24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Silakarang: Cerita tentang Peradaban Seni Ukir dan Padas Palimanan

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
February 2, 2018
in Esai

Ukiran patung di Pura Tirta, Silakarang, dibuat sekitar tahun 1800-an. /Foto: Purwita Sukahet

 

… Agung Kerung (keturunan Mengwi) bersekutu dengan Cokorda Sukawati dari Ubud dan secara terang-terangan melawan Dewa Agung Klungkung. Koalisi baru itu memutuskan untuk mengadakan serangan bersama terhadap pengikut Dewa Agung yang masih menguasai wilayah selatan Gianyar. Pada bulan Juli 1890 dan Januari 1891 para musuh memberi perlawanan di dekat Desa Negari di Gianyar. Tetapi, sekutu Klungkung tetap kokoh.

Pada bulan Mei 1891 serangan baru terhadap Negara (Gianyar) dilakukan, dan kali ini pasukan Ubud dan Mengwi menang, Puri Negara (Negari) dibakar habis dan perlawanan Klungkung terlihat pecah.[I]

Hubungan antara perang dan bercokolnya koloni baru di bekas wilayah perang sudah lumrah dalam catatan lontar babad, ini juga menandakan dibangunnya peradaban baru. Silakarang pada abad itu menjadi saksi pertempuran hebat antara Negara-Negari vs Ubud yang disokong oleh Gianyar dan Mengwi di masa keruntuhannya.

Setelah kepunggawaan Negara (Batuan, Gianyar) yang memihak Klungkung dibumi-hanguskan oleh Ubud dan sekutunya menandakan politik kerajaan di Bali masih memanas. Perseteruan antar keluarga bangsawan itu akibat dari ketegangan politik kerajaan yang mewarnai panggung sejarah kelam Bali. Setelah hilangnya pengaruh kerajaan Klungkung di wilayah Gianyar itu, perlahaan mulai dibangun lagi desa-desa kecil dengan menempatkan para punggawa dan pemekel, yang pro terhadap mereka yang menang dari perang brutal.

***

Mari sruput dulu kopi di gelas yang aromanya menggoda otak, rokok pun jangan lupa dihidupkan (bagi yang ngerokok lho ya), agar ketegangan ini menjadi damai akibat bayangan perang brutal para penguasa yang urung saling rangkul, dan yang terpenting adalah mengingatkan bahwa tulisan ini bukanlah perihal yang menang atau kalah dalam perang fisik tersebut, akan tetapi tentang Silakarang, peradaban seni ukirnya yang tersohor.

1832, tonggak pertama menurut sahabat saya, Anak Agung Gede Dharmayuda, sewaktu diskusi kecil di rumahnya menyatakan bahwa ketika kompyang-nya menjadi pemangku di Pura Beji diundanglah para pengukir dari Desa Guwang, Sukawati, untuk membuat Pura Puseh di Silakarang.

Ketika proses pembuatan berlangsung para pemuda di Silakarang kala itu berniat untuk membantu sangging dari Guwang untuk pembangunan pura, kemudian para pemuda ini diajarkan seni pahat batu padas oleh sangging Guwang. Sungguh takjub, konon para pemuda Silakarang ini bersungguh-sungguh belajar mengukir dan sangat cepat menyerap ilmu ukir para sangging. Selain itu, limpahan material padas yang luar biasa berkualitas di aliran sungai sekitar Desa Silakarang yang juga menyokong peradabannya.

Dari titik itu disebut sebagai awal mula tradisi seni ukir batu padas berkembang, Silakarang kemudian menjelma sebagai desa yang melahirkan generasi seniman ukir handal. Hingga pertengahan abad ke-20, dikenal generasi yang saya catat sebagai generasi 60-an. Ciri ukirannya dapat dilihat dari patra punggel yang khas disebut tebek wayah dan jika dalam membuat patung, anatominya ngigel pun terkesan dinamis, hingga kurun waktu 1960 sampai 1980-an, mereka menemukan jenis ukiran yang disebut nampak sidha.

Generasi berikutnya adalah generasi pemuda tahun 1980 sampai 1990-an, sampai di sini kemudian ada stagnansi perkembangan seni ukir Silakarang yang dapat dilihat dari jenis ukirannya yang langah pun tidak serumit generasi 60an namun tebek ukirannya dalem.

Salah satu karya generasi emas silakarang (generasi 60-80an) Naga di depan gedong Pura Prerepan Silakarang, genre ukiran nampak sidha pada ornamen hiasan naga.

Ada yang menarik dalam rentang waktu kurang lebih satu setengah abad dari 1832 hingga 1980 yaitu dikedepankannya proses pembelajaran yang serius dalam mengukir. Di Silakarang nampaknya menerapkan dua metode penurunan bakat ataupun proses belajar yaitu proses keturunan yang merupakan cara belajar yang diturunkan langsung oleh orang tua selaku guru ke anak-anaknya dan proses cantrik yaitu seorang guru yang menerima murid di luar anggota keluarga langsung. Kedua proses ini sama-sama menerapkan satu rangkaian panjang tahapan belajar mengukir batu padas.

Saat pertama memegang pahat, maka yang harus dikerjakan adalah belajar membuat ornamen kakul-kakulan, ornamen yang paling sederhana dari ornamen manapun, akan tetapi menjadi sangat penting karena untuk membuat bentuk kakul-kakulan yang bagus harus paham tentang proporsi tinggi-rendahnya bidang, bagian mana yang dibuat util bagian mana yang dipahat lebih rendah daripada util.[ii]

Setelah berhasil membuat util kemudian proses belajar dilanjutkan pada belajar membuat kuping guling, kemudian berkembang membuat janggar siap, setelah itu belajar membuat batun poh, perkembangan kemudian belajar membuat punggel pusuh, setelah mumpuni membuat punggel pusuh barulah membuat punggel kembang yang umum disebut patra punggel. Selesai proses panjang belajar ini barulah sang murid diperbolehkan untuk ikut dalam pengerjaan sebuah patung.

