangat, nasi beras merah, jukut ares, dan kopi hitam arang, kami rentang percakapan hingga malam tinggal dedak. Di lain waktu, ia ajak kami menggasak kelezatan pepes ikan Kusamba, sambil menatap laut Nusa Penida.

Dalam tubuhnya yang tambun, tersimpan gairah besar yang tak terlerai bahkan oleh embun menjelang dinihari. Bersama kawan-kawannya, ia berhasil menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi tentang Puputan Margarana lalu membuat kegiatan sastra cukup besar di wantilan bersejarah itu. Selanjutnya banyak kegiatan sastra ia adakan bersama komunitasnya di Marga, dengan jaminan keamanan bagi kawan-kawan penyelenggara, maksudnya tentu saja soal dana.

“Tenang saja, dana pasti cair selagi ada dia,” kata seorang panitia acara, menunjuk si laki-laki tambun itu.

Kawan panitia itu benar belaka. Selagi ada sosok kebapakan yang tersenyum sejuk di samping panitia sebuah acara, segalanya akan aman. Si laki-laki tambun bertangan dingin menggaet sponsor, tak hanya berupa uang segar, juga barter hasil bumi!

Menggaet sponsor, itu satu keunggulannya yang sampai sekarang mungkin belum tergantikan. Keunggulan lain menurutku: Ia hapal nama-nama siswa yang menulis puisi di sekolah yang ia ampu, sampai kepada latar belakang keluarga si anak. Puisi-puisi itu ia kumpulkan, ia ketik ulang, dan dikirim kepada Umbu Landu Parangi di Bali Post.

“Puisi yang polos, indah dan murni,” katanya dengan senyum terkulum, tak kalah polos.

Saya mengamsal kemurnian yang ia maksud dari denting botol limun, yang seolah ikut berdenting di antara botol-botol bir. Ya, ayahnya adalah orang terakhir pengusaha minuman limun di Pulau Bali, atau bahkan mungkin di tanah air, sebelum semuanya tutup karena serbuan minuman bersoda keluaran pabrik-pabrik korporasi.

Beberapa kali saya diajaknya singgah ke rumah keluarganya, di pinggiran Kota Tabanan, dan menemukan botol-botol limun dalam karung dan kotak-kotak kayu, memasuki masa senjakala.

Tapi sebagaimana ia percaya pada kemurnian puisi yang ditulis murid-muridnya, seperti itu pula denting-denting botol limun itu berkecambah jadi gairah dalam hidupnya.

Begitulah ia hidup, penuh persahabatan dan kehangatan. Ia rajin menelepon jika lama tak berjumpa. Sekadar kangen atau bertanya apa kabar, di antara kesibukannya mengurus usaha travelnya yang lumayan terus berkembang. Kesibukan dan entah apalagi tampaknya menyita cukup tenaga dan waktunya, sampai akhirnya kami dengar ia jatuh sakit.

Sakit pertama ia masih bisa bangkit, dan kembali bergabung mengurus usahanya. Bahkan sudah bisa kembali aktif masuk karaoke segala. Serangan berikutnya, ia benar-benar hanya bisa di rumah, mengandalkan kursi roda.

Ketika sesekali datang ke Denpasar, saya menyempatkan singgah dan menemukan ia yang tak mengeluh berusaha bertahan. Selebihnya,kami sering bertelepon. Gairahnya tak padam, setidaknya lewat percakapannya di telepon, pagi, siang atau malam.

Terakhir, ia menelepon kangen bakpia pathuk, dan kami mengirimkannya dengan senang hati dari Yogya. Setelah itu lama tak ada kabar, sampai menyelinap kabar yang dingin itu: dia, Pak Doel Sumadi, telah berangkat ke alam abadi!

Meski terlambat—dan terlambat juga saya tuliskan—kabar itu tak basi. Hanya mengendap, tak mau pergi. Dan dengan itu kesedihan menyelinap, seperti botol limun terakhir yang dikarungkan lalu diseret derak truk tengah malam. Membawanya menjauh, tapi tidak, setiap kali terasa sayup, aku kembali membuatnya gemuruh. Seperti ombak Nusa Penida atau gelombang Pantai Nyanyi, menghempas karang-karang rindu, di laut biru.  (T)

Tags: gaya hidupin memoriamminuman zaman dulusastratabanan
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak Jika Ada Jarak – Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co