13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Kanak-Kanak – Bukan Lelucon I Belog yang Bodoh

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Esai

Ilustrasi: Putik Padi

SUATU sore, di taman, ada seorang anak sedang asyik bermain. Ia berlarian di padang rumput, menikmati warna-warni bunga. Namun, ia terhenti ketika melihat kumbang. Ia mengamati binatang itu. Ia sibuk tenggelam memperhatikan tubuh kumbang itu, menghitung jumlah kakinya, memperhatikan pergerakan antenanya, memperhatikan matanya, dan membiarkannya bergerak di tangan.

“Sedang apa kamu, Nak?” tanya ibunya dari kejauhan mengagetkan anak itu. Ibu itu mendekati anaknya.

“Sedang lihat hal ini, Bu,” jawab anak itu memperlihatkan kumbang.

“Oh, lagi mempahatikan kumbang,” ucap ibunya.

“Ya, Bu,” respon anak itu yang terus asyik mempermainkan kumbang di tangannya.

“Kalau sudah selesai, lepaskan kembali kumbang itu. Mereka juga punya kehidupan sendiri,” ucap ibu anak itu.

“Ya, Bu,” jawab singkat anak itu.

Melihat tingkah laku anaknya, ibu itu tersenyum bahagia.“Lanjutkan mainmu, Sayang. Nanti ceritakan ya sama ibu!” ucap ibu anak itu.

Ibu anak itu pun kembali ke tempat duduknya dan memperhatikan anaknya yang asyik bermain dari kejauhan.

“Bu, kumbangnya sudah pulang. Ia pergi menemui bapak ibunya,” kata anak itu ketika sudah selesai bermain.

Mendengar ucapan anaknya, ibu itu bahagia karena hari ini anaknya mendapat pengalaman baru.

Kumbang di Tempat yang Lain

Di suatu tempat yang lain, ada juga anak yang asyik mengamati tingkah laku kumbang.

“Bu, ini binatang apa namanya?” tanya si anak.

“Buang itu. Nanti kamu digigit, luka!” ucap ibunya takut.

Ibu si anak mengambil kumbang itu dan melemparnya jauh-jauh. Kumbang terlempar bahkan mungkin mati membentur batu. Si anak hanya bisa menangis tidak bisa bermain dengan si kumbang. Si anak pun diiming-imingi es krim agar tidak menangis lagi. Ibu si anak itu sangat bangga bisa melindungi anaknya. Dan, ibu si anak itu selalu mengulang kejadian itu hingga anak  merasa sudah terbiasa.

I Belog Pengembala Bebek

Lalu, apa yang dapat kita lihat dari kedua pengalaman anak itu? Bisahkah kita melihat karakter masa depan kedua anak itu?

Dan, bagaimana jika menceritakan berulang-ulang seperti satua (cerita) ‘I Belog Pengembala Bebek’ dalam konteks pemahaman yang berbeda pada anak yang berbeda? Ah, lebih baik mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.

Dahulu, diceritakan I Belog terkenal sebagai peternak bebek. Sayang, bebek-bebeknya sudah mati semua dan hanya tinggal satu bebek yang kurus gundul tak berbulu lagi. Bebek itu sekarang dipelihara oleh I Belog. Dari pagi sampai sore, I Belog mencarikan makan untuk bebek kurus itu. Terkadang, I Belog mengajak bebek itu berenang ke sungai.

Bebek kurus itu sangat penurut dan setia. Jika I Belog pergi bekerja ke ladang, bebek kurus itu pasti mengikuti dari belakang sambil berbunyi kwek kwek kwek…

Sungguh, I Belog bahagia walaupun bebek yang dimilikinya cuma satu dan kurus.

Suatu sore, I Belog akan memberi makan bebeknya. I Belog memanggil, ”Ri…ri…ri…ri!”

Tetapi, bebeknya tidak ada. I Belog bingung mencari bebeknya. Dia mencari ke sana-ke mari, tetapi tidak ada. I Belog mencari ke sungai sambil memanggil-manggil bebeknya, ”Ri…ri…ri!!!” Tetap saja tidak ada jawaban. Sampai malam I Belog mencari-cari bebeknya, masih juga tidak ditemukan.

“Oh, kemanakah bebekku? Kok bisa hilang begini. Pergi ke mana dia? Apalagi sudah larut malam. Sudah gelap, tidak terlihat apa-apa,” ucap I Belog kebingungan dan sangat sedih kehilangan bebeknya.

Sampai di hulu sungai di bawah pohon asem, ada sebuah batu besar. I Belog duduk di atas batu itu dan bengong. I Belog tidak tahu kalau tempat itu sangat angker. Saat I Belog melamun bengong, tiba-tiba ada orang tinggi hitam dan dadanya berbulu datang menghampirinya. Matanya melotot dan bertaring tajam. I Belog kaget dan takut. Ia ingin berlari tetapi kakinya lemas dan gemetar. Ia hanya pasrah didekati oleh  orang tinggi hitam itu.

“Sudah malam, kok kamu masih ada di sini. Apa yang kamu cari, Belog?” tanya si orang tinggi besar itu dengan suara menggelegar.

”Aku mencari bebek. Sudah malam dia belum pulang. Kasian, aku punya bebek cuma satu!” jawab I Belog gemetar, takut.

“Ooo.. begitu. Memang benar bebekmu berenang sampai ke sini, tadi. Tunggu di sini, aku ambilkan,” kata orang tinggi hitam itu.

Orang tinggi hitam itu masuk ke belakang batu. Ketika mendengar bebeknya ada di sana, ketakutan  I Belog menghilang seketika. Hatinya bahagia karena menemukan bebeknya. Dan, orang tinggi hitam itu datang membawa bebek. Tetapi, bebek yang ia bawa adalah bebek yang berbulu halus, bersih, dan suaranya nyaring.

