2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

November dan Botol Limun – Tiba-tiba Teringat Timpal Dole Sumadi

Raudal Tanjung Banua by Raudal Tanjung Banua
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi diolah dari sumber Google

 

NOVEMBER, sebagaimana mungkin banyak orang lain, selalu mengingatkan saya pada sebuah lagu GunsN’Roses yang menggeram, dengan dentum drum dan petikan gitar seperti hujan dalam badai. Lagu itu, “November Rain”, menyeret saya pada sosok sahabat waktu di sekolah menengah atas, di kota kabupaten, nun di pesisir barat Sumatera.

Namanya Oesman Gumanti, akrab dipanggil Igan. Ia jago sekali membawakan lagu itu, meski hanya dengan petikan gitar, dan seolah hanya itulah satu-satunya lagu yang bisa ia mainkan—kami pun merasa, lagu lain yang ia mainkan seolah tak lagi diperlukan.

Biasanya, sehabis menyanyi di kantin (di situ ada gitar tua milik anak penjaga sekolah), Igan akan membuka sebotol limun rasa jeruk, dan meminumnya.

“Metal tak  harus ngebir, limun lebih segar,” kata Igan, bersendawa.

Kami mengiyakan dan mereguk limun dari botol yang sama. Waktu itu, botol-botol limun masih berderet rapi, tertata di meja warung-warung kota kecil kami. Limun produksi lokal yang rasanya nendang, belum tersaingi minuman botol perusahaan raksasa seperti Sosro atau Coca-Cola.

Jangan pula sebut bir, minuman bersoda pun sangat jarang. Alhasil memang hanya limun yang bisa dipilih dari minuman botol. Tak tahu, apakah jika ada jenis minuman botol lain, Igan tetap bersetia dengan botol limun. Sebab, kami tahu di beberapa warung tersedia juga “vigur”—jenis minuman lokal berakhohol—dan beberapa kali terjadi peristiwa menggemparkan di kota kecil kami: minuman keras hilang dari gudang penyimpanan barang bukti Kejati!

Ah, itu masa lalu. Tapi sebuah momentum bisa membawa kita ke suatu tempat, ruang, waktu, peristiwa, kenangan, nama-nama, atau apa pun sebutannya.

Setelah “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono “abadi” jadi penanda pertengahan tahun sekaligus musim kemarau (meski sekarang Juni kerap dikunjungi penghujan), saya kira “November Rain” sahih jadi penanda musim basah (meski kini langit lebih sering bunting berlama-lama); dan bagi saya sekaligus jadi penanda ingatan pada Igan beserta semua kawan yang sudah berpencar.

Bertahun-tahun seperti itu, sampai pada dua atau tiga tahun terakhir, peta ingatan itu berubah. November bukan hanya mengingatkan saya pada sosok Igan, laki-laki jangkung berambut jagung, tapi juga kepada nama dan sosok lain, laki-laki tambun dengan kumis yang rimbun.

Berawal dari cara yang ganjil, kesedihan menyelinap, diam-diam, ketika pertengahan November yang lembab, dua tahun lalu, saya terima kabar dari penyair Nuryana Asmaudi tentang perginya seorang sahabat kami ke alam keabadian. Kabar yang terlambat. Saya juga baru tahu. Semua kita tahu terlambat, tulis balasan di layar handphone waktu saya menggugat kenapa baru mendapat kabar.

Di tengah kecepatan informasi dan kecanggihan gawai, sebuah berita duka justru terlambat kami dapatkan. Tapi mungkin lantaran itu pula ia menyusup dan menyelinap diam-diam, dingin, beku, seperti cuaca akhir tahun yang selalu lembab. Sosok yang pergi itu pun seolah basah kuyup di ujung jalan, bukan hanya oleh curah hujan, juga oleh derasnya kenangan, bagai ditumpahkan dari pancuran batu di kaki bukit, di tepi ladang yang jauh.

Laki-laki dengan wajah bulat tembam, badan besar bongsor, kata-kata dan senyumannya selalu menyatu setiap kami berhadap muka dalam percakapan-percakapan panjang. Dari Marga Tabanan, pantai Nyanyi, Kreneng, warung Padang di Ubung, Kantor Bali Post di Jalan Kepundung, sebuah rumah di Jalan Bedahulu XV/28, hingga rumahnya sendiri di bilangan Teuku Umar Denpasar.

Ditemani minuman hangat, nasi beras merah, jukut ares, dan kopi hitam arang, kami rentang percakapan hingga malam tinggal dedak. Di lain waktu, ia ajak kami menggasak kelezatan pepes ikan Kusamba, sambil menatap laut Nusa Penida.

