12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Waspada, Terjadi Euforia Lontar di Bali – “Tukang Gebeg Lontar” Terus Beraksi…

I Gede Gita Purnama A.P by I Gede Gita Purnama A.P
February 2, 2018
in Esai

"Tukang Gebeg Lontar" beraksi di Puri Kauhan Ubud Gianyar

“Awas, waspada, hati-hati, tukang gebeg lontar sedang beraksi di Bali. Jika tak ingin banyak tahu, cepat sembunyikan lontar Anda. Jika tak ingin sadar akan pentingnya warisan kekayaan intelektualitas manusia Bali tempo doeloe, jangan tunjukkan lontar warisan panglingsir yang selama ini tersimpan dengan tenget tak pernah dibaca. Biarkan lontar itu dimakan ngengat, dimakan rayap, dimakan kecoa, sampai ludes dan Anda tak pernah tahu apa isinya sama sekali!”

He he, jangan dipercaya pesan pembuka tulisan ini. Bacalah tulisan yang agak serius di bawah ini:

***

LONTAR di Bali adalah wadah kedalaman intelektualitas manusia Bali.  Dengan media lontar-lah manusia-manusia Bali tempo doeloe menuliskan buah pikirannya, hasil eksperimen, dan simpulan atas fenomena alam, sekala maupun niskala. Maka, kesimpulan sederhananya, lontar yang diwarisi Bali adalah gudang kekayaan intelektualitas.

Percaya? Tentu Anda mesti percaya. Sejarah pun mencatat, peradaban menulis di atas daun lontar (don ental) adalah peradaban kemajuan teknologi keberaksaraan manusia di Bali yang diwariskan dari peradaban di tanah Jawa. Peradaban ini akhirnya dipandang sebagai peradaban yang sukses menyelamatkan harta karun kesusastraan Jawa Kuno pasca runtuhnya kejayaan Majapahit.

Mau bukti? Sudah banyak peneliti menegaskan dengan karya ilmiah bahwa kesusastraan dan berbagai karya ilmiah dalam lontar manusia Bali adalah adaptasi dari karya-karya ilmiah peradaban (keemasan) Jawa. Bahkan saking suksesnya, berbagai genre naskah lontar di Bali kemudian bermunculan, yang tidak hanya hasil adaptasi, namun hasil reinterpretasi, hasil dekonstruksi, hasil ulang alik naskah-naskah lontar Jawa.

Lebih hebat lagi, Bali bahkan menciptakan karya-karya sastra fenomenal yang lepas dari patron Jawa Kuno. Bali sukses mengembangkan pengalaman lahiriah dan batiniahnya lalu didokumentasikan dalam lontar. Guna sekali lagi mempertegas kehebatan ini, Van Eck, seorang penjelajah kesusatraan Jawa Kuno, membuat klasifikasi kepustakaan Bali dengan menyebut bahwa tulisan-tulisan orang Bali sangat komprehensif, sehingga pengklasifikasiannya begitu kompleks. Hebat.

Berdasarkan gambaran itu, tidaklah mengherankan jika masyarakat Bali saat ini mewarisi begitu banyak naskah lontar. Mayarakat Bali banyak yang mewarisi naskah lontar hasil karya kakek-nenek, kumpi, kelab, kléwaran, panglingsir mereka. Sayangnya, generasi pewaris naskah lontar ini cenderung tidak mengetahui dan atau tidak menyadari bahwa mereka mewarisi kekayaan intelektual yang begitu berharga.

Ketidaksadaran ini terjadi akibat beberapa faktor, di antaranya adalah faktor aja wéra. Faktor yang satu ini adalah faktor yang paling dekat dan paling banyak berpengaruh di kalangan generasi pewaris lontar. Aja wéra ini merupakan suatu bentuk ungkapan untuk tidak sembarangan dan serampangan mengambil lontar, apalagi membacanya.

