14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buleleng Festival dan Slank yang Ditunggu-tunggu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: Eka

BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gema dan gaung yang cukup kuat dibanding festival lain, justru karena ada kata “Buleleng” yang menawarkan sesuatu yang berbeda, menawarkan “Bali yang lain, Bali yang sepertinya bukan Bali, namun tetap Bali”.

Seperti juga Bulfest sebelumnya, masyarakat Buleleng selalu menunggu-nunggu. Bahkan jauh sebelum panitia mencetak jadwal secara resmi, sejumlah akun facebook sudah diramaikan sejumlah status dan komentar. Yang menarik, sejumlah status dan komentar dari warga tampak terkesan lebih menunggu bintang tamu ketimbang pentas seniman lokal.

“Wow, bintang tamu Bulfest keren-keren” tulis seseorang di facebook.

“Ayo, ke Bulfest, ada Slank lho,” tulis yang lain.

Panitia memang mendatangkan grup band Slank. Grup dengan penggemar yang melimpah-ruah itu akan tampil saat pembukaan Bulfest, 2 Agustus malam. Aksi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) tentu layak ditunggu. Grup itu memang layak ditonton.

Bukan hal yang salah juga, kehadiran Slank digunakan sebagai daya tarik mempromosikan Bulfest, bukan hanya promosi untuk warga Buleleng, melainkan juga untuk warga luar Buleleng, bahkan mungkin luar Bali. Bukan dosa juga jika Slank dan bintang tamu yang lain dijadikan magnet Bulfest. Bulfest akan lebih ramai, lebih bergengsi, lebih wow…

Tentu akan aneh kedengaran di telinga anak muda jika statusnya ditulis, “Ayo ke Bulfest, ada wayang wong, lho?” Atau “Kereeeen, ada legong tombol di Bulfest”.

Tapi ada galau juga di hati. Pertanyaan pun muncul, kenapa negara mengeluarkan banyak duit untuk membuat festival kebudayaan? Tentu bukan sekadar membuat kerumunan. Tentu juga bukan sekadar untuk bersenang-senang dan menghibur masyarakat. Festival adalah bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada strategi besar untuk mencapai sejumlah tujuan penting di bidang kebudayaan, misalnya untuk peningkatan harkat dan martabat kebudayaan di sebuah tempat. Selanjutnya adalah tujuan lain seperti meningkatkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

Bulfest pun tentu dibuat sebagai bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada semacam jengah untuk menunjukkan pada dunia bahwa di Bali ada sebuah tempat yang memiliki beragam peradaban manusia unggul serta seni dan budaya adiluhung. Tempat itu bernama Buleleng, bagian dari Bali, namun juga berbeda dengan Bali. Untuk mencapai tujuan politik itu, strategi pun digodok.

Panggung megah, lampu sorot dengan cahaya yang mewah, dan sound system yang menggelegar, adalah bagian dari strategi. Baliho dipasang di mana-mana, iklan ditebarkan, adalah juga strategi. Strategi untuk “memaksa” orang menonton seni pertunjukkan yang sebelumnya mungkin hanya dipentaskan di ruang-ruang sempit dengan lampu remang-remang di pedesaan. Setelah “dipaksa”, orang akan tahu, dan mungkin kemudian mencintai dan ketagihan.

Mendatangkan Slank bisa dianggap sebagai strategi. Secara sederhana, Slank dan bintang tamu lain, bisa menjadi magnet agar orang-orang, terutama anak muda yang sebelumnya tak begitu hirau dengan seni-budaya lokal, datang ke Bulfest. Selain menonton Slank, secara otomatis mereka juga akan melihat joged, legong dan seni-budaya khas Buleleng lainnya. Bahkan orang di luar Buleleng pun bisa datang.

Namun, ada kecurigaan, jangan-jangan setelah Slank manggung, Bulfest dianggap sudah usai. Apalagi Slank tampil di hari pertama. Agar itu tak terjadi, memang harus ada strategi lain. Misalnya mempertunjukkan garapan-garapan seni yang bisa “bersaing” dengan Slank. Agar setiap malam terdapat garapan unggulan yang ditunggu-tunggu pengunjung.

