25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buleleng Festival dan Slank yang Ditunggu-tunggu

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Feature

Foto: Eka

BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gema dan gaung yang cukup kuat dibanding festival lain, justru karena ada kata “Buleleng” yang menawarkan sesuatu yang berbeda, menawarkan “Bali yang lain, Bali yang sepertinya bukan Bali, namun tetap Bali”.

Seperti juga Bulfest sebelumnya, masyarakat Buleleng selalu menunggu-nunggu. Bahkan jauh sebelum panitia mencetak jadwal secara resmi, sejumlah akun facebook sudah diramaikan sejumlah status dan komentar. Yang menarik, sejumlah status dan komentar dari warga tampak terkesan lebih menunggu bintang tamu ketimbang pentas seniman lokal.

“Wow, bintang tamu Bulfest keren-keren” tulis seseorang di facebook.

“Ayo, ke Bulfest, ada Slank lho,” tulis yang lain.

Panitia memang mendatangkan grup band Slank. Grup dengan penggemar yang melimpah-ruah itu akan tampil saat pembukaan Bulfest, 2 Agustus malam. Aksi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar) tentu layak ditunggu. Grup itu memang layak ditonton.

Bukan hal yang salah juga, kehadiran Slank digunakan sebagai daya tarik mempromosikan Bulfest, bukan hanya promosi untuk warga Buleleng, melainkan juga untuk warga luar Buleleng, bahkan mungkin luar Bali. Bukan dosa juga jika Slank dan bintang tamu yang lain dijadikan magnet Bulfest. Bulfest akan lebih ramai, lebih bergengsi, lebih wow…

Tentu akan aneh kedengaran di telinga anak muda jika statusnya ditulis, “Ayo ke Bulfest, ada wayang wong, lho?” Atau “Kereeeen, ada legong tombol di Bulfest”.

Tapi ada galau juga di hati. Pertanyaan pun muncul, kenapa negara mengeluarkan banyak duit untuk membuat festival kebudayaan? Tentu bukan sekadar membuat kerumunan. Tentu juga bukan sekadar untuk bersenang-senang dan menghibur masyarakat. Festival adalah bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada strategi besar untuk mencapai sejumlah tujuan penting di bidang kebudayaan, misalnya untuk peningkatan harkat dan martabat kebudayaan di sebuah tempat. Selanjutnya adalah tujuan lain seperti meningkatkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan kunjungan wisatawan.

Bulfest pun tentu dibuat sebagai bagian dari politik kebudayaan. Di dalamnya ada semacam jengah untuk menunjukkan pada dunia bahwa di Bali ada sebuah tempat yang memiliki beragam peradaban manusia unggul serta seni dan budaya adiluhung. Tempat itu bernama Buleleng, bagian dari Bali, namun juga berbeda dengan Bali. Untuk mencapai tujuan politik itu, strategi pun digodok.

Panggung megah, lampu sorot dengan cahaya yang mewah, dan sound system yang menggelegar, adalah bagian dari strategi. Baliho dipasang di mana-mana, iklan ditebarkan, adalah juga strategi. Strategi untuk “memaksa” orang menonton seni pertunjukkan yang sebelumnya mungkin hanya dipentaskan di ruang-ruang sempit dengan lampu remang-remang di pedesaan. Setelah “dipaksa”, orang akan tahu, dan mungkin kemudian mencintai dan ketagihan.

Mendatangkan Slank bisa dianggap sebagai strategi. Secara sederhana, Slank dan bintang tamu lain, bisa menjadi magnet agar orang-orang, terutama anak muda yang sebelumnya tak begitu hirau dengan seni-budaya lokal, datang ke Bulfest. Selain menonton Slank, secara otomatis mereka juga akan melihat joged, legong dan seni-budaya khas Buleleng lainnya. Bahkan orang di luar Buleleng pun bisa datang.

Namun, ada kecurigaan, jangan-jangan setelah Slank manggung, Bulfest dianggap sudah usai. Apalagi Slank tampil di hari pertama. Agar itu tak terjadi, memang harus ada strategi lain. Misalnya mempertunjukkan garapan-garapan seni yang bisa “bersaing” dengan Slank. Agar setiap malam terdapat garapan unggulan yang ditunggu-tunggu pengunjung.

Menampilkan joged bumbung secara massal adalah juga strategi. Sejak pertama kali digelar, seni massal pada pembukaan Bulfest seperti menjadi ciri khas. Itu memang strategi yang benar. Selain itu, pada pembukaan Bulfest keempat ini juga ditampilkan tari hasil rekonstruksi, Legong Tombol, yang juga ditarikan secara massal, 50 penari. Mengangkat Legong Tombol yang sempat terkubur ke panggung utama (yang tentu saja akan “memaksa” orang-orang termasuk pejabat dan tamu undangan untuk melihatnya) tentu juga cara yang tepat. Tapi ide dan strategi itu baru hanya sebatas jumlah penari.

Yang belum banyak dilakukan adalah strategi di bidang ide garapan, baik garapan tari, musik, maupun karawitan. Padahal dengan kekayaan yang dimiliki Buleleng, harusnya banyak garapan seni baru muncul. Garapan baru, secara mudah, misalnya bisa dilakukan dengan cara kolaborasi. Grup musik bisa bergabung dengan sekaa genjek menampilkan satu garapan musikal yang asyik dan menggemaskan. Atau sesama seniman musik menampilkan konser gabungan dengan mencampur berbagai jenis musik di dalamnya. Atau seniman sendratari, seniman drama gong, seniman wayang wong, bersatu membuat garapan baru: entah bernama drama kolosal, entah wayang wong inovatif, entah sendratari kolaboratif.

Ide itu bukan barang baru. Banyak seniman Buleleng sudah melakukannya. Di Pesta Kesenian Bali ke-38 di Taman Budaya Denpasar, kolaborasi grup musik Ake Buleleng, Smarandana dan grup lawak Rare Kual, berhasil membuat suasana PKB menjadi lebih segar. Seniman dari Tejakula menampilkan seni balaganjur dengan mencampur seni wayang wong di dalamnya. Lalu, dramawan Putu Satria Kusuma menampilkan drama gong asli Buleleng. Drama gong itu sesungguhnya adalah proses campuran dari drama tradisional, drama modern, dan stambul. Ceritanya pun diambil dari karya sastra modern, “Sukreni Gadis Bali”.

Garapan-garapan semacam itulah yang semestinya lebih banyak ditampilkan dalam Bulfest sebagai pentas unggulan untuk bersaing dengan bintang tamu semacam Slank. Semoga pada Bulfest tahun ini garapan seperti itu lebih memang muncul, tentu saja agar Slank punya saingan.

Oh ya, saya ingat, setelah Bulfest pertama, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sempat menyampaikan keinginannya untuk menampilkan garapan drama kolosal pada Bulfest berikutnya. Drama itu digarap seniman-seniman unggulan dari berbagai bidang. Keinginan itu sempat disampaikan di depan seniman dan sejumlah pejabat di bidang kesenian. Itu ide yang sangat bagus, namun hingga kini belum terwujudkan. (T)

 

Tags: balibulelengbuleleng festivalSenislank
Share234TweetSendShareSend
Previous Post

Senang Matematika, Karena Bapa Tidak Pukul

Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails
Next Post

Kumpulan Cerpen Triyanto Triwikromo: Konstruksi Struktural Sayap Anjing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co