2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Kanak-Kanak – Bukan Lelucon I Belog yang Bodoh

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

SUATU sore, di taman, ada seorang anak sedang asyik bermain. Ia berlarian di padang rumput, menikmati warna-warni bunga. Namun, ia terhenti ketika melihat kumbang. Ia mengamati binatang itu. Ia sibuk tenggelam memperhatikan tubuh kumbang itu, menghitung jumlah kakinya, memperhatikan pergerakan antenanya, memperhatikan matanya, dan membiarkannya bergerak di tangan.

“Sedang apa kamu, Nak?” tanya ibunya dari kejauhan mengagetkan anak itu. Ibu itu mendekati anaknya.

“Sedang lihat hal ini, Bu,” jawab anak itu memperlihatkan kumbang.

“Oh, lagi mempahatikan kumbang,” ucap ibunya.

“Ya, Bu,” respon anak itu yang terus asyik mempermainkan kumbang di tangannya.

“Kalau sudah selesai, lepaskan kembali kumbang itu. Mereka juga punya kehidupan sendiri,” ucap ibu anak itu.

“Ya, Bu,” jawab singkat anak itu.

Melihat tingkah laku anaknya, ibu itu tersenyum bahagia.“Lanjutkan mainmu, Sayang. Nanti ceritakan ya sama ibu!” ucap ibu anak itu.

Ibu anak itu pun kembali ke tempat duduknya dan memperhatikan anaknya yang asyik bermain dari kejauhan.

“Bu, kumbangnya sudah pulang. Ia pergi menemui bapak ibunya,” kata anak itu ketika sudah selesai bermain.

Mendengar ucapan anaknya, ibu itu bahagia karena hari ini anaknya mendapat pengalaman baru.

Kumbang di Tempat yang Lain

Di suatu tempat yang lain, ada juga anak yang asyik mengamati tingkah laku kumbang.

“Bu, ini binatang apa namanya?” tanya si anak.

“Buang itu. Nanti kamu digigit, luka!” ucap ibunya takut.

Ibu si anak mengambil kumbang itu dan melemparnya jauh-jauh. Kumbang terlempar bahkan mungkin mati membentur batu. Si anak hanya bisa menangis tidak bisa bermain dengan si kumbang. Si anak pun diiming-imingi es krim agar tidak menangis lagi. Ibu si anak itu sangat bangga bisa melindungi anaknya. Dan, ibu si anak itu selalu mengulang kejadian itu hingga anak  merasa sudah terbiasa.

I Belog Pengembala Bebek

Lalu, apa yang dapat kita lihat dari kedua pengalaman anak itu? Bisahkah kita melihat karakter masa depan kedua anak itu?

Dan, bagaimana jika menceritakan berulang-ulang seperti satua (cerita) ‘I Belog Pengembala Bebek’ dalam konteks pemahaman yang berbeda pada anak yang berbeda? Ah, lebih baik mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.

Dahulu, diceritakan I Belog terkenal sebagai peternak bebek. Sayang, bebek-bebeknya sudah mati semua dan hanya tinggal satu bebek yang kurus gundul tak berbulu lagi. Bebek itu sekarang dipelihara oleh I Belog. Dari pagi sampai sore, I Belog mencarikan makan untuk bebek kurus itu. Terkadang, I Belog mengajak bebek itu berenang ke sungai.

Bebek kurus itu sangat penurut dan setia. Jika I Belog pergi bekerja ke ladang, bebek kurus itu pasti mengikuti dari belakang sambil berbunyi kwek kwek kwek…

Sungguh, I Belog bahagia walaupun bebek yang dimilikinya cuma satu dan kurus.

Suatu sore, I Belog akan memberi makan bebeknya. I Belog memanggil, ”Ri…ri…ri…ri!”

Tetapi, bebeknya tidak ada. I Belog bingung mencari bebeknya. Dia mencari ke sana-ke mari, tetapi tidak ada. I Belog mencari ke sungai sambil memanggil-manggil bebeknya, ”Ri…ri…ri!!!” Tetap saja tidak ada jawaban. Sampai malam I Belog mencari-cari bebeknya, masih juga tidak ditemukan.

“Oh, kemanakah bebekku? Kok bisa hilang begini. Pergi ke mana dia? Apalagi sudah larut malam. Sudah gelap, tidak terlihat apa-apa,” ucap I Belog kebingungan dan sangat sedih kehilangan bebeknya.

Sampai di hulu sungai di bawah pohon asem, ada sebuah batu besar. I Belog duduk di atas batu itu dan bengong. I Belog tidak tahu kalau tempat itu sangat angker. Saat I Belog melamun bengong, tiba-tiba ada orang tinggi hitam dan dadanya berbulu datang menghampirinya. Matanya melotot dan bertaring tajam. I Belog kaget dan takut. Ia ingin berlari tetapi kakinya lemas dan gemetar. Ia hanya pasrah didekati oleh  orang tinggi hitam itu.

“Sudah malam, kok kamu masih ada di sini. Apa yang kamu cari, Belog?” tanya si orang tinggi besar itu dengan suara menggelegar.

”Aku mencari bebek. Sudah malam dia belum pulang. Kasian, aku punya bebek cuma satu!” jawab I Belog gemetar, takut.

“Ooo.. begitu. Memang benar bebekmu berenang sampai ke sini, tadi. Tunggu di sini, aku ambilkan,” kata orang tinggi hitam itu.

Orang tinggi hitam itu masuk ke belakang batu. Ketika mendengar bebeknya ada di sana, ketakutan  I Belog menghilang seketika. Hatinya bahagia karena menemukan bebeknya. Dan, orang tinggi hitam itu datang membawa bebek. Tetapi, bebek yang ia bawa adalah bebek yang berbulu halus, bersih, dan suaranya nyaring.

