23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Rumah yang Membawa Petaka

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

LELUHUR kita menuliskan pengalaman buruk dan baik di masa lalu. Mereka tulis dalam lontar. Isinya pengalaman hidup berabad-abad yang diseleksi dan ditulis, jadilah berbagai lontar yang memberi pedoman bagaimana kita menjalani hidup berdasarkan pengalaman masa silam yang dirumuskan dari berbagai peristiwa di masa lalu.

Karena berisi catatan masa silam yang bersumber dari peristiwa dan pengalaman sejarah, umumnya isi lontar-lontar bukan klenik atau hayal, bukan penerawangan gaib, tapi banyak yang praktis dan bisa menjadi sesuluh realitis dalam menjalani hidup. Contohnya lontar usada (pengobatan) yang berdasar tumbuhan seperti loloh (jamu), boreh (lulur), pupuk (balsem dari tumbukan daun atau biji-bijian) dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya sangat realistis, bisa dibuktikan melalui ilmu kedokteran dan farmakologi.

Bukan hanya lontar usada, lontar realistis lainya adalah lontar prihal memilih lokasi membangun rumah. Lontar ini mempertimbangkan berbagai aspek, dari pengaruh desir angin yang berlebih yang membawa dampak kurang menyehatkan, posisi matahari terbit, lembah dan ceruk alam yang rawan longsor dan kurang sinar matahari, dan berbagai pertimbangan penuh logika dan pertimbangan berdasarkan pengalaman historis para penulisnya bergenerasi-generasi.

Lontar Karang Paumahan yang berisi ajaran Bhagawan Wiswakarma (ling ing Bhagawan Wiswakarma), tersebar dalam masyarakat, sangat praktis petunjuknya menyangkut bagaimana memilih lokasi untuk mendirikan rumah.

Dalam lontar pengalaman buruk leluhur kita ditandai dengan label ‘HALA’, pengalaman baik mereka dengan label ‘HAYU’.

Berikut ringkasan isinya dari kutipan ‘ling ing Bhagawan Wiswakarma’:

HALA

  1. Yan hana karang katumbak rurung, tumbak jalan, katumbak labak, katumbak jalinjingan mwang tukad, katumbak pangkung, panes karang ika…
  2. Mwah yan hana kayu rempak, pungkat mwang punggel tan pa karana, pada panese, tan pegat hamilara.
  3. Mwah yan hana nyuh macarang, bwah macarang, jaka macarang, ntal macarang, byu macarang, mwang wetunya kembar, tunggal panese, kadi kagenibhaya nga, panes..
  4. Yan hana sanggah pungkat mwah jineng, pawon, pungkat tan pakarana, nwang katiben amuk, kalebon amuk, panca bhya nga, panes.
  5. Yan hana hanggawe pungkate, panes karang ika, kewale cacad, tan kawenang malih ingagge, wenang gentosin lakare sami.
  6. Muwah yan hana wong (jamur) mentik ring babatar ing salu, wong (jamur) bhaya nga, panes.
  7. Yan hana lulut metu ring pekarangan, kalulut bhaya nga, panes.
  8. Yan hana getih kentel ring pekarangan, mwang sumirat ring humah ring pakubwan tan pakarana, karaja bhaya nga.
  9. Yan tanah selem magoba hucem, mahambu panes, haywa ngumahin.
  10. Yan hana tanah mahambu bengu, halid, hala dahat, haywa ngumahin.
  11. Malih karang ne nyakitin, yan ana karang tunggal pameswan, manyalengking nga, hala.

HAYU

  1. Yan hana karang tegeh ring paschima, hayu nga, nemu labha sang ngumahin.
  2. Yan hana karang seng ring utara, hayu ika, sawetuning anaknia, petunia tan kurang bhoga sang ngumahin.
  3. Yan karang hasah natarnia, hala ayu kejarania, tan kurang pangan kinum sang ngumahin.
  4. Yan ana tanah bang halus, mahambu lalah, hayu sinia kadhang warga nga, tekeng anaknia manemu hayu sang momahin iriya.

LOGIKA DI BALIK PESAN LONTAR

Semua poin-poin tersebut di atas memiliki logika dan dasar pijakan kesehatan dan mitigasi bencana.

Ambil contoh:

“Yan hana karang katumbak rurung, tumbak jalan, katumbak labak, katumbak jalinjingan mwang tukad, katumbak pangkung, panes karang ika…”

  1. Tumbak rurung dan jalan

Kalau ada rumah ‘ditusuk jalan’ (baik rurung/setapak dan jalan/marga), atau dikenal dengan istilah ‘rumah ditusuk sate’ (baik rurung/setapak dan jalan/marga) punya potensi kecelakaan bermotor atau kendaraan masa lalu, seperti ‘jalan numbrag’, juga bisa menjadi tempat nongkrong atau menjadi pangkalan pedagang yang bisa jadi membawa ketidaknyaman pada yang tinggal.

