2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Rumah yang Membawa Petaka

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto: Ole

LELUHUR kita menuliskan pengalaman buruk dan baik di masa lalu. Mereka tulis dalam lontar. Isinya pengalaman hidup berabad-abad yang diseleksi dan ditulis, jadilah berbagai lontar yang memberi pedoman bagaimana kita menjalani hidup berdasarkan pengalaman masa silam yang dirumuskan dari berbagai peristiwa di masa lalu.

Karena berisi catatan masa silam yang bersumber dari peristiwa dan pengalaman sejarah, umumnya isi lontar-lontar bukan klenik atau hayal, bukan penerawangan gaib, tapi banyak yang praktis dan bisa menjadi sesuluh realitis dalam menjalani hidup. Contohnya lontar usada (pengobatan) yang berdasar tumbuhan seperti loloh (jamu), boreh (lulur), pupuk (balsem dari tumbukan daun atau biji-bijian) dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya sangat realistis, bisa dibuktikan melalui ilmu kedokteran dan farmakologi.

Bukan hanya lontar usada, lontar realistis lainya adalah lontar prihal memilih lokasi membangun rumah. Lontar ini mempertimbangkan berbagai aspek, dari pengaruh desir angin yang berlebih yang membawa dampak kurang menyehatkan, posisi matahari terbit, lembah dan ceruk alam yang rawan longsor dan kurang sinar matahari, dan berbagai pertimbangan penuh logika dan pertimbangan berdasarkan pengalaman historis para penulisnya bergenerasi-generasi.

Lontar Karang Paumahan yang berisi ajaran Bhagawan Wiswakarma (ling ing Bhagawan Wiswakarma), tersebar dalam masyarakat, sangat praktis petunjuknya menyangkut bagaimana memilih lokasi untuk mendirikan rumah.

Dalam lontar pengalaman buruk leluhur kita ditandai dengan label ‘HALA’, pengalaman baik mereka dengan label ‘HAYU’.

Berikut ringkasan isinya dari kutipan ‘ling ing Bhagawan Wiswakarma’:

HALA

  1. Yan hana karang katumbak rurung, tumbak jalan, katumbak labak, katumbak jalinjingan mwang tukad, katumbak pangkung, panes karang ika…
  2. Mwah yan hana kayu rempak, pungkat mwang punggel tan pa karana, pada panese, tan pegat hamilara.
  3. Mwah yan hana nyuh macarang, bwah macarang, jaka macarang, ntal macarang, byu macarang, mwang wetunya kembar, tunggal panese, kadi kagenibhaya nga, panes..
  4. Yan hana sanggah pungkat mwah jineng, pawon, pungkat tan pakarana, nwang katiben amuk, kalebon amuk, panca bhya nga, panes.
  5. Yan hana hanggawe pungkate, panes karang ika, kewale cacad, tan kawenang malih ingagge, wenang gentosin lakare sami.
  6. Muwah yan hana wong (jamur) mentik ring babatar ing salu, wong (jamur) bhaya nga, panes.
  7. Yan hana lulut metu ring pekarangan, kalulut bhaya nga, panes.
  8. Yan hana getih kentel ring pekarangan, mwang sumirat ring humah ring pakubwan tan pakarana, karaja bhaya nga.
  9. Yan tanah selem magoba hucem, mahambu panes, haywa ngumahin.
  10. Yan hana tanah mahambu bengu, halid, hala dahat, haywa ngumahin.
  11. Malih karang ne nyakitin, yan ana karang tunggal pameswan, manyalengking nga, hala.

HAYU

  1. Yan hana karang tegeh ring paschima, hayu nga, nemu labha sang ngumahin.
  2. Yan hana karang seng ring utara, hayu ika, sawetuning anaknia, petunia tan kurang bhoga sang ngumahin.
  3. Yan karang hasah natarnia, hala ayu kejarania, tan kurang pangan kinum sang ngumahin.
  4. Yan ana tanah bang halus, mahambu lalah, hayu sinia kadhang warga nga, tekeng anaknia manemu hayu sang momahin iriya.

LOGIKA DI BALIK PESAN LONTAR

Semua poin-poin tersebut di atas memiliki logika dan dasar pijakan kesehatan dan mitigasi bencana.

Ambil contoh:

“Yan hana karang katumbak rurung, tumbak jalan, katumbak labak, katumbak jalinjingan mwang tukad, katumbak pangkung, panes karang ika…”

  1. Tumbak rurung dan jalan

Kalau ada rumah ‘ditusuk jalan’ (baik rurung/setapak dan jalan/marga), atau dikenal dengan istilah ‘rumah ditusuk sate’ (baik rurung/setapak dan jalan/marga) punya potensi kecelakaan bermotor atau kendaraan masa lalu, seperti ‘jalan numbrag’, juga bisa menjadi tempat nongkrong atau menjadi pangkalan pedagang yang bisa jadi membawa ketidaknyaman pada yang tinggal.