Menampilkan joged bumbung secara massal adalah juga strategi. Sejak pertama kali digelar, seni massal pada pembukaan Bulfest seperti menjadi ciri khas. Itu memang strategi yang benar. Selain itu, pada pembukaan Bulfest keempat ini juga ditampilkan tari hasil rekonstruksi, Legong Tombol, yang juga ditarikan secara massal, 50 penari. Mengangkat Legong Tombol yang sempat terkubur ke panggung utama (yang tentu saja akan “memaksa” orang-orang termasuk pejabat dan tamu undangan untuk melihatnya) tentu juga cara yang tepat. Tapi ide dan strategi itu baru hanya sebatas jumlah penari.

Yang belum banyak dilakukan adalah strategi di bidang ide garapan, baik garapan tari, musik, maupun karawitan. Padahal dengan kekayaan yang dimiliki Buleleng, harusnya banyak garapan seni baru muncul. Garapan baru, secara mudah, misalnya bisa dilakukan dengan cara kolaborasi. Grup musik bisa bergabung dengan sekaa genjek menampilkan satu garapan musikal yang asyik dan menggemaskan. Atau sesama seniman musik menampilkan konser gabungan dengan mencampur berbagai jenis musik di dalamnya. Atau seniman sendratari, seniman drama gong, seniman wayang wong, bersatu membuat garapan baru: entah bernama drama kolosal, entah wayang wong inovatif, entah sendratari kolaboratif.

Ide itu bukan barang baru. Banyak seniman Buleleng sudah melakukannya. Di Pesta Kesenian Bali ke-38 di Taman Budaya Denpasar, kolaborasi grup musik Ake Buleleng, Smarandana dan grup lawak Rare Kual, berhasil membuat suasana PKB menjadi lebih segar. Seniman dari Tejakula menampilkan seni balaganjur dengan mencampur seni wayang wong di dalamnya. Lalu, dramawan Putu Satria Kusuma menampilkan drama gong asli Buleleng. Drama gong itu sesungguhnya adalah proses campuran dari drama tradisional, drama modern, dan stambul. Ceritanya pun diambil dari karya sastra modern, “Sukreni Gadis Bali”.

Garapan-garapan semacam itulah yang semestinya lebih banyak ditampilkan dalam Bulfest sebagai pentas unggulan untuk bersaing dengan bintang tamu semacam Slank. Semoga pada Bulfest tahun ini garapan seperti itu lebih memang muncul, tentu saja agar Slank punya saingan.

Oh ya, saya ingat, setelah Bulfest pertama, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sempat menyampaikan keinginannya untuk menampilkan garapan drama kolosal pada Bulfest berikutnya. Drama itu digarap seniman-seniman unggulan dari berbagai bidang. Keinginan itu sempat disampaikan di depan seniman dan sejumlah pejabat di bidang kesenian. Itu ide yang sangat bagus, namun hingga kini belum terwujudkan. (T)

 

Tags: balibulelengbuleleng festivalSenislank
Share234TweetSendShareSend
Previous Post

Senang Matematika, Karena Bapa Tidak Pukul

Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
0
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

Read moreDetails

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

by tatkala
May 14, 2026
0
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

Read moreDetails

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Komunitas Seni Baturenggong Ulas Sejarah dan Keunikan Desa Mengwi Lewat Seni untuk PKB 2026

DESA Mengwi yang dulunya sebagai pusat kerajaan mewarisi berbagai kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai luhur yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat...

Read moreDetails

Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

by Nyoman Budarsana
May 10, 2026
0
Empat Perupa Bali Pamerkan ‘Vernal Artistic’ di Santrian Art Gallery: Pemaknaan atas Musim Semi

Jauh sebelum para undangan itu hadir, karya seni rupa berbagai ukuran sudah terpasang rapi pada dinding tembok putih. Lampu sorot...

Read moreDetails

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
0
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

Read moreDetails
Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co