Kesadaran atas ungkapan itu bertujuan positif, tapi kemudian diterjemahkan meleset dari makna sesungguhnya. Aja Wéra sejatinya adalah kesadaran untuk membaca lontar dalam situasi yang “sadar”.  Artinya sang calon pembaca lontar memang secara sadar harus siap lahir bathin untuk membaca dan meresapi isi dari lontar. Kemudian, untuk jenis lontar tertentu (kadiatmikan, kalepasan, wariga, modré, dll), membutuhkan guru yang secara khusus mendampingi ketika pembacaan (baca:pembelajaran). Sebab kandungan dalam lontar tersebut tidak saja sulit dipahami tetapi membutuhkan pendekatan khusus. Pada posisi inilah lontar membutuhkan sistem guru-sisya, kepatuhan dan kepatutan. Bukan berarti tidak boleh memegang lontar atau membaca lontar, bukan sama sekali. Ini tegas.

Akhirnya akibat salah persepsi, munculah cerita mistis di balik lontar yang sama sekali tidak berkaitan dengan lontar. Meskipun beberapa lontar tertentu memang diyakini dan memang merupakan dokumentasi dunia mistisitas serta relevansinya dengan kesadaran spiritual manusia Bali. Akibat kesalahpersepsian tersebut, pewaris lontar akhirnya tak berani menyentuh apalagi mencoba menyelami lontar yang mereka miliki. Keadaan ini bertahan dan berlangsung sedemikian lama, diwariskan dari generasi ke generasi, yang menjadikan lontar warisan mereka tak terurus dengan baik. Banyak lontar yang rusak, termakan usia, termakan ngengat, termakan rayap, termakan ketidaksadaran sang pewaris.

Faktor lain yang turut menunjang terpinggirkannya lontar adalah hadirnya jarak antara lontar dan pemiliknya. Jarak yang dimaksud adalah jarak antara naskah lontar beraksara Bali dan berbahasa Jawa Kuno/Bali dengan generasi penerusnya yang alpa belajar aksara Bali apalagi bahasa Jawa Kuno/Bali. Mereka mewarisi fisik lontar, sayang tak mampu menjamah isinya. Kemudian pada beberapa pewaris muncul niat menjamah, namun untuk mengejar keterjarakan aksara dan bahasa terlampau jauh bagi mereka. Akhirnya berhenti, urungkan niat lebih jauh menjamah, sebab takut pula tersesat.

Hadirlah “Tukang Gebeg Lontar”

Dua faktor di atas saja rasanya sudah sangat cukup menggambarkan bagaimana kondisi lontar di Bali. Tapi untuk lebih mendramatisir keadaan, saya tambahkan ungkapan pedas dari Prof. Dr. Dr (HC). Andries “Hans” Teeuw: “Candi di Prambanan telah dipugar, Candi Borobudur sedang dipugar, tetapi candi-candi pustaka Jawa Kuno (baca: Bali) terbengkalai, dilalaikan, dibiarkan bobrok oleh generasi yang seharusnya mencintainya, menyelamatkannya, membanggakannya/” (1978). Cukup pedas bukan?

Atas dua faktos plus satu sindiran A. Teeuw, rasanya sudah cukup alasan untuk para pewaris kebudayaan Bali beranjak dan sadar, bahkan kita adalah pewaris yang sah. Sehingga layak untuk kita preténin warisan candi kebudayaan tersebut. Jika di antara pembaca yang budiman ada yang memiliki warisan candi budaya berupa lontar dan merasa seperti dua faktor yang tersebut di atas, maka solusinya ada di dekat Anda: PENYULUH BAHASA BALI.

Itu adalah solusi yang cepat, hemat, terlebih lagi tepat. Cepat karena mereka hadir menyapa Anda jika berkenan bertandang ke kantor kepala desa atau lurah di tempat Anda berdomisili. Hemat, karena mereka adalah tenaga kontrak yang disiapkan (digaji) oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk menjadi garda terdepan menjaga, melestarikan dan menginovasikan Bahasa Bali.