Juga DI MASA LALU jalan (rurung/marga) pada saat hujan akan menjadi jalan air yang meluap. Jadi rumah yang ‘tusuk sate’ juga sangat punya potensi kena luberan pertemuan air hujan dari berbagai penjuru. Got-got mampet di perkotaan sekarang terjadi di pertigaan T karena di sana menjadi T-junction air dan comberan.

  1. Tumbak labak, jalinjingan, tukad, pangkung

Pengalaman leluhur kita berabad-abad yang pernah mengalami bencana longsor dan berbagai sakit yang tidak mudah dideteksi itu yang menjadi muatan pesan lontar-lontar tersebut.

Labak, jalinjingan, tukad, pangkung, adalah ceruk dan pinggiran alam yang potensi banjir longsor dan hanyut klelep di saat musim hujan. Terlebih kalau posisi rumah ‘tertusuk alur air’ tersebut di atas.

Pekarangan atau lokasi rumah yang HAYU tersebut di atas: ‘karang tegeh ring paschima’, ‘karang seng ring utara’, ‘karang hasah natarnia’; semuanya meminta kita memilih dan menepati prasyarat posisi-posisi yang mampu meminimalisi abrasi, terkena kiriman longsor, gembid, longsor, tergerus air, blabar, banjir bandang dan bencana yang bisa melanda di musim hujan yang ekstrem. Kemiringan dan pertimbangan luberan air ketika hujan lebat menjadi pertimbangan logis persyaratan tersebut.

Kita tentu sangat berempati dan berbelasungkawa jika ada keluarga tertimpa bencana karena ketidakpunyaan, atau ketidakmampuan ‘baan lacure sing ngelah tongos madudungan’ untuk memilih tempat/lokasi membangun rumah/pondok.

Namun situasi kini banyak penduduk, terutama pengembang perumahan dan areal perumahan generasi belakangan sering tidak mempertimbangkan petuah leluhur tersebut di atas. Bahkan labak, jalinjingan, tukad, pangkung, yang merupakan ceruk dan pinggiran alam yang potensi banjir longsor, diurug dengan berbagai upaya, lalu dijadikan perumahan, resort dan villa. Ini semakin melunjak di tengah berbagai alasan bahwa lahan semakin menyempit.

Pun reklamasi, dengan sama sekali tidak menimbang kearifan nasihat leluhur, bahkan mencemoh, dihalalkan dan dibenarkan pengurugan labak dan teluk yang jelas merupakan ceruk alam penampungan air serta ditusuk sungai-sungai, yang masuk aliran ke dalamnya. Tindakan seperti ini tidak hanya membawa HALA pada yang tinggal di sana, tapi akan menyumbat flow aliran sungai-sungai dan arus laut, yang berdampak HALA meluberkan aliran sungai, hujan, dan arus laut, ke kawasan dan desa-desa sekitarnya. Inilah yang disebut sebagai HALA dalam bahasa lontar Bali.

Ketidaktahuan dan masa bodo, ditambah ketidakpunyaan, serta ketidakmampuan untuk memilih tempat/lokasi membangun rumah berpotensi besar membawa penghuninya mengalami prahara. Prahara ini bisa sekala, kasat mata; bisa juga niskala, dimana membawa keterpurukan dan derita bagi oknum-oknum yang menentang prisip-prinsip keseimbangan alam.

‘Ling ing Bhagawan Wiswakarma’ (ajaran/petuah Bhagawan Wiswakarma) mengajak kita bijak menjalani hidup, dalam memilih dan mempersiapkan titik dan lokasi mendirikan rumah/hunian, bagaimana posisi kita berdiri di lingkungan sekitar agar tidak menentang prinsip-prinsip keseimbangan alam sehingga kehidupan kita HAYU. Lontar ini dengan tegas memberi peringatan dini bahwa ketidakpekaan dan perilaku kita menentang prinsip-prinsip alam akan membuat hidup kita didera derita HALA. (T)

Jumat 10 Februari 2017

Tags: alambencana alamlingkunganRumah
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

12 Jiwa Korban Longsor – Mari Berdoa untuk Kintamani

Next Post

Status Galau Jelang Valentine Day: Teman Rasa Pacar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Status Galau Jelang Valentine Day: Teman Rasa Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co