14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buleleng Festival dan Slank yang Ditunggu-tunggu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: Eka

BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gema dan gaung yang cukup kuat dibanding festival lain, justru karena ada kata “Buleleng” yang menawarkan sesuatu yang berbeda, menawarkan “Bali yang lain, Bali yang sepertinya bukan Bali, namun tetap Bali”.

Seperti juga Bulfest sebelumnya, masyarakat Buleleng selalu menunggu-nunggu. Bahkan jauh sebelum panitia mencetak jadwal secara resmi, sejumlah akun facebook sudah diramaikan sejumlah status dan komentar. Yang menarik, sejumlah status dan komentar dari warga tampak terkesan lebih menunggu bintang tamu ketimbang pentas seniman lokal.

“Wow, bintang tamu Bulfest keren-keren” tulis seseorang di facebook.

“Ayo, ke Bulfest, ada Slank lho,” tulis yang lain.

Panitia memang mendatangkan grup band Slank. Grup dengan penggemar yang melimpah-ruah itu akan tampil saat pembukaan Bulfest, 2 Agustus malam. Aksi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) tentu layak ditunggu. Grup itu memang layak ditonton.

Bukan hal yang salah juga, kehadiran Slank digunakan sebagai daya tarik mempromosikan Bulfest, bukan hanya promosi untuk warga Buleleng, melainkan juga untuk warga luar Buleleng, bahkan mungkin luar Bali. Bukan dosa juga jika Slank dan bintang tamu yang lain dijadikan magnet Bulfest. Bulfest akan lebih ramai, lebih bergengsi, lebih wow…

Tentu akan aneh kedengaran di telinga anak muda jika statusnya ditulis, “Ayo ke Bulfest, ada wayang wong, lho?” Atau “Kereeeen, ada legong tombol di Bulfest”.

Tapi ada galau juga di hati. Pertanyaan pun muncul, kenapa negara mengeluarkan banyak duit untuk membuat festival kebudayaan? Tentu bukan sekadar membuat kerumunan. Tentu juga bukan sekadar untuk bersenang-senang dan menghibur masyarakat. Festival adalah bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada strategi besar untuk mencapai sejumlah tujuan penting di bidang kebudayaan, misalnya untuk peningkatan harkat dan martabat kebudayaan di sebuah tempat. Selanjutnya adalah tujuan lain seperti meningkatkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

Bulfest pun tentu dibuat sebagai bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada semacam jengah untuk menunjukkan pada dunia bahwa di Bali ada sebuah tempat yang memiliki beragam peradaban manusia unggul serta seni dan budaya adiluhung. Tempat itu bernama Buleleng, bagian dari Bali, namun juga berbeda dengan Bali. Untuk mencapai tujuan politik itu, strategi pun digodok.

Panggung megah, lampu sorot dengan cahaya yang mewah, dan sound system yang menggelegar, adalah bagian dari strategi. Baliho dipasang di mana-mana, iklan ditebarkan, adalah juga strategi. Strategi untuk “memaksa” orang menonton seni pertunjukkan yang sebelumnya mungkin hanya dipentaskan di ruang-ruang sempit dengan lampu remang-remang di pedesaan. Setelah “dipaksa”, orang akan tahu, dan mungkin kemudian mencintai dan ketagihan.

Mendatangkan Slank bisa dianggap sebagai strategi. Secara sederhana, Slank dan bintang tamu lain, bisa menjadi magnet agar orang-orang, terutama anak muda yang sebelumnya tak begitu hirau dengan seni-budaya lokal, datang ke Bulfest. Selain menonton Slank, secara otomatis mereka juga akan melihat joged, legong dan seni-budaya khas Buleleng lainnya. Bahkan orang di luar Buleleng pun bisa datang.

Namun, ada kecurigaan, jangan-jangan setelah Slank manggung, Bulfest dianggap sudah usai. Apalagi Slank tampil di hari pertama. Agar itu tak terjadi, memang harus ada strategi lain. Misalnya mempertunjukkan garapan-garapan seni yang bisa “bersaing” dengan Slank. Agar setiap malam terdapat garapan unggulan yang ditunggu-tunggu pengunjung.

Menampilkan joged bumbung secara massal adalah juga strategi. Sejak pertama kali digelar, seni massal pada pembukaan Bulfest seperti menjadi ciri khas. Itu memang strategi yang benar. Selain itu, pada pembukaan Bulfest keempat ini juga ditampilkan tari hasil rekonstruksi, Legong Tombol, yang juga ditarikan secara massal, 50 penari. Mengangkat Legong Tombol yang sempat terkubur ke panggung utama (yang tentu saja akan “memaksa” orang-orang termasuk pejabat dan tamu undangan untuk melihatnya) tentu juga cara yang tepat. Tapi ide dan strategi itu baru hanya sebatas jumlah penari.

Yang belum banyak dilakukan adalah strategi di bidang ide garapan, baik garapan tari, musik, maupun karawitan. Padahal dengan kekayaan yang dimiliki Buleleng, harusnya banyak garapan seni baru muncul. Garapan baru, secara mudah, misalnya bisa dilakukan dengan cara kolaborasi. Grup musik bisa bergabung dengan sekaa genjek menampilkan satu garapan musikal yang asyik dan menggemaskan. Atau sesama seniman musik menampilkan konser gabungan dengan mencampur berbagai jenis musik di dalamnya. Atau seniman sendratari, seniman drama gong, seniman wayang wong, bersatu membuat garapan baru: entah bernama drama kolosal, entah wayang wong inovatif, entah sendratari kolaboratif.

Ide itu bukan barang baru. Banyak seniman Buleleng sudah melakukannya. Di Pesta Kesenian Bali ke-38 di Taman Budaya Denpasar, kolaborasi grup musik Ake Buleleng, Smarandana dan grup lawak Rare Kual, berhasil membuat suasana PKB menjadi lebih segar. Seniman dari Tejakula menampilkan seni balaganjur dengan mencampur seni wayang wong di dalamnya. Lalu, dramawan Putu Satria Kusuma menampilkan drama gong asli Buleleng. Drama gong itu sesungguhnya adalah proses campuran dari drama tradisional, drama modern, dan stambul. Ceritanya pun diambil dari karya sastra modern, “Sukreni Gadis Bali”.

Garapan-garapan semacam itulah yang semestinya lebih banyak ditampilkan dalam Bulfest sebagai pentas unggulan untuk bersaing dengan bintang tamu semacam Slank. Semoga pada Bulfest tahun ini garapan seperti itu lebih memang muncul, tentu saja agar Slank punya saingan.

Oh ya, saya ingat, setelah Bulfest pertama, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sempat menyampaikan keinginannya untuk menampilkan garapan drama kolosal pada Bulfest berikutnya. Drama itu digarap seniman-seniman unggulan dari berbagai bidang. Keinginan itu sempat disampaikan di depan seniman dan sejumlah pejabat di bidang kesenian. Itu ide yang sangat bagus, namun hingga kini belum terwujudkan. (T)

 

Tags: balibulelengbuleleng festivalSenislank
Share234TweetSendShareSend
Previous Post

Senang Matematika, Karena Bapa Tidak Pukul

Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

by tatkala
September 11, 2026
0
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails
Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co