2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah “Semaya Pati” dari Payangan Gianyar: Cinta Setia hingga Maut Menjemput

Gde Nyana Kesuma by Gde Nyana Kesuma
February 2, 2018
in Feature

Foto: koleksi penulis

SIAPA yang percaya ada janji cinta setia sepasang suami-istri hinga maut menjemput? Janji setia, bahwa mereka hidup bersama dalam suka maupun duka dan kemudian mati pun bersama?

Tentu ada yang percaya. Tapi banyak juga yang tidak.

Kisah-kisah romantis semacam itu biasanya ada dalam dongeng, drama, dan lakon-lakon seni pertunjukan. Dalam kenyataan, janji yang diucapkan mungkin ada, tapi apakah janji itu ditepati, siapa yang tahu.

Percintaan memang penuh bumbu penyedap. Bumbu itu biasanya kata-kata “Aku tak bisa hidup tanpamu”, dan “Aku berjanji akan sehidup semati denganmu”. Ah, memang kedengaran seperti dalam dongeng atau dalam roman-roman picisan.

Tapi, tunggu dulu. Di desa saya, di Desa Pakraman Yehtengah, Kelusa, Payangan, Gianyar, ada bukti bahwa pasangan yang saling mencintai bisa sehidup-semati. Hidup bersama dalam segala suka dan segala suka, kemudian meninggal bersamaan dan jasadnya diupacarai bersama-sama.

Ida Cokorda Gede Raka (70) dan Anak Agung Niang Alit (68) adalah sepasang suami istri dari Puri Yehtengah, Kelusa, Payangan. Setelah menjalani hidup bersama penuh kasih dan cinta, seakan berjanji, mereka menghembuskan nafas terakhir dalam waktu yang hampir bersamaan.

Pasangan suami-istri itu adalah orang tua dari seorang undagi barong, Ida Cokorda Gede Suparsa  atau biasa dikenal dengan sebutan Cokorda Barong. Pasangan petani itu berjuang bersama dengan sakit yang mereka derita sejak satu tahun lalu.

Diawali dengan sakit berkepanjangan yang diderita oleh sang istri, disusul kemudian sakit yang diderita oleh sang suami. Tepat pada Sabtu, 11 Februari 2017 Anak Agung Niang Alit menghembuskan napas terakhirnya di Puri Yehtengah.

Tidak ada yang menduga bahwa sang istri akan mendahului sang suami, karena dalam waktu bersamaan sang suami, Ida Cokorda Raka, masih terbaring lemas melawan sakit di Rumah Sakit Prima Medika, Denpasar.

Keluarga Puri pun bergegas menyiapkan upacara palebon Gung Niang Alit. Berdasar pada hari baik, palebon digelar Rabu 22 Februari. Di tengah persiapan upacara, tepatnya Jumat 17 Februari, Ida Cokorda Gede Raka menyusul menuju tempat peristirahatan terakhir.

Rentetan peristiwa sedih itu memang menyakitkan dan mencengangkan bagi anggota keluarga Puri Yehtengan. Namun Tuhan memberi jalan bagi mereka berdua untuk “berjalan bersama”. Tidak ada kata lain selain iklas yang harus diucapkan di balik rasa sedih dan tetesan air mata keluarga Puri Yehtengah.

Jalan menuju kematian memang tidak pernah diketahui. Namun kisah lebarnya Ida Cokorda Gede Raka dan Anak Agung Niang Alit seakan memberikan cerminan terhadap cinta dan kesetiaan. Mungkin peristiwa itu hanya kebetulan, namun harus dipercaya bahwa setiap kebetulan selalu memberikan pelajaran sekaligus makna-makna..

Di Bali ada istilah “Semaya Pati”. Artinya, sepasang kekasih atau suami istri berjanji akan bersama-sama selalu sampai maut menjemput. Mereka berjanji bersama dalam hidup, berjanji bersama juga dalam kematian.

Ida Cokorda Gede Raka dan Anak Agung Niang Alit, mungkin tak pernah mengucapkan janji dari bibir mereka untuk melakukan “Semaya Pati”. Tapi kekuatan cinta, ketulusan untuk saling melayani, saling berbagi, saling menyayangi, adalah janji yang amat kuat, meski tak terucapkan. Rasa kuat saling mencintai bisa menjadi janji teguh, dan Tuhan mengabulkan janji mereka.

Dan kekuatan cinta yang mereka berdua miliki tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sangatlah luar biasa seperti mengikar janji suci sehidup semati dengan ketulusan hati.

Sepasang kekasih abadi itu diupacarai Rabu 22 Februari 2017 secara bersamaan. Mereka berdua diantarkan menuju peristirahatan terakhir dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dengan satu wadah bade dan satu petulangan lembu hitam, beliau berdua diantarkan menuju sunialoka.

Setiap orang memiliki kisah cinta namun tak seperti mereka, yang selalu berdampingan hingga maut menjemput. Kesederhanaan yang membalut segala sisi kehidupan mereka telah menunjukkan pandangan di mana cinta tak harus dibubuhi dengan materi semata.

Kepergian pasangan itu seakan mendedahkan kisah yang harus bisa kita pahami. Mulai dari kekuatan yang menyatukan mereka hampir 40 tahun lamanya sampai jasad mereka dibakar oleh kobaran api tanpa bekas yang membara menuju kehidupan yang sesungguhnya.

Seperti yang diujarkan Cokorda Gede Supasra: “Ada Pertemuan maka akan ada perpisahan”. Ujaran itu mencerminkan keihklasan menghadapi kepergian ajik dan biang yang ia sayangi. Memandang semuanya dengan ketegaran jiwa dan raga, logika dan nalar, yang menyatu dalam kisah kehidupan yang begitu banyak menyimpan kenangan dan amanat bagi orang-orang disekelilingnya.

Yang bisa kita pahami dari semuanya adalah perjalanan kisah cinta yang berhakhir bersama sampai maut memisahkan. Jadi, jika memiliki pasangan janganlah pernah menyakitinya dengan tidak menepati janji yang sudah diucapkan. Karena apabila kalian ditinggalkan oleh pasangan kalian, itu akan meninggalkan kesedihan, dan tak akan mudah kalian dapatkan kembali pasangan seperti mereka. (T)

Tags: balicintangabenupacara
Share30210TweetSendShareSend
Previous Post

Rasanya Kebodohan dan Longsor Nalar Kian Menular – Jadi Ingat Film Idiocrazy

Next Post

Sekeluarga Bunuh Diri di Bondalem – Oh, Tuhan, Seberat Apa Hidup Mereka Sesungguhnya?

Gde Nyana Kesuma

Gde Nyana Kesuma

Lahir di Denpasar 19 Maret 1994. Tinggal di Banjar Yehtengah, Kelusa, Payangan, Gianyar. Lulusan Undiksha jurusan Pendidikan Bahasa Bali ini punya hobi main voli, namun kini merasa senang belajar menulis.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post

Sekeluarga Bunuh Diri di Bondalem – Oh, Tuhan, Seberat Apa Hidup Mereka Sesungguhnya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co