4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buleleng Festival dan Slank yang Ditunggu-tunggu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: Eka

BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gema dan gaung yang cukup kuat dibanding festival lain, justru karena ada kata “Buleleng” yang menawarkan sesuatu yang berbeda, menawarkan “Bali yang lain, Bali yang sepertinya bukan Bali, namun tetap Bali”.

Seperti juga Bulfest sebelumnya, masyarakat Buleleng selalu menunggu-nunggu. Bahkan jauh sebelum panitia mencetak jadwal secara resmi, sejumlah akun facebook sudah diramaikan sejumlah status dan komentar. Yang menarik, sejumlah status dan komentar dari warga tampak terkesan lebih menunggu bintang tamu ketimbang pentas seniman lokal.

“Wow, bintang tamu Bulfest keren-keren” tulis seseorang di facebook.

“Ayo, ke Bulfest, ada Slank lho,” tulis yang lain.

Panitia memang mendatangkan grup band Slank. Grup dengan penggemar yang melimpah-ruah itu akan tampil saat pembukaan Bulfest, 2 Agustus malam. Aksi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) tentu layak ditunggu. Grup itu memang layak ditonton.

Bukan hal yang salah juga, kehadiran Slank digunakan sebagai daya tarik mempromosikan Bulfest, bukan hanya promosi untuk warga Buleleng, melainkan juga untuk warga luar Buleleng, bahkan mungkin luar Bali. Bukan dosa juga jika Slank dan bintang tamu yang lain dijadikan magnet Bulfest. Bulfest akan lebih ramai, lebih bergengsi, lebih wow…

Tentu akan aneh kedengaran di telinga anak muda jika statusnya ditulis, “Ayo ke Bulfest, ada wayang wong, lho?” Atau “Kereeeen, ada legong tombol di Bulfest”.

Tapi ada galau juga di hati. Pertanyaan pun muncul, kenapa negara mengeluarkan banyak duit untuk membuat festival kebudayaan? Tentu bukan sekadar membuat kerumunan. Tentu juga bukan sekadar untuk bersenang-senang dan menghibur masyarakat. Festival adalah bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada strategi besar untuk mencapai sejumlah tujuan penting di bidang kebudayaan, misalnya untuk peningkatan harkat dan martabat kebudayaan di sebuah tempat. Selanjutnya adalah tujuan lain seperti meningkatkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

Bulfest pun tentu dibuat sebagai bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada semacam jengah untuk menunjukkan pada dunia bahwa di Bali ada sebuah tempat yang memiliki beragam peradaban manusia unggul serta seni dan budaya adiluhung. Tempat itu bernama Buleleng, bagian dari Bali, namun juga berbeda dengan Bali. Untuk mencapai tujuan politik itu, strategi pun digodok.

Panggung megah, lampu sorot dengan cahaya yang mewah, dan sound system yang menggelegar, adalah bagian dari strategi. Baliho dipasang di mana-mana, iklan ditebarkan, adalah juga strategi. Strategi untuk “memaksa” orang menonton seni pertunjukkan yang sebelumnya mungkin hanya dipentaskan di ruang-ruang sempit dengan lampu remang-remang di pedesaan. Setelah “dipaksa”, orang akan tahu, dan mungkin kemudian mencintai dan ketagihan.

Mendatangkan Slank bisa dianggap sebagai strategi. Secara sederhana, Slank dan bintang tamu lain, bisa menjadi magnet agar orang-orang, terutama anak muda yang sebelumnya tak begitu hirau dengan seni-budaya lokal, datang ke Bulfest. Selain menonton Slank, secara otomatis mereka juga akan melihat joged, legong dan seni-budaya khas Buleleng lainnya. Bahkan orang di luar Buleleng pun bisa datang.

Namun, ada kecurigaan, jangan-jangan setelah Slank manggung, Bulfest dianggap sudah usai. Apalagi Slank tampil di hari pertama. Agar itu tak terjadi, memang harus ada strategi lain. Misalnya mempertunjukkan garapan-garapan seni yang bisa “bersaing” dengan Slank. Agar setiap malam terdapat garapan unggulan yang ditunggu-tunggu pengunjung.

Menampilkan joged bumbung secara massal adalah juga strategi. Sejak pertama kali digelar, seni massal pada pembukaan Bulfest seperti menjadi ciri khas. Itu memang strategi yang benar. Selain itu, pada pembukaan Bulfest keempat ini juga ditampilkan tari hasil rekonstruksi, Legong Tombol, yang juga ditarikan secara massal, 50 penari. Mengangkat Legong Tombol yang sempat terkubur ke panggung utama (yang tentu saja akan “memaksa” orang-orang termasuk pejabat dan tamu undangan untuk melihatnya) tentu juga cara yang tepat. Tapi ide dan strategi itu baru hanya sebatas jumlah penari.

Yang belum banyak dilakukan adalah strategi di bidang ide garapan, baik garapan tari, musik, maupun karawitan. Padahal dengan kekayaan yang dimiliki Buleleng, harusnya banyak garapan seni baru muncul. Garapan baru, secara mudah, misalnya bisa dilakukan dengan cara kolaborasi. Grup musik bisa bergabung dengan sekaa genjek menampilkan satu garapan musikal yang asyik dan menggemaskan. Atau sesama seniman musik menampilkan konser gabungan dengan mencampur berbagai jenis musik di dalamnya. Atau seniman sendratari, seniman drama gong, seniman wayang wong, bersatu membuat garapan baru: entah bernama drama kolosal, entah wayang wong inovatif, entah sendratari kolaboratif.

Ide itu bukan barang baru. Banyak seniman Buleleng sudah melakukannya. Di Pesta Kesenian Bali ke-38 di Taman Budaya Denpasar, kolaborasi grup musik Ake Buleleng, Smarandana dan grup lawak Rare Kual, berhasil membuat suasana PKB menjadi lebih segar. Seniman dari Tejakula menampilkan seni balaganjur dengan mencampur seni wayang wong di dalamnya. Lalu, dramawan Putu Satria Kusuma menampilkan drama gong asli Buleleng. Drama gong itu sesungguhnya adalah proses campuran dari drama tradisional, drama modern, dan stambul. Ceritanya pun diambil dari karya sastra modern, “Sukreni Gadis Bali”.

Garapan-garapan semacam itulah yang semestinya lebih banyak ditampilkan dalam Bulfest sebagai pentas unggulan untuk bersaing dengan bintang tamu semacam Slank. Semoga pada Bulfest tahun ini garapan seperti itu lebih memang muncul, tentu saja agar Slank punya saingan.

Oh ya, saya ingat, setelah Bulfest pertama, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sempat menyampaikan keinginannya untuk menampilkan garapan drama kolosal pada Bulfest berikutnya. Drama itu digarap seniman-seniman unggulan dari berbagai bidang. Keinginan itu sempat disampaikan di depan seniman dan sejumlah pejabat di bidang kesenian. Itu ide yang sangat bagus, namun hingga kini belum terwujudkan. (T)

 

Tags: balibulelengbuleleng festivalSenislank
Share234TweetSendShareSend
Previous Post

Senang Matematika, Karena Bapa Tidak Pukul

Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails
Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co