Pembuatan patung di Silakarang juga memiliki ­sor-singgih, hal tersebut dikarenakan ada bagian-bagian yang tidak boleh dikerjakan oleh para murid atau mereka yang baru belajar. Biasanya bagi mereka yang baru menginjak proses pengerjaan patung akan dihadapkan pada situasi yang membosankan namun meditatif seperti menghaluskan badan patung, membuat hiasan ornamen pada patung, sampai bagian tersulit adalah nyepuk bok, membuat irama garis-garis pada rambut yang ukuran dan jaraknya harus sama. Terlebih jika sang guru membuat patung wenara (bangsa monyet dalam epos Ramayana seperti Hanuman, Sugriwa, Subali, Anila, Anggada, Sempati, Jembawan, dll), bisa-bisa para murid hampir mati frustrasi karena diseluruh tubuh patung ditumbuhi bulu.

Ukiran di Pura Tirta Silakarang, 1948

Pembagian proses kerja dalam membuat satu patung kala itu dimulai dari macal/macalin yaitu membuat formula bentuk global dari sebuah karakter patung dengan teknik mengurangi material batu padas dengan alat patuk, kemudian nganasin adalah tahap pembentukan sederhana daripada bagian-bagian tertentu seperti pada wajah, posisi tangan, gerak kaki, atribut karakter ditentutkan dan dibentuk, dua tahap pertama ini sangat penting untuk mendapatkan pangus bentuk patung dan hanya boleh dilakukan oleh master atau guru.

Proses selanjutnya adalah mayasin, ngalusin, tahap ini para murid yang sudah dianggap lulus tahap belajar ornamen pepatran baru boleh ikut. Tahap selanjutnya adalah ngupak yaitu mulai menggarap jari-jari tangan kaki dari patung dan tahap terakhir barulah para master atau guru tersebut turun tangan untuk proses ngemuanin yaitu membuat karakter wajah.[iii]

***

Proses pembelajaran, oleh karena itu menjadi penting dalam mendidik dan mencetak seniman handal pengukir di Silakarang. Namun Celakanya, ketika tambang-tambang batu padas di Bali kian sulit sehingga menyebabkan kelangkaan material, juga faktor ekonomi yang mendesak, terlebih ekspansi material baru berupa batu padas palimanan dari Yogyakarta, proses tersebut perlahan hilang, tercatat tahun 1996 batu padas palimanan Yogya hijrah ke Silakarang dan perlahan proses pembelajaran tersebut terkikis.

Tidak ada lagi sor-singgih dalam pembuatan patung, tidak ada lagi material yang dibuang akibat kesalahan ukir oleh murid-murid, tidak ada lagi pekikan sang guru bertangan besi ketika membuat patung. Hanya cerita yang ditinggalkan. Mungkin saja, nyawa patung yang kini sakral hadir dari proses panjang pembelajaran tersebut karena akumulasi energi emosional manusia yang membuatnya tercerap kedalam pori-pori batu padas, karena cerita di Silakarang, dahulu seniman membuat patung sedari baru bangun pagi sudah diniatkan, mereka membersihkan badan terlebih dahulu hingga menyebut matra-matra tertentu ketika pertama kali memegang pahat sebelum dihujamkan ke permukaan padas.

Bagaimanapun juga, Silakarang tetaplah tercatat sebagai sebuah desa dengan peradaban seni ukir yang tersohor, bahkan materialnya pun terkenal dan masuk ke dalam konstelasi batu padas awet. Paling tidak, tradisi mematung itu kini masih hidup walaupun dengan material yang berbeda dan tahapan proses yang dikebiri, yang terpenting dicatat adalah beberapa pemahat masih melakukannya dengan cara manual walau dengan proses yang tidak serumit dan perfeksionis dahulu ketimbang memproduksi patung dengan cara mencetak cor yang wujud rupanya seolah beku tanpa ekspresi. (T)

 

[i] Nordholt, Henk Schulte. The Spell of Power: Sejarah Politik Bali 1650-1940. Denpasar: Pustaka Larasan. 2009. Hlm, 242-243.

[ii] Dalam project Nglesir Visual (dokumentasi ornamen, patung, arsitektur) saya berkesimpulan bahwa untuk menilai kemampuan tukang ukir dan kualitas ukiran sebaiknya lihat pada util ukirannya.

[iii] Proses ini lebih lengkapnya masih berupa laporan penelitian dan sengaja tidak dijelaskan secara rinci karena akan dirancang sebagai sebuah buku Kosa Rupa Bali yang diinisiasi oleh Hardiman yaitu kurator seni rupa dan Dosen di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja bersama saya sendiri dan sahabat saya kurator muda I Made Susanta Dwitanaya.

 

 

 

Tags: GianyarSeni RupaSeni UkirSilakarang
Share445TweetSendShareSend
Previous Post

Repertoar Wayan Gde Yudane: Perjumpaan Penyair Kata dan Penyair Suara

Next Post

Liburan Hari Raya Galungan: Cahaya Pantai Pandawa, Dari Kutuh untuk Dunia

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post

Liburan Hari Raya Galungan: Cahaya Pantai Pandawa, Dari Kutuh untuk Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co