“Ini bebekmu, Belog?”

“Bukan, bebekku tak berbulu!”

Orang tinggi hitam itu kembali mengeluarkan bebek. Bebek yang dikeluarkannya sangat gemuk dan bersih–mengkilat.  Jika dijual pasti akan laku mahal.

“Yang ini bebekmu?”

“Bukan! Bebekku kurus dan tak berbulu!”

Orang tinggi hitam itu sudah banyak sekali mengeluarkan bebek. Tetapi, I Belog selalu mengatakan bukan, karena semua bebek itu memang bukan bebeknya. Orang tinggi hitam itu berbicara lagi.

“Bah… kok semuanya bukan. Kalau begitu bawa saja semua itik-itik ini!”

“Aduhh… saya tidak berani. Bebek-bebek itu bukan milikku. Bebekku cuma satu, kurus dan tak berbulu!” kata I Belog.

I Belog pulang meninggalkan orang tinggi hitam itu tanpa membawa bebek yang diberikan padanya. Ia hanya merasa berhak membawa bebek miliknya yang kurus gundul itu. Ketika sampai di rumah, I Belog mendengar suara bebek, kwek kwek kwek, di belakang rumahnya.

“Mungkin itu bebekku pulang,” pikir I Belog.

I Belog mendekati suara bebek itu. Dan, ternyata memang benar itu bebeknya I Belog. Namun, I Belog kaget melihat ada bebek-bebek lain juga.

“Bukankah bebek-bebek ini milik Orang tinggi hitam itu.Mengapa bisa ada di sini?” kata I Belog bingung.

“Biarlah aku beri makan saja bebek-bebek ini dulu .Biar nanti aku kembalikan kepada pemiliknya. Sebab, pasti orang tinggi hitam itu bingung mencari-cari bebek-bebeknya,” ucap I Belog.

I Belog Bodoh atau Jujur?

Kembali lagi kepada konteks pemahaman satua ‘I Belog Pengembala Bebek’. Jika satua ‘I Belog Pengembala Bebek’ didokrin sebagai pemahaman I Belog yang memang bodoh, tentu karakter anak yang terbentuk akan berubah arah. Walaupun pada awalnya dianggap sebagai lelucon, tetapi tanpa disadari menjadi dampak yang serius bagi perkembangan karakter anak. Apalagi, anak sendiri yang terus-menerus menginterpretasi bahwa I Belog memang orang yang bodoh.

Hem, cerita ini mungkin kalau dibaca tidak nyambung bahkan mungkin tidak penting. Sebab, orangtua merasa paling tahu dan paling  menentukan apa yang dilakukan terhadap anaknya. Ya, orangtua paling tahu karena ketika anak beranjak umur tiga tahun dan selanjutnya, anak sudah dianggap dewasa dan mengerti semua kemauan orangtuanya.Kemudian, jangan heran kalau anak-anak begitu bebas menikmati tontonan-tontonan dewasa di televisi tanpa batas dengan alibi kenyamanan.

“Bu, anaknya kok dibiarkan nonton senetron? Gak baik lo!”

“Gak apa-apa, biar ia tak nangis lagi. Nanti, ketika sudah besar, ia akan ngerti mana baik dan buruk.”

Apalagi ketika anak masuk Paud/TK, terkadang guru cenderung fokus mendeteksi apa yang belum dikuasai anak. Kemudian, dengan instan, guru membentuknya agar mereka segera menguasainya. Karena proses instan itu, semua kesempatan yang diberikan oleh lingkungan yang tepat tidak bisa dimanfaatkan dan dinikmati oleh anak-anak itu sendiri. Padahal, pada masa mengenyam pedidikan inilah pondasi dasar untuk mengembangkan kesadaran anak-anak.

Sekarang, bagaimana ketika anak diberikan ruang berinteraksi di lingkungannya seperti anak yang mengamati kumbang tanpa menyakitinya? Atau, kita tidak lagi menganggap bahwa ‘I Belog Pengembala Bebek’ sebagai lelucon belaka, tetapi sebagai seorang yang sangat jujur.

Tentu, pengalaman anak dalam melatih motorik, indra perasa, proses mengenal sains, perkembangan pengamatan, interaksi sosial, dan rasa hormat terhadap segala kehidupan yang ada di alam ini terbentuk kearah yang positif. Anak pun dengan jelas berani berekspresi, kreativitasnya berkembang, berpikir yang bertujuan pemecahan masalah, dan keterampilan sosialnya terbentuk.

Terlahirlah anak manusia yang memiliki daya tahan, daya motivasi, dan keterampilan dalam menerima perubahan sosial masyarakat. Dan, proses anak menjadi orang dewasa terbentuk secara utuh tanpa melewatkan setiap tahapannya. Sebab, proses pendewasaan anak seperti metamorfosis kupu-kupu yang selalu melalui setiap tahapan dari telur sampai menjadi kupu-kupu yang sempurna. Kupu-kupu dengan warna yang begitu indah dan menakjubkan.

Kemudian, masihkah kita percaya dengan mitos “Nanti kalau sudah menjadi orangtua, ia pasti dengan sendirinya atau secara otomatis bisa mendidik anak-anaknya dengan baik?” (T)

Tags: dongengibupendidikan usia dinipermainan
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Empat Puisi Air Zulkifli Songyanan

Next Post

Bima di Samudera Raya Dewa Ruci – Renungan bagi Nusantara Hari ini

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post

Bima di Samudera Raya Dewa Ruci – Renungan bagi Nusantara Hari ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co