12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

November dan Botol Limun – Tiba-tiba Teringat Timpal Dole Sumadi

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari sumber Google

 

NOVEMBER, sebagaimana mungkin banyak orang lain, selalu mengingatkan saya pada sebuah lagu GunsN’Roses yang menggeram, dengan dentum drum dan petikan gitar seperti hujan dalam badai. Lagu itu, “November Rain”, menyeret saya pada sosok sahabat waktu di sekolah menengah atas, di kota kabupaten, nun di pesisir barat Sumatera.

Namanya Oesman Gumanti, akrab dipanggil Igan. Ia jago sekali membawakan lagu itu, meski hanya dengan petikan gitar, dan seolah hanya itulah satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan—kami pun merasa, lagu lain yang ia mainkan seolah tak lagi diperlukan.

Biasanya, sehabis menyanyi di kantin (di situ ada gitar tua milik anak penjaga sekolah), Igan akan membuka sebotol limun rasa jeruk, dan meminumnya.

“Metal tak  harus ngebir, limun lebih segar,” kata Igan, bersendawa.

Kami mengiyakan dan mereguk limun dari botol yang sama. Waktu itu, botol-botol limun masih berderet rapi, tertata di meja warung-warung kota kecil kami. Limun produksi lokal yang rasanya nendang, belum tersaingi minuman botol perusahaan raksasa seperti Sosro atau Coca-Cola.

Jangan pula sebut bir, minuman bersoda pun sangat jarang. Alhasil memang hanya limun yang bisa dipilih dari minuman botol. Tak tahu, apakah jika ada jenis minuman botol lain, Igan tetap bersetia dengan botol limun. Sebab, kami tahu di beberapa warung tersedia juga “vigur”—jenis minuman lokal berakhohol—dan beberapa kali terjadi peristiwa menggemparkan di kota kecil kami: minuman keras hilang dari gudang penyimpanan barang bukti Kejati!

Ah, itu masa lalu. Tapi sebuah momentum bisa membawa kita ke suatu tempat, ruang, waktu, peristiwa, kenangan, nama-nama, atau apa pun sebutannya.

Setelah “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono “abadi” jadi penanda pertengahan tahun sekaligus musim kemarau (meski sekarang Juni kerap dikunjungi penghujan), saya kira “November Rain” sahih jadi penanda musim basah (meski kini langit lebih sering bunting berlama-lama); dan bagi saya sekaligus jadi penanda ingatan pada Igan beserta semua kawan yang sudah berpencar.

Bertahun-tahun seperti itu, sampai pada dua atau tiga tahun terakhir, peta ingatan itu berubah. November bukan hanya mengingatkan saya pada sosok Igan, laki-laki jangkung berambut jagung, tapi juga kepada nama dan sosok lain, laki-laki tambun dengan kumis yang rimbun.

Berawal dari cara yang ganjil, kesedihan menyelinap, diam-diam, ketika pertengahan November yang lembab, dua tahun lalu, saya terima kabar dari penyair Nuryana Asmaudi tentang perginya seorang sahabat kami ke alam keabadian. Kabar yang terlambat. Saya juga baru tahu. Semua kita tahu terlambat, tulis balasan di layar handphone waktu saya menggugat kenapa baru mendapat kabar.

Di tengah kecepatan informasi dan kecanggihan gawai, sebuah berita duka justru terlambat kami dapatkan. Tapi mungkin lantaran itu pula ia menyusup dan menyelinap diam-diam, dingin, beku, seperti cuaca akhir tahun yang selalu lembab. Sosok yang pergi itu pun seolah basah kuyup di ujung jalan, bukan hanya oleh curah hujan, juga oleh derasnya kenangan, bagai ditumpahkan dari pancuran batu di kaki bukit, di tepi ladang yang jauh.

Laki-laki dengan wajah bulat tembam, badan besar bongsor, kata-kata dan senyumannya selalu menyatu setiap kami berhadap muka dalam percakapan-percakapan panjang. Dari Marga Tabanan, pantai Nyanyi, Kreneng, warung Padang di Ubung, Kantor Bali Post di Jalan Kepundung, sebuah rumah di Jalan Bedahulu XV/28, hingga rumahnya sendiri di bilangan Teuku Umar Denpasar.