Tepat, karena mereka semua adalah tenaga ahli yang dilahirkan dari dunia akademis jurusan Bahasa dan Sastra Bali/Jawa Kuno di beberapa perguruan tinggi di Bali. Sehingga atas dasar itu, penyuluh Bahasa Bali memiliki kompetensi untuk membantu masyarakat mengelola lontar miliknya.

Secara struktural, penyuluh Bahasa Bali memiliki beberapa divisi, di antaranya adalah Divisi Khusus Konservasi Lontar. Jika sulit dipahami istilah itu, sederhananya mereka adalah baga Pergebegan Lontar. Lebih sederhana lagi, mereka itu Tukang Gebeg Lontar atau “tukang rampas  lontar”. Eit, jangan salah. Rampas di sini artinya diambil untuk dibaca dan dikonservasi, dan tentu saja bukan untuk diambil dan dimiliki.

Lihat saja. Mereka siap ngayah bersama Anda (masyarakat) pemilik lontar yang mengalami kesulitan dalam mengelola kekayaan intelektual warisan panglingsir Anda. Kerja mereka sangat militan, cukup teliti, cukup terampil dan tidak menerima upah aliasbayaran, cukup siapkan secangkir kopi atau teh beserta penganannya. Jikalaupun tidak kopi atau teh, atau bahkan air putih, ya tidak masalah juga. Mereka tetap bersedia membantu, tapi itu namanya bes nyajaang sajan. 😀

Sejauh ini, Penyuluh Bahasa Bali telah mendata berbagai jenis lontar di seluruh pelosok Bali. Hasilnya adalah ribuan (lebih dari 8000) yang telah terdata, datanya ada nyata dan bisa kontak penyuluh untuk minta datanya. Beberapa pemilik lontar yang tertutup awalnya, setelah pendekatan yang persuasif dan intensif, perlahan mulai menyadari arti penting penyelamatan (konservasi) sebuah warisan candi budaya.

Sedikit menyombongkan sahabat Penyuluh Bahasa Bali, mereka telah mampu dengan sukses menyadarkan banyak sekali para pewaris candi kebudayaan (lontar) untuk merawat dengan baik warisannya. Euforia lontar di tengah masyarakat Bali kini begitu terasa (jika Anda merasakannya), menggebunya gerakan kemBali pada kecintaan pustaka lontar tengah di hembuskan pada ruang-ruang pemilik cakepan intelektualitas ini.

Sekadar info, penyuluh Bahasa Bali telah membantu mengelola (konservasi) lontar di Gria, Puri, Pondok, Pakubon, Rumah Elite, rumah sederhana, rumah agak sederhana hingga rumah sangat sederhana sekali.

Sugi Lanus dari Hanacaraka Society (paling kanan) saat konservasi lontar di Puri Kauhan Ubud

Klien mereka adalah orang Bali yang (kembali) sadar, dan yang sangat sadar mulai dari Sulinggih, Pemangku, Panglingsir Puri, Pan Kacong, Bapa Redig, Madé Stephen, Kelihan Banjar, Kelihan Subak, Bendesa, Tentara, Dokter, Perawat, bahkan terakhir adalah staf khusus Presiden Jokowi (barangkali menterinya sedang menunggu waktu saja).

Barangkali sebagai penutup, saya ucapkan terimakasih bagi sahabat Penyuluh Bahasa Bali yang telah serius bekerja membantu menjaga kekayaan intelektual panglingsir kita sekalian. Saya angkat topi dan secangkir kopi untuk sekalian Anda. Ayo, siuuuuup…! (T)

Tags: Bahasa Balilontar
Share993TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan ke Gunung Salak, Selemadeg Timur: Menyelami Ombak Padi, Memandang Ombak Laut Selatan

Next Post

Tak Ada Mitos dan Kutukan di Cardiff – Catatan Waras dari Fans Sejati Juve

I Gede Gita Purnama A.P

I Gede Gita Purnama A.P

Terkenal dengan panggilan Bayu. Hobi membaca dan minum kopi. Sehari-hari mondar-mandir di Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post

Tak Ada Mitos dan Kutukan di Cardiff – Catatan Waras dari Fans Sejati Juve

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co