Juga DI MASA LALU jalan (rurung/marga) pada saat hujan akan menjadi jalan air yang meluap. Jadi rumah yang ‘tusuk sate’ juga sangat punya potensi kena luberan pertemuan air hujan dari berbagai penjuru. Got-got mampet di perkotaan sekarang terjadi di pertigaan T karena di sana menjadi T-junction air dan comberan.

  1. Tumbak labak, jalinjingan, tukad, pangkung

Pengalaman leluhur kita berabad-abad yang pernah mengalami bencana longsor dan berbagai sakit yang tidak mudah dideteksi itu yang menjadi muatan pesan lontar-lontar tersebut.

Labak, jalinjingan, tukad, pangkung, adalah ceruk dan pinggiran alam yang potensi banjir longsor dan hanyut klelep di saat musim hujan. Terlebih kalau posisi rumah ‘tertusuk alur air’ tersebut di atas.

Pekarangan atau lokasi rumah yang HAYU tersebut di atas: ‘karang tegeh ring paschima’, ‘karang seng ring utara’, ‘karang hasah natarnia’; semuanya meminta kita memilih dan menepati prasyarat posisi-posisi yang mampu meminimalisi abrasi, terkena kiriman longsor, gembid, longsor, tergerus air, blabar, banjir bandang dan bencana yang bisa melanda di musim hujan yang ekstrem. Kemiringan dan pertimbangan luberan air ketika hujan lebat menjadi pertimbangan logis persyaratan tersebut.

Kita tentu sangat berempati dan berbelasungkawa jika ada keluarga tertimpa bencana karena ketidakpunyaan, atau ketidakmampuan ‘baan lacure sing ngelah tongos madudungan’ untuk memilih tempat/lokasi membangun rumah/pondok.

Namun situasi kini banyak penduduk, terutama pengembang perumahan dan areal perumahan generasi belakangan sering tidak mempertimbangkan petuah leluhur tersebut di atas. Bahkan labak, jalinjingan, tukad, pangkung, yang merupakan ceruk dan pinggiran alam yang potensi banjir longsor, diurug dengan berbagai upaya, lalu dijadikan perumahan, resort dan villa. Ini semakin melunjak di tengah berbagai alasan bahwa lahan semakin menyempit.

Pun reklamasi, dengan sama sekali tidak menimbang kearifan nasihat leluhur, bahkan mencemoh, dihalalkan dan dibenarkan pengurugan labak dan teluk yang jelas merupakan ceruk alam penampungan air serta ditusuk sungai-sungai, yang masuk aliran ke dalamnya. Tindakan seperti ini tidak hanya membawa HALA pada yang tinggal di sana, tapi akan menyumbat flow aliran sungai-sungai dan arus laut, yang berdampak HALA meluberkan aliran sungai, hujan, dan arus laut, ke kawasan dan desa-desa sekitarnya. Inilah yang disebut sebagai HALA dalam bahasa lontar Bali.

Ketidaktahuan dan masa bodo, ditambah ketidakpunyaan, serta ketidakmampuan untuk memilih tempat/lokasi membangun rumah berpotensi besar membawa penghuninya mengalami prahara. Prahara ini bisa sekala, kasat mata; bisa juga niskala, dimana membawa keterpurukan dan derita bagi oknum-oknum yang menentang prisip-prinsip keseimbangan alam.

‘Ling ing Bhagawan Wiswakarma’ (ajaran/petuah Bhagawan Wiswakarma) mengajak kita bijak menjalani hidup, dalam memilih dan mempersiapkan titik dan lokasi mendirikan rumah/hunian, bagaimana posisi kita berdiri di lingkungan sekitar agar tidak menentang prinsip-prinsip keseimbangan alam sehingga kehidupan kita HAYU. Lontar ini dengan tegas memberi peringatan dini bahwa ketidakpekaan dan perilaku kita menentang prinsip-prinsip alam akan membuat hidup kita didera derita HALA. (T)

Jumat 10 Februari 2017

Tags: alambencana alamlingkunganRumah
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

12 Jiwa Korban Longsor – Mari Berdoa untuk Kintamani

Next Post

Status Galau Jelang Valentine Day: Teman Rasa Pacar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

Status Galau Jelang Valentine Day: Teman Rasa Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co