2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Filsafat Sepak Bola dalam “Geguritan Darmapada” – Mencari dan Mendalami Isi Kosong

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Foto diambil dari google (Muchlis/www.kemenpora.go.id)

HIDUP seperti bermain bola. Kita kejar beramai-ramai. Kita perebutkan. Kita tendang. Lalu, kembali kita kejar, dan seterusnya. Demikian sebuah pengandaian hidup dalam Geguritan Darmapada. Karya sastra geguritan, yang tahun penulisannya belum terjejaki itu, saya baca di sebuah perpustakaan lontar di Denpasar, sekitar sepuluh tahun silam.

Karena geguritan itu cukup unik -barangkali satu-satunya karya sastra tradisional yang memakai metafor bola dalam sebuah pada-nya — tiap kali musim bola (baca: kejuaraan dunia sepak bola), yang datang seperti tahun kabisat empat tahun sekali, saya langsung teringat geguritan itu. Lebih lanjut geguritan itu memberi sebuah pertanyaan: Kenapa kita mengejar bundaran yang isinya kosong (puyung)?

Kosong. Demikian kuat kata itu. Betulkah hidup kita yang diandaikan sedang mengejar kosong? Bukankah sepak bola tidak terletak pada bola yang kosong, tapi terletak pada permainan, kekompakkan, keterampilan, strategi, kesabaran dan daya tahan? Kalau hal-hal tersebut lebih penting dari ”bola kosong”, apakah sebuah ”turnamen kehidupan” bisa menjadi ada tanpa kehadiran bola yang dalamnya puyung itu?

Bola menggelinding di atas rumput hijau. Pada saat kejuaraan dunia sepak bola, gelindingan bola itu. Seperti para penonton bola yang ”rela” bergoyang-goyang, mengecat rambut dan memulas muka dengan warna-warni, sedia begadang hingga pagi, demikian pula jalannya kehidupan: Kekosongan ”bola kehidupan” itu membuat kita rela melakukan berbagai hal.

Geguritan itu pula menyebutkan banyak hal aneh diperbuat orang karena tertipu ”kosong”. Sekian banyak orang menjadi nekad menjalani kehidupan, berani korupsi dan bahkan melenyapkan kengerian sendiri untuk membunuh sesama.

Dalam kearifan yang terwariskan dalam ungkapan manusia Bali, tatujon idupe ngalih isin puyung, tujuan hidup untuk mencari-mendalami isi kosong. Dari ungkapan ini kita mendapati bahwa: Kosong itu adalah lapisan terluar dari sebuah esensi kehidupan. Seperti telur, ia barulah kulit atau cangkang telur belaka.

Tim-tim bola punya cara tersendiri untuk menunjukkan ”aliran”-nya. Ada yang lebih mengutamakan kecepatan, kekuatan, bahkan kekerasan. Ada pula yang mengutamakan keindahan dalam permainannya. Sebuah tim mempunyai jalan dan strategi sendiri untuk memenangkan pertandingan. Apakah dengan demikian, kehidupan adalah sebuah pertandingan yang harus dimenangkan? Ataukah bagaimana cara kita menjalani turnamen itu?

Masih tersisa kenangan, ketika itu Ghana kalah dari Brasil, untuk menuju babak seperempat final World Cup 2006, orang-orang Ghana di negerinya terdiam. Tetapi, sesaat kemudian, mereka bernyanyi dan bergoyang, mereka tetap berpesta di jalan-jalan di negerinya. Tentunya mereka bukan merayakan kekalahan, tapi sebuah ”kemenangan”.

Ini sebuah catatan dalam peradaban bola: Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa keberhasilan Ghana untuk bisa masuk ke turnamen kejuaraan dunia itu saja adalah hal yang harus dirayakan. Negara itu bukan lagi sebuah negara yang hanya jadi penonton. Mereka telah bisa turut andil.

Turut andil adalah inti dari swadharma. Begitulah, orang Bali menegaskan berkali-kali, bukan hanya dalam Geguritan Darmapada, bahwa yang sangat penting bagi manusia adalah tahu akan swadharma-nya. Tahu swadharma adalah tahu akan panggilan dirinya sebagai manusia. Menjadi tersadar untuk terlibat, ikut turut andil dalam kehidupan.