Ditemani minuman hangat, nasi beras merah, jukut ares, dan kopi hitam arang, kami rentang percakapan hingga malam tinggal dedak. Di lain waktu, ia ajak kami menggasak kelezatan pepes ikan Kusamba, sambil menatap laut Nusa Penida.

Dalam tubuhnya yang tambun, tersimpan gairah besar yang tak terlerai bahkan oleh embun menjelang dinihari. Bersama kawan-kawannya, ia berhasil menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi tentang Puputan Margarana lalu membuat kegiatan sastra cukup besar di wantilan bersejarah itu. Selanjutnya banyak kegiatan sastra ia adakan bersama komunitasnya di Marga, dengan jaminan keamanan bagi kawan-kawan penyelenggara, maksudnya tentu saja soal dana.

“Tenang saja, dana pasti cair selagi ada dia,” kata seorang panitia acara, menunjuk si laki-laki tambun itu.

Kawan panitia itu benar belaka. Selagi ada sosok kebapakan yang tersenyum sejuk di samping panitia sebuah acara, segalanya akan aman. Si laki-laki tambun bertangan dingin menggaet sponsor, tak hanya berupa uang segar, juga barter hasil bumi!

Menggaet sponsor, itu satu keunggulannya yang sampai sekarang mungkin belum tergantikan. Keunggulan lain menurutku: Ia hapal nama-nama siswa yang menulis puisi di sekolah yang ia ampu, sampai kepada latar belakang keluarga si anak. Puisi-puisi itu ia kumpulkan, ia ketik ulang, dan dikirim kepada Umbu Landu Parangi di Bali Post.

“Puisi yang polos, indah dan murni,” katanya dengan senyum terkulum, tak kalah polos.

Saya mengamsal kemurnian yang ia maksud dari denting botol limun, yang seolah ikut berdenting di antara botol-botol bir. Ya, ayahnya adalah orang terakhir pengusaha minuman limun di Pulau Bali, atau bahkan mungkin di tanah air, sebelum semuanya tutup karena serbuan minuman bersoda keluaran pabrik-pabrik korporasi.

Beberapa kali saya diajaknya singgah ke rumah keluarganya, di pinggiran Kota Tabanan, dan menemukan botol-botol limun dalam karung dan kotak-kotak kayu, memasuki masa senjakala.

Tapi sebagaimana ia percaya pada kemurnian puisi yang ditulis murid-muridnya, seperti itu pula denting-denting botol limun itu berkecambah jadi gairah dalam hidupnya.

Begitulah ia hidup, penuh persahabatan dan kehangatan. Ia rajin menelepon jika lama tak berjumpa. Sekadar kangen atau bertanya apa kabar, di antara kesibukannya mengurus usaha travelnya yang lumayan terus berkembang. Kesibukan dan entah apalagi tampaknya menyita cukup tenaga dan waktunya, sampai akhirnya kami dengar ia jatuh sakit.

Sakit pertama ia masih bisa bangkit, dan kembali bergabung mengurus usahanya. Bahkan sudah bisa kembali aktif masuk karaoke segala. Serangan berikutnya, ia benar-benar hanya bisa di rumah, mengandalkan kursi roda.

Ketika sesekali datang ke Denpasar, saya menyempatkan singgah dan menemukan ia yang tak mengeluh berusaha bertahan. Selebihnya,kami sering bertelepon. Gairahnya tak padam, setidaknya lewat percakapannya di telepon, pagi, siang atau malam.

Terakhir, ia menelepon kangen bakpia pathuk, dan kami mengirimkannya dengan senang hati dari Yogya. Setelah itu lama tak ada kabar, sampai menyelinap kabar yang dingin itu: dia, Pak Doel Sumadi, telah berangkat ke alam abadi!

Meski terlambat—dan terlambat juga saya tuliskan—kabar itu tak basi. Hanya mengendap, tak mau pergi. Dan dengan itu kesedihan menyelinap, seperti botol limun terakhir yang dikarungkan lalu diseret derak truk tengah malam. Membawanya menjauh, tapi tidak, setiap kali terasa sayup, aku kembali membuatnya gemuruh. Seperti ombak Nusa Penida atau gelombang Pantai Nyanyi, menghempas karang-karang rindu, di laut biru.  (T)

Tags: gaya hidupin memoriamminuman zaman dulusastratabanan
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak Jika Ada Jarak – Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co