“Ini bebekmu, Belog?”

“Bukan, bebekku tak berbulu!”

Orang tinggi hitam itu kembali mengeluarkan bebek. Bebek yang dikeluarkannya sangat gemuk dan bersih–mengkilat.  Jika dijual pasti akan laku mahal.

“Yang ini bebekmu?”

“Bukan! Bebekku kurus dan tak berbulu!”

Orang tinggi hitam itu sudah banyak sekali mengeluarkan bebek. Tetapi, I Belog selalu mengatakan bukan, karena semua bebek itu memang bukan bebeknya. Orang tinggi hitam itu berbicara lagi.

“Bah… kok semuanya bukan. Kalau begitu bawa saja semua itik-itik ini!”

“Aduhh… saya tidak berani. Bebek-bebek itu bukan milikku. Bebekku cuma satu, kurus dan tak berbulu!” kata I Belog.

I Belog pulang meninggalkan orang tinggi hitam itu tanpa membawa bebek yang diberikan padanya. Ia hanya merasa berhak membawa bebek miliknya yang kurus gundul itu. Ketika sampai di rumah, I Belog mendengar suara bebek, kwek kwek kwek, di belakang rumahnya.

“Mungkin itu bebekku pulang,” pikir I Belog.

I Belog mendekati suara bebek itu. Dan, ternyata memang benar itu bebeknya I Belog. Namun, I Belog kaget melihat ada bebek-bebek lain juga.

“Bukankah bebek-bebek ini milik Orang tinggi hitam itu.Mengapa bisa ada di sini?” kata I Belog bingung.

“Biarlah aku beri makan saja bebek-bebek ini dulu .Biar nanti aku kembalikan kepada pemiliknya. Sebab, pasti orang tinggi hitam itu bingung mencari-cari bebek-bebeknya,” ucap I Belog.

I Belog Bodoh atau Jujur?

Kembali lagi kepada konteks pemahaman satua ‘I Belog Pengembala Bebek’. Jika satua ‘I Belog Pengembala Bebek’ didokrin sebagai pemahaman I Belog yang memang bodoh, tentu karakter anak yang terbentuk akan berubah arah. Walaupun pada awalnya dianggap sebagai lelucon, tetapi tanpa disadari menjadi dampak yang serius bagi perkembangan karakter anak. Apalagi, anak sendiri yang terus-menerus menginterpretasi bahwa I Belog memang orang yang bodoh.

Hem, cerita ini mungkin kalau dibaca tidak nyambung bahkan mungkin tidak penting. Sebab, orangtua merasa paling tahu dan paling  menentukan apa yang dilakukan terhadap anaknya. Ya, orangtua paling tahu karena ketika anak beranjak umur tiga tahun dan selanjutnya, anak sudah dianggap dewasa dan mengerti semua kemauan orangtuanya.Kemudian, jangan heran kalau anak-anak begitu bebas menikmati tontonan-tontonan dewasa di televisi tanpa batas dengan alibi kenyamanan.

“Bu, anaknya kok dibiarkan nonton senetron? Gak baik lo!”

“Gak apa-apa, biar ia tak nangis lagi. Nanti, ketika sudah besar, ia akan ngerti mana baik dan buruk.”

Apalagi ketika anak masuk Paud/TK, terkadang guru cenderung fokus mendeteksi apa yang belum dikuasai anak. Kemudian, dengan instan, guru membentuknya agar mereka segera menguasainya. Karena proses instan itu, semua kesempatan yang diberikan oleh lingkungan yang tepat tidak bisa dimanfaatkan dan dinikmati oleh anak-anak itu sendiri. Padahal, pada masa mengenyam pedidikan inilah pondasi dasar untuk mengembangkan kesadaran anak-anak.

Sekarang, bagaimana ketika anak diberikan ruang berinteraksi di lingkungannya seperti anak yang mengamati kumbang tanpa menyakitinya? Atau, kita tidak lagi menganggap bahwa ‘I Belog Pengembala Bebek’ sebagai lelucon belaka, tetapi sebagai seorang yang sangat jujur.

Tentu, pengalaman anak dalam melatih motorik, indra perasa, proses mengenal sains, perkembangan pengamatan, interaksi sosial, dan rasa hormat terhadap segala kehidupan yang ada di alam ini terbentuk kearah yang positif. Anak pun dengan jelas berani berekspresi, kreativitasnya berkembang, berpikir yang bertujuan pemecahan masalah, dan keterampilan sosialnya terbentuk.

Terlahirlah anak manusia yang memiliki daya tahan, daya motivasi, dan keterampilan dalam menerima perubahan sosial masyarakat. Dan, proses anak menjadi orang dewasa terbentuk secara utuh tanpa melewatkan setiap tahapannya. Sebab, proses pendewasaan anak seperti metamorfosis kupu-kupu yang selalu melalui setiap tahapan dari telur sampai menjadi kupu-kupu yang sempurna. Kupu-kupu dengan warna yang begitu indah dan menakjubkan.

Kemudian, masihkah kita percaya dengan mitos “Nanti kalau sudah menjadi orangtua, ia pasti dengan sendirinya atau secara otomatis bisa mendidik anak-anaknya dengan baik?” (T)

Tags: dongengibupendidikan usia dinipermainan
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Empat Puisi Air Zulkifli Songyanan

Next Post

Bima di Samudera Raya Dewa Ruci – Renungan bagi Nusantara Hari ini

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Bima di Samudera Raya Dewa Ruci – Renungan bagi Nusantara Hari ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co