Putu Wijaya, seorang penulis kelahiran Bali, punya ungkapan menarik, agar kita menjalani hidup ini tidak hanya sekadar ”penumpang gelap”. Semangat untuk tidak sekadar jadi ”penumpang gelap” ini adalah panggilan swadharma. Orang Bali menekankan kepada semua orang harus mengikuti panggilan dharma-nya (baca: kewajibannya) masing-masing.

Barangkali, itu sebabnya banjar-banjar di Bali sedemikian ketat mewajibkan warganya untuk hadir dalam kegiatan-kegiatan banjar, turut andil, bukan sekadar menonton, tapi berkarya. Sayang, terkadang panggilan banjar tersebut diterima sebagai ”wahyu yang jatuh dari langit”, yang tak boleh dikaji ulang, tak boleh di-reinterpretasi. Kehidupan banjar pun akan menjadi kering, pertemuan-pertemuan tidak punya daya aktualitas. Aktivitas di sekitarnya pun cenderung berjalan dalam sebuah simulasi (simulacrum) yang menjemukan.

Kata swadharma menuntut pencapaian seseorang. Tidak masalah seorang terlahir dalam keluarga apapun, sepanjang ia mampu menjawab dan memenuhi panggilan swadharma-nya, ia adalah orang terhormat. Pemenuhan diri akan panggilan dari dalam diri kita, dan penuh sukacita menjalaninya, menjadi pintu untuk memasuki arti swadharma.

Swadharma bukan sekadar didapatkan dari keluarga tempat kita dilahirkan. Swadharma adalah panggilan bathin untuk ambil bagian dalam kehidupan ini. Dengan demikian, swadharma adalah penemuan perseorangan, bukan faktor genetika atau trah. Ini persoalan pencapaian seseorang kalau ia menekuninya dengan kesungguhan.

Semangat untuk memberi peran pada sebuah ”turnamen kehidupan” menjadi penting, walhasil, memang mengejar bola kosong bukanlah inti dari peri kehidupan. Seperti ritual-ritual di Bali, yang dicibir sebagai roles without meaning (aturan-aturan tanpa makna). Bukan makna artifisial ritualnya yang perlu kita pertentangkan, tapi hakikat keterlibatan kita yang patut dihayati, termasuk keterlibatan untuk menafsirnya ulang, dan merevitalisasi semangat yang digelorakan di dalamnya. Bahkan, keterlibatan untuk mempersoalkan dan menolaknya pun juga terkadang dibutuhkan.

Ritual-ritual, kalaupun kita sepakat menyebutnya sebagai aturan-aturan tanpa makna, maka dalam aturan-aturan itulah ada ruang-ruang kosong untuk menghayati ”kekosongan”, yang dalam ungkapan Bali disebut sebagai Sanghyang Embang. Seperti mengejar bola yang kosong, bukan bola kosong itu yang harus dipertentangkan dan dipertanyakan, tapi semuanya terletak pada: Bagaimana kita menjalani permainan bagaimana kita menghayati ”kekosongan” itu.

Geguritan Darmapada memberi kita cara lain melihat bola. Bola, dalam geguritan tersebut, adalah sebuah metafor yang menggelinding; terbuka untuk ditafsir dan dikomentari. Setidaknya ada tiga hal yang perlu digarisbawahi dari ”pembacaan” Geguritan Darmapada; puyung, swadharma, Sanghyang Embang. Kekosongan (puyung) yang diwakili bola yang mengelinding, yang bisa dijawab dengan keterlibatan dan penghayatan peran (swadharma), sehingga kehidupan seseorang berpuncak pada pencapaian hakikat keheningan (Sanghyang Embang). (T)

Tags: balifilsafatsastrasepakbola
Share81TweetSendShareSend
Previous Post

Muhammad Daffa# Pada Usia 17 Tahun, Menanti Musnah

Next Post

Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post

Gema Pelangi di Ambara Tabanan – Nostalgia Radio pada HUT PRSSNI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co