Dalam tubuhnya yang tambun, tersimpan gairah besar yang tak terlerai bahkan oleh embun menjelang dinihari. Bersama kawan-kawannya, ia berhasil menyelenggarakan Lomba Cipta Puisi tentang Puputan Margarana lalu membuat kegiatan sastra cukup besar di wantilan bersejarah itu. Selanjutnya banyak kegiatan sastra ia adakan bersama komunitasnya di Marga, dengan jaminan keamanan bagi kawan-kawan penyelenggara, maksudnya tentu saja soal dana.

“Tenang saja, dana pasti cair selagi ada dia,” kata seorang panitia acara, menunjuk si laki-laki tambun itu.

Kawan panitia itu benar belaka. Selagi ada sosok kebapakan yang tersenyum sejuk di samping panitia sebuah acara, segalanya akan aman. Si laki-laki tambun bertangan dingin menggaet sponsor, tak hanya berupa uang segar, juga barter hasil bumi!

Menggaet sponsor, itu satu keunggulannya yang sampai sekarang mungkin belum tergantikan. Keunggulan lain menurutku: Ia hapal nama-nama siswa yang menulis puisi di sekolah yang ia ampu, sampai kepada latar belakang keluarga si anak. Puisi-puisi itu ia kumpulkan, ia ketik ulang, dan dikirim kepada Umbu Landu Parangi di Bali Post.

“Puisi yang polos, indah dan murni,” katanya dengan senyum terkulum, tak kalah polos.

Saya mengamsal kemurnian yang ia maksud dari denting botol limun, yang seolah ikut berdenting di antara botol-botol bir. Ya, ayahnya adalah orang terakhir pengusaha minuman limun di Pulau Bali, atau bahkan mungkin di tanah air, sebelum semuanya tutup karena serbuan minuman bersoda keluaran pabrik-pabrik korporasi.

Beberapa kali saya diajaknya singgah ke rumah keluarganya, di pinggiran Kota Tabanan, dan menemukan botol-botol limun dalam karung dan kotak-kotak kayu, memasuki masa senjakala.

Tapi sebagaimana ia percaya pada kemurnian puisi yang ditulis murid-muridnya, seperti itu pula denting-denting botol limun itu berkecambah jadi gairah dalam hidupnya.

Begitulah ia hidup, penuh persahabatan dan kehangatan. Ia rajin menelepon jika lama tak berjumpa. Sekadar kangen atau bertanya apa kabar, di antara kesibukannya mengurus usaha travelnya yang lumayan terus berkembang. Kesibukan dan entah apalagi tampaknya menyita cukup tenaga dan waktunya, sampai akhirnya kami dengar ia jatuh sakit.

Sakit pertama ia masih bisa bangkit, dan kembali bergabung mengurus usahanya. Bahkan sudah bisa kembali aktif masuk karaoke segala. Serangan berikutnya, ia benar-benar hanya bisa di rumah, mengandalkan kursi roda.

Ketika sesekali datang ke Denpasar, saya menyempatkan singgah dan menemukan ia yang tak mengeluh berusaha bertahan. Selebihnya,kami sering bertelepon. Gairahnya tak padam, setidaknya lewat percakapannya di telepon, pagi, siang atau malam.

Terakhir, ia menelepon kangen bakpia pathuk, dan kami mengirimkannya dengan senang hati dari Yogya. Setelah itu lama tak ada kabar, sampai menyelinap kabar yang dingin itu: dia, Pak Doel Sumadi, telah berangkat ke alam abadi!

Meski terlambat—dan terlambat juga saya tuliskan—kabar itu tak basi. Hanya mengendap, tak mau pergi. Dan dengan itu kesedihan menyelinap, seperti botol limun terakhir yang dikarungkan lalu diseret derak truk tengah malam. Membawanya menjauh, tapi tidak, setiap kali terasa sayup, aku kembali membuatnya gemuruh. Seperti ombak Nusa Penida atau gelombang Pantai Nyanyi, menghempas karang-karang rindu, di laut biru.  (T)

Tags: gaya hidupin memoriamminuman zaman dulusastratabanan
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Bergerak Jika Ada Jarak – Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Lahir di Sumatera Barat, pernah merantau ke Bali dan kini tinggal di Yogyakarta. Menulis cerpen dan puisi sembari mengelola Komunitas Rumah Lebah, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Memburu Ciprat Air di Air Terjun Sekumpul: Padunya Keindahan dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co