6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan

Bram Setiawan by Bram Setiawan
February 2, 2018
in Ulasan

Potongan gambar film dokumenter Petani Terakhir karya Sutradara Dwitra J. Ariana

Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016.

petani-PERMASALAHAN kehidupan petani di Indonesia selalu menjadi isu yang penting untuk terus disoroti. Antropolog kebangsaan Amerika Serikat Clifford Geertz pada 1960-an pernah melakukan penelitian tentang masalah pertanian di Jawa. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku berjudul Agricultural Involution: The Processes  of Ecological Change in Indonesia.

Tidak hanya dari kalangan akademikus, para seniman dari berbagai bidang juga gandrung mengangkat dilema kehidupan petani menjadi materi karya seni untuk terus digaungkan. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto lewat lagunya berjudul ‘Balada Pak Tani’ menyuguhkan refleksi penting yang melukiskan sisi senyap kehidupan petani yang selama ini terbungkus rapi oleh manipulasi citra pembangunan di Bali.

Dwitra J. Ariana melalui film dokumenter berjudul ‘Petani Terakhir’ berupaya menyuguhkan kisah kehidupan para petani di Subak Lungatad, Munduk Celuk, Banjar Peninjoan, Desa Penatih, Denpasar. Pria yang akrab disapa Dadap itu mencoba mengartikulasikan suara-suara keluh kesah petani lewat kemampuannya sebagai seorang filmmaker.

Sang sutradara menyajikan cerita tentang generasi petani yang kian menyusut. Generasi muda yang enggan bertani di sawah, hasil yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, juga petani yang tergiur alih fungsi lahan menjadi kos-kosan menjadi sorotan menarik dalam film ini.

Acara nonton bareng ‘Petani Terakhir’ digelar pada 27 Juni 2016 malam di Lingkara Photography Community dihadiri cukup banyak penonton. Ada beberapa kekurangan dalam film dokumenter yang berdurasi 47 menit itu. Percakapan para narasumber keseluruhan menggunakan bahasa Bali tanpa ada teks terjemahan bahasa Indonesia. Saat pemutaran film berjalan sepuluh menit, beberapa penonton tampak bingung menunggu teks terjemahan bahasa Indonesia yang ternyata sampai akhir film tidak muncul.

Tentu ini menyulitkan penonton untuk menangkap maksud dari penuturan masing-masing narasumber. Sebab, para penonton yang hadir dalam pemutaran film, bukan hanya orang Bali saja, termasuk saya. “Film ini bagus untuk disebarkan, tapi harus ada teks bahasa Indonesia,” kata seorang penonton asal Bandung.

Dalam sesi diskusi saat itu, Dadap mengakui tidak adanya teks terjemahan bahasa Indonesia memang menjadi kelemahan filmnya. Alasannya, penggarapan terjemahan bahasa Indonesia belum rampung. Penjelasan profil para narasumber juga tidak dicantumkan saat film sedang berjalan. Kekurangan lainnya, yakni tidak adanya riset mendalam mengenai isu yang akan diangkat sebelum penggarapan. Dadap menilai jika ia melakukan riset akan memburamkan semua ide yang ada di kepalanya. “Saya sengaja tidak melakukan riset mendalam karena saya ingin mengerjakan apa yang saya bisa, yang saya tahu, tanpa harus memunculkan sesuatu yang baru lagi.”

Setidaknya upaya Dadap untuk menyampaikan pesannya lewat film yang dibiayai grant Denpasar Film Festival 2015 ini cukup bening untuk diterima penonton. Lewat metode perekaman single shot cinema, cerita dibangun melalui perekaman kegiatan secara terus-menerus dengan kamera yang selalu bergerak. Dari metode itu film ini merujuk kepada Nyoman Sutama sebagai narasumber utama yang mampu memenuhi kebutuhan sutradara untuk memperoleh informasi yang mumpuni.

Penentuan Sutama yang berusia 40 tahun sebagai narasumber utama dalam film ini sekilas tampak tidak menarik. Dadap, agaknya ingin menyuguhkan sesuatu yang anti mainstream dalam karyanya. Biasanya dalam film, karakter-karakter orang tua yang keriput jauh lebih menarik divisualkan untuk memperkuat kesan eksotis dari latar persawahan.

Imbang

Kehadiran Sutama disajikan berimbang dengan sosok Dadong Mada yang usianya sudah lebih dari 70 tahun. Di salah satu bagian film, Dadap merekam sebuah percakapan antara Dadong Mada dan Sutama di sawah. Di sana tersirat sebuah keresahan tentang kelanjutan masa depan lahan persawahan karena generasi selanjutnya ogah meneruskannya. Maksud percakapan itu tergambar lewat raut wajah Dadong Mada. Di bagian ini pengambilan rekaman visual jari-jari tangan Dadong Mada yang kaku dilakukan terus-menerus dari berbagai sisi. Sang sutradara berusaha menegaskan sebuah pesan, bahwa seorang nenek tetap bertani walaupun usia tua dan sakit yang seharusnya dilanjutkan generasi muda.

Secara utuh rangkaian perekaman dalam film ini berhasil menggambarkan kehidupan petani dalam situasi pembangunan liar di sekitar ruang terbuka hijau. Padahal di sekitar hamparan sawah ada papan pengumuman dari Pemerintah Kota Denpasar, Dinas Tata Ruang dan Perumahan yang bertuliskan “Dilarang Membangun, Ruang Terbuka Hijau Kota”.

Dadap berhasil menyampaikan pesannya melalui pengambilan gambar antara papan pengumuman dengan adanya bangunan-bangunan yang bertolak belakang berdasarkan peraturan yang ada. Di sinilah Dadap berhasil mencuri perhatian penonton melalui visual reflektif tentang benang kusut diskursif antara pengetahuan, kekuasaan, dan uang.

Fenomena ini mengingatkan saya pada pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kelas dalam arti hubungan yang tidak adil dengan means of production di dunia ekonomi, tetapi lewat produksi dan reproduksi “modal simbolis”.

Kehidupan masyarakat desa yang diwarnai ritme kehidupan petani, sawah, dan sistem subak menjadi gambaran antropologis ‘tradisional’ tentang Bali. Tapi kenyataannya oleh rezim pascakolonial gambaran tersebut justru dijungkirbalikkan untuk meminggirkan penciptaan budaya kaum lemah dan melihat perjuangan sehari-hari mereka sebagai sesuatu yang tidak punya nilai, karena dihadapkan pada cermin peradaban sebuah kemajuan pembangunan. Kalau Bourdieu benar, berarti tidak ada subyek yang bebas dari kekuasaan dan tidak ada ruang sosial yang steril dari power.

Dadap sebagai seorang filmmaker konsisten dengan tema-tema berdasarkan perspektif sosial dan budaya. Walhasil, film yang diproduksi Sanggar Siap Selem ini layak dan penting ditonton oleh berbagai kalangan, terutama akademikus, jurnalis dan pengamat pertanian. (T)

https://m.youtube.com/watch?v=ORg8ldJh3EA

Tags: balifilmfilm dokumenterpetani
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pesta Kesenian Bali: Menolak Keseragaman

Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Bram Setiawan

Bram Setiawan

Koresponden Tempo tinggal di Denpasar, bisa dihubungi lewat e-mail setiawan.bram@gmail.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co